POCONG BAPER

POCONG BAPER
Bab 29. Penglihatan Adam



Di kamar kosong dekat dengan toilet yang mencurigakan bagi Adam. Pemuda itu masih berkutat dengan sesuatu yang muncul dari kolong kasur dan menarik tangannya.


Lalu, Adam melihat sosok yang ada di kolong ranjang tua itu. Sesuatu tampak keluar merangkak dari bawah kolong tempat tidur. Sosok anak kecil laki-laki yang aneh dengan tubuh pucat pasi. Tubuhnya di bagian kaki tampak hancur sudah tak lagi sempurna di sana. Seperti ada bekas banyak sayatan di bagian tubuhnya ketika dia bergerak.


Pakaian yang dia kenakan tampak compang-camping. Entah dari mana asalnya, dan entah berapa lama sosok itu pastinya tak membersihkan dirinya. Aroma daging busuk bercampur dengan anyir darah dan nanah bergumul menyiksa indera penciuman.


Dalam kondisi telungkup dengan tangan menjulur ke arah kolong, Adam merasakan anak itu menggenggam tangannya. Adam merasakan keanehan. Degup jantungnya berdetak sangat kencang. Sosok anak lelaki itu di sana. Dia tengah memegang tangan Adam.


"Lepasin tangan gue!" titah Adam.


Anak laki-laki berwajah pucat itu hanya tersenyum menyeringai. Adam pun berusaha menarik tangannya, tetapi begitu berat dan seolah Adam tak mampu untuk menariknya. Justru dalam hitungan detik, Adam yang ditarik sosok itu ke dalam kolong.


"Adam!" Tania berteriak seraya memegangi kaki Adam. Namun, terlepas begitu saja.


Adam merasakan kegelapan ditambah dengan suasana sekitar yang pengap. Adam melihatnya lagi. Tepat di depan matanya. Sosok anak lelaki itu sangat menyeramkan. Kini, dia menatap datar tanpa senyum sedikit pun di wajahnya.


"Gue tahu kalau elu mau bilang sesuatu sama gue, tapi nggak gini caranya. Tolong lepasin gue!" pinta Adam yang berusaha menjelaskan maksud baik kepada sosok tak kasat mata itu. Namun, sosok itu malah mengeluarkan suara rintihan menyayat yang kemudian tangannya menarik Adam semakin dalam dan dalam. Hingga akhirnya, Adam tak sadarkan diri memasuki dimensi gaib milik anak itu.


...***...


Adam terbangun di sebuah ruangan. Merasakan kesakitan dan membuatnya memekik.


"Aaaarrggghhh!"


Adam merasakan sakit yang menjalar ketika ada sosok yang tiba-tiba memukul kakinya dengan keras sampai remuk. Rasa sakit yang berasal dari pukulan dengan tongkat yang dia bawa. Adam berteriak kesakitan lagi sembari kedua tangannya memegang kaki yang terkena pukulan dari seorang laki-laki yang ternyata Tuan Brian.


Sosok Nyonya Jane kemudian datang dan masuk ke ruangan tersebut. Ruangan yang mirip sel tahanan. Kondisi Adam terikat di bagian tangan dan kaki. Mereka menarik paksa Adam yang masih merasakan tubuh lemas. Brian membawanya keluar sel.


"Aaarrrggghh!"


Teriakan Adam kembali terdengar ketika sebuah pukulan kembali dilayangkan ke tubuhnya. Adam kembali merasakan kesakitan akibat pukulan itu. Kemudian, dia tersungkur di lantai dengan kondisi yang tidak berdaya. Sosok suami istri sakit jiwa itu datang menarik kaki Adam sehingga tubuhnya kembali tersungkur ke lantai. Kepala dan tubuhnya menghadap ke lantai sedangkan kaki Adam terus ditarik dengan paksa oleh Brian dan Jane.


Adam melewati beberapa sel tahanan yang di dalamnya ada anak-anak yang terikat tak berdaya. Tubuh mereka ada yang tak utuh lagi bahkan ada yang tanpa bola mata seolah dijadikan eksperimen keji oleh suami istri tersebut. Dan kini, Adam menyadari kalau dia sedang merasakan apa yang dialami hantu anak lelaki tadi sebelum meninggal.


Saat Jane meletakkan Adam begitu saja, Adam melihat Jane dan Brian menuju salah satu anak lelaki yang lantas mereka pukuli karena baru saja berteriak meminta air untuk minum. Brian memukulinya dengan beringas. Suara teriakan anak lelaki itu makin lantang. Teriakan yang menggema di penjara tersebut.


Lalu, Adam mulai mendengar suara-suara tangisan dan raungan permohonan minta tolong agar dilepaskan. Suara itu bermunculan dari ruangan sekitar Adam. Erangan yang diiringi rasa sakit yang mereka terima dari penyiksaan Jane dan Brian selama berada di ruang bawah tanah itu.


Ancaman yang akan mereka hadapi jika mencoba sedikit saja melawan mereka, yang ada mereka akan dipindahkan ke ruangan khusus yang gelap dan di sana mereka akan mulai semakin disiksa. Para anak itu tidak diberi makan, bahkan minum sedikit pun. Jika Tuan Brian dan Jane tidak mendapatkan kepuasan mereka, maka lebih parahnya para anak itu dihakimi dengan pemisahan anggota tubuh sesuai keinginan pelanggan.


Brian dan Jane kini beranjak fokus pada Adam. Mereka menyeret Adam kemudian, lalu berbelok dan memasuki sebuah ruangan. Sebuah ruangan yang gelap dengan satu cahaya lampu di tengah ruangan. Adam menelisik sekitar. Ada foto-foto anatomi tubuh manusia. Ada juga tulisan-tulisan penelitian seperti pemujaan sesat.


Ada juga foto-foto anak laki-laki yang mirip wajahnya dengan Brian dan Jane. Di ruangan itu juga terdapat suatu kursi dengan pengikat yang letaknya tepat di bawah lampu tersebut.


Adam merasa tubuhnya kemudian diangkat, dan didudukkan di kursi tersebut. Tangan dan kaki mulai diikat dengan kencang. Tetapi, Adam sengaja mengangkat tangan agar tidak menempel dengan kursi agar melonggarkan ikatan dari Jane dan Brian.


"Biarkan dia di sini dulu agar auranya cocok dengan Michael," ucap Brian.


"Jika dia tidak cocok juga dengan Michael?" tanya Jeni.


"Seperti biasa, hubungi pembeli yang butuh daging segar," ucap Brian.


"Bagaimana dengan perdagangan gelap organ dalam manusia, apa kau mau bergabung, Sayang?" tanya Jane.


"Tentu saja, Sayangku." Brian mendekati istrinya, menangkup wajahnya lalu memberi kecupan di bibir sensual milik Jane.


Kemudian, suami istri itu keluar secara bergantian dari ruangan itu dan meninggalkan Adam sendirian.


"Dasar manusia biadab!" lirih Adam.


Dengan rasa sakit yang Adam terima dan masih amat sangat terasa, Adam mencoba merotasikan indera penglihatannya ke sekeliling ruangan itu. Di ruangan yang minim pencahayaan dan hanya ada satu lampu yang menggantung di atas kepala, Adam juga melihat lantai kotor dan membuatnya tersentak.


Di lantai itu terdapat banyak bercak-bercak darah yang sudah mengering terkena sinar lampu remanga yang menyala kala itu.


Adam mencoba menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tangan itu sengaja tidak ia tempelkan ke kursi. Adam mencoba kuat dan lebih berusaha untuk menggerakkan supaya bisa terlepas dari tali yang mengikatnya kala itu.


Namun tiba-tiba, Adam mendengar suara teriakan dari luar ruangan tempat dia berada. Kali ini suara teriakan itu terdengar lebih keras bersamaan dengan suara hantaman sebuah besi pada lantai.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....