
"Bukannya dia Bang Teguh, ya? Satpam baru di komplek ini?" gumam Adam.
"To-tolong! Tolong saya!"
Rintihan suara seorang pria terdengar. Adam meminta Fasya untuk menghubungi Dira. Setelah menghubungi Dira, Fasya berteriak memanggil para warga yang tengah memukul kentongan dan mengejar kuntilanak terbang.
Sementara itu, Adam mendekat ke asal suara tadi. Sosok Johan tengah terluka. Kakinya terperosok ke sebuah parit dekat lahan kosong.
"Bang Johan?" Adam seketika memastikan kondisi pria itu.
Sepasang kakinya remuk dan terjebak di dalam parit. Dari mulutnya mengeluarkan darah segar.
"Siapa yang melakukan ini sama Bang Johan?" tanya Adam mencoba untuk menarik tangan pria itu tetapi Adam sadar kalau itu akan lebih membahayakan Bang Johan.
"Mi-mi-miyako. Di-dia, dia kuntilanak terbangnya." Setelah mengatakan itu, Johan terlihat memejamkan kedua matanya. Dia sudah tak kuat lagi untuk bertahan.
Keluarga Anan dan Herdi datang bersama para warga.
"Apa yang terjadi ini, Dam?!" pekik Anan.
"Aku sama Fasya dan Bang Udin denger ada yang teriak terus kita ke sini. Kita lihat Bang Teguh udah nggak bernyawa. Terus Bang Johan ini pingsan kayaknya," ucap Adam.
"Siapa yang mencelakai dia?" tanya Dita.
Wanita itu sudah menghubungi ambulans dan polisi setempat. Anan juga menghubungi Jin yang terdekat karena dia tidak tahu nomor Kapten Joshua, tetangga barunya yang juga petugas berwajib itu.
"Bang Johan bilang kuntilanak terbang itu Ibu Miyako, Bun," sahut Adam.
"Astagfirullah!"
Dita langsung menyentuh tangan Johan. Dia mendapati gambaran kalau Miyako sedang diintai oleh Johan dan Teguh. Sosok wanita itu tengah memakan seonggok tubuh mungil yang diduga bayi. Teguh berusaha menangkap gambar video dari sosok menyeramkan itu dengan kamera ponselnya.
Karena ketahuan, Miyako lantas mengejar kedua pria itu. Miyako tak segan mencabik Teguh berkali-kali dan memakan organ tubuhnya. Sementara itu, Johan kakinya dipatahkan dan terlempar jatuh ke parit. Dita kembali ke pelukan Anan karena sempat lemas melihat gambaran tentang kematian Teguh.
"Dia benar, Miyako kuntilanak terbangnya," ucap Dita.
Pak RT mendekat pada Anan. Tak ada yang berani menyentuh jasad Teguh sampai polisi tiba. Mereka juga tak berani menyentuh Johan karena jika dipaksa tarik makanya pendarahan di pahanya yang tertancap besi di dalam parit akan semakin hebat. Maka mereka menunggu tim medis.
"Bang Udin juga bilang kalau dia lihat Ibu Miyako. Saya nggak nyangka kalau warga saya sendiri ternyata kuntilanak," ucap Pak RT.
Tak lama kemudian, suara mobil sirine ambulans terdengar. Mobil yang dikendarai Jin juga mengikuti di belakang ambulans tersebut. Setelah diceritakan perihal kejadian mengerikan malam itu, Jin segera memerintahkan tim medis untuk mengevakuasi jasad Teguh dan membawa Johan segera ke rumah sakit demi mendapat pertolongan.
Semua warga diminta meninggalkan tempat kejadian perkara dan dilarang mengambil gambar.
"Bun, kenapa jadi banyak pocong?" bisik Dira di belakang Dita saat berjalan paling terakhir untuk mengamati.
"Bunda rasa pocong-pocong itu bukan dari sini," tukas Dita.
"Kenapa mereka serem banget, Bunda, kok nggak cantik kayak aku," sahut Tania yang tadi mengikuti Adam lalu berpindah mengikuti Dira.
"Udah biarin aja. Sebaiknya kita pergi dari sini!" ajak Dita.
Para sosok pocong itu masih berdiri berurutan memandangi kepergian Dita dan yang lainnya.
"Rapi amat itu barisan, kayak antri sembako," celetuk Adam.
"Hush! Adam cepetan pergi dari situ!" Dita menatap tajam pada putranya.
"Iya, Bunda," sahut Adam.
...***...
Mobil Joshua sampai di depan rumahnya. Dia langsung turun dan melangkah cepat untuk menghampiri Jin. Wajahnya terlihat gusar.
"Elu bilang apa, Jin? Istri gue kuntilanak, hah?" Joshua datang mencengkeram kerah kemeja piyama Jin yang dia pakai malam itu lalu dibalut dengan jaket seragam kepolisian.
"Gue nggak bohong, Jo! Semua warga liat, kok. Bahkan salah satu korban masih hidup dan bisa jadi saksi atas perbuatan istri elu," sahut Jin.
"Bull ****! Mana ada gue nikah sama kuntilanak. Ini zaman modern, masih aja kalian percaya dengan hal kayak gitu," tuding Joshua penuh amarah.
Wajah Joshua terlihat marah dan penuh kebingungan juga. Dia masih tak menyangka kalau sosok kuntilanak terbang yang meneror warga merupakan istrinya. Hatinya kalut dan galau. Namun, dia tak mudah percaya karena sangat mencintai Miyako.
Salah satu warga melapor pada Jin. Dia dan rekan lainnya kehilangan sosok Miyako malam itu. Jin meminta untuk sementara waktu pencarian ditunda dan akan dilanjutkan esok hari. Sementara itu, Jin meminta Joshua untuk memberi kabar jika istrinya pulang.
Namun, Joshua tetap saja marah dan tak mau terima begitu saja jika istrinya dituduh sebagai kuntilanak. Meskipun dia menyadari kalau istrinya tidak berada di rumah kala itu.
Jin lantas meminta dua orang anak buahnya untuk mengawasi Joshua dan rumahnya. Dia yakin kalau Joshua pasti akan menyembunyikan keberadaan sang istri.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....