POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 57. Memusnahkan Kuntilanak Terbang



Bab 57 Pocong Baper


Awalnya, sosok kuntilanak itu memang selalu membuat para penghuni rumah yang dia incar terlelap sangat pulas agar dia bisa melancarkan aksinya dengan bebas. Hanya saja, Dita yang masih terjaga. Namun, Dira belum mampu melawan. Dita tak mempan dan terpengaruh ilmu sirep milik kuntilanak Miyako. Sementara itu Setta yang tengah diincar memang dijadikan korban yang masih terjaga saat dia akan dekat nanti.


Sosok Lee dan Uwo mengintip perbuatan kuntilanak dari balik pohon. Mereka tampak ketakutan dengan kekuatan yang dimiliki kuntilanak itu. Namun, Lee sangat sayang dan menyukai keberadaan keluarga Dita. Sosok itu lantas memilih menentang perintah Nyi Uwu yang tadi memintanya sembunyi. Lee bergegas mencari Silla dan beberapa hantu sekitar komplek yang lain untuk datang membantu.


"Awas kau, Nyonya Tua. Sekarang rasakan seranganku!" Miyako mengejar Dita dan mengincar leher pemuda itu untuk dia cekik dan dia habisi nyawanya.


"Wah, Bunda dibilang Nyonya Tua, wah ngajak ribut," sahut Adam menimpali seraya menoleh ke arah ibunya yang menahan kegeraman.


Dira juga menoleh pada ibunya dan langsung menarik Setta untuk bersembunyi.


"Kamu bilang aku apa? Nyonya Tua? Kamu pikir kamu siapa bisa ngatain orang sembarangan, hah?! Kamu tak ubahnya hanya makhluk jelek yang menjijikkan!" pekik Dita.


"Hahaha, aku lebih muda dan lebih cantik, Nyonya," sungut Miyako.


"Tapi kau bukan manusia! Kau iblis yang busuk!" pekik Dita lalu meraih gagang sapu dan memukul ke arah Miyako.


Miyako pikir dia akan selamat dari pukulan Dita, tetapi hantaman gagang sapu itu tepat mengenai wajahnya dan terasa menyakitkan.


"Tuh kan apa aku bilang hahaha," gumam Adam yang menertawai Miyako bersama lainnya.


"Kurang ajar kau!" Miyako semakin kesal dan berusaha melawan Dita.


Ratu Sanca lantas menghadangnya. Namun, Miyako menghempas ular itu sampai jatuh ke tubuh Tania dan Adam.


"Ayo, kejar aku kalau bisa!" Dita berlari menantang Miyako.


Dira memberanikan diri untuk bergabung. Miyako mengejar Dita, sementara Dira mengejar Miyako. Ketiganya bersejarah sampai mengelilingi rumah Setta.


"Aduh, aku pusing liatnya!" Setta sampai memijit kepalanya yang mulai pening.


"Aku akan buat tubuhmu kaku, rasakan ini Nyonya Tua!" seru Miyako menyerang Dita.


Namun, tak ada yang terjadi pada Dita. Wanita itu masih berlari menghindar. Bahkan Dita sengaja melempari bebatuan kerikil pada Miyako yang tengah melayang tersebut.


Pluk!


Seketika itu juga kotoran kucing liar yang sudah mengering tepat mengenai wajah Miyako. Bahkan bagian bulatan kecil tampak memasuki rongga mulutnya yang sedang berteriak memaki Dita.


"Waaaahhh, Bunda pegang tai kucing kering! Iyuuuhhh!" Dita langsung berlari menuju keran di dekat dinding luar dapur untuk mencuci tangannya.


"Iyuh! Jadi ratu kuntilanak nggak ada harga dirinya," cibir Silla yang baru saja sampai bersama Lee dan yang lainnya.


"Dasar kalian para setan bodoh! Bisa-bisa kalian membela keluarga mereka! Kalian harus menyakiti manusia tau!" pekik Miyako yang langsung menggelegar bagai perpaduan tawa nenek sihir dan kuntilanak.


"Yang bodoh itu ya kamu. Harusnya kamu mikir, Mbak. Semua hantu di sini bukannya takut tapi respect sama mereka," ucap Silla sampai membuat sosok Miyako yang mendengus kesal.


"Tapi, aku awalnya takut sama Dira sama Adam waktu kecil. Mereka suka nyiksa aku, Silla," bisik Marni, hantu sundel bolong penunggu pohon mangga di taman komplek.


"Udah sih diem aja jangan nyeletuk kayak gitu. Tunjukkan kalau kita respect bukan takut," bisik Silla.


"Baiklah kalau itu mau kalian. Aku akan memusnahkan kalian, hiaaaaat!"


Miyako semakin geram seraya melayang penuh kemarahan ke arah Silla. Miyako menampar dan menjambak Silla. Namun, Silla tak mau kalah dan menyerang balik.


"Waduh, kuntilanak berantem seru juga ya. Kayak emak-komplek ribut," ucap Adam.


"Emang kamu pernah lihat emak-emak komplek ribut, Dam?" tanya Setta yang ikut mengamati.


"Pernah, Kak, tanya Dira tuh!" sahutnya.


"Kok, tanya ke Dira?" Gadis itu menunjuk diri sendiri.


"Yang waktu Bu Bambang ngelabrak Mpok Siti gara-gara ngerebut suaminya. Kan berantem di depan tukang sayur," tukas Adam.


"Oh iya iya, seru juga waktu itu," sahut Dira.


"Asek makin seru! Coba ada cemilannya," celetuk Adam.


"Adam!" Dita menepuk kepala belakang putranya.


"Bakar tubuh sosok itu dengan bensin!" titah Ratu Sanca.


"Bensin? Cari di mana bensin jam segini?" tanya Dita.


"Bukan bensin biasa seperti itu, tetapi bensin berupa air seni perjaka," tukas Ratu Sanca.


"Hah? Air seni perjaka?" Setta dan Dira menyahut bersamaan.


"Astagfirullah, bau banget, dong! Duh, jijik banget loh kalau sampai pakai air seni," keluh Dita.


"Tapi memang itu caranya melawan makhluk seperti itu," ucap Ratu Sanca.


"Cari di mana bensin kayak gitu?" tanya Dira.


Akan tetapi, Dita dan Setta memiliki pemikiran yang sama. Keduanya lantas menatap Adam dengan lekat.


"Kok, pada liatin aku begitu?" tanya Adam.


"Kamu masih perjaka kan, Dam?" tanya Dita.


"Kok, Bunda nanya begitu sih? Ya masih lah, Bun!" sahutnya.


"Nggak pernah main sendirian juga kan, Dam?" goda Setta.


"Ih, apa-apaan sih Kak Set! Tanya aja sama Tania, dia yang selalu nemenin aku!" sungut Adam.


"Nggak main sama Tania juga, kan?" Dita malah menggoda Adam.


"Bunda! Apa-apaan, sih?!" Adam mulai kesal.


"Pada bahas apaan, sih?" Dira yang tampak polos hanya menggaruk kepalanya meski tak terasa gatal.


"Iya iya iya, aku mau pipis dulu!" ucap Adam akhirnya menuju ke toilet.


"Ada botol bekas di belakang kulkas ya, Dam! Kakak suka ngumpulin botol bekas disimpan di situ!" seru Setta.


"Iyeeeeee!" sahut Adam.


Tak lama kemudian, Adam membawa botol plastik yang berisi setengah nya. Dita juga meminta Setta bersiap dengan pemantik api di tangannya. Dira juga bersiap dengan korek gas hadiah souvenir pernikahan yang selalu Setta kumpulkan itu.


"Kau tak akan bisa lepas dari ku kali ini. Aku akan pastikan kau hangus dan membusuk di neraka paling bawah!" pekik Dita.


Miyako berbalik dan menghempas para hantu lainnya. Ia mengancam Dita, "aku akan pastikan kalau aku akan membuatmu tunduk padaku, hahaha."


Sepasang iris milik Miyako itu tampak berkilatan dan bola matanya berubah menjadi warna merah saat menatap Dita.


"Dam, pukul perut Miyako!" Setta berbisik pada Adam yang akhirnya mengangguk.


Adam menanduk perut Miyako dengan keras sampai membentur pohon kapas depan rumah Setta. Para hantu lainnya juga menolong setelah mereka mengumpulkan tenaga. Makhluk kuntilanak itu terjebak. Lalu, Dita menyarankan wajahnya dengan air seni milik Adam.


Joshua datang bersama Jin setelah Setta sempat menghubungi suaminya tadi.


"Jangan sakiti istriku!" pekik Joshua.


"Aaaaaa hentikan! Tolong aku Jo! Tolong aku!" jerit Miyako yang merasa kesakitan karena air tersebut.


Namun, tak lama kemudian, Dira sudah menyalakan korek gas di tangan. Begitu juga dengan Setta. Sosok kuntilanak Miyako musnah ditelan panasnya api.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....