
Keesokan harinya, acara pengenalan eksul berjalan dengan lancar. Beberapa hantu juga bahkan ikut serta berada di kelas mencicipi aneka kuliner yang dijajakan tiap kelas. Dira dan Adam sampai sibuk untuk menghalau mereka.
"Ra, coba liat Miss Hana. Aku ngerasa aneh sama dia," bisik Tania.
"Kamu ngapain bisik-bisik? Toh, mereka juga nggak liat kamu." Dira membeli minum es semangka di kelasnya James.
Ia sampai tak sengaja menabrak James dan menumpahkan es tersebut ke jaket yang James kenakan.
"Elu tuh, ya, masih pagi udah bikin ulah aja!" ketus James.
"Dira nggak sengaja, Kak. Nanti Dira laundry deh jaketnya," ucap gadis itu.
"Cieeee… korban baru si James, nih!" Salah satu teman James mencibir.
Fasya langsung datang dan meraih jaket James.
"Gue aja yang laundry. Ayo, Ra, kita pergi dari sini!" ajak Fasya.
"Heh, gue maunya Dira yang laundry baju gue, paham?!" tantang James.
"Hadeh… udah deh kalian stop! Masa kalian ngerebutin Dira, sih?" Dira sampai terkekeh.
"Hidih, pede banget ini cewek!" James meraih jaketnya dan melempar ke wajah Dira. Akan tetapi, Fasya sudah sigap menangkapnya.
"Wah, cari perkara si James." Tania langsung melompat mengikuti James.
"Jangan macem-macem, deh, sama James," tukas Fasya.
"Nggak mau macam-macam, kok. Eh, tadi itu si Tania lagi ngajak ngomonging Miss Hana. Kata dia ada yg aneh sama Miss Hana," ucap Dira.
"Udah deh biarin aja. Jangan kepo kepo banget! Adam udah cerita tentang semalam. Hantu gaun merah yang bukan Bu Ros, ternyata dari rumah belakang sekolah, kan?"
Dira mengangguk menanggapi Fasya.
"Jangan coba-coba pada ke sana!" seru Fasya.
"Dira nggak kepikiran loh mau ke sana. Tapi, kamu kasih ide buat Dira buat ke sana karena penasaran. Kasian si Maria minta tolong," ucap Dira lalu pergi mencari Adam untuk merencanakan sesuatu.
"Astagfirullah, gue salah ngomong ini!" Fasya mengusap wajahnya dengan jaket milik James.
...***...
Malam harinya, Dira, Adam, Fasya, dan Disya serta Pocong Tania berkumpul di halaman depan rumah Dira. Ada ayunan yang dibuat Anan dan diikat ke pohon mangga depan rumah. Pohon yang menjadi hunian Tante Silla, si kuntilanak merah.
Mereka membicarakan terkait rumah tempat Maria dan anak-anak terlantar dibantai. Mereka akan menyusup ke rumah misterius itu.
"Bagaimana caramya kita bisa masuk dan cari bukti?" tanya Disya.
"Minta bantuan Kak Jin. Dia kan udah jadi polisi kayak Om Nathan," sahut Dira.
"Wah, setuju tuh. Kita juga bisa minta bantuan Kak Setta daripada bilang bunda nanti diomelin," sahut Dira.
"Kenapa nggak minta bantuan Kak Raja aja?" ucap Fasya.
"Benar, tuh, nanti aku bisa deket-deket sama Raja," sahut Tania.
"Jangan, deh. Raja mah rese orangnya," sahut Adam menatap tajam pada Tania.
"Minta tolong Kak Jin sama Kak Setta dulu, deh." Dira memberikan ide. Akhirnya mereka sepakat untuk bertamu ke rumah Setta sepulang sekolah esok hari.
...***...
Dira dan yang lainnya berpapasan dengan asisten rumah tangga Setta yang baru. Dirinya tengah berdebat kalau ia pun merasa keberatan untuk menginap di rumah Setta. Katanya, perasaannya tidak enak. Akan tetapi, wanita bernama Ningsih itu akan datang setiap hari untuk beres-beres rumah, memasak, mencuci baju dan piring. Saat magrib tiba, dia akan pulang ke rumahnya. Akhirnya Setta mengalah. Padahal Setta tengah berbadan dua kala itu. Usia kandungannya menginjak tujuh bulan.
"Hei, kalian tumben mau main ke sini? Ummmm, pasti ada yang aneh, deh. Apa harus aku telepon Anta?" tanya Setta menyambut kehadiran Dira dan yang lainnya.
"Hai, Kak Set! Kita mau ketemu Kak Jin," ucap Dira.
Keempat remaja itu mencium punggung tangan Setta bergantian.
"Jin belum pulang, kayaknya lembur, deh. Memangnya ada kasus apa di sekolah? Bullying apa ada yang meninggal? Apa jangan-jangan pocong yang ngikutin kalian itu minta tolong, ya?" tanya Setta seraya melirik Tania.
"Wah, dia mah piaraannya Adam!" sahut Fasya.
"Emang aku tuyul apa dipiara!" Tania menoyor kepala Fasya.
"Wah, songong nih semenjak ikatan tangannya kelepas!" Fasya balik menoyor Tania.
"Kenapa ya ibu tadi takut tinggal di sini. Pasti ada hantunya, ya?" tanya Disya masih fokus dengan asisten rumah tangga Setta yang tadi pergi.
Setta menghela napas dalam. Lalu, dia meminta empat remaja itu masuk ke dalam rumahnya. Setta menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Ya, namanya juga rumah murah. Setidaknya, kita masih dapat rumah yang layak," ucap Setta.
"Terus, Kak Set nggak takut sendirian di sini?" tanya Dira pada Setta.
"Nggak, tuh. Kan ada nenek yang nemenin."
Setta menunjuk hantu wanita paruh baya yang memakai kebaya. Wajahnya pucat dan tersenyum menyeringai menatap para anak remaja itu. Tania langsung bersembunyi di belakang punggung Adam. Setta sampai tertawa dibuatnya.
"Hantu baru, ya? Lucu ih, hantu takut hantu," ucap Setta.
"Bukan cuma takut, Kak. Ini pocong juga baperan," sahut Adam.
Tania sampai menoyor kepala belakang Adam.
"Aku ambil minum dulu, ya," ucap Setta.
"Dira bikin minum sendiri aja biar Kak Set nggak repot."
Dira meminta Disya ikut serta untuk menemani Setta membuat minum. Ia juga menceritakan tentang rumah milik suami istri psikopat yang senang membantai anak-anak terlantar dan penyebab tewasnya Maria, si hantu bergaun merah di sekolah.
***
Malam itu, Jin pulang disambut Setta dengan senyum hangat. Saat makan malam Setta menceritakan tentang kedatangan Dira dan yang lainnya tentang rumah di belakang sekolah mereka.
Jin juga menceritakan tentang perkembangan kasus terkini mengenai penemuan potongan kaki di wilayah pasar malam. Diduga potongan tubuh itu berasal dari pekerja penjual tiket di pasar malam yang dibunuh di sana. Tadinya, Jin ingin meminta Setta untuk menerjang tempat tersebut. Akan tetapi, ia punya ide untuk membawa Dira dan Adam ke sana.
Pukul tiga dini hari, suara berisik serta bau gosong membuat indera penciuman Jin sedikit tidak nyaman. Meski mata dipejamkan, tetapi pikirannya masih dalam keadaan sadar. Entah mengapa pipi pemuda itu terasa geli, seperti ada rambut yang mengusap di sana. Perlahan tangan Jin menepis rambut itu.
Karena sudah sangat mengganggu, Jin pun mulai mengubah posisi badan yang tadinya terlentang, menjadi menghadap ke arah sang istri. Entah mengapa, aroma kamar tersebut semakin tidak enak. Lagi-lagi, Jin membalikan badan menjadi terlentang kembali.
...*****...
...Bersambung dulu ya....