POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 26. Kepala Terbang



Maria menyeret bokongnya untuk bergerak mundur. Ia sangat ketakutan menghindari sosok tersebut. Dirinya ingin menjerit sekuat tenaga, tapi dia masih sadar kalau ia ada di gudang itu untuk memata-matai sang majikan. Ia tak bisa berteriak. Kedua tangannya langsung membekap mulut dia sendiri.


Di bawah penerangan lampu gudang yang minim cahaya itu, Maria menoleh ke arah kaki kanannya. Terlihat tangan kanan seseorang mencengkeram kaki gadis itu.


Maria langsung menoleh ke arah tubuh bagian bawah yang menyentuh kedua kakinya. Betapa terkejutnya gadis itu kala Ia melihat sosok hantu anak perempuan tanpa kepala. Darah masih terlihat mengalir dari leher hantu itu. Bau anyir nan amis menyeruak sampai membuat mual si penerima.


"Maria! Apa yang kau lakukan di sini?!" seru Brian saat membuka pintu lemari.


Rasa takut langsung menghinggapi gadis yang membekap mulutnya sendiri kala itu. Maria telah terjatuh di lantai dan kengerian itu semakin dalam merasuk. Tubuhnya gemetar dengan kedua kaki yang seolah tak bisa ia gerakkan. Padahal bagian cerebellum di kepala gadis itu sudah memberikan perintah untuk lari tetapi kedua kaki ramping itu tak mau berkoordinasi dengan baik.


Tetes demi tetes darah membasahi lantai di gudang yang minim penerangan itu. Lampu bohlam dalam ruangan tersebut secara mengejutkan mati. Lalu menyala kembali, lalu mati lagi. Hawa seram makin jelas terasa di dalam gudang yang pengap dan lembab.


"Sa-saya, saya tidak lihat apa-apa, Tuan," ucap Maria ketakutan.


Tangan hantu yang mencengkeram kaki Maria perlahan bergerak menjauh. Hantu tanpa kepala itu lantas berpindah dan mendekat untuk memeluk Brian dari belakang.


"I-izinkan, izinkan saya pergi dari sini!" pinta Maria dengan nada ketakutan dan bibir gemetar.


"Habisi dia! Dia hanya akan membahayakan kita," ucap Jane.


"Tenang saja, Sayang, aku akan menghabisinya." Brian tampak menyeringai.


Pria itu memukul Maria sampai tak sadarkan diri. Setelah itu Maria dihabisi, dipakaikan gaun merah yang cantik. Maria juga diberi obat perangsang dan dirudapaksa oleh Brian setelah itu, gadis malang tersebut di ruda paksa oleh Brian. Setelah puas melampiaskan hawa nafsunya, gadis itu lalu dimutilasi oleh sang majikan.


...***...


Adam dan Tania berniat kembali ke kelas, tetapi mereka melihat sosok bergaun merah yaitu hantunya Maria. Keduanya lantas mendekat dengan sembunyi-sembunyi.


"Itu bukannya Dira," ucap Tania.


"Wah, nggak beres nih setan! Dia pasti mau apa-apain adek gue," sahut Adam.


Adam dan Tania melihat sosok perempuan cantik dengan gaun merah tengah mengitari Dira.


"Woi, lepasin adek gue!" pekik Adam.


Maria tengah duduk di atas tubuh Dira. Kedua tangan Dira diangkat ke atas. Maria ingin mencoba merasuk ke tubuh Dira tetapi tak bisa.


"Tan, elu hadapi dia, gue tolong Dira," perintah Adam.


"Nggak mau, ah! Aku takut! Kamu aja yang lawan hantu itu!" sahut Tania.


"Tan, yang hantu di cerita ini itu elu, bukan gue! Jadi, elu yang harus menghadapi dia karena kalian sesama setan!" ketus Adam.


"Oh, sekarang kamu diskriminasi sama aku, ya? Mentang-mentang aku setan kamu seenaknya aja ngatain aku setan, gitu?"


"Astagfirullah, Tania! Elu emang setan, Tan! Duh, salah ngomong lagi gue!" Adam sampai mengacak-acak rambutnya sendiri karena menghadapi pocong baper ini.


Adam lantas menolong Dira. Dia ingin mendorong hantu bergaun merah itu tetapi dia tak bisa menyentuhnya. Adam mengguncang tubuh Dira agar bangun. Hantu Maria hendak mendekat dan mencekik Adam. Tania yang sempat pergi tak tega juga meninggalkan Adam dan Dira. Ia berbalik arah dan bergegas mendorong hantu Maria dengan kepalanya.


"Woi, rasakan ini! Sundulan pocong, hiaaaaat!" Tania membuat Maria terdorong dan keduanya terpelanting keluar.


"Dir, bangun Dir! Elu mau liat serudukan pocong, nggak? Buruan bangun!" Adam menampar pipi Dira sampai mengaduh.


Dira memekik kesakitan lalu menampar Adam balik.


"Sakit, sompret!" pekik Adam.


"Adam ngapain tampar Dira?" Dora mengusap pipinya.


"Elu tuh pingsan gue bangunin kebo banget nggak bangun-bangun! Elu pingsan apa pules tadi?" seru Adam yang juga mengusap pipinya.


"Dira tadi masuk ke dimensi waktu hantu Maria," sahutnya.


"Siapa itu Maria?" tanya Adam.


"Oh, yang hantu tadi. Tuh, lagi diseruduk Tania!" Adam menunjuk ke arah luar.


Ketika Dira dan Adam bangkit dan hendak melihat Tania dan Maria, mereka mendengar suara anak-anak yang bermain. Mereka menyanyikan lagu tradisional. Kadang suara tawa terdengar bersahutan.


Dira dan Adam menatap ke sekeliling. Saat mereka mencari lebih dekat sumber suara riuh tawa anak-anak tadi, semua suara tiba-tiba menghilang. Mereka mengamati dan menatap ke arah luar. Dira dan Adam saling bertatapan.


"Perasaan Dira nggak enak, nih, Dam."


"Sama, gue juga," sahut Adam.


"Terus, Disya sama Fasya gimana?"


"Mereka kayaknya pada pules bareng Cindi dan Icha," sahut Adam.


"Jadi, sekarang gimana?" Dira balik bertanya.


"Kita cari Tania dulu. Takutnya dia kalah sama hantu merah tadi," tukas Adam.


Tempat itu menjadi semakin sunyi. Tiba-tiba, suara orang terbatuk-batuk memecah keheningan. Adam dan Dira menoleh ke arah suara tersebut. Wanita bergaun merah tadi muncul. Dari mulutnya memuntahkan darah. Adam dan Dira sontak terkesiap mundur. Lalu, kembali terdengar lagi suara batuk dari hantu Maria.


Perempuan bergaun merah itu memuntahkan darah terus-menerus. Wanita itu bahkan memuntahkan sesuatu dari perutnya. Gumpalan darah hitam terlihat begitu kental. Tak hanya berhenti di situ. Maria tiba-tiba memegang lehernya kuat-kuat, mencekik sembari menatap dengan mata melotot. Maria menarik kepalanya sampai putus lalu jatuh menggelinding dan sampai ke kakinya Adam.


"Astagfirullah!" pekik Dira dan Adam bersamaan.


Pocong Tania muncul dan lantas berteriak lebih kencang melihat hantu Maria tanpa kepala.


"Wuuaaaaaaaa, kepalanya copot! Kamu apain, Dam?!" teriak Tania sampai melompat ke arah Adam dan Dira.


"Dia yang copot sendiri!" sahut Adam.


Dira meraih kepala Tania yang wajahnya tersenyum menyeringai.


"Taro, Dir!" pekik Adam.


"Dia mau main-main sama kita. Dari tadi coba nakutin kita. Kalau maksud dia sirih bantuin dia buat tangkap pembunuhnya, nanti Dira bantuin. Tapi, kalau emang niat dia buat nakut-nakutin kita, Dira nggak akan tinggal diam." Gantian Dira yang melayangkan senyuman menyeringai.


Tania yang ikatan tubuhnya mengendur dan dapat mengeluarkan kedua tangannya, lantas berpelukan dengan Adam.


"Dira lebih serem, Dam," lirih Tania.


"Ho oh, persis bunda sama Kak Anta kalau lagi ngamuk," ungkap Adam.


Hantu Maria mengarahkan kedua tangannya ke arah Dira. Dia berjalan perlahan semakin dekat dan makin dekat. Ia ingin meraih kepalanya.


"Kamu mau kepala ini balik?" tanya Dira.


Kepala Maria yang ada di tangan Dira malah menyeringai kembali.


"Wah, nantangin! Kamu pikir Dira takut, gitu? Ya, takut lah! Masalahnya kamu udah buat Dira pingsan dan sekarang mencoba menakuti kami. Nih, biar Dira tunjukkan kepala terbang," ucap Dira.


Gadis itu lantas menuju ke luar ruangan dan meletakkan kepala Maria di lantai, lalu menendangnya jauh ke arah lapangan.


"Wuuussssss, dadah kepala!"


Hantu Maria lantas mengejar kepalanya yang terbang tinggi menjauh.


"Wuidih, si Dira serem juga," ucap Adam menepuk bahu Dira.


"Huaaaaaa… Dira gemetaran, Dam!" Dira langsung memeluk Adam setelah menahan takutnya tadi.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....