POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 56. Kunjungan Dita dan Dira



Bab 56 Pocong Baper


Dita mengetuk pintu rumah Setta ditemani oleh Dira. Lee sudah memberitahukan perihal kuntilanak terbang yang mengincar bayi Setta pada Dita. Kebetulan, Jin juga sedang sibuk bertugas sampai malam atau bahkan menginap. Kasus penangkapan gembong narkoba sangat membuatnya sibuk untuk mengamankan.


"Eh, ada Bunda Dita sama Dira!" sapa Setta. Senyumnya mereka mendapati para tamu kesayangan hadir.


"Assalamualaikum, Ta. Bunda mau masakin kamu pepes ikan mas di sini, boleh kan?" tanya Dita.


"Walaikumsalam, tentu saja boleh, Bunda. Ayo, pada masuk!" ajak Setta.


"Dira! Udah dong jangan gangguin Nyi Uwo!" seru Dita.


"Tunggu, Bunda. Lagian Dira nggak ganggu, kok. Dira mau bikin dia glow up katanya mau nge-date sama Om Lee," ucap Dira.


"Buruan masuk! Keburu banyak tetangga yang takut liat keanehan kamu itu!" seru Dita lagi.


"Iya, Bunda." Dira kembali fokus pada Nyi Uwo.


"Bunda ke sini naik apa?" tanya Setta.


"Motornya dibawa sama Adam, jadi Bunda sama Dira naik angkot aja terus turun depan sana," jawabnya.


"Duh, aku jadi nggak enak ngerepotin Bunda sama Dira," ucap Setta penuh ketulusan.


"Nggak repot, kok. Bunda udah sering bilang kalau Bunda udah anggap kamu seperti anak sendiri. Bunda juga udah anggap Nathan sama Tia juga anak Bunda. Eh, apa kabar mereka?" tanya Dita.


"Baik, Bunda. Kak Tia juga lagi hamil," sahut Setta.


"Wah, anak kedua kan?"


"Iya, denger-denger anak mereka yang ini kembar," ucap Setta.


"Alhamdulillah, jadi tambah rame nanti cucu-cucu Bunda."


Setta memeluk Dita dari samping dengan erat. Dia selalu bersyukur dipertemukan dengan wanita sebaik Dita. Keluarga Prayoga telah memberinya kebahagiaan mendapatkan kasih sayang keluarga yang utuh, dan Setta bersyukur karena itu.


"Om Anan sama Adam nggak sekalian makan malam di sini? Aku udah bikin puding juga kebetulan," ucap Setta.


"Anan nengokin Anta sama Arya. Harusnya Bunda yang pergi ke sana, tapi kata Anan biar dia aja," sahut Dita.


"Apa sekte sesat itu masih mengincar Anta?" Setta menyiapkan alat potong untuk ikan.


"Entahlah, tapi ada sepasang suami istri dan anaknya yang mengaku masih keluarga dari Mami Aiko dan meminta Anan untuk mengurus wasiat keluarga besar di sana," ucap Dita.


"Apa Bunda dan Om Anan percaya akan hal itu?" tanya Setta.


"Entahlah, untuk itu Anta meminta Anan untuk ke sana. Bunda telepon Adam dulu buat ngingetin kalau pulang dari majn band biar langsung ke sini," ucap Dita seraya mengeluarkan gawainya untuk menghubungi Adam.


Sementara itu di halaman rumah Setta. Dira masih asik bercengkerama dengan Nyi Uwo.


"Kalau Tante Silla nggak nemu hantu baru buat dijadiin pacar, Dira nggak akan restuin kamu sama Om Lee," gumamnya seraya menyisir rambut lebat si punggung Nyi Uwo.


"Berarti aku bukan pelakor, kan?" tanya Nyi Uwo.


"Hahaha, Om Lee sama Tante Silla belum nikah. Lagian mereka sama-sama mendua, sih. Tapi kamu hebat, Nyi, masih mau terima Om Lee," ucap Dira.


"Hihihi, soalnya udah cinta sih!"


"Heh, jangan gitu ketawanya! Itu kan ketawa kuntilanak!" seru Dira.


Setelah selesai, Dira lalu kembali ke dalam rumah. Apalagi azan Magrib telah berkumandang.


...***...


Malam itu pukul setengah delapan selepas ibadah Isya, kuntilanak Miyako kembali menuju ke rumah Setta setelah berhasil mengendus aroma tubuh wanita hamil di sekitar rumah tersebut. Dia ingin menyantap bayi yang ada pada Setta pastinya.


Setta yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi setelah makan malam bersama Dita dan yang lainnya, mendadak mendengar suara mendesis dari sosok kuntilanak Miyako.


Wanita hamil itu bergerak menuju ke beranda belakang. Dia melihat sosok berdaster putih dan lusuh sedang menatapnya dari luar jendela dan kini mereka saling bertatapan.


"Hihihi, aroma bayi itu sangat lezat. Dan kini aku menemukanmu." Miyako menyeringai.


Mendadak saja tubuh Setta tak dapat bergerak. Sosok Miyako berhasil membuat Setta mematung seperti itu.


"Aku tahu ada yang istimewa dari dirimu dan bayi yang kau kandung. Bayi itu akan membuatku lebih kuat dan membantuku selangkah lebih dekat dengan keabadian. Wah, betapa aroma tubuh ini sangat lezat dan selalu memanggilku." Miyako berusaha untuk masuk tetapi ia tidak bisa menembus pintu belakang rumah Setta.


"Pagar gaib ini boleh juga," lirih Miyako.


Sosok kuntilanak itu sempat terdiam lama dan akhirnya ia dapat menembus masuk setelah menghancurkan pagar gaib.


"Tapi, aku masih lebih kuat dari pagar gaib ini," ucap Miyako.


Sosok itu menjulurkan lidahnya yang panjang dan bercabang seperti lidah ular. Dia menjilat wajah Setta berkali-kali seraya mengusap perut perempuan berparas ayu ity.


"Anak ini pasti akan membuatku sangat kenyang." Sosok Miyako yang memutari tubuh Setta tertawa puas sambil sesekali menjilati wajah Setta lagi.


"Kau menjijikan! Jangan buat aku seperti ini jika kau berani. Dasar kuntilanak soak!" maki Setta.


"Aku menjijikan? Hahaha apa kau buta, Sayang? Wajah dan tubuhku sempurna! Aku bahkan akan hidup abadi. Tau kan artinya abadi? Hidup kekal tanpa harus pikir aku bisa sakit dan mati," ucapnya dengan bangga.


"Jelas saja karena kau bukan manusia!" seru Setta.


"Aku masih manusia, Sayang. Kau pasti paham kalau semua wanita pasti ingin awet muda, cantik dan abadi, ya kan?" Miyako tertawa puas.


"Dasar kuntilanak buduk! Aku yakin si Joshua kini ketakutan. Aku yakin dia jijik padamu. Dia akan lari darimu!" maki Setta.


"Cukup jangan bawa-bawa Jojoku! Dia sangat mencintaiku. Dia akan melakukan apa pun untukku. Aku yakin dia akan selalu bersamaku dan menuruti apa pun yang aku mau," ucap Miyako.


Setta sempat terperanjat kala mendengar kalau Joshua sudah tahu siapa istrinya.


Jari jemari Miyako mengeluarkan kuku yang tajam. Mengusap perut besar Setta berkali-kali. Sosok itu semakin mendekati Setta, semakin dekat. Gigi tajam milik Miyako mulai terlihat.


"Aku akan merobek bagian sini, lalu menarik bayi itu keluar. Setelahnya, aku akan mengunyah perlahan demi perlahan sampai kenyang dan menjilati tulang bayi ini sampai aku puas." Miyako kembali tertawa.


Kuku tajam itu siap menancap di perut Setta. Tiba-tiba, sosok Dita hadir dan menghantam kuntilanak Miyako dengan kursi makan yang ada dekat dapur.


BUG!


Miyako terhempas keluar rumah dan menghantam pohon.


"Bunda!" Setta berseru sampai menangis karena berusaha melepaskan diri.


"Kamu nggak apa-apa kan, Ta?" tanya Dita.


"Aku nggak bisa gerak gara-gara dia!"


"Tadi Dira juga disirep sampai pulas banget. Untung Ratu Sanca nolongin Bunda buat bertahan tadi," ucap Dita.


Ratu Sanca mendekat bersama Dira yang baru saja mencuci muka di wastafel. Kantuk sangat masih mendera gadis itu.


"Mari kita hadapi kuntilanak pembuat masalah ini!" sungut Dita.


"Tunggu Adam, Bunda! Maaf tadi keluar dulu sama Tania beli es krim." Adam muncul bersama Tania dan bersiap menghadapi Miyako.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....