POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 50. Menolong Heru



Sepulang sekolah, Adam, Dira, Fasya, dan Disya mendengarkan cerita dari Heru di kantin sekolah. Tania juga ikut mengamati bersama Bu Ros.


"Jadi, waktu itu gue buru-buru berangkat sekolah pakai motor bapak gue sampai nggak sempat manasin mesin motor bebek. Soalnya gue telat gara-gara nonton bola pas malamnya. Terus bapak gue juga suruh gue anterin adek gue sekolah. Adek gue ngomel terus tuh saking lamanya menunggu gue," ucap Heru.


"Terus gimana lanjutnya?" tanya Dira seraya menyantap siomay di piringnya.


Sementara itu, Disya menahan jijik sedari tadi karena luka di wajah Heru yang setengahnya hancur. Terlebih pada bagian perutnya itu.


"Gue sampai memicing saat menatap aspal jalan yang memantulkan sinar matahari yang pagi itu sangat cemerlang. Jarak sekolahan adik gue untungnya nggk terlalu jauh dari rumah, tak sampai sepuluh menit lah. Habis gue antar adek gue sampai depan sekolahannya dan memastikannya masuk, gue langsung tancap gas menuju sekolah," sahut Heru.


"Peting banget kali, ya, kita ngedengerin daily life dia?" sungut Adam.


"Udah dengerin dulu! Biar dia curhat dan ngerasa plong," sahut Dira.


"Dira bener, tuh!" sahut Fasya.


Meraih tisu dan mengusap sudut bibir Dira yang belepotan terkena bumbu siomay.


"What? Adegan drakor versi apa lagi nih yang mengotori mataku?!" cibir Disya.


"Tau ih si Fasya, bikin kaget aja!" tukas Dira. Fasya hanya tersenyum menanggapi.


Keempat remaja itu kembali fokus pada cerita Heru. Pagi tadi jalan utama terbilang cukup lengang, tetapi kelopak mata Heru serasa sangat berat karena kantuk yang masih mendera. Ditambah jalanan itu hanya lurus tanpa tikungan.


"Kemudian setelah lampu merah perempatan, pas gue belok kiri gue emang salah karena gue nyalip kopaja, yang datang dari arah yang berlawanan tapi sama-sama belok ke kiri. Gue ngebut tuh menambah kecepatan. Tiba- tiba, gue inget banget kalau ada sosok pakai jubah hitam menyeberang dengan cepat menuju ke sekolah. Lah, gue kaget dong! Terus gue langsung banting setang ke arah kiri. Sayangnya, ada mobil avanza menyalip gue. Terus gue terhempas tak jauh dari motor karena menyenggol body mobil tersebut. Kayaknya mobil itu nggak menghentikan kecepatannya. Dia kabur aja habis menyerempet motor gue," ucap Heru.


"Bayangan sosok berjubah hitam?" tanya Dira.


Heru mengangguk.


"Nah, gue tergeletak di aspal dengan menahan sakit di sekujur tubuh gue. Isi tas gue juga berserakan, hape gue terlempar entah ke mana. Mungkin aja diambil salah satu orang warga yang datang mau nolong. Hilang dah tuh hape seolah akan hilang beserta kenangan di dalamnya." Heru menatap langit pukul dua kala itu.


"Lebay, Luh!" Adam menoyor kepala Heru dari belakang.


"Jadi, elu mati keserempet mobil tadi?" tanya Fasya.


"Bukan, kopaja yang gue salip tadi udah menunggu gue dari belakang. Kopaja itu nggak sempat menginjak rem dan menghentikan lajunya, karena kejadian itu berlangsung begitu cepat. Kopaja itu langsung aja menggilas bagian perut gue sampai kayak gini. Nah, saat itu gue langsung tak sadarkan diri dan akhirnya gue matikan. Tapi, sebelum kopaja itu melindas perut gue, nah gue masih bisa merasakan jantung gue berdegup sangat kencang, dan tubuh gue menggigil ketakutan. Tubuh gue sangat sakit semua setelah terjatuh dari motor dan momen saat mobil kopaja itu menggilas perut gue tuh masih gue inget banget. Terus ada sosok berjubah hitam tadi berdiri ngeliat gue," ucap Heru.


"Sosok berjubah hitam? Jangan-jangan penunggu jalanan depan sekolah minta tumbal," sahut Adam.


"Lagi-lagi tumbal? Masa, sih? Bukannya dulu si hantu perempuan berbaju merah yang suka iseng? Tapi, dia udah pergi dengan tenang, kan? Terus sosok berjubah hitam ini siapa, ya?" Dira menyingkirkan piring kosongnya ke tepi meja.


"Gue juga belum pernah liat sosok apa pun di sekitar jalan utama sebrang sekolah," sahut Fasya.


"Aku juga," sahut Disya.


"Kalau elu, sih, emang nggak mau liat apa pun kalau di jalan. Takut ada penampakan kayak gini, kan?" cibir Adam seraya menunjuk hantu Heru.


"Ih, apaan, sih!" Disya mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Itu yang gue heran pas gue membuka mata. Gue sudah berada di suatu tempat yang sangat asing. Dari kejauhan, gue melihat bayang- bayang sosok berjubah hitam itu, yang kemudian hilang seperti disapu angin." ucap Heru.


"Hmmmm, ini mencurigakan," gumam Dira.


"Ya udah pulang sekolah kita anter Heru pulang dulu buat minta maaf," ucap Adam.


...***...


"Kita mau belok ke mana, Dam?" tanya Dira.


"Ke rumah si Heru kayaknya di Jalan Sawo Lima belok kiri, deh," sahutnya.


"Terus, anaknya mana, ya?" Dira menoleh pada sekitar dan hanya mendapati Fasya dan Disya yang mengikutinya.


"Tadi lagi sama Tania, mungkin lagi diajarin jadi hantu baru," sahut Adam.


"Lha terus kita mau ngapain ke rumahnya kalau dia nggak ada gini? Apa yang mau kita jelasin coba?" Dira menahan tangan Adam.


"Tadi dia bilang mau minta tolong kaush tahu bapaknya kalau adiknya nggak salah!" seru Adam.


Brak!


Seorang anak kecil mengendarai sepeda ontel terperosok menabrak tong sampah di samping Adam. Stang sepeda itu sempat tersangkut di lengan kemeja seragam Adam dan membuatnya sobek karena tertarik.


"Tolongin woy!" pekik Adam.


Dira, Fasya, dan Disya tak tahan juga untuk tertawa. Pasalnya wajah Adam sukses terkena bekas tumpukan kulit pisang.


"Bentar, Dam. Sebagai teman yang baik biasanya ketawain temen yang jatoh baru nolong," sahut Fasya.


"Sompret!" maki Adam.


Dira dan Disya memilih menolong anak lelaki berusia sembilan tahun itu. Sementara Fasya menolong Adam.


"Ma-maaf, maafin saya, Kak." Anak lelaki itu tertunduk bahkan menangis ketakutan.


"Udah, nggak apa-apa namanya juga kecelakaan," ucap Dira.


"Nggak apa-apa gimana, ini baju gue robek, muka gue belepotan sampah, terus–" Fasya membekap mulut Adam menghentikan ocehannya.


"Dia nggak sengaja, Dam!" tukas Disya.


"Edo!" ucap Heru saat sampai bersama Tania setelah mencoba belajar menghilang bersama.


"Kamu kenal?" tanya Dira pada Heru.


"Dia adik gue. Adik gue paling nyebelin dan suka buat masalah!" sungut Heru.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....