POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 42. Kuntilanak Terbang



Malam itu pukul sepuluh, terdengar sayup-sayup sekumpulan orang berteriak sambil memukul pentungan ke tiang listrik. Mereka berteriak menyebut kata kuntilanak berkali-kali. Mereka berlari melintasi rumah Dita dan Tasya.


Sontak saja semuanya terkesiap bangun. Begitu juga dengan Dira, Adam, Fasya, dan Disya. Para warga yang penasaran langsung saja ke luar rumah. Ternyata, orang-orang yang melakukan ronda dan berteriak kuntilanak tadi mengarah ke arah kebun pisang tempat Anta dan Arya melaksanakan pernikahan dulu.


"Ada apaan, sih?" tanya Adam pada salah satu hansip.


"Ada kuntilanak terbang, Dam. Dari rumah Pak RT!" serunya.


"Hah? Kuntilanak terbang?"


Dua pasang anak kembar itu menyahut bersamaan.


"Ayo, kita ikut ngejar!" ajak Adam.


"Yuk!" sahut Fasya.


Namun, saat pemuda itu hendak membuka pagar rumah, Dita langsung menarik daun telinga Adam. Begitu juga dengan Tasya yang langsung menarik daun telinga Fasya.


"Bunda-bunda kita kompak, ya," bisik Disya pada Dira meskipun terhalang tembok setinggi satu meter itu.


Anan dan Herdi hanya saling tatap dah menggaruk kepala mereka. Kelakuan para istri mereka memang menakutkan jika marah.


"Pak Anan, Pak Herdi, ayo ikut ronda! Kita cari kuntilanak tadi!" ajak si hansip.


"Hadeh… terus kalau udah ketemu mau buat apa, Pak? Di sini aja ada," sahut Anan seraya melirik ke arah Silla yang berada di pohon mangga.


"Maksudnya, Pak Anan?" Hansip itu sampai menoleh ke pohon mangga depan rumah Anan.


"Nggak ada maksud apa-apa, Pak! Ayo, Nan, kita ikut para bapak komplek ini!" Pak Herdi langsung membuka pagar rumah Anan lalu menarik tangan pria itu.


Kerumunan warga di depan rumah Dita mulai sepi karena sudah melangkah menuju kebun pisang.


"Kalian semua masuk rumah!" titah Dita pada anak remajanya.


"Tunggu, Bunda. Jangan-jangan kuntilanak terbang tadi si Silla," tuduhan Adam.


"Heh, sembarangan aja! Aku lagi me time tau! Aku lagi pakai masker getah mangga sambil rebahan dari tadi," sahut Silla.


"Jadi, kamu nggak liat sosok itu, Sil?" tanya Dita.


"Nggak, Bunda. Mata aku tadi pakai timun ini. Hehehe, aku ambil dari rumah Bunda tadi," jawab Silla.


"Ya udah kalau gitu semuanya masuk! Nanti tunggu kabar dari Yanda aja tentang kuntilanak tadi!" seru Dita.


"Bun, kok rumah tetangga baru kita sepi dan gelap. Padahal barusan ada rame-rame masa Nggak ada yang keluar rumah, kenapa ya?" tanya Dira.


"Mungkin memang mereka nggak ada di rumah kali. Udah, yuk, kita masuk aja!" ajak Dita.


Setengah jam kemudian, Anan pulang. Dia menceritakan kalau dia dan para warga tak menemukan apa pun perihal kuntilanak terbang.


...***...


Sementara itu, di rumah Joshua. Dia sebenarnya berada di dalam rumah. Namun, suara ramai tadi tak terdengar sekolah rumahnya tidak berada di wilayah komplek itu. Joshua seakan tersihir dengan tertidur pulas. Sampai saat pukul dua dini hari itu, Joshua mulai terjaga.


Joshua yang baru saja dari kamar mandi di pukul dua dini hari itu, tiba-tiba mendengar suara benda jatuh dari atap rumah. Padahal dirinya sudah hampir berbaring kala itu. Joshua lalu bangun dan mendapati sang istri masih terbaring di sampingnya.


Pria itu menatap Miyako dengan lekat. Sepertinya sang istri tidak mendengar apa yang barusan dia dengar. Karena tak tega melihat istrinya yang pulas, Joshua memilih untuk tak membangunkannya. Dia berusaha bangkit tetapi kemudian secara tiba-tiba tangannya ditahan oleh sang istri.


"Mas, mau ke mana?" tanya Miyako tiba-tiba.


"Loh, kamu bangun, ya? Aku pikir kamu pulas. Tadi aku denger suara gedebug dari atas genteng. Aku mau cek dulu, ya," ucap Joshua.


"Biarkan saja, Mas! Paling juga ada buah yang jatuh atau ada tikus kepeleset Sudah biarkan saja," ucap Miyako.


Joshua tetap tak bisa menampilkan rasa penasarannya. Pria itu lalu bangkit. Dia penasaran dan mengintip ke jendela. Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sekumpulan sinar dari jauh.


Joshua memicing, menajamkan mata. Semakin lama semakin nampak jelas sekumpulan orang dari jalan setapak tak jauh dari rumahnya. Orang-orang itu membawa senter dan membawa pemukul baseball atau kayu dan juga bambu hijau yang sudah di runcingkan. Mereka berjalan beriringan seraya menyebut-nyebut kuntilanak.


"Kuntilanak?" gumam Joshua.


Gerombolan orang itu lantas melintas di depan rumah Joshua. Salah satu dari mereka mendekat dan mengetuk pintu rumah sang polisi. Joshua bersiaga dengan meraih senjata api miliknya dan menyembunyikan di belakang punggung. Joshua sempat takut kalau mereka mempunyai niat jahat.


"Iya, Pak, ada apa?" tanya Joshua.


"Bapak orang baru, ya, di sini?" tanya pria berkumis yang berkalung sarung itu.


"Iya, saya baru di sini. Ada apa, ya?" tanya Joshua.


Miyako keluar dari kamar. Dia menatap tajam ke arah pria berkumis tadi. Pria berkumis itu menundukkan kepalanya.


"Pak, sebaiknya Anda berhati-hatilah," ucapnya.


Lalu, setelah ia mengucapkan kalimat itu, pria berkumis itu pun berpamitan dan berlalu bersama rombongannya. Joshua hanya terhenyak dan berusaha mencerna setiap kata-kata si bapak. Dahinya mengernyit.


"Mas, ada apa?" tanya Miyako.


"Tau tuh, aneh banget si bapak tadi nggak jelas! Sudahlah, ayo, tidur lagi!" ajak Joahua.


Miyako mengangguk. Joshua lalu menutup pintu rumah. Dia dan sang istri lantas menuju ke kamar mereka.


***


Di kantor polisi.


"Jo, bisa kita bicara sebentar?" tanya Jin.


"Elu mau ngomong apa emangnya? Di sini aja!" sahut Joshua.


"Gue mau ngomong ke tempat yang lebih privat sebenarnya. Tapi, kalau elu mau bahas itu di sini, ya udah gue jabanin."


"Gue nggak paham maksud elu, Jin?"


"Ini tentang Mia, wartawan yang hilang satu bulan lalu pasca penemuan mayat Wahyu," ucap Jin.


Joshua tampak mengernyit lalu berkata, "Mia? Apa hubungannya sama gue?"


"Ada. Gue dapat kabar kalau Mia ketemu sama elu di malam sebelum dia hilang, di TKP belakang pasar malam," ucap Jin.


Joshua tersentak dan langsung menarik tangan Jin ke belakang kantin.


"Sekarang elu jujur sama gue, Jo, sebelum ada yang nuduh elu ada kaitannya dengan hilangnya Mia," tuding Jin.


"Kalau ada yang nuduh kayak gitu, itu artinya elu yang nuduh gue, Jin!" Joshua kini mencengkeram kerah seragam Jin.


"Kalau nanti elu nggak mau dituduh begitu harusnya elu bisa jujur dari awal, Jo!" Jin menepis kedua tangan Joshua.


Seorang petugas yang hendak buang air kecil di taman belakang kantin mendadak tersentak dengan keberadaan Joshua dan Jin yang tampak menunjukkan perang dingin. Petugas itu hampir saja mengeluarkan pusaka miliknya.


"Eh, ada Pak Jin dan Pak Jo." Pria berkepala botak di bagian depan itu meringis.


"Pak Parto, mau ngapain?" tanya Jin.


"Hehehe, saya mau ngadem, Pak," jawabnya.


"Ngadem, kok, buka celana? Tolonglah jaga kebersihan. Kalau mau pipis paling nggak di kamar mandi sana," ucap Jin.


"Maaf, Pak, saya kebelet habisnya tadi kamar mandi penuh," sahutnya.


"Tolonglah, Pak…." Jin melenguh kesal.


"Siap, Pak! Laksanakan!" Pak Parto segera bergegas pergi.


Joshua juga hendak pergi, tetapi Jin menahan tangannya seketika.


"Elu belum kasih jawaban pertanyaan gue tadi, Jo," ucap Jin.


Kedua mata pria bertubuh tegap dengan tinggi hampir sama itu saling menatap tajam seolah ada kilatan petir di antaranya.


... *****...


...Bersambung dulu, ya....