
Baru setengah jam film Zombie City itu dimulai, langsung banyak penonton yang ketakutan. Mereka mual dan jijik dengan para zombie di film itu. Sementara, Dira dan Disya malah tertawa.
"Tumben, Dis, kok ketawa?" tanya Dira.
"Habis itu orang-orang lucu banget, sih. Ada zombie bukannya pada kabur ke luar negeri malah stay di kota," sahut Disya.
"Dis, emang tadi nggak engeh kalau orang-orang itu pada terisolasi? Hadeh… Jangan lola lola amat apa!" keluh Dira.
Gadis itu juga melihat ke arah James yang tertawa. Diaa begitu asik dengan popcorn di tangannya. Pria itu memakan popcorn itu tanpa rasa jijik sedikit pun.
Begitu juga dengan Icha yang terbiasa melihat film dengan makhluk aneh karena sebenarnya penggemar film hantu atau zombie. Sementara itu, Adam dan Fasya mati-matian menahan mualnya dan berpura-pura tegar menonton film tersebut. Mereka juga pura-pura tertawa. Padahal kotak popcorn di genggaman mereka tampak bergetar.
"Dam, elu takut?" bisik Fasya.
"Sembarangan! Masa sama beginian aja gue takut. Elu kali yang takut," sahut Adam.
"Gue nggak takut, kok, cuma ngeri. Apalagi pas adegan lehernya digigit. Duh, itu bola mata kenapa dikunyah, sih!" Fasya berusaha untuk tidak fokus melihatnya.
Hantu perempuan tadi sudah duduk di samping kursi Adam pada barisan A. Pemuda itu memilih tempat duduk di samping tangga. Tangan hantu itu mencoba menggapai popcorn Adam sampai membuat pemuda itu tersentak.
"Kampret! Gue pikir zombie!" gumam Adam.
Semua penonton menoleh ke padanya. Adam hanya bisa meringis. Ia meraih rambut panjang si hantu untuk menutupi penglihatannya. Toh, tak ada yang bisa melihat sosok hantu itu kecuali dia dan para si kembar.
Pandangan Fasya tertuju pada Dira yang duduk di barisan B. Ia melihat James sengaja mencoba menggenggam tangan Dira. Namun, gadis itu selalu menepisnya. Fasya lantas sengaja menendang kursi James sampai pria itu menoleh.
"Sorry, sorry, gue pegel nggak sengaja nendang," ucap Fasya.
Disya melirik ke arah kakaknya. Ia melihat Fasya melukiskan sorot mata dengan tatapan kesal dan terlihat terbakar api cemburu. Mungkinkah Fasya menyukai Dira? Disya juga melirik ke arah Adam yang ketakutan melihat film zombie, tetapi ia pura-pura tak tahu.
Setelah film Zombie itu berakhir di pukul 21.30, semua pengunjung ke luar dari dalam studia. James lantas membuat rencana untuk mengajak makan dulu agar bisa berlama-lama dengan Dira. Ia menarik lengan Icha dan membawanya ke sudut ruangan dalam Cinema 22.
"Gue mau ke toilet," ucap Adam yang sedari tadi menahan mualnya.
"Aku juga mau ke toilet. Antarin yuk, Ra!" Disya menarik lengan Dira.
Karena tak ingin sendirian, Fasya akhirnya menyusul Adam. Setelah selesai menggunakan toilet, Adam dan Fasya menuju cinema 22 lagi. Akan tetapi, keduanya melihat dua orang pria sedang membicarakan Icha dan adik-adiknya. Keduanya lantas bersembunyi.
"Tapi mereka ada cowoknya. Gue nggak berani," sahut si pria yang kurus.
"Halah, pokoknya culik aja salah satu gadis itu," tukas pria yang berambut gondrong.
Si kurus yang awalnya takut akhirnya mengiyakan karena diiming-imingi sejumlah uang dan obat-obatan terlarang, Pria bernama Tomi itu akhirnya setuju dengan penawaran dari si gondrong bernama Hans.
"Kau harus membawa gadis itu ke dalam bar milikku, kita akan adakan pesta di sana," ucap Hans.
Saat kedua pria itu pergi, tangan Adam ditahan oleh hantu kuntilanak dalam studio tadi.
"Astagfirullah, gue pikir zombie!" pekik Adam.
"Gadis-gadis kalian dalam bahaya. Selamatkan mereka kalau tidak ingin berakhir sepertiku," ucapnya.
"Dam, ini nggak bisa dibiarkan. Panggil Tania buat nakutin mereka," pinta Fasya.
"Ide yang bagus, Fas."
Adam lantas memanggil Tania. Mereka menyusun rencana. Fasya juga menghubungi Jin dengan mengatakan menemukan dua penjahat yang hendak menculik adiknya dan kemungkinan tersangka pembunuhan gadis di Cinema 22.
Sementara itu di toilet wanita. Disya dan Dira sedang mencuci tangan di wastafel setelah selesai buang air kecil. Cermin itu mendadak berkabut. Dira mengamati dengan saksama.
"Ra, ada yang aneh sama cerminan," bisik Disya mendekat ke arah Dira.
Sosok hantu perempuan muncul di sana. Hantu itu tertawa menyeringai dan hendak menakuti Dira dan Disya. Dira tak hilang akal, ia meraih gagang pel dan membasahinya. Lantas saja dia usap kain pel itu ke cermin toilet mengenai wajah si hantu.
"Kacanya jadi bersih, deh. Yuk, Dis, kita pulang!" Dira menarik tangan Disya. Dia meminta Disya untuk berpura-pura tak melihat hantu itu.
"Sialan! Masa muka gue dipel!" Hantu itu lalu menghilang.
Dira dan Disya hampir saja bertabrakan dengan sepasang kekasih mesum yang masuk ke dalam toilet wanita sambil melakukan perbuatan kurang enak dipandang. Napas keduanya sangat terengah-engah disertai dengan degup jantung yang berdetak kencang.
"Astaga, apa kalian tak bisa mencari tempat lain apa untuk melakukan hal itu?" pekik Disya dengan kesalnya.
"Haha, anak kecil kayak kalian tau apa! Bisa kalian beri kami privasi, kami sudah tak tahan ingin melakukannya," ucap si pria. Sementara si perempuan hanya tersenyum.
"Iyuh, menjijikkan! Dira sumpahin digangguin hantu tadi," ketus Dira.
Ucapan Dira benar terjadi, tak lama kemudian pasangan mesum tadi terdengar berteriak dan lari ketakutan keluar dari dalam toilet wanita. Dira dan Disya saling bertatapan lalu keduanya kompak tertawa terbahak-bahak.
"Kita makan dulu, yuk!" ajak Icha seraya merangkul lengan Dira.
"Umm... maaf ya, Cha. Bunda suruh kita pulang jam sepuluh," kata Dira. Disya juga mengangguk menanggapi.
"Tapi 'kan, kalian sudah janji malam ini merayakan ulang tahunku," rengek Icha.
"Besok saja, ya, kita janji deh," sahut Dira.
"Iya, kita pergi ke pusat perbelanjaan buat makan siang di sana, gimana?" Disya memberi penawaran.
"Ya udah tanya sama James dulu," ucap Icha.
Wajahnya memang menyiratkan kecewa. Mau bagaimana lagi, Dira dan Disya tak mungkin berani melanggar aturan orang tua mereka.
Icha dan James lantas pamit. Mereka melambaikan tangan pada semuanya. Padahal harusnya James mengantar mereka pulang. Disya dan Dira lantas mencari Adam dan Fasya.
Kedua pemuda itu menceritakan tentang dua orang penjahat yang mau menculik Dira maupun Disya.
"Ya udah kita hati-hati aja. Terus kita pesen taksi online sekarang," ucap Dira.
"Ya, maksud gue juga seperti itu. Tapi, Adam kekeh mau jebak mereka," tutur Fasya.
"Dira nggak berani bantah bunda, Dam. Kita pulang aja!" ajak Dira.
Mobil taksi yang mereka pesan sampai. Namun sayangnya, taksi yang hendak mereka tumpangi merupakan kawanan dua penjahat tadi. Dira dan Disya diminta masuk ke dalam mobil. Sementara itu, Adam dan Fasya sudah diancam dengan pisau.
Dira akhirnya menunjukkan sosok pocong Tania dan juga sosok hantu wanita dalam cinema 22 tadi. Para penjahat itu tampak terkejut dan ketakutan.
"Culik saya dong, Bang!" Tania melompat seraya mengedipkan matanya dengan genit.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....