
Dari balik sofa tempat Kevin dan Sandara memadu kasih, mereka mendengar suara Maya yang terisak, parau, dan kesakitan. Keduanya lantas bangkit dan menoleh ke arah Maya. Sandara berteriak kala melihat gadis kecil itu mengeluarkan darah dari mata, hidung, dan telinga. Sandara lalu menghampiri Maya.
Sementara Kevin, dia tersentak dan menyadari sesuatu yang tiba-tiba melintas di kepalanya. Ia menoleh ke arah putrinya yang sedang berdiri sempoyongan lalu jatuh limbung di tangan Sandara.
Tiba-tiba, Maya menunjuk ke luar pintu kaca, gadis kecil itu lalu tertawa sembari menunjuk-nunjuk sesuatu di luar rumah. Sadar ada yang salah, Kevin lalu memastikan ada apa di luar sana.
Sandara bertanya kepada putri kecilnya, "Adek lihat apa?"
Anak kecil yang usianya tak lebih dari lima tahun itu menunjuk sesuatu di luar rumah dengan tawa khas yang menggemaskan. Namun, masih terdengar kesakitan di sana. la seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Sandara, tetapi suaranya mulai terbata-bata.
"Kamu lihat apa, Mas?" tanya Sandara.
"Aku nggak liat apa-apa, Sayang!" pekik Kevin.
"Kamu siapkan mobil, bantu aku bawa Maya ke rumah sakit!" titah Sandara dengan panik.
Sementara itu, Tania berusaha berkomunikasi dengan ibunya. Namun, tetap tak bisa. Tania lalu merasa semakin penasaran dengan apa yang ditunjuk Maya. Tubuh Maya bangkit, dia melangkah menuju ke arah jendela.
Gadis kecil itu lalu menggebrak-gebrak jendela kaca sembari bergumam yang tak Sandara mengerti.
Kevin yang sedang menyiapkan mobil, lantas menatap sesuatu di seberang rumahnya. Dia berdiri mematung. Begitu juga dengan Tania dan Sandara yang tepat berdiri di belakang anak kecil itu. Mereka melihat apa yang Maya juga lihat. Sandara akhirnya tersadar bahwa Maya bukan melihat hal yang baik untuk dirinya, bahkan keluarganya.
Kevin terdiam sesaat dalam sorot mata yang terbelalak. Dia menyaksikan apa yang dia lihat. la mulai gemetar, tak jauh dari tempatnya berdiri, sosok Mia yang telah dirasuki Yagi menyeringai. Kukunya tajam dan hitam. Bola matanya juga hitam dengan mulut menganga mengeluarkan cairan darah hitam nan pekat. Sosok itu tengah memandang tajam ke arah rumahnya.
"Sial, kenapa mereka melakukan ini sekarang ke padaku?! Nyi Ratu keparat!" sungut Kevin.
Sadar bahaya apa yang sedang mengintai rumahnya, Kevin segera berlari ke dalam rumah.
"Ada apa, Mas?" tanya Sandara dengan panik.
"Ini gawat, Sayang! Mereka datang. Ayo, pergi dari sini!" ajak Kevin.
Dia mengangkat tubuh putrinya, menjauhkannya dari pintu dan bergegas memasuki mobil. Maya menjerit menangis. Kevin lalu memberikan tubuh Maya kepada Sandara.
Brak!
Pintu rumahnya tertutup begitu saja dengan kencang dan tak terkunci. Tania mulai panik, ia ingin segera memanggil Adam. Namun, tubuhnya tak bisa bergerak seolah ada sesuatu yang menahannya. Ketegangan semakin terasa saat tiba-tiba lampu di dalam rumah berkedip-kedip membuat Sandara dan Kevin semakin panik.
"Apa yang terjadi, Mas? Jelaskan padaku!" bentak Sandara.
"Apa? Nyawaku? Mereka datang untuk membunhku, begitu?!" Sandara memekik sambil menangis.
"Maaf, San, maafkan aku," lirih Kevin.
Dengan cepat dia berlari dan mencari ponselnya. Dia menekan beberapa angka dengan tangan gemetar, berharap Cindy akan mengangkat dan menjemputnya. Atau membawa siapa pun yang bisa menolongnya. Sayangnya tidak ada jawaban. Tubuh Cindy telah tergeletak bersimbah darah di kamar hotel tempat dia menunggu Kevin.
Sandara menyentuh bahu Kevin sampai suaminya itu menoleh. Kevin tersentak kala mendapati Sandara menunjuk ke arah Maya. Anak itu menatap dirinya dengan pandangan kosong.
"Pa-papi," katanya dengan suara parau.
Kevin tahu kalau kiriman ini telah dimulai. Tiba-tiba, muncul luka di pipi anaknya yang semakin melebar. Kulitnya melepuh bagai tersiram air keras. Lalu perlahan-lahan mengelupas. Daging padat nan gembil di pipi kiri Maya bagaikan es krim yang tengah meleleh. Maya berteriak kesakitan. Darah terus keluar dari dalam lubang itu.
Tak lama kemudian, Sandara mulai menemukan luka di tangannya yang misterius muncul. Lalu, di bagian kaki, badan dan akhirnya bagian wajah. Sandara menjerit panik kesakitan. Tania juga berteriak memanggil ibunya. Saat itulah, Sandara dapat melihat keberadaan Tania.
Rasa sakit itu semakin tak terelakkan. Maya dan Sandara semakin menjerit. Bahkan Maya merobek kulit tangannya sendiri. Tania tak tega melihat kengerian di hadapannya, dia sampai bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga ibunya. Namun, dia tetap bingung tak menemukan jawabannya karena semua terjadi secara mendadak. la tak mengerti bagaimana hal ini tiba-tiba bisa menimpa keluarganya. Dia bahkan tak bisa berkomunikasi atau menghilang agar cepat bertemu Adam dan keluarganya.
Kevin mulai merasa putus asa. Dia kembali menghubungi sebuah nomor.
"Hentikan ini semua Hana! Jika kau mengincar istriku, harusnya dia saja. Jangan semua yang ada di rumah ini!" bentak Kevin.
"Maafkan aku, Sayangku. Dia memang menginginkan Sandara, tetapi Yagi-ku menginginkan semua yang di rumah itu mati." Wanita di dalam ponsel itu tertawa. Dia lah Hanako, wanita yang menjadi Miss Hana dan dipanggil Nyi Ratu oleh Icha dan James.
"Aku sudah memberitahukan padamu tentang Ari. Dia yang berkhianat padamu, bukan aku!" pekik Kevin.
"Kau dan Ari sama saja! Cukup dua pengikut setia ini saja," ucap Hana seraya menoleh pada James dan Icha yang duduk diam di dalam mobil.
"Hana aku mohon, aku mohon lepaskan aku!" lirih Kevin seraya memelas.
Hana hanya terdiam lama dan tak kunjung ada jawaban. Sampai akhirnya, Hana berkata untuk terakhir kalinya.
"Cindy sudah menunggumu, di neraka."
Dengan marah Kevin membanting ponsel pintarnya. Apakah semuanya sudah terlambat? Pria itu berteriak dengan marah.
...*****...
...To be continued ...