POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 38. Rumah Kayu di Kebun Belakang



"Gila kamu! Aku baru dipindahkan ke sini jangan cari gara-gara," sahut Joshua.


"Ayolah, Mas Jo, kita kan bestie," tukas Mia.


"Mana bisa, Mia! Asal kamu tahu, ya, ini udah jadi kasus besar. Kamu nggak boleh masuk!" seru Joshua meskipun nadanya pelan hampir berbisik tetapi penuh ketegasan.


"Mas Jo, please…," kata Mia lagi.


"Nanti aku dimarahi atasan. Mati-matian aku ambil kasus ini dari si Jin, bisa diketawain aku sama Jin kalau kasus ini gagal," sahutnya.


"Hmmm, ya sudah, deh. Nanti kalau tiba-tiba berita itu menyebar jangan salahkan saya ya, Mas." Mia mengerling lalu melangkah pergi tetapi langkahnya sengaja pelan.


"Tunggu!" seru Joshua.


Dalam hati Mia berteriak "Yes" kegirangan.


"Berita apa?" tanya Joshua,


"Berita waktu Mas Joshua di tempat yang lama. Ummm, yang waktu itu ada di club malam. Yang itu loh, yang lagi hot itu, inget, kan? Ya, meskipun cuma berita kecil, tapi kayaknya kalau aku sebarin punya pengaruh, deh." Mia tersenyum melihat Joshua yang mulai menunjukkan kepanikan.


Mia yakin umpannya akan berhasil. Dia melirik dengan mengulas senyum dari sudut bibirnya. Joshua melenguh, mendesah kesal. Dia akhirnya mulai melunak melihat Mia.


"Kamu sengaja menyimpan itu sebagai senjata andalan kamu buat memeras aku, ya? Jangan sampai kamu aku jebloskan ke penjara karena mengancam petugas," ucap Joshua.


"Haha, bisa-bisanya masih percaya diri pakai embel-embel petugas. Saya nggak mengancam, loh. Saya cuma mau bikin cerita aja tentang polisi nakal di kertas," ucap Mia seraya menatap si lelaki tajam.


Kemudian, perempuan itu malah tersenyum geli.


"Asu!" gumam Joshua kesal, ia memandang ke sekeliling lalu mendekat ke arah Mia.


"Tapi ini yang terakhir ya, Mia, jangan pakai cara ini lagi atau kamu tak jebloskan ke penjara setiap kamu mau cari berita," ucap Joshua.


"Beres, Mas!"


Mia tersenyum puas ketika melihat wajah Joshua yang pias. Akhirnya, petugas itu tak dapat berbuat apa-apa.


"Ayo, ikuti aku!" ajak Joshua.


Mia mengangguk lalu masuk mengikuti Joshua melewati garis kuning.


Setelah menempuh kurang lebih tiga ratus meter dari tempat mobilnya terparkir tadi, Mia baru dapat melihat sebuah rumah kayu yang di depannya ada susunan kayu-kayu tua yang diletakkan secara serampangan seperti rumah terbengkalai.


"Banyak banget petugas yang jaga," gumam Mia.


Dia belum pernah melihat petugas yang berjaga di sekitar lokasi sebanyak ini. Perempuan jurnalis itu melangkah mendekati rumah tersebut. Dia menghampiri Bowo yang sudah sampai di dekat rumah itu.


Mia melewati para petugas yang memasang ekspresi ketus saat memandang Mia dengan tatapan sinis.


"Duh, kamu tuh dah bikin saya malu tau kalau kayak gini. Denger ya, Mia, kamu cuma boleh lihat -lihat. Aku mohon, ya, jangan sampai kamu ambil gambar atau menyentuh apa pun yang ada di sini, ngerti kamu?!" kata Joshua dengan muka menahan kesal.


Mia menjawab dengan menganggukkan kepala meskipun di dalam hatinya, ia tak yakin dapat memenuhi janji pada Joshua. Masa dia harus menahan diri tidak mengabadikan peristiwa penting di dalam tempat kejadian perkara.


"Siapa kamu? Kok, kamu bisa di sini? Bagaimana kamu bisa ada di sini?" kata si petugas yang menahan Mia dan melayangkan tatapan tegas.


Mia terdiam menoleh ke arah Joshua.


Pria itu lalu berjalan mendekati petugas yang menegur Mia.


"Biarkan saja, Pak. Dia datang dengan saya," ucap Joshua.


"Loh, tapi dia kan wartawan, Pak!" serunya.


"Iya, aku tahu kok, biarkan saja." Joshua memberi titah pada rekan kerjanya lagi.


Awalnya, petugas tak membolehkan Mia masuk, akan tetapi karena Joshua memberikannya kode berupa gerakan tubuh dan isyarat di wajahnya, petugas bernama Sapto itu membiarkan Mia untuk ke dalam.


"Begini, Pak Joshua, mayat yang akan Anda lihat kondisinya sangat –"


Si petugas Sapto tampak menahan diri menoleh ke arah Mia sejenak lalu melanjutkan ucapannya lagi, "memperihatinkan."


Mia tak peduli, ia harus melihat langsung kondisi penemuan mayat itu. Tanpa membuang- buang waktu lagi, Mia segera melesat masuk ke ruangan tersebut. Perempuan itu melihat secara langsung mayat lelaki yang tubuhnya tak utuh. Jasad itu tanpa kepala dan kedua kaki. Tubuh itu ada di atas dipan kayu dengan kondisi tanpa kepala. Namun, kepalanya tak jauh ditemukan di ruang sebelahnya.


Aroma bau busuk bangkai tercium begitu menyengat, membuat Mia langsung menutup hidung sebelum isi dalam perutnya menyeruak naik meminta untuk dikeluarkan. Namun, tak lama kemudian, Mia segera meninggalkan ruangan untuk memuntahkan makan malamnya. Dia masih tak habis pikir bagaimana hal ini dapat terjadi. Sosok Wahyu yang sempat dia jadikan tersangka malah menjadi korban itu sendiri. Pikiran Mia kalut sembari menatap nanar sosok itu ketika


kembali masuk ke dalam ruangan.


"Kamu sudah lihat, kan? Sekarang kamu bisa pergi Mia! Kamu bisa menulis semua yang kamu lihat ini," kata Joshua.


"Dia Wahyu Setiaji, kan? Pemilik kafe Backdoor? Dia juga punya saham di pasar malam ini, kan?" tanya Mia.


"Ya, kamu benar." Joshua mengangguk.


"Lalu, kemana sisa tubuh lainnya?" tanya Mia lagi.


"Kami belum tahu pasti jelasnya. Nanti kalau hasil identifikasinya sudah keluar, akan aku kabari ke kamu," sahut Joshua.


Mia mengangguk. Selebihnya dia hanya diam dan berpikir, Joshua meninggalkan perempuan itu setelah mengatakan bahwa ia akan mengurus semua. Mia kembali mendekati sosok mayat mengenaskan itu. Melihatnya lebih teliti.


"Apa kamu bisa lihat arwahnya yang penasaran?" bisik Mia pada Bowo.


Sosok besar itu menggeleng. Di rumah kayu kecil ini, Mia mendapati beberapa benda-benda aneh seperti kendi-kendi, serta bebungaan beraroma kemenyan, dan benda-benda untuk ritual mistis lainnya.


Mia mencoba mengamati semua tempat itu, hingga terpikir di dalam kepalanya. Kenapa Wahyu harus dibunuh? Apa motif pembunuhan ini? Yang jelas ternyata Mia salah karena selama ini menyangka Wahyu adalah pelakunya.


Mia tak habis pikir, siapa yang bisa sekeji ini memenggal kepala orang seakan- akan semua ini adalah hal yang biasa? Di tengah-tengah pikiran yang berkecamuk itu, Bowo mengajak Mia menuju ke halaman belakang.


Mia menyadari sesuatu saat dia mengikuti Bowo. Di hadapannya kini, perempuan itu melihat ruangan di halaman belakang rumah kayu itu yang ada sebuah pintu dan tertutup. Mia menatap sekeliling, memastikan tak ada petugas yang memergoki dirinya. Perlahan-lahan Mia mendekat ke pintu sebelum melesat masuk ke ruangan tersebut.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....