POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 53. Korban Kuntilanak Terbang



Bab 53 Pocong Baper


"Po-pocong, Guh?"


"Iya, masa lontong. Pocong bapak luh, tuh!" tukas Teguh.


"Serem banget jokes elu! Jangan bawa-bawa almarhum bapak gue, woi!" Johan menoyor Teguh.


Pria itu lalu terdiam sejenak. Ia mencoba untuk tetap tenang meski Teguh baru saja mengatakan bahwa ada pocong berdiri di belakangnya.


"Guh, aku mau tanya," kata Johan perlahan, "Sepengetahuanku, kalau ada makhluk sejenis pocong di atas tanah yang katanya angker, berarti di dalam tanah itu ditanami oleh kain kafan peninggalan dari orang yang sudah meninggal. Apa itu bener?" tanya Johan.


Teguh mengangguk.


"Tapi bukankah hal itu juga nggak sembarangan bisa dilakukan? Maksud gue, bukankah kain kafan yang diambil harus dari seseorang yang sudah meninggal pada hari khusus seperti Jumat Kliwon?" tanya Johan lagi.


Teguh kembali mengangguk mengiyakan.


"Sejak kedatangan wanita misterius ini, menurut elu ada berapa banyak pocong yang sudah elu lihat di atas tanah ini?" tanya Johan meskipun agak takut.


Teguh terdiam sejenak. la melihat ke sekelilingnya sebelum berkata kepada Johan, "Ada puluhan kayaknya."


Sontak saja, Johan menelan ludah setelah mendengarnya. Ia tidak pernah menyangka kalau kawannya akan menyebut angka sebanyak itu.


"Ada lebih dari satu pocong, bahkan puluhan. Elu nggak salah ngitung 'kan?" tanya Johan.


Teguh menggelengkan kepala.


"Gue ngitung ada dua puluh satu, terus di luar sana masih banyak yang berdiri sedang melihat ke rumah ini cewek." Teguh menghela napas berat sejenak.


Johan terdiam juga dan melakukan hal yang sama. Akhirnya, ia menyesap si rokoknya. Baginya kini, rokok adalah satu-satunya pelarian yang membuat dirinya tetap waras dengan semua hal sinting yang dilihat Teguh.


"Gara-gara elu, sekarang gue jadi penasaran. Kira-kira apa yang disembunyikan oleh perempuan itu? Pesugihan kah apa tumbal tumbalan?" tanya Johan.


Teguh tersenyum memandang ke tempat Johan sedang berdiri.


"Gue juga nggak tau, Han. Jadi gimana sekarang, mau lihat atau nggak?" tanya Teguh.


Tanpa menunggu lagi, Johan lalu mengatakan keputusannya. "Ayo lanjut, gue penasaran!"


Malam itu juga, mereka bersiap-siap untuk menyusup masuk ke dalam rumah milik Miyako.


"Guh, aman kan nih?" tanya Johan mulai takut kala tiba di dinding belakang rumah Miyako. Teguh hanya menanggapi Johan dengan meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir. Sembari mendesis Teguh menjawab pertanyaan sahabatnya, "Jangan berisik makanya biar nggak ketauan."


***


Malam itu, Adam yang baru saja bersama Tania membeli nasi goreng depan rumah, bertemu dengan Fasya yang baru saja dari warung sembako untuk membeli mie rebus. Tiba-tiba, terdengar suara pria yang menjerit tak jauh dari kebun kosong dekat mereka.


"Fas, elu denger nggak barusan ada yang jerit?" tanya Adam.


Fasya mengangguk.


"Samperin yuk, kali aja butuh pertolongan kita!" ajak Adam.


"Tunggu, Dam. Coba deh pikir. Kali aja itu suara hantu." Fasya bergidik ngeri.


"Itu suara orang, Fas!"


"Setan, Dam!"


"Elu yang setan!" seru Adam memukul bahu Fasya.


"Ini kenapa pada ribut, sih? Kalau hantu yang minya tolong, nggak mungkin. Buktinya saya denger, kok," tukas Bang Udin.


"Tuh, Fas, bukan kita berdua doang yang denger. Lah, ini Bang Udin juga denger, Fas. Gue yakin itu manusia yang minta tolong," ucap Adam bersikeras.


"Kenapa jadi ngomongin setan, sih? Ayo, kita samperin, siapa tau manusia yang minta tolong," ucap Bang Udin yang mendengar perdebatan Adam dan Fasya.


Pria itu lalu membungkus nasi goreng untuk Adam lalu mengunci gerobaknya di tepi rumah Anan. Bang Udin melangkah menuju arah suara itu disusul oleh Adam. Mau tak mau Fasya mengikutinya.


"Itu tuh ada yang terbang di sana!" tunjuk Bang Udin.


Adam langsung berlari menuju sosok yang terbaring itu. Fasya terpaksa juga mengikutinya.


"Aduh kenapa pada lari, sih? Gue jadi ketinggalan, nih. Gue masih rada takut kan kalau ketemu hantu yang wajahnya nggak jelas!" gumam Fasya yang mempercepat larinya.


"Astagfirullah! Apaan tuh yang ada di atas pohon?" Bang Udin menunjuk saat melihat sosok perempuan berdaster lusuh dan berambut panjang.


Perempuan yang diduga kuntilanak terbang itu sedang mengunyah usus dan jeroan lainnya milik seorang manusia. Dia sedang menghisap darah dan mengunyahnya. Sontak saja Adam dan Fasya memuntahkan isi dari dalam perutnya karena jijik.


Kepala hantu itu menoleh ke arah rombongan Adam yang baru datang. Secara kilat, sosok hantu itu langsung melayang pergi.


"Astagfirullah, ternyata bener ada kuntilanak terbang!" pekik Bang Udin.


"Hueeeekkk, gue nggan kuat!" Fasya yang tak tahan kembali muntah-muntah di samping Adam.


"Ayo kejar, Bang! Laporan sama petugas ronda!" seru Adam.


Namun, pria itu tak jua bergeming. Tubuh Bang Udin kaku, dan tak bisa bergerak. Pasalnya dia mengenali wajah sosok perempuan tadi. Mendadak dari kejauhan, suara para warga memukul kentongan dan berteriak, "kuntilanak terbang!"


Sementara itu, tatapan Adam tertuju pada sosok Teguh yang sudah tak bernyawa dengan perut yang sudah menganga.


"Bukannya dia Bang Teguh, ya? Satpam baru di komplek ini?" gumam Adam.


"To-tolong! Tolong saya!"


Rintihan suara seorang pria terdengar.


*****


Bersambung dulu, ya.