
Bab 23 Pocong Baper
Adam mengikuti sosok wanita yang dia lihat itu, tetapi sosok itu menghilang. Tak lama kemudian deru mobil terdengar melaju menembus pekatnya malam. Adam bergegas menghampiri dan menanyakan pada Pak Beni, sayangnya satpam itu sedang tertidur pulas.
"Siapa cewek barusan, ya? Gue ketinggalan lagi. Mana gue nggak sempet lihat mobilnya juga," gumam Adam.
Pemuda itu berbalik badan dan mendapati sosok Tania berdiri di belakangnya secara mengejutkan.
"Wuaaaaaaaa!"
Adam dan Tania berteriak bersamaan. Sontak saja Pak Beni langsung bangkit dari tidurnya dengan sigap.
"Ada apa, ada apa, ada apa?" Pak Beni sudah meraih tongkat satpamnya.
"Nggak ada apa-apa, Pak. Tidur lagi aja, ya, Pak. Capek juga kan kerja shift malem," ucap Adam seraya menepuk bahu Pak Beni yang belum sepenuhnya sadar itu.
"Hoaaam, iya dah tidur lagi aja," sahutnya lalu merebahkan diri kembali di atas kursi panjang yang ada di pos satpam kala itu.
"Lagian pakai teriak segala, sih! Kayak baru ini aja ketemu pocong," ketus Tania.
"Woi, Pocong Kocak! Elu kalau mau muncul di belakang gue harusnya bilang, dong, Tania!" pekik Adam.
"Woi, sejak kapan setan kalau mau muncul bilang dulu ke manusia. Permisi saya mau nongol, nih, gitu ngomongnya? Iya gitu jadi setan kudu permisi? Sejak kapan, woi?!" seru Tania.
"Lah, masalahnya elu ngagetin Tania! Gue lagi fokus tadi ngejar seseorang tapi telat. Lagian biar kata setan kalau nongol nggak pernah permisi, elu harusnya mencontohkan pada setan lainnya kalau elu ber-atitude, gitu!" Adam terkekeh.
"Huuu, semprul!"
"Biar gue semprul, daripada elu setan!" seru Adam mencibir Tania.
Pocong itu terdiam tak lagi melompat mengikuti Adam.
"Iya, emang gue setan. Gue ngaku kok gue setan, hiks hiks," gumam Tania seraya terisak.
"Yaelah, baper amat sih jadi pocong!" Adam segera mencari tangan Tania yang terikat dari sela kain kafan pembungkus itu.
"Udah jangan nangis, nanti bedaknya luntur, tuh! Kaga pucat lagi ntar. Yuk, temenin gue ke dalam sekolah lagi!" ajak Adam seraya menangis tangan kiri Tania dan menggenggamnya.
'Adam so sweet banget, ih… lebih manis dari Raja kalau kayak gini, mah,' batin Tania.
Adam menghentikan langkahnya. Ia memandang ke satu kelas yang berada dekat dengan toilet belakang, karena beberapa kali dari sudut mata dia melihat ada pergerakan di dalamnya.
Sampai akhirnya, Adam tak bisa lagi mengabaikannya rasa penasarannya. Ketika melihat sekelebat bayangan berbentuk perempuan bergerak keluar dari kelas lalu menuju belakang, tempat di mana toilet dan dapur berada.
Tania menggelengkan kepalanya.
"Ibu Ros kali, ya," gumam Adam lalu mengajak Tania menuju dapur untuk membuat kopi di dapur. Dapur itu bersebelahan dengan toilet belakang. Adam dan Tania lalu berjalan menuju dapur.
Adam bertemu Fasya yang terjaga. Sontak saja Adam menyeret Fasya menuju ke dapur. Tak lama kemudian, mereka sudah sampai. Ketika Adam sedang dalam proses merebus air, Fasya bilang kalau dia sakit perut dan harus ke toilet.
Lalu, pemuda itu berlari menuju toilet yang ada di ruang guru, bukan toilet belakang yang padahal sangat dekat dengan dapur. Fasya jadi tak berani ke toilet belakang, setelah mendengar cerita seram tadi. Akhirnya, Ada. sendirian di dapur ketika Fasya sudah kabur ke toilet.
Adam berdiri memperhatikan kompor yang tengah merebus air, sementara lorong menuju toilet ada di sebelah kiri. Lorong itu gelap tanpa penerangan sama sekali. Karena sedang merebus air, Adam berusaha semaksimal mungkin untuk tidak memperhatikan lorong itu. Namun, tetap saja beberapa kali secara reflek Adam melirik ke sana.
Sampai akhirnya suasana berubah, tiba-tiba hawa yang berbeda mulai menyeruak menyentuh permukaan kulit yang rambut halusnya mulai meremang. Udara yang Adam hirup mendadak jadi hangat cenderung panas, agak sedikit sesak juga ketika dia bernapas.
Sementara itu, Fasya yang terlanjur gengsi dengan Adam, pergi menuju ke toilet sendirian. Jantung seperti berhenti berdetak, bulu kuduk merinding semua. Fasya lantas langsung memejamkan mata, karena beberapa detik sebelumnya dari sudut mata dia melihat sesuatu.
Di lorong toilet, ada sosok perempuan berbaju merah sedang berdiri diam menghadap ke arahnya yang sedang terpaku di depan kompor. Seketika itu pula Fasya langsung memejamkan mata, ketakutan. Pemuda itu bahkan nyaris menangis, lalu Fasya memaksa membuka mata, menoleh ke lorong toilet.
Perempuan itu masih ada, masih berdiri diam dengan sebagian wajah tertutup gerai rambut panjangnya. Dia sangat seram dan menakutkan. Perlahan Fasya bergerak selangkah demi selangkah meski kedua kakinya gemetar menuju salah satu bilik toilet.
Kembali ke dapur, Fasya yang selesai buang air kecil berlari ketakutan.
“Kenapa lari-lari gitu, Fas? Ada apa?" tanya Adam.
"Ada perempuan baju merah lain. Tapi dia bukan Bu Ros," sahut Fasya.
Adam mencoba mengamati tetapi tak jua dia temukan siapa sosok itu.
"Mana kopinya?” tanya salah satu panita yang sudah sampai lapangan.
“oh iya lupa. Lagian kenapa elu lari-lari?" tanya Adam.
"Oh, gue lihat hantu baju merah di toilet belakang.” Jawab Fasya.
“Ah masa sih, Fas? Ah, ngayal kali lo, ama setan aja takut, hahaha.” Begitu kata Fasya.
Sepanjang yang Fasya tau, Adam adalah anak pemberani, dia takut sama hantu dan hal-hal mistis lainnya.
“Ya udah kalau kamu nggak percaya, kamu aja, gih sama Tania yang lanjut bikin kopi. Sungut Fasya dengan sedikit kesal.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....