POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 48. Perempuan yang Tersiksa



Dua hari menyakiti diri sendiri benar-benar membuatnya sangat kesakitan. Namun, ada rasa puas di hatinya yang ia rasakan. Rasa laparnya berkurang. Kadang darah yang mengalir dari tubuhnya dia hisap.


Mia terdiam kembali terpasung di sudut ruangan. Rasa lelah, haus, dan lapar bercampur menjadi satu. Tubuhnya penuh dengan luka bekas cakaran. James dan Icha tak kunjung datang mengecek keadaanya seperti biasa.


"Lebih baik kalian bunuh aku saja daripada hidup menderita seperti ini. Kelak aku bersumpah akan mati tidak tenang dan menghantui kalian," rutuk Mia.


Tetap saja tak ada satu pun orang yang datang ke tempat ini lagi. Apakah semua orang sudah melupakan dirinya, atau memang mereka sengaja ingin melihat Mia mati di tempat ini, tersungkur jatuh meregang nyawa di atas kotorannya sendiri.


Kesadarannya mulai terganggu. Mia mulai hilang kewarasan. Dia mulai tertawa begitu keras. Mungkin saja, dia sudah tak lagi mengerti pikiran manusia normal seharusnya yang saat ini memenuhi isi kepalanya.


Di atas dipan, Mia melihat sosok wanita berwajah mengerikan sedang mengamati dirinya. Sosok itu menyerupai dirinya tetapi tak memiliki bentuk tubuh bagian bawah. Beberapa kali dia mendapati wanita itu sedang menatap dirinya dengan ekspresi penuh hasrat, seakan dia ingin mencabik-cabik tubuhnya.


"Apa yang kau inginkan dariku?" tantang Mia.


Sosok wanita itu mengubah diri menjadi wujud yang tinggi besar dengan bulu hitam yang menyelimuti tubuhnya. Hampir seperti genderuwo tetapi lebih menyeramkan. Ada taring yang mencuat keluar dari bibirnya. Di atas kepalanya


terdapat tanduk panjang menjulang menyerupai tanduk kambing. Sosok itu lantas berdiri memandang ke arah Mia. Matanya merah menyala dengan sesekali menyeringai melihat dirinya.


"Bunuhlah aku jika itu yang kau inginkan. Aku sudah tak peduli lagi. Aku pastikan akan menghantui para manusia laknat itu!" pekik Mia.


Perempuan malang itu sudah tak peduli lagi. Mau mati atau tidak, Mia hanya duduk memandang ke arah sosok menyeramkan itu dengan sorot wajah tersenyum.


"Apakah Nyi Ratu yang mengirim mu ke sini untuk menghabisi aku? Kenapa tidak segera kau habisi aku?" tantang Mia.


Bagi Mia, dia sudah tak memiliki perasaan takut pada apa pun, bahkan kepada kematian sekali pun. Hanya sekedar menantang makhluk itu, Mia tak takut.


Namun, sosok menyeramkan itu malah menundukkan kepalanya di hadapan Mia membuatnya tersentak tak mengerti. Sosok itu membuka alat pasung di kaki Mia. Perempuan itu lantas bangkit.


Tiba-tiba, suara pintu berderit terdengar. Mia menoleh, melihat ke arah pintu yang sedang terbuka lebar. Tanpa sadar dia mulai melangkah, matanya teralihkan pada cahaya yang keluar dari balik pintu. Ia melangkah tertatih-tatih, berjalan perlahan meski keseimbangannya goyah.


"Aku harus pergi," gumam Mia.


Perempuan itu menyusuri setapak demi setapak. Telapak kakinya terasa Linu, tubuhnya terasa perih. Mia mulai menyusuri lorong yang panjang di dalam bangunan tua itu.


Mia melihat sebuah ruangan tamu yang ia yakini ruang utama di bagian depan bangunan tua tersebut. Di sana terdapat meja kayu dengan empat kursi kosong. Tak ada siapa pun di tempat ini, hanya Mia seorang dengan piring bersajikan daging mentah. Warna daging itu sudah tak segar lagi malah sudah berwarna kehitaman.


Mia lantas mendekat tanpa ragu. Gejolak rasa lapar yang sudah menyiksa dirinya perlahan-lahan mulai kembali. Dengan nafsu yang sudah tak bisa dia tahan. Keinginan untuk menghilangkan rasa lapar yang sudah menyiksa dirinya selama ini sudah tak terbendung lagi.


Namun, saat hendak mendekat, Perempuan itu roboh. Kedua kakinya terasa lunglai. Mia merangkak sejengkal demi sejengkal sampai berhasil mencapai meja. Ia berdiri dengan menahan beban tubuhnya, sebelum menatap daging mentah yang ada di atas meja.


Indera penciumannya menajam. Aroma daging busuk itu bahkan terhirup penuh kelewatan untuknya. Tanpa membuang waktu lagi, Mia mulai meraihnya. Memasukkan seonggok daging mentah tersebut ke dalam mulutnya. Dia melahap habis, merobek serat daging yang berwarna kehitaman, dan mengunyahnya.


Mia tak lagi pedulikan perihal rasa amis, busuk, dan menjijikan yang ada di dalam daging. Dia benar-benar seperti orang yang tengah kerasukan. Bahkan ketika gadis itu sudah melahap habis daging yang tersaji di atas piring, rasa lapar itu tak kunjung menghilang. Mia menjilati permukaan piring tersebut. Ada sisa-sisa darah yang terasa. Hal itu semakin membuatnya puas dan sedikit mengurangi rasa dahaganya.


Pintu utama terbuka, sosok Nyi Ratu didampingi James dan Icha datang dari arah luar. Ketiganya berdiri menatap perempuan itu dengan ekspresi wajah datar. Mia melempar piring bekas di tangannya ke arah Nyi Ratu. Dia berteriak memaki dan mengumpat.


Sebelum Mia bereaksi kembali dengan ketiga orang yang sedang menyiksa dirinya, Nyi Ratu mendekatinya. Ia menyentuh pipi Mia sambil tersenyum puas.


"Terima kasih, Nona Cantik. Terima kasih sudah mau berjuang seperti ini. Maafkan saya jika sampai harus melakukan ini kepadamu. Karena hanya ini satu-satunya cara yang tersisa untuk membuatmu siap menerima Yagi di tubuhmu," ucap Nyi Ratu.


Mia melemparkan air liurnya ke wajah Nyi Ratu. Mia tak lagi perduli dengan kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu. Saat ini yang ada di dalam kepala Mia hanya lah menghabisi ketiga orang yang ada di hadapannya.


Orang-orang itulah yang menyebabkan rasa lapar yang tak tertahankan lagi di dalam dirinya. Namun sebelum Mia mencengkeram leher Nyi Ratu dengan gerakan yang cepat wanita bertudung itu menghunuskan pisau yang dia raih dari pinggangnya. Menusukkannya tepat di perut Mia sampai gadis itu akhirnya tak sadarkan diri.


"Apa yang Anda lakukan, Nyi?" tanya James.


"Membuktikan kalau Yagi sudah ada dalam tubuhnya."


"Tapi, bukankah Nyi Ratu bilang kita butuh dia. Kenapa harus dibunuh?" tanya Icha mulai panik.


"Aku tak membunuhnya. Dia akan segera pulih jika Yagi sudah ada dalam tubuhnya. Kalian tenang saja. Nanti kalian akan dapat membalas dendam orang tua kalian dan membangkitkan mereka kembali," ucap Nyi Ratu.


Wanita itu kembali memberi perintah pada James dan Icha untuk membawa Mia masuk ke dalam mobil. Mereka akan memindahkan Mia ke tempat tinggal mereka.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....