POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 66. Penyesalan



Bab 66 Pocong Baper


Dira sudah dipindahkan dari motel dalam keadaan tak sadar. Gadis itu duduk terikat di sebuah ruangan yang gelap. Terbentang meja yang panjang dengan sepuluh kursi kosong di sekitarnya. Tak ada siapa pun di sini kecuali dirinya yang kini tertuju memandang ke sebuah bingkai raksasa dari foto seorang wanita yang berpose kimono dengan pakaian serba hitam


Tak beberapa lama kemudian terdengar suara beberapa langkah kaki mendekat. James dan Icha membuka pintu. Bayangan keduanya bagai siluet hitam yang kemudian salah satunya mengambil sebuah teko, lalu menuangnya ke dalam cawan perak. Dialah Icha yang mendorongnya tepat di hadapan Dira.


"Apa yang kalian inginkan dari Dira? Lepaskan Dira sekarang? Dira nggak sangka, kalian yang Dira pikir bisa jadi sahabat yang baik, ternyata kalian jahat!" ucap Dira.


Icha hanya bisa terisak.


"Minum dulu, Ra," pinta Icha seraya menyodorkan cawan berisi air itu pada Dira.


"Apa yang membuat kalian berbuat keji seperti ini? Kenapa kalian culik Dira kayak gini?" tanya Dira berusaha mengelak minum dari Icha.


James hanya berdehem lalu kemudian duduk tepat di sisi lain meja panjang tempat Dira sedang menatap dirinya.


"Kami hanya ingin orang tua kami hidup lagi," tukas James.


"Kalian percaya pada iblis wanita ini? Kalian itu ditipu!" seru Dira.


Brak!


"Kau jangan sok tahu. Kamu dan keluarga sok sucimu itu akan merasakan akibatnya!" tukas James.


Dia bangkit dan mendekat pada Dira. Dia sentuh pipi gadis itu dan ingin mengecupnya tetapi Dira menolak dengan cara menoleh.


"Kau jangan terlalu percaya diri, Ra! Bukan kamu yang ingin aku miliki selama ini," bisik James seraya melirik ke arah Icha.


James memegang kedua pipi Dira dan menekannya kuat. Bayangan tentang perlakuan James pada orang tuanya Icha tergambar jelas. Membuat gadis itu berlinang. Dira tak menyangka kalau pemuda yang sempat dia amati lebih dekat ini sangat kejam.


"Tega kamu, James! Kamu bunuh orang tua kamu sendiri, bahkan kamu tiduri ibu kamu sendiri, kamu gila!" pekik Dira.


Plak!


Tamparan kuat mendarat di pipi Dira sampai meninggalkan noda merah dari telapak tangan pemuda itu. Icha menatap tak percaya.


"A-apa, apa maksud semua ini?" tanya Icha.


"Aku akan menemui Nyi Ratu dulu. Kamu di sini dulu, Ca. Jagain Dira dan jangan lupa minum ini biar kamu tenang," titah James menunjuk teko emas di atas meja lalu keluar dari ruangan tersebut.


Icha mengangguk lalu ingin meneguk airnya tetapi Dira melarang.


"Jangan minum! Dengarkan aku dulu, Cha!" pinta Dira.


"Sudahlah, Ra. Aku juga nggak tega lihat kamu begini. Apalagi liat Mbak Mia kesiksa setiap hari sampai mengemis mati. Tapi ini semua aku lakukan untuk orang tua ku," ungkap Icha.


"Mami Miranda maksud kamu?" Dira melayangkan smirk di wajahnya.


"Kau dibodohi, Cha! Dibodohi oleh kakak kamu sendiri. Oh tunggu, kakak adopsi jelasnya. Atau Dira boleh bilang, James anak pungut?"


"Ka-kamu, kamu tahu dari mana, Ra?" Icha mendekat.


"Dira sungguh tak ingin membuat kamu semakin menyesali segala perbuatan yang telah kamu buat selama ini. Tapi, kamu harus tahu, Ca."


Dira lantas mengatakan semua penglihatannya tentang James. Icha berusaha untuk menyangkal dan tak percaya. Namun, apa yang Dira katakan semuanya masuk akal dan sesuai. Dira juga meminta Icha untuk tak meminum apa pun yang diberikan oleh James


...***...


Pintu ruangan yang seperti ruang makan itu terbuka.


"Icha, bantu aku bersihkan bayi!" Suara James menggema dari pintu luar.


"Bayi? Bayi dari mana?" tanya Icha.


"Warga desa sebelah baru melahirkan. Nyi Ratu bawa bayi ini dari sana," ucap James.


"Oh, begitu."


"Kamu udah minum air itu?" tanya James


"Sudah, Dira juga sudah minum," ucap Icha berbohong.


"Oke bagus kalau gitu. Ayo, ikut kakak!" ajak James.


Icha sempat menoleh pada Dira yang menatap ke arah lukisan dengan tatapan kosong. Gadis itu lantas menyusul James ke sebuah ruangan bawah tanah. Ruangan yang persis diceritakan oleh Dira. Ada ruangan di mana ayah dan ibunya disekap selama ini. Namun, saat tak ada jasad mereka yang Icha bisa temukan.


Sosok jasad bayi tergeletak di atas kafan putih. Di sampingnya ada air berisi kembang tujuh rupa. Ada pisau tajam yang tersusun rapi juga di sana. Icha tahu kalau dia harus menguliti, membersihkan tubuh bayi itu, dan mengucurkan darahnya yang pasti mulai menghitam ke sebuah cawan emas.


"Kakak tinggal, ya. Kakak mau siapkan Mbak Mia dulu. Nanti baru kita urus Dira. Sebentar lagi kita akan bertemu sama mami dan papi," ucap James seraya memeluk Icha dari belakang dan memberi kecupan di kepala gadis itu.


Langsung saja Icha mengatakan pada James.


"Sepertinya aku memutuskan untuk keluar dari dalam permainan ini. Kupikir Dira tak layak untuk dihabisi. Aku yakin bila ini dilanjutkan maka akan menyulut pertikaian lebih dalam di antara kita semua." Icha melihat tanda hitam di paha bayi itu. Tanda yang sama yang diceritakan oleh Dira.


James sejenak terdiam, sebelum bergerak meraih gelas di sekitarnya, menuang teko perak ke dalam cawan. James meneguknya dalam sekali isapan, suara mendesis menikmati segelas air pekat itu terdengar hingga ke seluruh ruangan. Ia juga memberikan pada Icha untuk meneguknya.


"Kita tidak bisa berhenti di sini, Adikku Sayang. Ingat, ini semua demi mami dan papi," ucap James memberi kecupan di kepala Icha lalu pergi.


Setelah memastikan James telah menaiki tangga dari ruang bawah tanah itu, Icha menumpahkan air dari dalam mulutnya. Ia tak meminumnya sesuai perintah Dira. Kini, Icha percaya kalau apa yang Dira katakan benar. Gadis itu tersungkur di samping meja tersebut. Ia menangisi jasad sang bayi yang ia yakini adalah adiknya. Terlebih lagi, ia juga menangisi nasib ayah dan ibunya yang sudah dihabisi oleh James. Icha menggigit ujung kausnya dengan kuat agar tak ada yang mendengar betapa pilu tangisannya kala itu.


...******...


...Bersambung dulu, ya....