
Bu Ros mendekati Adam, ia tergoda dengan aroma mie instan yang Adam buat kala itu.
"Eh, Bu Ros yang tadi nakutin Fasya, ya?" tanya Adam.
"Nggak, bukan saya! Ini aja saya baru muncul," tukasnya.
"Loh, terus yang tadi perempuan bergaun merah yang Fasya lihat setannya siapa?" tanya Adam.
"Ummm, mungkin hantunya tetangga sebelah. Di samping sekolah ini ada rumah bekas pasti asuhan. Tapi, sekarang udah jadi klinik," jawabnya.
"Oh, hantu dari sebelah."
Bu Ros mendekatkan wajahnya ke atas panci tempat Adam merebus mie.
"Aduh, itu nanti ilernya tumpah!" seru Adam.
"Hmmm, habisnya wangi banget," ucap Bu Ros.
"Bu Ros, mau mie?" tanya Adam.
"Mau banget, tapi jangan kasih bubuk cabenya. Kasian bayi saya nanti kepedesan," ucapnya.
"Dih, apa pengaruhnya? Tuh, bayi juga nggak bisa lahir, kaga ngaruh, woi!" Adam tersenyum mencibir.
Bu Ros menatap tajam dengan kedua tangan terjulur seolah mau mencekik Adam.
"Eh, jangan Bu Ros!" Tania datang mencegah.
"Habisnya saya nggak suka sama cara bicara anak ini," ujarnya.
"Adam emang gitu. Bu Ros mau mie? Pasti bayinya ngiler, ya?" tanya Tania.
Bu Ros mengangguk mengiyakan.
"Ya udah kalau gitu, Adam kamu nggak mau Bu Ros marah-marah, kan? Nah, kamu buatan Bu Ros mie rebus. Kalau aku buatin mie goreng, ya. Buruan!" pinta Tania.
"Dih, hantu ngelunjak! Pada sadar diri, woi! Masa udah jadi hantu pada pengen mie," sungut Adam.
"Adaaaaam!"
Tania dan Bu Ros menatap tajam ke arah Adam bersamaan.
"Iya, iya, bawel!" keluh Adam.
...***...
Sama seperti di Indonesia. Mereka mengitari sang "oni" atau iblis, sambil menyanyikan lagu. Kata kagome juga dapat berarti tempat hukuman mati yang dikelilingi pagar bambu, segi enam, heksagram, atau ditulis sebagai kagome yang berarti wanita hamil. Begitu pula halnya dengan kata-kata berikutnya yang mengundang berbagai penafsiran.
Dira menjadi terbangun, dia mendengar suara langkah kecil berlarian diiringi langkah anak-anak. Suara yang sepertinya ditimbulkan dengan maksud ingin menakuti. Dira tidak berpikir untuk tidur lagi. Dia yang tak takut, lantas mencari asal suara ketukan itu lagi dan berharap akan terdengar kembali.
Dira menoleh ke arah jam dinding dalam kelas. Di sana menunjukkan pukul tiga dini hari. Dira mendapati, Disya, Cindi, dan Icha telah terlelap tak bisa lagi menahan kantuk. Tiba-tiba secarik kertas jatuh dari meja di hadapannya. Dira pun penasaran dan memungutnya. Tak ada siapa pun di sana.
"Ayo kita main"
Dira membaca tulisan tersebut. Dira merasa itu bukan tulisannya
"Hah? Siapa yang ngajak main, nih? Waduh, iseng banget. Mana jadul banget lagi pakai surat-suratan segala," gumam Dira.
Namun, gadis itu tersadar akan sesuatu ketika dia mau mengamati sekelilingnya. Ada suara tawa anak-anak yang terdengar seolah sedang mengajaknya untuk mengejar. Dira yang penasaran lantas mengikuti arah suara tersebut. Dia menuju sebuah lorong yang panjang nan gelap. Mendadak sekelilingnya menjadi gelap.
"Loh, ini sekolah mati lampu apa, ya?" gumam Dira mencoba meraba sekitar.
Dalam kegelapan itu, Dira melihat sebuah cahaya temaram. Dia mencoba menajamkan penglihatannya. Dira melihat seorang wanita berpakaian daster warna merah. Ia sempat menyangka sosok itu Ibu Ros, tetapi pakaian yang digunakan berbeda. Dira hanya melihat bagian punggung yang tampak terlihat.
"Itu hantu siapa, ya? Apa dia yang ajak Dira main tadi, ya?" gumam Dira.
Gadis itu melangkah mengikuti bayangan sosok wanita di hadapannya. Dira sempat mengamati tak ada Tania atau Bu Ros, atau hantu Minul yang biasa lalu lalang di sana. Berbagai pertanyaan mulai muncul di kepala Dira.
Ketika dia mulai merasa semua ini hanya mimpi, angin kencang menerpa tubuhnya dan membuatnya menggigil. Dan seketika, sosok wanita bergaun merah tadi menghilang. Dira sampai menggaruk kepalanya dengan raut wajah bingung, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Perasaan Tante Silla nggak pernah sampai ke sekolah ini karena bukan wilayahnya. Apa dia saingan Tante Silla, ya? Kuntilanak merah saingan Tante Silla, hihihi." Dira sampai mengoceh sendirian.
Gadis itu akhirnya sampai di sebuah pintu yang terbuka, tempat wanita yang dia ikuti tadi menghilang di ruangan itu. Mendadak kemudian, Dira berada di antara kerumunan anak-anak yang berpakaian serba hitam. Dia melihat sekeliling, tak tahu harus berbuat apa. Namun, tak ada yang menoleh ke arahnya seolah-olah Dira tak ada di sana.
Awalnya anak-anak itu terlihat normal-normal saja seperti anak-anak lainnya. Mereka bernyanyi dengan ceria, dan tertawa riang dengan normal. Akan tetapi, jika mereka terpisah dengan kelompoknya, mereka seperti hilang sendiria. Anak-anak yang terpisah itu menjadi mondar-mandir tidak jelas, dengan senyum kosong di wajah mereka, mereka selalu menatap langsung ke arah Dira.
Jika di dekati dari belakang, mereka akan berbalik secepat kilat dan beberapa saat, Dira dapat melihat ekspresi yang jahat di wajah mereka dan akan membuat siapa saja gemetar melihatnya. Namun kemudian, Dira mulai sadar kalau mereka hanya sedang membuat senyuman manis di wajah mereka lagi. Pada beberapa anak wajahnya sangat meyeramkan. Ada yang kehilangan dahinya, dagu dan lidahnya di angkat, dan ada juga yang kehilangan setengah kepalanya.
Suara alunan lagu Kagome kembali terdengar ditambah dengan nyanyian kidung dari para anak-anak berjubah hitam itu. Anak-anak itu bernyanyi dan berpegangan tangan satu sama lain dengan posisi melingkar.
Sosok wanita berpakaian merah tadi ada di tengahnya. Tak lama kemudian, mereka selesai bernyanyi dan duduk bersila. Sosok bergaun merah itu tadinya membelakangi Dira. Lalu, perlahan sosok itu menoleh ke arah Dira.
"Hah? Siapa kamu?" Dira sampai mundur perlahan saat melihat sosok bergaun merah itu.
...*****...
...Bersambung dulu, ya…...