POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 34. Kisah Mia (Part 1)



Sepuluh menit kemudian, Mia dan Herman sampai di restoran yang menjual aneka masakan ayam dan sambal lezat. Restoran tersebut terkenal sangat murah dan juga begitu enak. Letaknya juga tidak jauh dari kantor Mia. Perempuan itu memilih untuk duduk di sudut ruangan. Salah seorang pelayan restoran datang berjalan arah Mia dengan membawakan buku daftar menu di restoran itu.


"Selamat siang, Mbak, silakan dipilih," ujar pelayan wanita yang menyodorkan buku menu pada Mia.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Mia pada suaminya.


"Terserah kamu saja, Sayang." Pria itu menjawab dengan membelai lembut pipi istrinya.


Perlakuan Herman biasanya cuek dan tak romantis tetapi sangat mencintai Mia. Namun, pria itu begitu romantis dan terlihat berbeda dari Herman sebelumnya. Namun, Mia akhirnya berpikir bisa saja Herman sudah berubah pikiran.


Mia langsung tersipu malu dibuatnya, sedangkan pelayan yang berada di hadapan Mia mulai kebingungan melihat sikap tamunya ini. Namun, pelayan itu hanya diam mungkin dia sedang beranggapan jika wanita yang ada di hadapannya ini sedang stress atau membayangkan sedang bersama dengan kekasihnya. Yang terpenting ia mampu membayar.


"Mbak, saya mau satu porsi ayam saus padang, ayam bakar dan satu porsi kangkung balacan, ya. Lalu, minumnya dua gelas orange juice. Oh ya, tambahan es campur juga, ya," ucap Mia dengan tersenyum sumringah dan mengembalikan buku menu itu lagi pada sang pelayan.


"Menu yang mana yang mau dibungkus, Mbak?" tanya pelayan itu.


"Kita makan di sini, kok. Nggak ada yang dibungkus," tegas Mia.


Meskipun pelayan itu merasa ada yang aneh dengan Mia, tetapi ia tetap menghormati Mia sebagai tamu restoran.


"Mohon ditunggu pesanannya," ucap pelayan tersebut.


Pelayan itu masih kebingungan kala melihat Mia berbincang sendirian. Kenapa wanita bertubuh mungil seperti Mia memesan makan siang untuk dua orang? Sampai akhirnya dia mengambil kesimpulan kalau Mia mungkin saja sedang menunggu orang lain.


Mia merasa masih berbincang dengan Herman. Mia terlihat asik berbicara sampai tanpa sadar dan memperdulikan semua orang yang sedang memperhatikan ke arahnya dengan tatapan yang begitu aneh.


...***...


Mia kembali ke kantornya setelah berpisah dengan Herman. Pria itu bilang akan kembali ke rumah karena merasa tak enak badan.


Saat itu, Mia menuju ke kamar mandi. Sempat melewati mesin fotokopi untuk karyawan yang tiba-tiba menyala sendiri.


Tak ada siapapun di sana, akan tetapi mesin fotokopi itu berbunyi seolah ada yang sedang menggunakan.


"Lho, kok bunyi? Duh, jangan-jangan rusak, atau jangan-jangan ada ... Aku tak boleh berpikir seperti itu. Masa hari gini masih percaya hantu," ucap Mia berbicara pada diri sendiri.


Namun, saat menuju ke arah toilet, Mia teringat tentang cerita misteri di kantor ayahnya terdahulu. Ayahnya pernah menceritakan pengalaman misteri yang saat itu dialami. Ayahnya bilang seusai melakukan general check up di kantor, ia masuk ke dalam toilet yang hanya ada dia seorang di dalam toilet kantornya.


Lalu, terdengarlah suara perempuan bersenandung di pintu toilet bagian pojok.


Padahal itu toilet laki-laki tapi ada perempuan yang sedang bersenandung, dan tak ada siapapun lagi di dalam toilet itu. Bahkan bukan hanya ayahnya, tetapi ada juga karyawan lain yang merasakan hal sama. Perempuan bersenandung di pintu toilet pojok.


"Ayolah Mia, apa sih yang kau pikirkan ini? Duh, kenapa juga harus membayangkan hal tersebut." Mia berusaha mengalihkan pikiran negatifnya.


Dia tak mau memperhatikan sekitarnya lagi. Mia lalu menuntaskan hajatnya. Namun, tak lama kemudian, perempuan itu kini mendengar suara tangisan seorang perempuan, padahal ia sempat memastikan kalau dirinya hanya sendiri di dalam toilet.


"Haish, apa ini hanya imajinasi aku aja, ya?"


Semakin Mia berusaha mengelak, suara tangisan tersebut kembali terdengar. Mia langsung buru-buru menuntaskan hajatnya. Bulu kuduknya meremang. Apalagi saat dia sedang mencuci tangan di wastafel. Saat menatap cermin, Mia tersentak kala melihat sosok wanita berambut panjang dan lurus sedang menunduk. Wajahnya tak terlihat. Namun, lama kelamaan, sosok itu mengangkat kepalanya memperlihatkan wajah yang pucat.


"Ha-halo, sejak kapan Mbak di situ?" tanya Mia.


"Kenapa, Mbak Mia?" tanya salah satu rekan kerja Mia.


"Ada yang aneh, Rin, di toilet itu tadi saya merasa mendengar tangisan seorang perempuan. Terus nggak lama kemudian ada setan di sana," ucap Mia dengan wajah ketakutan.


"Waduh, jangan-jangan Mbak Mia ketemu hantunya Siti yang satu tahun lalu bunuh diri terjun dari atap. Wajahnya menghantam aspal, Mbak," tutur Rini.


"Astaga! Masa, sih, Rin?" tanya Mia lagi memastikan.


"Katanya sih, Mbak. Nah, di pojok situ katanya para karyawan sering ketemu sama penunggu perempuan. Terus kata yang kenal wajahnya, hantu perempuan itu si Siti yang bunuh diri itu," ucap Rini.


"Ngaco kamu, ah!" tukas Mia.


"Lah, buktinya Mbak Mia ketemu sendiri, kan? Sebenarnya sih penunggu gaib itu nggak akan mengganggu. Ya, mungkin dia hanya merasa kesepian jadi suka iseng gitu," ucap Rini.


"Ah, tau ah! Aku balik ke meja dulu," ucap Mia.


Seorang Office Boy melintas dan melihat Mia yang tengah berbicara sendirian.


"Mbak Mia, ngobrol sama siapa?" tanyanya.


"Sama si Rini, Mang." Mia menunjuk sosok Rini yang telah menghilang.


Sempat terkejut, tetapi Mia pikir kalau Rini sudah masuk ke dalam toilet.


"Rini? Mbak Rini yang divisi keuangan?" tanya Mang Udin.


"Iya, siapa lagi memangnya? Ada nama Rini yang lain?" tanya Mia.


"Ih, si Mbak Mia bercanda aja. Mbak Rini udah meninggal seminggu yang lalu pas Mbak Mia cuti. Almarhum sakit DBD, Mbak," ucap Mang Udin.


"Astaga, Ya Tuhan…."


Sepasang kaki milik Mia mendadak lemas. Mang Udin akhirnya mendengar cerita Mia tentang pertemuannya dengan para hantu. Pria itu juga menceritakan kalau ia pernah mengalami hal ganjil di kantor pada pagi hari.


"Waktu saya sedang asik menyapu seraya bernyanyi, tetiba saya mendengar satu suara perempuan yang turut bernyanyi. Padahal pagi itu hanya ada saya OB di sini," tuturnya.


"Yang bener, Pak?" tanya Mia.


"Bener, Mbak. Semenjak hari itu saya menyetel lagu dangdut keras-keras tiap pagi sambil bersih-bersih, supaya saya tak mendengar suara hantu yang ikut bernyanyi," ucap Mang Udin.


"Ih, ngaco deh Mang Udin," ucap Mia.


Brak!


Suara mesin fotokopi terdengar seperti terkena tendangan dari seseorang. Tak ada siapa pun di sana kala itu selain Mia dan Mang Udin.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....