POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 37. Penemuan Mayat



"Adam liat Dira?" tanya Anan saat diminta Dita untuk membawa Adam dan Dira pulang.


Keadaan Tasya juga sudah membaik. Dia bersama Herdi dan Disya akan berada di rumah sakit demi menjaga Fasya.


"Aku nggak liat Dira, Yanda. Mungkin ada di kamar Fasya," jawab Adam.


"Yanda dari sana kok. Ini Bunda yang suruh buat mencari kalian. Kita mau ajak kalian pulang," ucap Anan.


"Hmmmm, coba Adam cari dulu si Dira ke mana. Takutnya dia masuk kamar mayat lagi," ucap Adam.


"Mau ngapain dia ke kamar mayat? Kurang kerjaan aja!" Anan sampai melenguh kesal.


"Kayak Yanda nggak tau aja. Kerjaan Dira kan paling semangat nolongin hantu. Kayak Kak Anta gitu," tukas Adam.


"Astagfirullah! Iya juga, ya. Ayo, deh kita ke kamar mayat!" ajak Anan.


...***...


Sementara itu, Dira yang berada di mobil milik Mia, sampai di kebun belakang pasar malam yang sedang tenar dan banyak pengunjung itu.


"Kamu sini aja, aku sama Bowo turun buat mantau lebih dekat. Nanti kalau kamu ketemu sama penampakan, ajak ngobrol dan tanya jawab soal kasus-kasus di sini," pinta Mia.


"Hmmmmm, gitu ya. Ya udah nanti Dira usahakan," sahut gadis manis itu.


Mia lantas melangkah turun dari dalam mobil setelah menempuh lima belas menit perjalanan. Wanita itu menatap ke sekeliling, merapatkan jaket kulitnya karena angin berembus lebih kencang dan membuatnya menggigil.


Pasar malam ini sebenarnya cukup jauh dari tempat permukiman padat penduduk. Namun, lokasinya sangat strategis. Apalagi dibangun di sebuah rumah lama berlantai dua yang terbengkalai. Rumah yang cocok untuk wahana rumah hantu. Sementara itu, halamannya begitu luas sehingga cocok juga dijadikan bermacam stand untuk menjual aneka kuliner atau pernak-pernik lainnya.


Apalagi bagian belakang rumah hantu itu ada kebun kosong. Sehingga tak mengejutkan bila tempat seperti ini menjadi tempat ditemukannya mayat misterius tanpa identitas. Mia sejenak terdiam berpikir apakah mayat itu benar-benar korban pembunuhan sehingga harus dibuang seperti ini?


Berbekal kartu jurnalis yang dia miliki, Mia mendekati salah satu petugas kepolisian yang sedang berjaga di depan garis kuning. Tempat itu sudah ramai dipenuhi orang-orang yang menonton. Warga-warga setempat dan juga pengunjung pasar malam yang penasaran terlihat berkerumun juga.


"Anda mau apa ke sini?" kata petugas polisi yang berjaga kepada Mia.


"Halo, Pak! Saya dari awak media. Saya mau meliput–"


Belum juga selesai Mia menjelaskan ke pada si petugas, pria dengan kumis tipis itu langsung berkata dalam nada suara berseru penuh ketegasan, "Maaf, Anda tidak boleh masuk!"


"Tapi Pak, saya dari media, loh. Saya berhak ada di sini karena saya–"


Tanpa menunggu penjelasan Mia lebih lanjut, lagi-lagi si petugas berkata dengan nada yang semakin meninggi kepada Mia. Ada juga beberapa warga yang memperhatikan ke arah Mia.


"Tidak bisa, Mbak! Pokoknya tidak bisa! Ini perintah langsung dari komandan saya."


"Tapi saya jurnalis, Pak."


"Lalu?" Petugas polisi itu memandang Mia dengan sorot mata tajam seraya menghalangi para warga yang hendak menangkap gambar.


"Saya harus menyampaikan ini kepada khalayak ramai, karena —:


"MBAK, MOHON PERGI DARI SINI! INI PERINTAH DARI ATASAN SAYA!"


Lagi-lagi si petugas itu memotong dengan nada meninggi. Mia menghela napas panjang. Dia terlihat mulai emosi dan gusar. Perempuan berparas ayu itu menatap ke sekeliling. Kerumunan orang saling bergumam satu sama lain saat melihat perdebatan antara Mia dan si petugas yang berjaga.


Namun, Mia tak kehilangan akal. Dia meminta Bowo untuk mencari tahu ke dalam TKP karena Bowo tak terlihat. Sementara itu, Mia pergi mewawancarai beberapa pengunjung yang ada di sekitar tempat kejadian. Beberapa di antara mereka mengaku, bahwa sebelumnya tidak ada yang pernah tahu bila di dalam kebun kosong tersebut terdapat sebuah rumah. Banyak ilalang dan pohon rindang menutupi.


Namun, beberapa orang mengaku


pernah memergoki seorang lelaki tinggi dan bertubuh kurus datang bersama seorang perempuan. Mereka datang menyelinap masuk di antara rumput liar yang tinggi tersebut. Saat dicari, lelaki dan perempuan itu hilang, lenyap begitu saja. Padahal, warga tersebut merasa kalau pasangan itu akan berbuat yang tidak-tidak di dalam kebun.


"Lelaki tinggi dan kurus, ya?" gumam Mia seraya menulis di jurnal.


Mia terdiam sejenak, lalu bertanya lagi pada seorang pria berusia empat puluh tahun yang tubuhnya agak tambun.


"Apa Mas tahu kira-kira siapa orang pertama yang menemukan mayat tersebut?" tanya Mia.


Pria itu saling menatap satu sama lain dengan rekannya, sebelum berpendapat bila dia dan rekannya juga tak ada yang tahu siapa penemu mayat itu pertama kali. Mereka datang ke tempat ini dari desas-desus penemuan mayat tersebut.


Mia akhirnya kembali dan menunggu di samping mobil. Dia menatap ke arah petugas yang masih sigap berdiri berjaga di depan tanda garis kuning.


"Kampret! Asu lu semua! Umpatnya di dalam hati ketika melihat wajah si petugas yang sekarang menatap dirinya.


"Gimana, Mbak?" tanya Dira.


"Susah masuk, Dira. Tumben banget lo penjagaannya ketat," sahut Mia.


"Memangnya mayat itu siapa? Apa Dira kenal sama dia?" tanya Dira.


"Kamu tahu kafe Backdoor?" tanya Mia.


"Tahu, kakak Dira manggung di sana."


"Pemilik kafe itu yang mati. Padahal aku udah jadiin dia jadi tersangka utama kasus kehilangan orang di sini," ucap Mia.


"Hah? Maksudnya Kak Wahyu?" Dira tersentak tak percaya.


"Iya, si Wahyu," sahut Mia.


Tiba-tiba, sebuah mobil sedan kepolisian datang, lalu berhenti tak jauh dari tempat Mia memarkir mobilnya. Seorang lelaki tinggi tegap dengan wajah agak bule, melangkah turun. Mia menatap lelaki itu dengan lekat. Ada senyum yang terlukis di wajahnya. Mia sadar bahwa ia mengenalinya. Wanita itu lantas mendapat ide dan memberanikan diri mendekati si lelaki berkaos kepolisian dengan luaran jaket jeans.


"Hai, Mas Jo!" sapa Mia.


Lelaki itu menatap Mia, ekspresi wajahnya tampak terkejut.


"Nggak di sana nggak di sini, aku ketemu terus sama kamu," gumamnya.


Lalu kemudian, polisi bernama Joshua itu melangkah lebih cepat meninggalkan Mia. Namun, wanita itu tak pantang menyerah. Mia terus saja memanggil namanya. Joshua tak jua mengindahkan. Mia yang merasa kesal akibat diabaikan, sontak saja menghadang langkah lelaki itu. Joshua lantas memasang wajah ketus.


"Kamu mau apa?" tanyanya.


"Gini, Mas Jo, tolonglah saya. Bawa saya masuk ke TKP, ya?" pinta Mia dengan tatapan memohon.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....