POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 67. Petualangan Keluarga Prayoga



Bab 67 Pocong Baper


Mobil sedan hitam miliknya Anan sampai. Raja mengendarainya untuk menjemput Anan, Anta, dan Arya. Dita langsung menyambut kedatangan putrinya dan memeluknya seraya menangis.


"Kita akan menemukan Dira, Bunda. Anta janji apa pun akan Anta lakukan demi membawa Dira kembali dengan selamat," ucap gadis itu.


Jin menyambut Anan dan menceritakan kinerja anak buahnya pasca dua hari ini mencari Dira. Tak ada jejak dari mobil si penculik seolah ada sihir yang menutupi mobil tersebut. Sampai Setta mengambil alih. Ia dapat melihat mobil yang dikendarai James menuju ke luar kota.


Ponsel Disya berdering, Icha mengirimkan pesan. Gadis itu langsung menunjukkannya pada Anan.


"Desa Alamanda, Dira disekap di sana. Lalu, apa kita harus percaya dengan ini?" tanya Anan pada Dita.


"Anta rasa kita harus percaya pada pesan itu. Nanti Jin sama anak buahnya memantau dari kejauhan supaya nggak ngebahayain nyawa Dira. Anta yakin Hanako pasti lebih menginginkan Anta dibanding Dira," ucap Anta.


Setta mengusap bahu sahabatnya itu. Memberi kekuatan seorang sahabat agar perempuan itu bisa tegar.


"Jadi, kita pergi sekarang?" tanya Raja.


"Oke, feeling Bunda juga kuat. Kita harus ke Alamanda. Siapkan mobil, Ja!" titah Dita.


Raja dan Anan saling berpandangan dan mengangguk. Keduanya lantas menuju ke mobil. Namun, Dita menahan Fasya dan Disya ikut serta.


"Bun, kita juga bagian dari keluarga kalian, kan? Buktinya Kak Arya ikut kalian," Fasya berusaha untuk ikut.


"Bukan begitu, Fas. Bunda mohon kamu jaga di sini. Jagain Disya sama Kak Setta," pinta Dita.


"Bunda bener, Fas. Kita harus bagi-bagi tugas. Bentar lagi ayah sama bunda datang buat jaga tempat ini juga," ucap Arya mencengkeram bahu adiknya.


"Tapi, Kak–"


"Kak Arya tahu kalau kamu sangat khawatir sama Dira, kayak Kak Arya khawatir ke Anta. Tapi, Kakak mohon kamu tetap di sini, ya," ucap Arya.


"Janji ya, Kak, bawa Dira pulang dengan selamat," lirih Fasya.


"Janji." Arya menepuk punggung adiknya.


Adam juga menepuk bahu Fasya sebelum ikut menyusul masuk ke dalam mobil.


"Pakai mobilku saja, lebih lebar!" titah Jin menyerahkan kunci fortuner miliknya pada Anan.


"Makasih, Jin, nanti Om kabarin. Kamu jagain Setta, ya," pinta Anan.


"Iya, Om, pasti. Nanti Jin akan minta teman yang jaga wilayah desa itu buat cari villa tempat keluarga Mahardika berada," ucap Jin.


Anan mengangguk.


Dita meminta Silla dan Lee beserta lainnya untuk menjaga Setta. Bayi dalam kandungannya juga ditakutkan menjadi incaran sekte sesat lainnya. Sementara itu, Ratu Sanca ikut bersama Dita, Anan, Anta, Arya, Raja, dan Adam. Mereka menuju ke Desa Alamanda. Pocong Tania juga ikut serta. Kini, bukan Raja yang menjadi tujuannya untuk dia lindungi, tetapi Adam dan juga Dira.


***


Mobil yang dikendarai Raja setelah menggantikan Anan, akhirnya berhenti di perbatasan antara dua kota yang terpencil.


"Yanda setuju, udah azan magrib juga. Ratu Sanca udah ngilang juga. Kita solat magrib dulu, makan malam, lalu kita coba jalan lagi," ucap Anan.


"Apa cuma Tania yang kebal sama suara azan? Kayaknya dia nggak kepanasan, Bunda," ucap Adam.


"Mungkin, Tania udah termasuk golongan hantu muslim," sahut Dita.


Anta mengamati pocong Tania dengan saksama saat turun dari mobil yang terparkir di depan sebuah rumah makan itu.


"Kamu yang katanya Dira baperan, ya?" tanyanya.


"Itu dulu, Kak. Sekarang, aku coba untuk jadi pocong yang lebih kuat dan nggak baperan hehehe," sahut Tania.


"Bagus bagus bagus." Anta merangkul Tania.


"Berasa dejavu liat dia ya, Yang?" sahut Arya.


"Kan kamu juga mantan pocong kayak gini dulu," sahut Anta seraya terkekeh.


"Masa sih?" Adam mulai penasaran dengan cerita Anta seraya masuk ke dalam rumah makan.


"Tania, makin cakep aja," goda Raja.


"Cukup, Kak Raja, jangan buat hati ini baper. Tania mau move on dari Kak Raja."


"Ah, masa sih? Move on sama siapa?" Raja mencolek dagu Tania lalu pergi melangkah menyusul keluarganya.


"Ah… kenapa, sih, Kak Raja bikin baper aja!" Tania melompat menyusul Raja.


***


Setelah mengucapkan terima kasih kepada pemilik rumah makan yang sedari tadi sudah membantu mereka, Anan membawa keluarganya masuk ke dalam mobil. Mereka memutuskan untuk kembali melaju. Semakin lama, semakin jauh masuk ke daerah pedalaman. Sampai rumah-rumah penduduk yang sebelumnya ramai mereka lihat, hanya tersisa satu dua rumah di bawah kaki gunung.


Anta beberapa kali melihat ke sana kemari, merasakan sensasi dingin yang membuat bulu kuduknya merinding.


Langit mulai menggelap diiringi awan hitam yang pekat.


"Kayaknya bakal hujan, nih," lirih Anta.


Arya menggenggam tangan sang istri, menguatkannya agar kecemasan perempuan itu mereda. Dita juga duduk di samping Anta, di kursi kedua. Sementara Anan dan Raja berasa di kursi depan. Sedari tadi mereka bergantian berkendara. Jika sudah merasa lelah, akan ada Arya dan Anta yang menggantikan. Adam, Tania, dan Ratu Sanca duduk di kursi ke tiga. Pemuda itu sampai tertidur pulas merebahkan kepalanya di bahu Tania.


Tak lama kemudian mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah jalur tengah di antara hutan.


"Ke mana kita sekarang?" tanya Raja menoleh pada Anan.


*****


Bersambung dulu, ya.