POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 71. Ruang Bawah Tanah



Bab 71 Pocong Baper


Anan meminta Arya dan Anta menuju ke ruangan lain ditemani Ratu Sanca. Sementara dia, Dita, dan Raja menuju ke arah sebaliknya. Mereka berpencar agar mempercepat waktu dalam menemukan Dira.


Anta membuka pintu demi pintu dari kunci yang ia temukan di dalam sebuah lemari kabinet atas petunjuk Ratu Sanca. Sudah lama sekali sepertinya ada yang menyimpan benda-benda usang di sekitar kunci.


"Bisa, Nta?" tanya Arya.


"Anta pusing nih kuncinya banyak banget. Coba kamu aja yang buka!" titah Anta.


Anta merasakan mual yang menyeruak kala itu. Banyak debu yang ia hirup dan sempat membuatnya terasa sesak.


"Kamu duduk situ aja, deh. Biar aku yang keliling," ucap Arya.


"Nggak ah, Anta tetep mau berada di samping Arya," sahutnya.


"Ke arah sini!" ajak Ratu Sanca ke sebuah anak tangga menuju ruang bawah tanah.


Tiba-tiba, Anta melihat sekelebat bayangan seorang perempuan yang melintas. Rasa penasaran yang selalu saja mengusik perasaannya berhasil membuatnya menoleh dan mendekat.


"Sayang, mau ke mana?" tanya Arya.


"Anta lihat sesuatu, di ke sana," ucap Anta.


"Jangan dikejar!" seru Ratu Sanca.


Namun, sepertinya biasa Anta terlanjur penasaran dan tidak mendengarkan sang ratu ular sanca tersebut.


***


Sementara itu, Adam dan Tania larut dalam bosan. Mereka selalu didatangi oleh para makhluk astral. Sampai akhirnya beberapa kawanan tuyul datang dan ingin menakuti. Namun, mereka malah diajak Adam bermain petak umpet demi mengusir rasa bosan.


Malam sudah semakin larut, jam tangan milik Adam menunjukkan angka tepat dua belas malam. Bahkan, Adam sempat mendengar cerita tentang Villa Mahardika yang menyeramkan. Menurut penuturan salah satu tuyul, ada jalan yang lebih dekat melalui gerbang yang sudah ditutup dan jalan yang sudah tak terdaftar dalam google map.


"Gimana, Tan? Gue takut mereka kenapa-kenapa, loh," ucap Adam.


"Terus kamu mau nekat nyetir? Justru aku jadi takut kamu yang kenapa-kenapa nantinya," sahut Tania.


"Tapi gue kan pernah diajarin nyetir sama Kak Raja," ucap Adam.


"Ya udah terserahlah!" sungut Tania.


"Oke, gue coba."


Keinginan yang semakin besar untuk menyusul keluarganya itu malah tak mengendurkan keinginan Adam untuk menuju Villa Mahardika. Rasanya seperti baru terjadi kemarin sore, Adam tak pernah lagi menginjak pedal mobil milik ayahnya tersebut.


Meski ada sebagian dirinya yang agak takut jika dimarahi sang bunda, tetapi tak menyurutkan langkahnya untuk nekat mengendarai mobil. Adam merasa tak memiliki banyak waktu lagi. Ada perasaan tak enak yang dia rasakan kala itu.


"Kak, temen-temen aku mau pada ikut, boleh?" tanya salah satu tuyul.


"Ayolah, ikut semua aja juga muat! Naik di atas mobil kalau perlu," sahut Adam.


"Asiiiikkk! Horeeee!" Para tuyul terus bergegas menaiki mobil yang hendak dikendarai Adam.


...***...


Bersama dengan Anan dan Raja, Dita menyusuri lorong gelap yang panjang. Setelah sebagian besar pintu yang dia perkirakan menyimpan apa yang dia cari, Dita tak kunjung menemukan putrinya. la benar-benar seperti orang tersesat di rumah tersebut. Mereka tak menemukan ruangan tempat putrinya disekap.


"Tolong bakar rumah ini," pinta Tuan Mahardika.


"Baik, nanti saya akan bakar. Tapi, saya ingin menemukan putri saya dulu," sahut Dita.


"Carilah ke ruang bawah tanah. Tapi, tempat itu ditutupi pagar gaib," ucapnya.


"Pantes dari tadi nggak nemu," sahut Anan.


"Kita cari Ratu Sanca aja buat buka pagar gaibnya," sahut Raja.


"Bunda setuju, ayo kita cari dia. Ratu Sanca kan lagi sama Anta," ucap Dita.


Dita juga mengetahui sejarah bagaimana persekutuan pengikut Ratu Masako ini dibangun. Sementara itu Raja tertegun, merasa terpanggil oleh sebuah suara yang tak asing dari suatu tempat.


Raja berbalik arah, dia berjalan seorang diri, selangkah demi selangkah, melewati pintu-pintu tua yang terbuka. Bayangan anak-anak laki-laki berkepala botak berdiri memandangi dirinya.


"Oh, ini jangan-jangan tempat tuyul dikembang biakkan," gumam Raja.


Raja bahkan tak menghiraukan sosok-sosok anak kecil yang ditambahkan sebagai tuyul yang menampakkan wujudnya. Kali ini hatinya terasa teguh, bahwa siapa yang sedang memanggilnya ini sedang menuntunnya menuju ke suatu tempat yang sedari tadi dia cari bersama keluarganya.


Sampai akhirnya, Raja melihat sebuah pintu dengan anak tangga menuju ke bawah. Bentuk tangga ini menyerupai seperti spiral, terlihat sama persis dengan kediaman rumah tua yang pernah dia datangi dulu.


"Bunda, Yanda! Kayaknya ini jalan ke ruang bawah tanahnya!" seru Raja seraya menoleh ke arah orang tuanya tetapi tak ada siapa pun di sana.


Raja tertegun sejenak, di dasar anak tangga terdapat sebuah tembok besar dengan foto-foto tua terpajang di dindingnya. Sebagian besar dari foto itu diisi oleh pria dengan kumis tebal mengenakan blangkon dengan ekor yang panjang. Wajahnya sama dengan Tuan Mahardika yang dia lihat tadi.


Raja kemudian melihat satu per satu wajah dari foto-foto itu. Anehnya sebagian besar foto dirobek tepat di area mata seakan menunjukkan sebuah pesan kepada siapa pun yang datang ke tempat ini. Sama seperti penampakan Tuan Mahardika yang memiliki sayatan melintang dari senjata tajam. Bahkan salah satu bola matanya juga hilang.


"Ja, itu kamu, kan?" Suara Anta menggema mengejutkannya.


"Astagfirullah, Kak Anta! Jadi tadi kakak yang manggil aku?" Raja menoleh pada kakaknya yang masih ada di atas anak tangga awal.


"Kak Anta ngikutin perempuan tadi ke sini, kamu lihat nggak?" tanyanya.


"Justru aku juga denger suara perempuan manggil aku. Eh, taunya aku nemu tempat ini. Padahal tadi kalau nggak salah Bunda bilang ruang bawah tanah ada pagar gaibnya, loh," ucap Raja.


"Kamu kan selalu bisa buka pagar gaib tanpa kamu sadar," ucap Anta.


Sementara itu, Arya mengamati setiap detail di dalam foto sebelum ia tertuju pada satu foto yang nampak berbeda. Foto itu berada di barisan terakhir. Arya merasa yakin bila ia pernah melihat orang yang ada di dalamnya. Pria ity teringat dengan sosok itu karena masih tergambar jelas di dalam kepalanya, sembari mengingat kilasan kehidupan saat di Jepang.


Arya berujar dengan suara yang lirih, "Ini Hanako, Nta."


Sontak saja Arya menjatuhkan bingkai foto itu hingga menimbulkan suara yang menggema. Dia begitu sangat kesal. Tak lama kemudian, Arya teralihkan pada rentetan foto lain yang ada di dinding. Bila benar sesuai dugaannya, maka semua bingkai ini adalah anggota sekte sesat dari Hanako dan Keluarga Mahardika.


"Biasa aja dong, Kak!" ucap Raja pasa Arya kala membanting figur tersebut.


"Kesel gue bawaanya kalau liat Hanako," tukas Arya bersungut-sungut.


"Kita ke sudut sana, siapa tahu Dira ada di sana," ucap Anta menunjuk ke sebuah ruangan yang ada di sudut paling akhir.


...*****...


...To be continued ...