
Halo, Hans, apa kau rindu denganku," ucap hantu wanita itu dengan jalan terseok-seok kala mendekat.
"Yuli? Elu udah mati! Pergi, Luh!" pekik Hans.
Tania terus mendekat Tomi. Sedangkan pria yang menjadi sopir taksi online tadi sudah dihajar habis-habisan oleh Fasya dan Adam.
"Pergi kamu! Aku nggak mau godain pocong!" pekik Tomi seraya meraih kerikil dan melempari Tania dengan batu itu.
"Ih, mainnya kasar! Masa aku dilemparin batu?! Aku kan minta digodain, Bang," ucap Tania.
Tak lama kemudian, Jin datang bersama dua orang polisi lainnya meringkus para penjahat itu. Dia sampai bergidik ngeri ketika melihat sosok Tania dan hantu Yuli tadi. Dira menjelaskan bagaimana Yuli meninggal karena dirudapaksa lalu dikubur di belakang studio satu Cinema 22.
Jin lalu mengantar para anak kembar itu pulang. Namun, ketika mereka melintasi pasar malam yang tengah ditutup itu, Dira melihat sesuatu yang aneh.
"Kak Jin, bukannya pasar malam itu tutup? Kok, lampu di rumah hantu nyala?" tanya Dira.
"Iya juga, ya. Apa ada karyawan yang lagi beres-beres jam segini, ya?" tukas Jin.
"Bisa jadi, sih. Tapi, masa jam segini beres-beres?" sahut Fasya.
"Aku telepon si Andi buat cek lokasi, deh," tukas Jin.
Pria itu menghentikan mobilnya sejenak lalu menghubungi anak buahnya. Setelah itu, kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Prayoga.
***
Pukul satu dini hari, kandung kemih Dira terasa penuh. Gadis itu terbangun. Sempat merasa takut dengan jin di dalam kamar, tetapi akhirnya dia memberanikan diri.
"Ah, bisa-bisanya tengah malam begini aku mau pipis!" sungut Dira.
Dengan terpaksa gadis itu membuka mata pelan, rasanya sangat mendesak dan tidak bisa ditahan lagi. Dira lantas mengedarkan pandangan berharap tidak ada jin menyeramkan itu.
Dengan langkah malas Dira beranjak dari peraduan. Berjalan menuju toilet yang letaknya dekat dapur. Dingin mulai menyergap ketika dia membuka pintu kamar mandi. Bulu kuduk seketika berdiri.
Tiba-tiba, suara berdebam terdengar di atap.
"Astagfirullah, apa itu?" Sontak bibir gadis itu terucap mendengar sesuatu jatuh menghantam atap rumah. Dira segera menyelesaikan kegiatan dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Kedua mata lentik itu menatap sekeliling. Tak ada apa pun di sana. Mungkin buah mangga yang dibawa kelelawar jatuh menimpa rumah, tetapi Dira ingat kalau pohon mangga sedang tak berbuah.
"Apa jangan-jangan Tante Silla lagi party?" gumam Dira.
Lalu, gadis itu melihat ada bayangan melintas di jendela. Gadis itu bergegas membuka tirainya. Sosok kuntilanak terbang itu jelas melintas di atas kediaman tetangga barunya.
"Hmmm, bikin penasaran aja, nih!" Dira lantas meraih sweater dan hendak keluar rumah. Namun, Adam menahannya.
"Elu mau ke mana?" tanya Adam.
"Ada kuntilanak terbang, Dam. Tuh, arahnya ke sana!" tunjuk Dira ke rumah tetangga barunya.
"Kok, nggak ada yang ronda?" tanya Adam lagi.
"Nah, itu dia makanya Dira penasaran."
"Ayo, kita ke sana!" ajaknya.
"Eits! Kalian mau ke mana malam-malam gini?" Ratu Sanca muncul seketika.
"Aduh, ada si Oma segala. Kita cuma mau cari angin, kok," sahut Adam.
"Masuk! Atau aku bilang ke bunda, ya?" ancamnya.
Dira dan Adam saling menatap.
Adam mengangguk setuju.
BUG!
Suara berdebam terdengar dari atap rumah di seberang.
"Waduh, kayaknya tuh kunti jatoh abis nyangkut di genteng," tukas Dira.
"Haha, bikin gue kepo aja nih! Gue mau liat dulu, ya," sahut Adam yang hendak melangkahkan kaki kanan keluar rumah. Namun, langkahnya terhenti.
"Adaaaaamm!"
Ratu Sanca sudah menatap tajam ke arah anak kembar itu.
"Iya, Oma Ratu." Adam melangkah mundur kembali.
Dira lantas menarik tangan Adam agar kembali ke kamar mereka masing-masing. Sementara itu, Ratu Sanca menoleh pada Silla yang baru tiba di pohon mangga.
"Kau lihat kuntilanak itu?" tanya Ratu Sanca.
"Aku lihat, Ratu. Tapi, aku tak bisa masuk ke sana. Dia terlalu kuat dan menakutkan," ucap Silla.
"Hmmm, dia juga punya pagar diri yang kuat. Kau harus tetap waspada dan jaga wilayah ya, Silla." Ratu Sanca memberi titah.
"Baik, Ratu Sanca," sahut Silla seraya memberi hormat.
...***...
Di sebuah ruangan yang lembab dan pengap, Mia mengangkat kepalanya. Sudah berhari-hari ia tak lagi bisa tidur dengan nyenyak. Setiap kali ia memejamkan matanya, bayangan tentang kematiannya akan terlihat di depan matanya.
Kemudian, wanita itu akan melihat satu per satu dari kematian para korban yang tergambar begitu jelas. Semuanya terasa nyata. sampai Mia tak dapat membedakan ketika dia bermimpi atau tidak.
Penderitaan para korban saat sewaktu sosok berjubah hitam memenggal kepala dan tubuh mereka satu per satu. Ada juga sosok perempuan berambut panjang yang suka sekali menyiksa korbannya dulu sebelum dihabiskan, masih terbayang begitu jelas di benak Mia.
Apakah mungkin kelak dia akan bernasib yang sama seperti apa yang kedua orang itu lakukan? Apalagi, ada wanita berjubah hitam yang berhasil membakar Genderuwo Bowo dan memusnahkannya. Mia bersumpah akan menghabisi kedua sosok laknat tersebut. Entahlah dia akan berhasil apa tidak, hanya waktu yang dapat menjawab. Sekarang dia harus berpikir untuk kabur dari tempat itu.
Pintu kembali terbuka. Sosok seorang gadis melangkah masuk dan memberikan kembali piring berisi nasi tanpa lauk. la meletakkannya di depan Mia yang sedang meringkuk sendirian di sudut ruangan. Ada sedikit rasa iba ketika gadis itu memandang ke arah Mia. Namun, dia tak bisa menolongnya. Apa yang dilakukan semua ini semata-mata demi menyelamatkan dirinya juga.
"Makan, Mbak!" perintahnya.
Selama satu bulan lebih, Mia harus bertahan dengan nasi putih dan air putih. Ingin rasanya memaki dan melempar piring itu ke arah si gadis, tetapi lagi-lagi Mia belum sanggup. Kedua kakinya terpasung.
"Sampai kapan kau akan menyiksa aku seperti ini?" tanya Mia.
"Nyi Ratu bilang kalau Mbak belum siap untuk jadi media penggantinya. Lagi pula gadis itu belum didapatkan," jawabnya.
"Gadis itu? Siapa gadis yang kalian inginkan?" tanya Mia.
Wajah perempuan itu tampak benar-benar kacau. Sudah satu bulan lebih ia dikurung di dalam kamar kecil pengap dan lembab itu. Napasnya tampak tersenggal dengan kulit wajah berwarna putih pucat akibat tak pernah lagi merasakan hangatnya sinar matahari.
Sosok gadis itu tak menjawab. Dia mendekat dan meraih tangan Mia. Kuku jari tangan perempuan itu sangat hitam tak lagi terawat. Aroma tubuh Mia juga tak sedap dan bau keringat. Tubuh itu memang tak pernah lagi dibersihkan dan disapu oleh segarnya air.
"Aku potong ya, Mbak, kukunya," ucapnya.
Mia hanya terdiam. Membiarkan si gadis memotong kukunya. Setiap hari Mia hanya duduk terpasung. Dia kerap melamun seorang diri di sudut-sudut paling gelap ruangan tempatnya dikurung selama ini.
"Ca, ambil darahnya!" Suara teriakan seorang pria terdengar dari arah luar ruangan.
...*****...
...Bersambung dulu, ya…...