
Dari mana saja kamu?"
Suara seorang pria yang sangat Mia kenal menegurnya saat Mia menyalakan lampu kamarnya kala itu.
"Astagfirullah! Mas Herman? Ka-kamu, kamu bukan dia, kan?" tuding Mia.
"Kamu ngomong apa, sih?" tanya pria itu.
"Kamu bilang kamu mau pergi ke luar kota tapi taunya luar negeri terus nggak jadi. Kamu sebenarnya ada kerjaan mau pergi ke mana, sih, kemarin itu?" tanya Mia sengaja mencari tahu.
"Aku mau ke Jepang, Mia, tapi nggak jadi. Lagian juga aku nggak mau ninggalin kamu," jawabnya setelah melirik kalender di belakang Mia yang bergambar Gunung Fuji di Jepang.
"Jepang? Kamu bukannya ke London ya, Mas?" selidik Mia.
"Oh iya, Mas mau ke London. Mas jadi lupa."
"Terus mobil kamu ke mana, Mas?" tanya Mia lagi.
"Mobil Mas masuk bengkel," ucapnya.
"Masuk bengkel? Mobil Mas itu ada di kantor. Hari ini diambil sama Yugi karena dia punya kunci serepnya."
"Maksud kamu apa sih, Sayangku?" tanyanya seraya mau mendekat tetapi Mia memberi kode sosok itu agar mundur.
"Cukup! Mas Herman sebenarnya nggak pernah panggil sayang ke aku. Kamu bukan Herman, kan? Suamiku sudah meninggal!" pekik Mia.
"Mia Sayangku, tega kamu bilang aku udah meninggal," ucapnya seraya ingin memeluk Mia.
"Mundur! Jangan dekati aku!" seru Mia.
Yugi masuk ke rumah kakak iparnya dan mendapati sosok berwujud genderuwo dengan rambut hitam lebat dan tubuh raksasa.
"Astagfirullahaladzim! Mbak, dia ini genderuwo," tukas Yugi.
"Apa?! Aku lihat dia itu mirip Mas Herman, kakak kamu," tukas Mia.
"Dia mengelabui Mbak, dia mengubah diri menjadi sosok Mas Herman. Dia itu genderuwo, Mbak," ucap Yugi.
Yugi membacakan ayat kursi dengan lantang, lantas sosok yang menyerupai Herman tadi langsung menghilang. Mia lantas jatuh terkulai di lantai. Ia menangisi kepergian suaminya. Sekaligus menangis dirinya yang telah berbuat asusila dengan sosok gaib, sosok yang disebut genderuwo.
Yugi lalu menghubungi ibunya. Dia menceritakan semua kejadian yang menimpa Mia. Akhirnya, sang bunda meminta Yugi membawa Mia pulang. Ibunya juga meminta Yugi untuk menjemput seorang ulama di kampung sebelah yang pernah menolong ayahnya dari kiriman santet. Meskipun selang satu bulan kemudian, nyawa ayahnya tetap tak tertolong.
Yugi membawa Pak Ustaz datang ke rumahnya. Pria itu lalu menjelaskan mengenai kenapa sosok itu datang dan mengganggu Mia. Makhluk gaib seperti genderuwo, menurut pria berjanggut putih dan berkalung sorban itu, sosok yang sadar akan melanjutkan perjalanan jiwanya bila tugasnya sudah selesai. Sementara arwah yang terperangkap sebenarnya tidak punya tugas apa-apa selain karena tertahan dan terikat oleh perasaan terlalu cinta atau terlalu benci kepada seseorang atau sesuatu di daerah itu.
"Arwah yang terperangkap ini biasanya karena ketidaknormalan proses meninggalnya di daerah tersebut. Misalnya karena kecelakaan atau pembunuhan. Keterikatan kuat dengan seseorang atau sesuatu di daerah itu juga menjadi perangkap jiwanya," tutur Pak Ustaz.
"Jadi, kenapa dia mengganggu kakak saya, Pak Ustaz?" tanya Yugi.
"Dia tinggal di kebun belakang rumah Nak Mia. Dia sering mengamati Nak Mia dan suaminya. Dia juga tahu saat kakak kamu meninggal. Karena iba, sosok itu malah nekat menjadi kakak kamu agar bisa menjaga Nak Mia," jelas Pak Ustaz.
Setelah itu, dilakukan ruqyah pada Mia. Agar menghilangkan aura negatif dan pengaruh jin jahat yang ada di tubuh Mia. Wanita itu berpikir kalau semuanya akan baik-baik saja. Nyatanya, dia salah. Yugi yang baru saja pulang setelah mengantar Pak Ustaz pulang, mengalami kecelakaan. Yugi tewas seketika karena lehernya patah saat mobil yang dia kendarai terguling-guling berkali-kali.
Dan ternyata sosok genderuwo itu masih saja muncul di sekitar Mia. Dia ingin menjaga Mia dari orang-orang yang jahat padanya. Awalnya, Mia ketakutan dan tak mau menemui sosok genderuwo yang mengaku bernama Bowo itu. Tapi lama kelamaan, sosok itu benar-benar menjaganya. Menjaganya dari manusia jahat maupun dari makhluk gaib yang jahat. Semenjak bertemu Bowo, Mia juga menyadari kalau dirinya jadi bisa melihat para makhluk astral.
...***...
"Dira nggak tau harus bilang apa sama Mbak, yang jelas Mbak hebat banget bisa bertahan sejauh ini," ucap Dira.
"Yah, mau bagaimana lagi, semuanya udah takdir." Mia tersenyum, lalu mengeluarkan buku catatannya dab bertanya pada Dira, "Jadi, kamu mau cerita versi lengkapnya tentang pembantaian sadis di rumah itu?"
"Hmmmm, Mbak mau buat berita itu dari versi saya? Emangnya pembaca akan percaya kalau kami berempat membawa Pak Polisi Jin ke rumah itu ke sana karena sosok hantu yang meminta tolong? Mereka nggak akan percaya, Mbak," tukas Dira.
"Saya tahu, nanti saya buat versi logis ditambah mencari bukti-bukti penunjangnya. Selama ini saya begitu, kok. Saya juga bisa membantu tugas kepolisian di daerah saya dulu karena dapat berkomunikasi dengan makhluk astral. Nah, pas saya pindah ke sini, saya malah ketemu kamu and genk hehehe." Mia sampai terkekeh.
"Saya and genk? Maksud Mbak, saudara kembar saya juga Fasya Disya, gitu?" Dira menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, siapa lagi hehehe."
"Ya udah saya ceritain versi yang saya alami dan juga Adam alami, ya. Ummmm, itu si Mas Genderuwonya jongkok aja di bawah pohon emangnya nggak pegel?" Dira menunjuk ke arah Bowo, genderuwo pendamping Mia.
"Hahaha, itu mode siaga dia jadi body guard. Bukannya diri tegak malah jongkok, hehehe. Udah biasa dia kayak begitu," ucap Mia yang memberikan lambaian tangan pada Bowo.
Dira juga mengikutinya seraya tersenyum pada sosok Bowo. Sosok genderuwo itu sempat heran kenapa Dira tak takut padanya. Sampai akhirnya dia melambai balik dan tersenyum pada Dira memperlihatkan deretan gigi hitamnya.
Ponsel Mia bergetar. Dia melihat rekan kerja di kantor berita barunya menghubungi.
"Apa? Yang bener kamu?" tukas Mia.
Di keningnya terbentuk beberapa lipatan yang mengerut. Wajah perempuan ayu itu menyiratkan rasa tak percaya.
"Oke, aku akan ke sana," ucap Mia lalu menutup sambungan ponselnya.
Mia memberi kode pada Bowo untuk bangkit.
"Kamu tahu Pasar Malam di Jalan Melati?" tanya Mia.
"Tahu, memangnya kenapa?" Dira balik bertanya.
"Pernah ke sana? Ke rumah hantunya?"
"Pernah." Dira mengangguk.
"Pernah dengar kasus penemuan potongan tubuh manusia di belakang wahana rumah hantunya?" tanya Mia lagi.
"Pernah, memangnya kenapa, Mbak?"
"Apa kamu pernah lihat sosok hantu korban pembunuhan di sana?" tanya Mia.
"Pembunuhan? Maksudnya gimana, Mbak?"
"Aku yakin banget kalau rumah hantu itu hanya kamuflase. Ada praktek ilegal semacam penjualan organ tubuh manusia di sana. Lalu, sisa tubuh yang tak terpakai dipotong-potong dan dibuang. Saat penemuan potongan tubuh kala itu kemungkinan tertinggal saat hendak dibuang," ucap Mia.
"Dira emang pernah lihat ada sosok laki-laki yang tubuhnya terpotong-potong jatuh beraturan. Tapi, Dira nggak kenal," ucapnya.
"Kamu mau ikut ke TKP? Karena aku yakin kamu nggak akan percaya dengan korban yang ditemukan sekarang. Ayo, ikut aku!" ajak Mia.
...*****...
...To be continue…...