
"Aaarrrgghh…."
Teriakan anak laki-laki makin terdengar ketika palu besi itu menghantam dan meremukkan sepasang kaki mungil milik anak itu.
"Sudah aku bilang jangan coba kabur dariku!" teriak Brian.
Beberapa suara kini kembali terdengar, suara orang-orang yang sedang berlari ke sana dan ke mari dengan keadaan panik. Suara teriakan itu terdengar keras hingga terdengar ke ruangan tempat Adam berada.
Tangisan dan teriakan anak-anak makin bersahutan. Tampak sesuatu terdengar menabrak pintu, tabrakan sesuatu itu begitu keras sehingga membuat pintu dari ruangan tempat Adam berada terbuka. Terlihat sosok anak laki-laki yang sedang diseret oleh Jane tergeletak tidak bernyawa.
Brian benar-benar sudah kehilangan kewarasannya. Dia melempar anak itu dengan kejam. Adam yakin pria itu yang melemparkan tubuh anak tersebut hingga menabrak pintu, dan akhirnya pintu itu tersebut terbuka. Adam mendadak panik seketika, dengan suara-suara teriakan yang datang membuat dia ingin segera melepas ikatan dari kursi.
Adam tak bisa melawan kengerian tersebut. Dia juga melihat tubuh anak yang tergeletak di depannya itu penuh dengan darah. Ada beberapa bekas sayatan di tubuhnya seperti telah diambil organ vital dalam tubuh anak itu.
"Ayolah, gue harus bisa melepaskan ikatan ini!" Pikir Adam dengan keadaan panik sembari sekuat tenaga melepas ikatan itu.
Adam terus memberi semangat pada diri sendiri. Dia mencoba melepaskan tangan yang terikat itu, meskipun terasa sakit. Namun, ia harus bertekad melepasnya.
Adam bernapas lega ketika ikatan di tangan sudah mengendur.
Suara-suara teriakan di tempat itu masih saja terdengar, Adam semakin panik dengan keadaan di sel tersebut. Dia harus segera melepaskan ikatan dan keluar dari tempat ini.
Dengan sekuat tenaga akhirnya Adam bisa melepaskan ikatan dari kursi tersebut. Adam seketika berlari, berlari melewati pintu yang sudah rusak tersebut. Tatapan pemuda itu fokus pada gagang sapu yang terletak di sudut. Adam memutuskan untuk mengambil gagang sapu itu untuk berjaga-jaga.
Tempat yang tidak beres itu benar-benar bagaikan neraka. Adam bertekad akan membebaskan anak-anak itu dari tempat ini sekarang. Tak lama kemudian, Jane melihat sosok Adam yang mencoba kabur.
"Sayang, dia juga harus kau beri pelajaran!" titah Jane seraya tertawa menyeramkan.
"Hahaha, kau benar Sayang. Aku akan memberinya pelajaran." Brian mencoba mendekati Adam.
Di tangan pria itu ada palu besi yang siap dihantamkan ke tubuh Adam.
"Nggak, nggak! Dasar biadab! Pergi elu! Pergiiiiiii!" Adam berteriak sekuat tenaga.
Brian dan Jane menyeringai kala mendekat ke arah Adam. Pandangan pemuda itu gelap gulita kala tangan kanannya mencoba melindungi wajahnya.
Namun Adam begitu terkejut ketika dia merasa hampir dipukul dan merasa hidupnya akan berakhir di ruangan tersebut. Sel tahanan yang seharusnya berada di lorong tempat dia berdiri sekarang berubah, sel tahanan yang ia lihat tadi telah kembali menjadi kamar kosong di rumah Jane dan Brian.
...***...
"Adam bangun!" pekik Dira.
Tania baru saja memberitahukan apa yang terjadi pada Adam. Dira langsung bangkit dan menuju ke tempat di mana Adam berada.
"Astagfirullah! Ini gila, Ra! Mereka itu biadab! Mereka lebih dari iblis!" Adam berucap dengan panik.
"Siapa, Dam? Maksud kamu Ibu Jane sama suaminya?" tanya Dira.
"Iya, siapa lagi! Mereka yang menghabisi nyawa anak-anak terlantar dan tak bersalah. Di kolong kasur itu ada ruang bawah tanah yang mereka jadikan tempat pembantaian. Anak-anak itu masih terkurung di sana arwahnya," ucap Adam menjelaskan.
"Kita harus bilang sama Pak Jin supaya bongkar ruang bawah tanah itu," ucap Dira yang mencoba memapah Adam agar bangkit berdiri.
Namun, keduanya tersentak kala melihat Jane sudah berdiri di ambang pintu kamar kosong tersebut.
"Dasar bedebah kecil!" ucap Jane lalu bergegas menghampiri suaminya.
Rupanya Fasya juga sudah memberitahukan apa yang dia lihat barusan pada Jin melalui ponselnya. Jin mulai bangkit untuk bersiap.
Brian mulai sadar kalau Jin bukanlah guru biasa. Apalagi setelah Jane menghampiri, dia dan Brian berniat untuk melarikan diri. Brian dengan segera memukul kepala Jin dengan vas bunga. Jane juga memukul kepala Disya dengan guci kecil hiasan di atas meja sampai gadis itu terjerembab dan tak sadarkan diri.
Jane meraih pistol pribadinya yang ia selalu simpan di dalam laci bufetnya. Senjata api tersebut ia arahkan ke Dira dan Adam yang baru saja keluar dari kamar kosong tadi.
"Jangan ada yang bergerak atau kalian aku tembak!" ancam Jane.
Jin yang hendak meraih pistol miliknya yang tersembunyi di balik punggungnya lantas menghentikan pergerakannya. Darah mengucur deras dari kepala belakangnya yang tertimpa vas, begitu juga dengan Disya.
Dira tersentak kala melihat darah mengalir dari kepala Disya yang tak sadarkan diri. Gadis itu hendak bergerak menuju Disya tetapi Jane melayangkan tembakan ke arah samping Dira. Dia sengaja melakukannya.
"Sekali lagi bergerak, aku tak segan-segan menembus kepala kalian!" ancam Jane.
"Huaaaaaa, dia tembak aku! Huaaaaaa dada aku bolong!" Tania melompat ke sana ke mari dengan panik.
Adam sontak saja menghadang kaki pocong itu sampai sosok itu jatuh tersungkur.
"Elu udah mati, Tan. Jangan bikin suasana makin panik," bisik Adam dengan melayangkan sorot mata yang tajam.
"Oh iya, aku lupa hehehe. Tapi, Adam jahat kenapa aku disengkat, huaaaa."
"Nggak guna banget punya pocong kayak dia, ya, Dam. Coba penjaga kita kayak Oma Sanca atau Om Shincan," bisik Dira.
"Atau Tante Silla juga boleh tuh, atau Om Lee," ucap Adam.
"Oh iya, Om Lee! Bisa panggil dia ke sini nggak, Tan?" tanya Dira.
"Om Lee yang mana, sih? Aku kan nggak kenal hantu-hantuan yang lain selain yang di sekolah," sahut Tania. Posisinya malah meringkuk di sudut ruangan seraya menepuk kain kafannya yang berdebu.
"Bener-bener nggak guna punya dia," keluh Adam.
"Paling nggak tangan Tania udah nggak keiket, harusnya dia bisa bantu kita, dong, ya Tan?" tanya Dira.
Tania hanya mengangkat kedua bahunya dan meringis. Adam dan Dira kembali menggelengkan kepala.
"Oh iya, Disya!" pekik Dira.
"Dia cuma pingsan," sahut Tania.
"Tapi dia berdarah, kita harus tolong dia!" seru Dira.
Sementara itu, Jane dan Brian saling menatap bingung.
"Kau percaya dengan anak indigo, kan? Aku rasa kalau putri kita berada di tubuh gadis itu, dia akan kembali. Aku yakin mereka cocok," ucap Brian.
"Aku setuju. Ayo, tangkap anak itu!" tukas Jane.
Fasya masuk ke dalam rumah Jane dan Brian. Di belakangnya ada dua orang polisi lainnya, anak buah dari Jin. Mereka mencoba menangkap suami istri tersebut, tetapi Jane menembakkan senjata api ke segala arah.
"Fasya!" pekik Dira dan Adam bersamaan.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....