
Di Rumah Sakit Keluarga tempat Fasya dirawat, Herdi terus saja mengipasi Tasya yang sedari tadi tampak shock. Istrinya tak henti-hentinya menangis memikirkan keadaan putranya.
Dita dan Anan juga membantu menenangkan keduanya. Sementara itu, Dira yang baru saja datang setelah menemani Disya menerima pemeriksaan, langsung mendekati Adam. Di samping pemuda itu ada Tania yang berdiri sedari tadi.
Selang beberapa menit kemudian, dokter bernama Haryanto keluar dari ruang operasi. Dokter meminta pihak keluarga yang bergolongan darah AB agar segera memberikan darahnya pada Fasya. Banyaknya darah yang keluar dari luka pemuda itu membuat dia kehilangan banyak darah dan butuh transfusi darah.
"Golongan darahku AB sama kayak Fasya," sahut Tania.
"Yeeeee, elu itu udah bukan lagi circle kita, Tan! Kaga diajak! Makanya jangan asal nyeletuk," ketus Adam yang sedari tadi tampak jengkel pada Tania.
"Huh, aku kan cuma mau membantu," ucap Tania.
"Golongan darah kita O, Dok. Mungkin kita bisa bantu," sahut Dira menunjuk dirinya sendiri dan Adam.
"Elu aja ya, Ra, gue takut sama jarum," bisik Adam.
"Huuuu… dari tadi ngatain aku mulu taunya takut jarum!" Tania gantian mencibir Adam.
"Jangan mulai, deh!" ancam Adam menatap pada Tania.
"Justru kalau bisa dimulai dari sekarang," ucap sang dokter yang tampak memarahi Adam.
"Maksud saya bukan dokter. Ini tadi adek saya yang mulai nakutin saya," sahut Adam membuat alasan palsu dengan menunjuk Dira.
Akhirnya Dira mendonorkan darahnya untuk Fasya. Tadinya Disya juga ingin mendonorkan darahnya, tetapi menurut dokter kondisi gadis itu masih lemah dan ada baiknya beristirahat dulu.
Anan dan Dita menoleh pada layar LED berukuran tiga puluh dua inci di ruang tunggu pasien. Mereka bersama Herdi dan juga Tasya. Di dalam layar televisi itu ada Jin yang sedang melakukan konferensi pers dengan beberapa wartawan terkait kasus yang sudah diberi headline "Rumah Jagal" itu.
Jin sedang mengadakan konferensi pers saat yang lainnya sedang berdoa di depan ruang operasi Fasya. Pemuda itu terkena terjangan timah panah yang dilontarkan Jane. Meski berukuran kecil, peluru bisa menembus tubuh manusia dan menyebabkan kerusakan fatal para organ vital. Peluru berukuran sembilan mm, yang biasanya ditembakkan dari pistol yang digunakan untuk pertahanan diri oleh polisi, bergerak dengan kecepatan 900 mph menebus perut Fasya.
Dengan kecepatan itu, peluru akan membuat rongga yang cukup besar untuk menghancurkan sel-sel di sekitar area tembakan. Belum lagi ketika peluru bergerak dengan pola tertentu, maka kerusakan bisa semakin parah.
Meski jaringan otot memiliki mekanisme pertahanan untuk menghentikan pendarahan saat terkena tembakan, biasanya itu tidak cukup saat mengalami kehilangan darah internal yang disebabkan oleh proyektil yang menembus tubuh.
"Alhamdulillah, sudah dilakukan operasi pada pasien. Kami juga sangat bersyukur karena semuanya berjalan lancar. Kami ucapkan terima kasih pada anak-anak hebat yang dengan berani dalam menyelidiki kecurigaan mereka terhadap tersangka Ibu JW dan suaminya BW atas kasus penyiksaan terhadap anak sampai menyebabkan mereka tewas dan disembunyikan di ruang bawah tanah. Kami juga mengucapkan terima kasih banyak pada tim medis karena sudah mengeluarkan peluru yang ada di rongga perut orban," tutur Jim menjelaskan dan siap menerima pertanyaan dari para wartawan.
"Lalu, bagaimana kondisi tersangka saat ini, Pak?" tanya salah satu wartawan pria.
"Kami sudah menangkap sepasang suami istri yang menjadi tersangka. Sayangnya suaminya, BW, tewas karena melawan petugas. Sementara itu, kami akan memastikan kalau tersangka JW akan menerima hukuman yang berat akibat kejahatannya ini," ucap Jin.
"Kabar terkini dari korban yang tertembak bagaimana, Pak?" tanya wartawan bernama Mia.
"Kami baru mendapat telepon dari rumah sakit kalau dokter yang menangani pasien telah memastikan kondisi pasien dalam keadaan stabil pasca operasi. Namun, saat ini korban masih perlu pemulihan akibat luka tembak tersebut," tutur Jin menjelaskan.
"Maaf, Pak, jika kasus ini sudah lama terjadi, kenapa baru sekarang terungkap. Bahkan ada keterlibatan anak-anak remaja di bawah umur dalam mengungkap kasus ini. Apa jajaran kepolisian tidak malu akan hal ini?" tanya Mia lagi.
"Kami telah mendalami kasus ini sejak lama. Adanya keterlibatan para remaja dikarenakan unsur ketidaksengajaan. Ada pertanyaan lagi?" tanyanya.
Jin dan pihak kepolisian lainnya mengapresiasi tugas paramedis Rumah Sakit Keluarga dalam menangani korban hingga menyelamatkan nyawa Fasya.
Menurutnya, penanganan yang dilakukan terhadap pasien dengan luka cukup serius karena sebelumnya kondisi korban sempat menurun mulai stabil. Pihak kepolisian mengapresiasi tindakan rumah sakit yang tidak membutuhkan waktu lama memulihkan kondisi korban.
"Kami berterima kasih kepada pihak Rumah Sakit Keluarga atas penanganan yang sigap dan cepat tanggap. Ia berharap ke depannya rumah sakit tersebut akan tetap melakukan penanganan serius."
"Karena korban membutuhkan penanganan yang serius dan saat dijenguk nanti mungkin belum bisa diajak komunikasi karena masih terpasang ventilator dan kondisinya ditidurkan," tutur Jin.
"Baik untuk para wartawan terima kasih atas kehadirannya." Jin menyadari konferensi pers tersebut.
Sementara itu, Mia masih menatap Jin dengan sini. Perempuan berusia tiga puluh tahun dan berkacamata serta rambut keriting itu tak percaya dengan unsur ketidaksengajaan yang barusan Jin ungkap.
...***...
Sementara itu, Dira juga mengamati berita terbaru di sosial media bahkan forum sekolah tentang penembakan terhadap Fasya. Penembakan yang terjadi di rumah tersangka Jalan Emas nomor tiga belas itu, bermula saat para remaja itu bersama Jin menyelidiki kondisi rumah tersangka.
Untungnya tak ada berita yang mengangkat kejadian sebenarnya tentang mereka mendapat bantuan dari makhluk gaib tentang kejahatan yang dibuat Brian dan Jane. Beruntung, nyawa Fasya masih bisa selamat dan kini kondisinya membaik.
"Halo, nama saya Mia. Boleh saya duduk di samping kamu?" tanya seornag wartawan wanita yang tadi juga menghadiri konferensi pers bersama kepolisian kota.
"Halo, maaf ya, Mba siapa?" tanya Dira.
"Saya Mia, jurnalis yang menangani kasus rumah jagal ini," ucapnya seraya mengulurkan tangan kanan ke arah Dira.
"Saya, Dira."
"Saya tahu. Kamu salah satu remaja yang ada saat penangkapan pemilik rumah jagal itu, kan?" tanya Mia.
Dira mengangguk.
"Kamu pada ngapain sih kok bisa sampai sini dan membongkar kejahatan mereka? Apa ada yang minta tolong ke kamu, gitu?" tanyanya.
"Maksud Mbak, apa ya?" tanya Dira.
"Maksud saya, ya seperti permintaan tolong perempuan bergaun merah misalnya," ucap Mia.
Dira menoleh ke arah Mia yang menatap Dira dengan lekat.
'Bagaimana bisa perempuan ini tahu tentang hantunya Maria?' batin Dira.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....