POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 64. Kelam, Kejam



Bab 64 Pocong Baper


Ironisnya, James datang ke tempat tersebut sebenarnya bukan sekadar untuk meminta maaf atas segala kesalahan dan dosa yang pernah dia perbuat terhadap keluarganya Icha, tetapi dia justru ingin menuntaskan tugas yang diberikan kepadanya dari Hanako.


James mengingat sembilan bulan yang lalu saat Hana meyakinkannya untuk menggauli ibu asuhnya sendiri. Dengan bantuan ramuan yang dimiliki Hana, James hilang kendali, bahkan Miranda yang sudah divonis tidak bisa hamil itu, malah mengandung setelah peristiwa bejat yang sudah James lakukan terhadapnya. Dia mengandung anak iblis untuk persembahan sang ratu.


James berjalan beberapa langkah, mendekati si perempuan yang sekarang sedang menatap dirinya dengan pandangan kosong. Dia menunduk, mengecup dahi si perempuan, lalu memberi kecupan terakhir di atas punggung wanita itu, sebelum meletakkan sebuah benda di atas lantai. Sebilah pisau tajam.


Dalam kondisi tubuh yang sudah sangat memprihatinkan itu, si perempuan berdiri dari tempat dia duduk lalu menatap James. Wajah Miranda dengan cepat dipenuhi amarah. Dia mulai menancapkan pisau itu tepat di perut buncitnya berkali-kali, menusuk ke dalam janin yang tengah ia kandung.


Wanita itu dengan kejam menghunjani perut buncitnya dengan tusukan brutal terus-menerus. Darah terus-menerus keluar mengalir dari dalam perutnya, menetes memenuhi ruangan. Tak lama, suara Miranda kembali terdengar, berteriak histeris seraya menarik sang bayi dengan paksa. Tangis bayi terdengar sekilas lalu berhenti diiringi kidung nina bobo dari bibir Miranda dengan pelan.


Miranda bernyanyi sambil membelai sang bayi yang berlumuran darah merah. Kemudian segalanya mendadak menjadi sunyi senyap. Miranda kembali mengangkat pisau yang ada di tangannya tinggi-tinggi dan menusukkan benda itu untuk terakhir kalinya, tepat di jabang bayi yang belum memiliki dosa.


Lantai pun dipenuhi oleh genangan darah. James hanya bisa diam mematung melihat kengerian yang terjadi di hadapannya, tetapi memang hal itu lah yang sepatutnya terjadi. James lantas mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Hanako.


"Darah sudah mengalir, lantai mulai memanas, persembahan siap dihidangkan," ucap James pada gawainya.


...***...


Sepuluh tahun yang lalu…


Siang itu, pasangan keluarga Mahardika dari ibukota. Mereka adalah pengusaha mebel dan merupakan donatur tetap di panti asuhan bernama Panti Asuhan Pelangi milik Bu Menik.


Sebenarnya keluarga Mahardika sudah punya anak perempuan bernama Raisa Dian Mahardika yang berusia tujuh tahun. Namun, karena sang istri sudah tidak bisa memiliki anak lagi, Miranda ingin memiliki anak lagi.


Miranda jatuh cinta pada pandangan pertama pada sosok James. Anak laki-laki berusia sepuluh tahun, yang memiliki mata biru dan kemungkinan keturunan orang Eropa itu. Miranda meminta sang suami untuk mengadopsi James. Suami istri tersebut akhirnya sepakat untuk mengangkat James sebagai anak mereka.


Saat mereka melihat anak-anak itu, tatapan mata Miranda telah jatuh hati pada sosok anak lelaki yang berbeda dari yang lainnya. Jika yang lain sibuk bermain bersama teman-temannya, anak itu memilih sibuk sendiri dengan dunianya. James selalu gemar berkutat dengan buku bacaannya.


"James, ini Tuan dan Nyonya Mahardika. Mereka ingin membawamu ke rumahnya dan menjadikanmu anggota keluarga Mahardika. Apa kamu mau ikut mereka, Nak?" tanya Bu Menik dengan untaian nada lembut pada anak lelaki tampan itu.


James melihat calon kedua orangtuanya lalu mengangguk. Nyonya Miranda lantas memeluk dan menciumnya.


"Mulai sekarang panggil aku mami, dan ini papi kamu," ucap Miranda.


Matanya yang biru seperti lautan lepas, tengah menatap bangunan rumah dua lantai di depannya. James merasa seperti berada di dalam rumah gedong yang sering dibacanya. Mereka turun dari mobil dan disambut seorang asisten rumah tangga yang membawakan tas anak lelaki itu.


"James, ini rumah kamu sekarang. Nah, ayo kita temui adik kamu," ajak Miranda.


"Mamiiiiiii!" teriak seorang anak perempuan yang langsung menghambur ke pelukan ibunya.


Anak itu lalu menatap James yang sejak tadi melihatnya tanpa kedip.


"Dia siapa, Mih?"


"Icha, perkenalkan namanya James. Dia kakak kamu sekarang, jadi kalian harus rukun, ya?" ujarnya.


"Mami bilang mau kasih Icha adik, kenapa jadi dia?" tuding Icha.


"Icha, bukankah kamu juga pengen punya kakak laki-laki kayak temen kamu itu? Jadi nantinya James akan selalu ada buat jagain kamu kalau nanti kamu diganggu temen cowok yang nakal, iya kan?" Miranda mengusap kepala putrinya dengan lembut.


"Iya, sih," sahut Icha mengangguk.


"Nah, Icha Sayang, ayo ajak James ke kamarnya! Mami mau bikin kue untuk kalian."


"Baik, Mih. Ayo, Kak James!"


Icha lantas tertawa ceria. la pun menarik tangan James saat membawanya ke kamar yang sudah disiapkan untuk anak lelaki itu. Baru pertama kali dalam seumur hidup, James merasa kehangatan dalam genggaman tangan seseorang. Dia merasa nyaman saat melihat senyum secerah matahari milik Icha.


Gadis kecil itu mampu membuatnya selalu tersenyum setiap hari. Entah kenapa, Icha seperti sinar bulan purnama yang teduh di malam yang gelap. Icha mampu menerangi kehidupan James yang sebelumnya terasa gelap dan tanpa cahaya.


Seiring berjalannya waktu, James sangat bahagia menjadi bagian dari keluarga Mahardika. Hidupnya yang kelas terasa sempurna. Senyuman yang dulu pudar perlahan mulai kembali. Sampai rasa sayang yang teramat pada Icha itu datang.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....