
Hantu bergaun merah itu lantas mencengkeram wajah Dira dengan kedua tangannya. Kuku tajamnya seolah menancap di pipi Dira. Ia menjerit kesakitan tetapi sekolah sangat sunyi dan tak ada siapa pun yang mendengar.
Kepala gadis itu berdenyut hebat dan dunia seolah-olah berputar. Dira memasuki alam dimensi lain sebelum hantu wanita bergaun merah itu mati.
...***...
Di sebuah rumah besar di belakang SMA Pandai Sentosa, sepasang suami istri paruh baya tinggal bersama anak-anak terlantar. Rumah dua lantai berukuran 300 meter persegi itu bernuansa merah. Cat dinding merah itu sangat mencolok. Bahkan semua furniture yang ada di dalam rumah berwarna merah.
Kedua suami istri itu memiliki anak-anak terlantar yang hampir rata-rata anak itu merupakan anak yatim piatu atau anak yang ditelantarkan keluarga. Dahulu, suami istri bernama Nyonya Jane, wanita asal Pulau Nusantara, dan Tuan Brian, yang merupakan warga asing keturunan Jerman, pernah memiliki anak. Namun sayangnya, saat anak mereka berusia sepuluh tahun, meninggal dunia karena penyakit misterius.
Semenjak itu, Jane dan Brian mengadopsi anak-anak terlantar dan membawa mereka ke rumahnya. Akan tetapi, ada yang disembunyikan dari kedua suami istri paruh baya tersebut. Mereka bukanlah orang yang baik seperti citra baiknya di mata tetangga sekitar.
Malam itu, gadis bernama Maria baru satu bulan bekerja di rumah besar milik Brian dan Jane. Ada sepuluh anak yang usianya dari umur lima sampai sepuluh tahun di sana. Tuan Brian yang usianya lebih muda lima tahun dari Jane yang usianya empat puluh tahun sangat baik.
Bahkan Brian kerap menggoda Maria yang juga tergoda akan pesona sang majikan. Brian selalu meminta Maria mengenakan baju merah. Bahkan kalau bisa pakaian yang berbentuk gaun. Sang istri juga selalu memakai baju merah sama seperti Brian yang juga selalu mengenakan kaus atau kemeja merah.
Hari terakhir di mana Maria masih hidup, tepat pukul satu dini hari, Maria merasa perih pada perutnya. Ia lantas menyalakan lampu kamar dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari. Setelah meyakinkan diri untuk lebih berani, akhirnya ia melangkah ke luar dari kamarnya menuju ke arah dapur. Rasa lapar menghinggapi perut mungilnya yang mulai mengeluarkan suara gemuruh. Maria tak kuat lagi menahannya.
"Aku mau bikin mie rebus, deh. Hmmmm, tapi aku takut. Tapi, aku lapar. Ah, bodo amat, deh!" Gadis itu mengendap-endap menuju dapur setelah ia meyakinkan diri untuk melangkah. Dengan berjinjit Maria bergerak agar tak menimbulkan suara berisik.
Rasa takut sebenarnya sangat menerpa gadis itu sebenarnya. Apalagi Maria acap kali mendengar kalau rumah itu sebenarnya berhantu. Kata tetangga ada anak kecil yang sering datang menampakkan diri dan menakuti.
Saat Maria meraih satu bungkus mie instan, tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang. Maria melihat Jane ke luar dari kamarnya. Gadis itu langsung bersembunyi di balik dinding dapur karena takut dimarahi. Jane selalu menjadwal jam makan dan tidur para penghuni rumahnya.
Jane terlihat menuju lantai bawah tanah yang biasa dipakai untuk menyimpan barang-barang yang telah usang. Rasa penasaran hingga di pikiran Maria.
"Mau apa Nyonya Jane jam satu gini ke gudang bawah tanah, ya?" batin Maria pada diri sendiri.
Ia lantas mengubah keinginannya dan tak jadi memasak mie rebus. Maria penasaran dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti sang majikan. Langkahnya sangat pelan agar tak terdengar bahkan untuk seekor tikus sekalipun.
Di dalam gudang tersebut telah menunggu sang suami. Brian meraih sebuah meja dan menyiapkannya. Keduanya menuju sudut gudang yang terdapat ruangan kecil di sana. Maria segera bersembunyi ke dalam lemari usang yang berada di dalam gudang tersebut pelan-pelan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Gadis itu melihat sang majikan tampak mempersiapkan sebuah meja untuk pemujaan. Setelah meja yang wanita itu siapkan sudah tertata dengan barang-barang yang menurut Maria aneh, kemudian dia melihat Jaen meraih ayam hitam. Ia mengarahkan pisau tajam dan menyembelih ayam itu.
Darah hitam segar langsung mengucur ke dalam sebuah cawan emas di atas meja. Bau anyir darah segar langsung menyeruak ke dalam hidung dan membuat gadis yang bersembunyi di dalam lemari itu merasa mual.
Brian tampak menggotong sesuatu yang dibalut plastik putih. Ternyata Brian menggiring tubuh anak perempuan salah satu penghuni rumah tersebut. Maria lantas terperanjat tetapi buru-buru membekap mulutnya sendiri agar tak berteriak.
Kedua mata gadis itu tiba-tiba terbelalak karena melihat sang majikan menyembelih ayam hitam. Wanita itu terlihat seolah-olah sedang melakukan ritual pemujaan. Di atas meja itu ada tubuh anak perempuan yang pasti sudah tak bernyawa.
Jane lantas meraih seonggok daging yang Maria yakini adalah jantung manusia dari sebuah kotak. Jantung itu masih berdenyut saat dimasukkan ke dalam sebuah cawan emas di atas meja. Bibir Jane ibergerak seolah-olah mengucapkan mantera seperti layaknya nenek sihir yang Maria pernah lihat di layar kaca.
Sementara itu, Brian membelah dada si anak perempuan itu dan meraih bagian jantungnya. Maria sempat memejamkan mata karena takut. Gadis itu masih berusaha bertahan meski ia tak bisa mencerna perbuatan para majikannya kala itu.
Brian meletakkan jantung dari kotak tadi ke tubuh anak itu, dia menggantinya. Senyum puas tersinggung di bibir Jane kala ia menyelesaikan ritualnya. Ia rapikan barang-barang di atas meja itu.
"Kenapa Lucy belum bangun?" tanya Jane pada Brian.
"Aku rasa anak ini tidak cocok. Lucy tak mau masuk ke tubuh anak ini," tukas Brian.
"Hmmm, kita harus mengulang lagi serangkaian tes pada anak lain, ya?"
"Iya, Sayang. Kita harus melakukannya, demi kembalinya anak kita," ucap Brian.
Ia kembali meraih jantung yang ternyata milik putrinya, Lucy. Lalu, meletakkan kembali ke dalam kotak sebelumnya. Sementara itu, Jane melakukan mutilasi pada tubuh anak asuhnya itu.
"Untuk siapa kali ini daging anak ini?" tanya Jane.
"Restoran High Five memesannya," jawab Brian.
"Oke, aku akan menyiapkannya."
Maria masih mencoba menahan diri, meskipun air matanya mulai tak terbendung. Dia menyaksikan sendiri perbuatan sadis sang majikan yang mengerikan. Maria ingin segera keluar dan pergi dari tempat itu untuk melapor. Namun, dia terlalu takut ketahuan Brian dan Jane. Oleh karena itu, dia menunggu.
Akan tetapi, sesuatu menyeramkan membuatnya tersentak. Gadis itu merasakan ada sentuhan pada kakinya. Di bawah penerangan lampu gudang yang minim cahaya itu, ditambah dia masih berada di dalam lemari, Maria menoleh ke arah kaki kanannya. Terlihat tangan kanan seseorang mencengkram kaki gadis itu.
"Aaaaaaaaaaa!"
Maria terperanjat dan tanpa sadar langsung keluar dari lemari gudang itu. Sosok menyeramkan itu terlihat merangkak ke arahnya sampai membuatnya menjerit.
"****! Siapa itu?" pekik Brian. Jane juga menoleh ke arah suara teriakan Maria.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....