
Bab 62 Pocong Baper
Malam itu, Dira mulai terlelap di samping Setta dan Disya. Sementara Dita masih terjaga dengan duduk di sofa. Dia berdoa semoga penerbangan Anan dan lainnya tidak didelay. Sampai akhirnya rasa kantuk itu tak tertahan juga, Dita pun terlelap.
Adam, Fasya, dan Jin tidur di kasur lantai yang digelar di ruang tengah. Ratu Sanca masih berjaga bersama yang lainnya. Mereka berharap malam ini tidak akan ada kejadian yang akan membawa petaka apa pun.
Keesokan harinya, Jin mulai bekerja. Fasya dan Adam akan berjaga di rumah. Hari itu untungnya sekolah diliburkan pasca penyelidikan kematian kepala sekolah yang polisi lakukan. Jin yakin kalau kematian itu bukan kecelakaan biasa. Dia perlu dokumen-dokumen tentang Miss Hana juga.
"Bunda, Dira ke warung dulu ya sama Disya," ucapnya.
"Beli bumbu sama kecap terus jangan lama-lama buruan balik, ya!" titah Dita seraya mengiris bawang bersama Setta.
"Oke."
Sesampainya di sebuah warung, seorang ibu yang mengenakan jilbab hitam menyambut kedua gadis itu.
"Tamunya Non Setta, ya? Datang dari mana?" tanyanya.
"Iya, Bu, kita dari sana–"
"Luar kota, Bu, mau pada nginep kan bentar lagi Kak Setta lahiran," ucap Dira yang memotong pembicaraan Disya.
"Oh gitu. Mau beli apa?" tanyanya.
"Bumbu ayam sama kecap," sahut Dira.
"Aku mau ambil gorengan dulu ya, Ra," ucap Disya.
Dira mengangguk.
Sebuah mobil sedan hijau tampak terparkir di seberang warung. Seorang gadis turun dari mobil tersebut dan hendak menuju ke warung. Namun nahasnya, gadis itu terserempet oleh pengendara motor yang ugal-ugalan. Tak sampai hati membiarkan, Dira datang menolongnya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Dira.
"Duh, tolong bantu saya balik ke mobil," ucapnya. Gadis itu mengenakan wig warna coklat dan kacamata hitam.
Tanpa curiga sedikit pun Dira membantunya. Namun setelah sampai di kursi kedua mobil, gadis yang memakai wig tadi menarik tangan Dira sampai jatuh ke kursi ke dua. Dira baru tersadar kalau gadis itu adalah Icha dan si pengendara mobil tersebut adalah James. Sontak saja Dira berteriak. Sayangnya, suaranya seperti teredam. Ibu pemilik warung dan Disya sekali pun juga tidak mendengarnya. Mobil itu melaju tanpa ada yang melihat dan mengetahui seperti terhalangi oleh sesuatu yang gaib.
"Bu, aku beli gorengan dua puluh ribu, ya. Terus– temen saya mana, Bu?" tanya Disya.
"DIRA! DIRA! DIRA KAMU DI MANA?!"
Tangisan Disya mulai pecah kala dia dan ibu pemilik warung tak mendapati Dira di sekitarnya. Gadis itu langsung berlari pulang. Adam dan Fasya langsung menyambutnya.
"Ada apa, Dis?" Adam mengguncang kedua bahu gadis itu.
"Dira, hiks hiks, Dira hilang, Dam." Tangisannya makin pecah kala memeluk Adam.
"APA?! Elu tuh bego apa gimana sih, Dis? Masa jaga Dira aja nggak becus! Lagian ngapain kalian pakai keluar segala, hah?" Fasya menuding adiknya.
"Fas, dia adik elu! Dia juga syok, jangan elu tambah lagi bikin dia sedih," ujar Adam.
Fasya terlihat kalut dan keluar rumah berteriak memanggil nama Dira ke sekeliling komplek tersebut.
"Ada apa ribut-ribut begini?" tanya Dita yang tak sadar masih memegang sudip.
Disya menoleh seraya menangis lalu menghamburkan diri memeluk Dita.
"Dira hilang, Bunda," ucap Disya.
"Apa?! Kok, bisa?" Dita mulai panik.
Setta mendengar teriakan Dita dan bergegas menyusul ke halaman depan. Namun, dia hampir saja meninggalkan kompor yang masih menyala kala Dita belum selesai memasak. Setta lantas kembali ke dapur untuk mematikan kompor itu.
"Tadi pas aku pilih gorengan, aku sama ibu pemilik warung juga nggak engeh kalau Dira udah pergi gitu aja. Aku udah cari juga nggak ketemu," ucap Disya.
"Terus Dira ke mana ini?" Dita tak bisa lagi membendung bulir bening kepanikan itu.
Setta mendekat dan mendengar dengan saksama. Ia lantas mengusulkan ide.
"Aku hubungi Jin dulu supaya bisa cek cctv tetangga sekitar warung, ya." Setta lalu meraih ponsel dan menghubungi suaminya.
Fasya kembali dengan tangan kosong. Dia sampai kelelahan mencari keberadaan Dira yang tak kunjung dia temukan. Sementara itu, Dita tak bisa menghubungi Anan. Kemungkinan masih berada di dalam pesawat dan tak bisa menyalakan ponsel, begitu juga dengan Anta dan Arya.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....