
Pagi itu gerimis membasahi perumahan Citra Hijau. Mobil yang Anan kendarai berhenti di sebuah rumah bertipe 27 dengan cat biru telur asin. Di halamannya tampak dipenuhi daun kering yang berserakan karena terus dibiarkan dalam waktu yang cukup lama.
"Yanda, kenapa berhenti di sini?" tanya Dira.
"Tau, nih! Nanti kita telat, Yanda!" seru Adam dari kursi belakang.
"Lihat, tuh! Rumah itu udah ditempati, ya?" Anan menunjuk ke arah rumah tersebut.
Daun-daun di halaman tampak berserakan. Daun yang berasal dari pohon mangga di depan rumah yang daunnya berguguran di setiap musim panas itu. Daun kering itu terus menumpuk, bahkan sebagian yang berada di dasar juga mulai lembab dan membusuk. Namun, di samping daun-daun itu ada dua mobil yang terparkir. Satunya mobil Toyota Yaris, dan satunya lagi mobil box. Di mana dia orang pria tampak menurunkan barang-barang dari dalam mobil box tersebut.
"Wah, ada yang berani itu nempati rumah," tukas Adam.
"Iya, ya, padahal ini kan rumah tusuk sate," lirih Dira.
"Kayaknya, Yanda kenal mobil itu," ucap Anan.
"Eh, iya tuh! Dira inget sekarang. Itu mobil Kak Jin," sahut Dira.
"Oh, si Jin polisi itu?" Anan lalu turun dari mobilnya.
"Het dah, Yanda! Anter kita sekolah dulu lah!" Adam menyusul.
Mau tak mau Dira ikut menyusul mereka.
"Wah, ada Om Anan," ucap Jin menyapa Anan ketika melihat sosok tampan itu muncul di pekarangan rumahnya.
"Jin, sekarang pindah sini?" tanya Anan seraya menjabat tangan Jin.
"Iya, Om. Dapat rumah dinas di sini. Rumah yang lama mau dihancurin mau diganti jadi puskesmas buat warga sini," ucap Jin.
"Oh, gitu. Nanti Om kabarin Tante Dita buat datang ke sini. Kalian pasti mau selamatan, kan?" tanya Anan.
"Pasti, Om." Jin lalu memanggil Setta yang tengah hamil besar untuk menyala Anan dan anak kembarnya.
"Hai, Kak Set! Waduh, nenek itu ikut juga," ucap Dira.
"Hehehe, iya dia pasti ikut. Nenek kan selalu jagain aku," sahut Setta.
"Bagus, deh, Kak Set. Soalnya jin rumah di sini suka iseng," bisik Dira.
"Tenang aja, saya punya jin yang lebih iseng." Setta menoleh pada suaminya yang tak mengerti.
"Yanda! Ayo, anter aku berangkat sekolah dulu!" rengek Adam.
"Ya ampun, Yanda lupa! Ayolah, buruan cabut!" Anan segera pamit dan berlari menuju mobilnya.
Dira dan Adam juga mengikuti seraya melambaikan tangan pada Setta dan Jin.
***
Sesampainya di sekolah, Adam dan Dira sudah takut terlambat karena bel masuk sekolah pasti telah berbunyi. Namun, mereka salah. Terdapat kerumunan para pelajar di depan sekolah. Rupanya ada kecelakaan yang menewaskan salah satu murid dari SMA Pandai Sentosa.
Dira sempat melihat sekilas Miss Hana dan Kepala Sekolah sedang berbincang. Miss Hana sempat menoleh ke arah Dira dan tersenyum. Namun, senyumnya terasa mengerikan dan membuat Dira merinding. Gadis itu segera berlalu mencari Disya.
"Ada apa, sih?" tanya Dira.
Disya sedang bersama Icha dan Cindy kala itu.
"Ada yang meninggal barusan kecelakaan ketabrak kopaja," sahut Icha.
"Sekelas sama Kak James," sahut Icha.
"Pasti banyak media, nih. Apalagi kecelakaannya di jalan besar depan sekolah," tukas Cindy.
"Bener juga. Aku sih berharap libur," sahut Icha terkekeh.
"Kayaknya nggak, deh. Yuk, pada masuk kelas aja!" ajak Dira.
...***...
Setelah dua jam pelajaran, Adam merasa perutnya melilit. Pemuda itu bergegas meminta izin menuju ke toilet.
"Sini, ikut aku!" Suara Tania terdengar di luar bilik tempat Adam sedang mengejan.
"Tania! Elu ngapain ke sini? Gue lagi boker, nih!" seru Adam.
"Buruan, Dam! Ada yang mau aku kenalin. Dia minta tolong, nih." Tania berseru dari luar bilik.
Tak lama kemudian, Adam membuka pintu bilik toiletnya.
"Astaga, bau banget! Makan ****** ya kamu!" cibir Tania.
"Sembarangan, Luh! Perut gue mules gara-gara bunda bikin nasi goreng pete buat sarapan," sahut Adam.
"Tuh, ada yang mau minta tolong sama kamu." Tania lantas menunjuk sosok di belakang Adam.
Sontak saja pemuda itu terkejut kala mendapati sosok pelajar dengan seragam bersimbah darah. Parahnya lagi bagian perutnya berongga. Usus halus dan besarnya seolah meronta keluar bergelantungan. Wajah bagian kanannya rusak, mungkin saja tergerus aspal jalan tadi.
"Kampret! Elu ngagetin gue aja, Kak!" seru Adam.
"Elu Adam anak eksul band, kan?" tanyanya.
"Iye, gue Adam. Elu namanya Heru, kan? Anak drummer senior?" Adam lantas mencuci tangan di wastafel.
"Elu bisa liat gue, Dam?" tanya Heru.
"Menurut elo? Elu pikir gue sekarang ngomong sama siapa? Sama setan, gitu?" Adam membenarkan rambutnya.
"Dam, dia kan setan!" sahut Tania.
"Oh iya, gue emang ngomong sama setan," gumam Adam.
"Jadi, elu bisa tolong gue, Dam?" tanya Heru.
"Duh, mau minta tolong apa, sih? Lagi pekan ulangan harian, nih," cetus Adam.
"Gue mau minta tolong kasih tau orang tua tentang kebenaran," ucapnya.
"Kebenaran apa?" Adam mulai menyimak.
"Gue udah ngambil duit bokap gue, tapi gue nyalahin adek gue sampai dia dipukulin. Gue nyesel, Dam! Gue kena karmanya sekarang," ucap Heru lantas dia terisak mengeluarkan bulir darah membasahi wajahnya.
"Duh, makin horor aja pagi gue hari ini," keluh Adam.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....