POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 28. Rumah Keluarga Wals



Jin merasa hawa kamarnya semakin panas. Ada rasa gatal di hidung dan sekujur wajahnya. Saat pria itu membuka mata, sosok di atas sana tiba-tiba jatuh dan melayang tepat di hadapan pria itu hingga wajah keduanya saling bertemu.


Tenggorokan Jin tercekat, sulit untuk bicara. Rambutnya yang panjang menyentuh kulit wajahnya. Tatapan dingin itu seolah menunjukkan kesedihan yang teramat dalam. Jin berusaha menyentuh istrinya sampai akhirnya sang istri yang tidur di sampingnya terbangun.


"Pergi kamu! Jangan ganggu suamiku!" pekik Setta.


Jin mulai menguasai dirinya dari rasa takut. Ia meraih tasbih dan membaca zikir serta ayat kursi. Sosok hantu perempuan itu berteriak lalu pergi.


"Wah, macam-macam dia sama aku."


"Emang tadi kamu berani?" cibir Setta seraya meraih gelas berisi air.


"Terus kamu pikir mentang-mentang aku polisi nggak boleh takut sama hantu? Ya aku takut lah!" tukas Jin.


"Hahaha, kamu lucu, Yang."


"Eh, Sayangku, bukannya dia udah diusir sama nenek? Kok, dia balik lagi?" tanya Jin, meraih segelas air dari atas nakas lalu meminumnya.


"Biarin aja kali, Yang, mungkin kangen sama di sini. Lagian kasian kalau dia diusir sama nenek. Toh, memang awalnya dia tinggal di sini," ucap Setta.


"Ta, ayolah … cukup keluarga Prayoga aja yang selalu kasian sama hantu. Masa kita juga harus kasian sama hantu, gitu? Hadeh …." Jin merebahkan diri lagi lalu meminta Setta kembali berbaring untuk melanjutkan tidur mereka.


...***...


Dita mengetuk kamar anak-anaknya saat azan subuh berkumandang.


"Ayo, pada subuh dulu," ucap Dita ditemani Dira yang berdiri di depan pintu kamar para lelaki.


Suara azan subuh berkumandang dari masjid di depan rumah. Raja menoleh ke arah jam dinding, di mana jarumnya menunjukan pukul 04.30. Sementara itu, Adam masih tak beranjak dengan mulut menganga.


Raja dengan isengnya meraih tisu dan memasukkannya ke mulut Adam. Memencet hidung adiknya sampai tak bisa bernapas. Sontak saja Raja tertawa terbahak-bahak. Namun, seperti biasa, Adam tak bisa membalas kakaknya yang selalu usil itu. Adam hanya bisa menghela napas berat. Raja, Adam, dan Anan bergegas menuju ke masjid dekat rumah untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.


Sementara itu, Dita dan Dira menyiapkan sarapan untuk para lelaki. Setelah mereka kembali, semuanya melanjutkan dengan sarapan. Lalu, berolahraga di halaman samping rumah. Pemandangan di luar ternyata cukup sejuk.


Dira mengajak Adam untuk berkeliling komplek. Mereka merencanakan sesuatu saat pergi ke rumah besar tempat Maria tewas. Fasya dan Disya mengikutinya. Mereka akan pergi ke rumah itu dengan alasan bohong sedang membuat tugas dari sekolah.


Rupanya, sosok Tuan Brian merupakan ahli psikolog anak-anak setelah diselidiki oleh Jin. Para remaja itu akan membuat makalah mengenai penelitian kondisi kejiwaan anak remaja yang labil.


Karena Dira meminta Jin untuk tak memberitahukan pada Anan dan Dita, anak itu meminta Jin menjemput mereka di taman komplek dekat sekolah sepulang sekolah para remaja itu. Awalnya, Jin tak setuju jika harus membohongi Anan dan Dita. Namun, demi penyelidikan rumah tersebut, ia akhirnya menurut.


Jin juga meminta dua anak buahnya untuk mengikuti. Polisi itu menyamar sebagai salah satu guru yang memimpin proyek penelitian palsu dari Dira dan yang lainnya.


Mereka sampai di kediaman Tuan Brian Wals. Rumah besar dengan dua lantai itu memang dikelilingi halaman yang rindang. Hanya saja yang paling luas berada di bagian belakang. Belum lagi banyak pohon-pohon dan tumbuhan yang subur. Brian dan Jane menyambut kedatangan mereka. Ada lima anak yang saat itu sedang tidur siang di pukul tiga sore semua.


"Kami memang meminta mereka untuk tidur siang dari pukul dua sampai pukul empat sore," tutur Jane.


Dira dan Disya berpura-pura mencatat apa yang mereka katakan berkaitan dengan kondisi kejiwaan anak.


Adam meminta izin untuk pergi ke toilet. Tania mendampinginya. Saat melintasi ruang belakang, tatapan Adam terhenti kala terpaku akan sesuatu. Sesuatu yang menjadi pusat perhatian pemuda itu adalah ranjang besi tempo dulu, di mana bagian bawah begitu tinggi.


"Sama aku juga penasaran. Duh, mentang-mentang udah jadi setan, masa panggil aku Tan Tan Tan terus kayak nama pendek setan!" keluh Tania.


"Jangan mulai baper, deh. Ayo, kita ke sana mumpung Dira lagi ngajak mereka ngobrol," ucap Adam.


Suasana tempo dulu begitu kental, bahkan kamar ini lantainya saja belum keramik. Ada sebuah lukisan keluarga yang masih ada di dinding, yaitu lukisan sebuah keluarga milik Jane dan Brian.


Pemuda itu sangat penasaran sampai bersujud dan melihat bagian kolong yang ternyata sangat gelap karena tertutup seprai putih yang menjuntai sampai bawah.


"Kayaknya ada ruangan di bawah ranjang ini, deh," gumamnya.


Sebuah tangan lantas menepuk pundak Adam sampai membuat pemuda itu tersentak.


"Hai!" Rupanya hantu Maria tengah meringis menatap Adam.


Sementara itu, Tania telah menghindar dan berdiri di sudut ruangan karena takut.


"Elu, si hantu merah yang tempo hari itu, kan? Huh, ngagetin aja," keluh Adam.


Hantu Maria lantas menunjuk ruang bawah tanah yang disembunyikan dan berada di bawah ranjang itu.


"Ada sesuatu di sini, ya?" tanya Adam.


Hantu Maria menganggukkan kepala.


Tubuh Adam mulai membungkuk lagi dan menjulurkan tangannya untuk menggeser agar tangan bisa lebih masuk. Akan tetapi, pemuda itu merasa memegang sesuatu di dalam sana. Adam merasa tengah berjabat tangan dengan seseorang. Pemuda itu sempat kesulitan menarik tangannya.


"Astagfirullahaladzim, siapa yang tarik tangan gue, nih?"


Sontak saja Adam menyibak seprai, agar bisa melihat sesuatu di dalam sana.


"Jadi, yang tadi apa, Dam?" tanya Tania.


"Mana gue tau! Hayo, siapa yang lagi ngumpet di dalam? Jangan main-main, ya," tantang Adam.


Adam menggeser ranjang tersebut dan menemukan pintu menuju ke ruang bawah tanah. Pintu ke ruang bawah tanah itu masih tertutup.


Sementara itu, Fasya yang berada di


halaman depan dan berjalan mondar-mandir menunggu perintah, menyusuri jalanan aspal bolak-balik yang terdapat banyak kerikil itu. Saat pemuda itu berjalan sembari fokus pada ponselnya, entah mengapa langkahnya berhenti di depan jendela kamar bagian samping rumah milik Brian dan Jane.


Ekor mata pemuda tampan itu seakan menangkap sesuatu. Spontan saja Fasya menoleh, dari jarak beberapa meter terlihat sosok anak kecil tengah berdiri sambil melambaikan tangannya di dalam sana. Namun, yang jadi perhatiannya adalah bola mata yang hilang dari anak itu.


Fasya mengirim pesan pada Dira mengenai sosok anak kecil di dalam kamar yang tak memiliki bola mara. Dira meminta Fasya untuk segera berbalik dan menghampiri sosok gadis kecil di kamar itu, tetapi kaki pemuda itu seakan kaku. Fasya pastinya ketakutan. Apalagi gadis kecil itu menatap Fasya dengan dingin, tangannya pun masih melambai dengan senyum menyeringai di bibir mungilnya.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....