
"Kakak ngomong sama siapa?" tanya Edo pada Dira.
"Oh, anu tadi ada laler lewat," sahut Dira seraya meringis.
Edo yang tak mengerti hanya bisa menggaruk kepalanya. Lututnya terluka dan mengeluarkan darah.
"Bawa sepeda dia, Fas. Kita temenin pulang, kan sekalian mau ke rumah dia," ucap Dira
"Tapi, Kak, aku harus ambil kue pesanan mama," tukas Edo.
"Tapi kaki kamu terluka, Do, kamu pasti nggak bisa naik sepeda," ucap Dira.
"Kakak kok tau nama aku?" tanya Edo.
"Aduh! Dira main nyeplos aja, sih!" lirih Disya.
"Gimana jelasnya, ya?" Dira menoleh pada Heru.
"Jelasin aja, lah! Kasih liat aja!" seru Adam setelah membersihkan wajahnya di kain kafan Tania.
Fasya tak bisa menahan tawanya karena melihat kelakuan Adam. Tania juga berusaha menghindar agar kain kafannya tidak dipakai terus.
"Oke, begini Do. Kuatkan jiwa kamu, ya. Mungkin ini nggak akan mudah. Tapi, kamu harus percaya," ucap Dira.
Akhirnya, Dira memperlihatkan Heru pada adiknya itu. Awalnya, Edo menangis ketakutan. Namun, lama-kelamaan dia akhirnya memberanikan diri berkomunikasi dengan kakaknya.
Sore hari itu, di rumah Heru dan Edo menjadi kelabu. Tadinya, malam hari akan diadakan acara arisan para tetangga. Namun, berita kecelakaan yang menewaskan Heru, membuat acara arisan itu jadi berganti dengan acara tahlilan.
Bahkan, kakek dan nenek Heru juga langsung datang dari luar kota. Begitu juga dengan kerabat yang lain. Suasana di rumah itu benar-benar kelam, tumpah air mata keluarga besar Heru.
Keempat remaja itu mendengar rintihan menyayat dari ibunya Heru. Beberapa saudara-saudara dekat terlihat menenangkan wanita berkerudung hitam kala itu. Mereka memanjatkan doa-doa untuk kepergian Heru yang jasadnya masih terbaring di tengah ruang tamu.
Edo lalu memanggil ayahnya untuk mendapatkan cerita pengakuan permohonan maaf dari Heru. Pria berusia lima puluh tahun itu sontak saja semakin menangis. Dia menyadari sikapnya yang berat sebelah karena lebih membanggakan Heru dibanding Edo yang sering bermasalah di sekolah.
Heru lantas meminta ayahnya untuk lebih menyayangi Edo dan selalu membela putra yang kini hanya semata wayang selepas kepergian Heru. Setelah merasa masalahnya telah terpecahkan, Heru akhirnya kembali ke dunia asal tempat dia berada setelah meninggal dunia.
...***...
Adam, Dira, Fasya, dan Disya pamit dari rumah Heru. Mereka menaiki angkot menuju komplek rumah mereka.
"Yang gue heran kalau Heru emang tumbal sekolah, kenapa dia bisa pergi dengan tenang? Kenapa Tania gentayangan? Terus ke mana tumbal yang lainnya?" gumam Dira saat menaiki angkot untuk pulang.
"Mungkin karena mereka udah tenang meskipun ditumbalkan. Tapi, kalau Tania entah apa yang buat dia belum tenang," sahut Fasya.
"Jangan bilang kalau Tania pengen jadi pacar Kak Raja baru tenang?" Adam menoleh pada Tania.
Disya sampai terkekeh dibuatnya.
"Kalau itu, sih, emang aku mau. Tapi, kayaknya aku ngerti sekarang aku maunya apa di dunia ini," ucap Tania.
Keempat remaja itu sontak saja menatap Tania dengan saksama.
"Bukan jadi pemain NBA lagi, kan?" ledek Adam.
"Katanya kamu cita-cita aku kejauhan kalau yang itu. Nengok rumah mami aku, yuk! Aku kan bisa keluar dari sekolah dan ke mana pun asal ada Adam, karena aura kita terkait. Makanya Adam ke rumah mami biar aku bisa ke sana," pinta Tania.
"Terus mau ngapain ke rumah elu, alasannya apa?" tanya Adam.
"Temuin aku sama mami, Ra. Kamu kan udah bisa memperlihatkan hantu ke manusia," pinta Tania pada Dira.
"Nanti kalau mami kamu pingsan, gimana?" tanya Dira.
"Udah resiko, kan? Yuk, tolong aku. Aku kangen juga sama mami," ucap Tania.
"Itu bukannya rumah James sama Icha, ya?" Disya menunjuk ke sebuah rumah yang mereka lintasi.
"Tau dari mana?" tanya Adam.
"Aku pernah pulang bareng sama Icha. Dia turun di sini," ucap Disya.
"Kalau elu udah tahu ngapain tadi pake nanya itu rumah mereka atau bukan, huuuuuu!" Adam sampai menoyor kepala Disya dengan gemas.
"Adam, mah! Kepala aku kan difitrahin!" pekik Disya.
"Bukannya James orang kaya, ya? Kok, sekarang rumahnya sederhana begitu. Mana serem lagi," ucap Fasya.
"Kayaknya aku pernah denger pas orang tuanya meninggal, mereka bangkrut. Terus sekarang mereka tinggal sama bibinya di rumah itu," jawab Disya.
"Kayak rumah kosong, ya?" gumam Dira.
"Mungkin pada jarang bersih-bersih. Maklum bekas orang kaya," sahut Disya.
Bangunan bercat hijau yang tengah mengelupas itu memang tampak seperti rumah kosong. Padahal bangunan satu lantai itu sebenarnya berpenghuni. Hanya saja jika orang tidak tahu saat melintas pasti mengira rumah kosong.
Sebenarnya, ada dua orang manusia yang tinggal di sana. Kakak beradik itu awalnya tinggal di rumah besar. Hanya saja setelah kedua orang tuanya mengalami kecelakaan mobil, keluarga Edison harus mengalami kebangkrutan.
Dua kakak beradik itu James dan Icha. Tadinya, memang keduanya tinggal bersama sang bibi. Namun, wanita itu terbunuh oleh Nyi Ratu, karena tak ingin sang bibi mempengaruhi James dan Icha. Dua kakak beradik itu sedang dimanfaatkan untuk dijadikan abdi bagi Nyi Ratu dan juga kaum Ratu Masako.
Sementara itu di dalam rumah James, tubuh Mia telah diikat di atas dipan. Terbaring lemah tak berdaya. Icha mencoba membersihkan luka pada tubuh Mia. Nyi Ratu memberi James perintah untuk mengamati sosok penyanyi ibukota via Internet.
Sosok artis penyanyi perempuan yang tengah naik daun itu membuat salah satu klien Nyi Ratu yang juga anggota sekte sesat marah dan cemburu. Sang klien bernama Hani Hanimun yang ingin menghabisi nyawa artis penyanyi bernama Sandara.
"Siapkan tubuh Mia. Kita akan membuatnya melakukan tugas pertama untuk menghabisi nyawa artis ini," ucap Nyi Ratu.
Icha dan James lantas mengangguk. Mereka segera menjalankan perintah Nyi Ratu.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....