POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 47. Yagi Kembali



"Lah, kok Bu Ros hilang?" Dira menggaruk kepalanya.


"Kalau gue perhatiin, emang Bu Ros kayaknya takut sama Pak Beni. Kenapa, ya?" tanya Fasya menghampiri Dira.


"Menurut kamu gimana, Tan? Kamu bisa tanya sama dia kenapa takut sama Pak Beni?" Dira menoleh pada Tania.


"Hmmm, gimana ya, Bu Ros itu sulit untuk terbuka, sih. Emak-emak introvert dia," sahut Tania seraya terkekeh.


"Gaya elu emak introvert!" Adam menarik ikat pocong Tania.


"Dam, please deh! Bunda udah kasih aku pita merah jambu jangan dirusak gitu ikatannya huaaaaa!" Tania memekik dengan kesal.


"Iya, iya, sorry! Lagian genit banget luh pake pita pink." Adam terbahak-bahak karenanya.


"Kamu mah beda sama Raja. Dia mah manis mulutnya suka bikin aku ge er. Kamu mah judes!" cibir Tania.


"Jangan samain gue sama Raja. Jelas ganteng gue!" Adam mengibas rambutnya ke belakang.


"Cih! Kamu tuh–"


"Stop! Udahan ya ributnya! Berisik tau!" Dira melerai keduanya.


"Dam, soal rencana elu gimana?" Fasya juga ikut berada di antara pocong Tania dan Adam.


"Oh iya, gimana soal rencana menangkap kuntilanak terbang nanti malam?" Adam penuh semangat mengajak yang lainnya berburu hantu.


"Aku takut, ah! Nanti diomelin bunda," sahut Disya.


"Kalau takut nggak usah ikut! Elu bukan circle kita berarti," kata Adam mencibir Disya.


"Hih, aku bilangin Bunda-bunda, loh!" ancam Disya.


"Disya yang cantik, yang cakep, yang manis, anaknya Herdi Tasya, tolong jangan main ancam, ya!" Dira merangkul Disya.


"Ja-jadi, kita mau berburu hantu kuntilanak terbang, gitu?" tanya Disya.


Tatapan Adam, Fasya, dan Dira serta Tania yang mengarah ke arahnya, sukses membuatnya tertegun. Seolah cairan saliva itu berat dia telan.


...***...


Icha mendatangi Mia, tetapi ia tak masuk ke dalam ruang tempat Mia disekap. Gadis itu tak lagi datang membawa lauk nasi putih lagi untuk Mia. Selama kurun waktu berhari-hari, tak ada satu pun lagi orang yang datang ke tempat itu atas perintah Nyi Ratu.


Wanita itu terkurung di dalam kamar berukuran dua kali dua meter yang begitu minim cahaya, kosong, pengap dan juga lembab. Mia juga dipasung di bagian kaki sehingga tidak bisa bergerak.


Meskipun ada dipan kayu, selama Mia berada di ruangan itu, tak sekali pun dia pernah berada di atas dipan sekedar untuk membandingkan tubuhnya. Mia juga mulai berhalusinasi. Di atas dipan itu selalu ada bayangan hitam menyerupai sosok monster menyeramkan yang mencintainya.


Sosoknya besar seperti bowo, genderuwo penjaganya. Namun, dia memiliki taring panjang dan kuku jari yang tajam juga. Sosok monster itu seolah menginginkan nyawanya. Akan tetapi, saat Icha akan datang, sosok itu hilang.


Kini, Mia lebih banyak menghabiskan waktu sendiri, duduk di sudut ruangan. Kadang dia menggores tembok kayu dengan kuku jari tangannya. Perutnya terus menerus berbunyi, rasa lapar sudah memenuhi dirinya, tetapi tetap saja tak sekali pun Icha datang membawa sepiring nasi seperti biasa. Gadis itu hanya memastikan Mia masih hidup.


James juga kerap datang hanya untuk melihat sekilas ke arah Mia. Nyi Ratu juga ada di belakang James dan Icha. Mereka seakan sengaja melakukannya, membuat Mia tersiksa dengan rasa lapar yang hebat.


"Yagi bukan monster! Dia memilih perempuan itu untuk dikendalikan olehnya. Yagi akan menjadi senjata kita dalam merebut tubuh gadis itu," ucapnya.


"Kenapa bukan kakak perempuannya saja, Nyi Ratu?" James buka suara. Entah kenapa, pemuda itu jadi iba jika harus mengorbankan Dira.


"Jangan bilang kalau kau jatuh cinta padanya, James?" telisik Nyi Ratu seraya tertawa menyeringai.


"Tidak, Nyi. Aku hanya …."


"Mereka tidak menemukan kakaknya. Dia dan suaminya seolah bersembunyi. Jadi, harapan kita adalah gadis itu," tukas Nyi Ratu lalu pergi karena ponselnya berdering.


"Kak, aku nggak tega liat Mbak Mia begitu kesiksa," ucap Icha.


"Ca, elu ngebunuh korban aja berani, masa liat si Mbak itu jadi monster aja nggak tega," sahut James.


"Ta-tapi, tapi aku berani ngelakuin itu karena obat dari Kakak!" Gadis itu berseru seraya hampir menangis.


"Tapi seru, kan? Udah kira semangat jalaninnya. Ini demi mengembalikan papi sama mami kita, Cha." James mengusap kepala adiknya.


Mia berteriak dengan keras. Lengkingan penuh rasa tersiksa itu benar-benar menyayat yang mendengarnya. Rasa nyeri, sakit, serta penderitaan menjadi satu-satunya kawan yang Mia miliki.


Mia merasa kesakitan di bagian perut dengan lambung terasa melilit karena lapar. Sepasang kaki yang terpasung itu menghentikan hebat. Kedua tangannya mulai gemetar juga akibat tak ada lagi tenaga yang tersisa di dalam tubuhnya.


Rasa lapar yang memuncak dan dehidrasi membuat Mia nyaris kehilangan kesadaran. Perempuan malang itu tak lagi mengenal batas waktu. Entah sudah berapa lama ia diperlakukan seperti itu, tersiksa. Kalau bisa ia mengakhiri hidupnya, lebih baik dia mati saja, begitu batinnya bergejolak.


Mungkin sudah satu minggu sejak kali terakhir dia melihat Icha dan James memasuki ruangan tempat dia dipasung. Mia bahkan sudah tak peduli, jika memang mereka ingin melihat dia mati di ruangan itu. Mia akan merasa jauh lebih baik bagi dirinya ketimbang mendapat penyiksaan batin dan fisik seperti itu.


Sosok Yagi di atas dipan itu bahkan mulai berbisik, "siapkan dirimu untuk kumiliki."


Mia sungguh tak akan menjadi seperti sosok itu yang ia yakini merupakan monster haus darah. Sosok Yagi itu memang akan menghabisi siapa pun yang menghalangi keinginannya demi kehormatan. Mia tak akan tumbang dengan semua harapan yang ada di dalam lubuk hatinya.


Namun, rasa lapar dan haus itu benar-benar begitu menyiksa. Mia mulai gugup, napasnya juga terdengar tersengal dengan kesakitan yang berpusat di dalam perutnya. Mendadak kemudian di tengah kesadaran yang mulai memudar itu, Mia mendengar sebuah suara di dalam telinganya. Suara yang terus menerus mengatakan hal yang sama berulang-ulang.


"Lapar, makanlah. Haus, minumlah!"


Semakin sering suara itu memenuhi semua pikirannya, dengan nekat Mia mulai mencakar-cakar kulit di wajahnya.


"Aaaarrrggghhh!"


Berteriak sekuat tenaga dia merobeknya dengan jari-jari hitam panjang yang sudah lama tidak lagi pernah dipotong. Mia tak peduli. Rasa itu begitu menyenangkan meskipun kesakitan menyeruak. Namun, rasa sakit itu perlahan seakan tak lagi bisa dia rasakan.


Mia bagai mayat hidup yang tak peduli dengan luka di tubuhnya yang dia buat sendiri. Pikirannya hanya ingin makan. Rasa sakit itu digantikan oleh rasa lapar dan haus yang benar-benar sudah menyiksa dirinya juga meronta memporak-porandakan kesadarannya.


Darah mengalir keluar dari goresan bekas cakaran di pipi wajahnya. Mia melihat jari jemarinya yang bersimbah darahnya sendiri itu dengan penuh nafsu. Kemudian, Mia menjilati darahnya sendiri.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....