One Love, One Heart

One Love, One Heart
9. Duren sawit



Sejak kejadian hari itu sikap Vina jadi lebih baik padaku, bahkan terkadang saat aku datang dia sudah menjemput ku di teras rumah.Hari ini genap Minggu ke 2 aku mengajar tidak hanya Vina tetapi neneknya pun juga lebih akrab selalu menyambut ku dengan senyum, bahkan terkadang saat pulang aku suka dibawakan buah tangan buat orang tuaku.


"Kayanya 2 minggu ini lancar tidak ada keluhan kah " ucap Riri.


" Sementara Alhamdulillah masih aman bagaimana dengan kondisi tabungan anda sudah siapkah anda memberikan satu pasang snekers Nike original buat saya" ucapku, sambil tertawa kecil.


"Udah siap jangan kuatir " ucapnya sambil mencibirkan bibirnya.


"2 Minggu lagi tak sabar diriku ini melewatinya "ucapku sambil bersenandung penuh percaya diri.


" Lo udah selesai ngajarnya?" tanya Riri.


"Udah ini mau otw ke rumah mbak Risa"ucapku. Sesampai di rumah Tante Anin kulihat tampak sedikit ada keramaian, sejak kejadian itu nenek Vina memintaku memanggilnya bunda Anin tetapi aku memilih memanggil Tante Anin.


"Ada apa sih ko ramai" ucapku pada Vina yang membawaku masuk lewat pintu samping.


"Itu tunangannya si om tidak terima pertunangan mereka di putuskan jadinya kesini nyari si Om,sambil nangis Bombay deh" ucap Vina.


"Kenapa ko diputuskan ?" tanyaku penasaran, meski aku tidak tahu om nya siapa.


" Dengar-denger dari obrolan mereka si om memergoki tunangannya selingkuh" ucapnya.


"Dasar manusia ga pernah puas jika sudah dilepas baru sadar ternyata yang lama lebih baik daripada yang baru" ucapku asal. Dari arah samping langsung masuk ruang keluarga sayup-sayup aku mendengar suara perempuan menangis kencang.


"Putri ngaku salah Bun, maafkan Putri, Putri khilaf,Putri tergoda rayuan gombal cowok itu, Putri mengaku tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu lagi,Putri janji " suaranya sangat kencang sampai seluruh pelayan saling berbisik-bisik mengatakan tidak tahu malu.


"Ko masih berani ya udah ketahuan selingkuh tapi masih punya muka untuk menemui nenek "ucap Vina.


"Udah gak usah dibahas kita bahas pelajaran saja bagaimana "ucapku.


"Tapi kepikiran terus karena tadi sempat melihat " ucap Vina, Halah alasan ucapku dalam hati .


"Biar gak kepikiran otaknya di paksa untuk berpikir,ibu kasih soal 5 matematika dan 5 bahasa Inggris dikerjakan dalam waktu 30 menit jika selesai ibu langsung pulang sesi berikutnya udahan" ucapku.


"Bener ya kalau selesai udahan ga bohong " ucapnya.


"Iya tapi harus syaratnya harus betul jika salah mengulang lagi sejumlah yang salah " ucapku yang langsung di sanggupi olehnya. Soal pertama selesai dalam waktu 45 menit tapi ada kesalah 4,jadi mengulangi lagi soal kedua selesai dalam waktu 20 menit tapi masih salah 1,soal satu membutuhkan waktu 10 menit dan saat aku selesai mengoreksi dia tertidur sambil posisi terlentang di lantai yang beralaskan karpet.


"Vina tidur ",suara laki-laki mengagetkan aku yang sedang merapikan kembali buku-buku pelajaran ketempat semula.


"Iya pak barusan ko , belajarnya juga sudah selesai gak papa tidak perlu di bangunkan " ucapku, yang sudah siap mau pergi meninggalkan kamar vina. Setiap aku mengajar di kamar Vina pintu kamar selalu ku buka kecil jadi jika keluarga ingin melihat cara mengajar tidak perlu mengintip.


"Bisa kita bicara sebentar" ucapnya.


"Iya pak silahkan " ucapku, papa Vina mengarahkan aku untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu, bakal lama ini ucapku dalam hati.


"Saya selaku orang tua Vina mengucapkan terima kasih atas kejadian kemarin ,saya jadi paham gimana tapi mantan istri saya terhadap anak saya " Ucapnya.


"Saya juga minta maaf karena telah merekam adegan itu karena sehari sebelum pertemuan Vina mengutarakan ketidakmauan untuk pertemuan mamanya, tetapi tidak punya keberanian untuk mengutarakannya kepada anda ataupun kepada neneknya".


"Malamnya setelah kejadian itu kami berbicara layaknya keluarga dari sana saya dan juga orang tua saya jadi paham tentang Apa yang dirasakan Vina karena ulah namanya" ucapnya.


"Tidak apa-apa pak saya senang membantu " ucapku.


"Apa Bu guru bersedia jam belajarnya di tambah ?" tanyanya.


"Kalau menurut saya tidak perlu pak, Karena dari yang saya lihat Vina sudah cukup memahami pelajaran hanya perlu di bimbing. Vina masih anak-anak yang menginjak ABG jadi beri sedikit kebebasan jika kita forsir dengan pelajaran takutnya dia bosan pak".


"Begitu ya Bu , kalau begitu saya ucapkan terimakasih atas masukannya ".


"Sama-sama pak ,kalau boleh saya permisi dulu pak keburu adzan magrib " ucapku. Seperti halnya masuk turunan pun aku lewat pintu yang tadi ditunjukkan Vina padaku.


"Mbak ini titipan dari ibu oleh-oleh dari ibu yang kemarin dari Semarang " ucap salah satu pelayan.


"Iya Mbak makasih, sampaikan juga salam terima kasihku kepada Tante Anin " ucapku sebelum pergi, sekilas aku melihat mobil yang pernah aku naikin mungkin kebetulan sama kali ya ucapku dalam hati sambil meninggalkan rumah keluarga Vina.


"Berisik banget sih" ucapanku saat mendengar suara musik begitu kencang, setelah aku dengarkan dengan seksama suara itu berasal dari kamar samping. Ahh sial weekend ku pasti bakal di recokin ini ucapku karena aku yakin suara berisik itu dari kamar Dafa.


"Kapan Daffa pulang Bu jam segini sudah berisik aja?" tanyaku pada ibu yang lagi menyiapkan sarapan.


"Sudah tengah malam adikmu pulang, lagian ini bukan pagi udah menjelang siang lihat itu sudah jam 08.00 pagi" ucap Ibu.


"Makanya biasakan habis sholat subuh Jangan tidur lagi bantu ibu masak perempuan kok nggak tahu pekerjaan dapur" bukan suara Ibu,tetapi suara Daffa yang baru turun dari lantai 2.


"Kapan, lo itu sudah tua sudah waktunya memikirkan tentang jodoh" ucapnya.


"Daripada mikirin jodoh gw pikirkan kuliah Lo,?"ucapku kesel.


"Oya ngomongin kuliah gw ada kerjaan buat Lo,tar tunggu disini" ucapnya sebelum berlari ke kamarnya lagi dan datang dengan membawa l


2 laptop.


"Ini laptop teman gw rusak Semua mintak tolong Lo betulin " ucapnya.


"Wani Piro kon" ucapku.


"Jangan pelit lah adik sendiri, lagian Lo juga sudah kerja kata ibu Lo sekarang menjadi guru privat juga masih ngajar di tempat Bimbel "ucapnya.


"Sekarang ngaku punya siapa, tidak mungkin kalau temen laki-laki lo mintak gratisan" ucapku yang dibalas dengan senyum menampilkan giginya.


"Iya dua-duanya punya temen wanitaku, tapi bukan pacar ya dua-duanya murni berteman" ucapnya salah tingkah.


"Iya sekarang berteman nanti lama-lama teman dekat terus jadian deh. Ibu Daffa tidak kuliah tapi pacaran Mulu ni" teriakku di kalimat terakhir.


"Bukan ko Bu cuma teman suer deh, gak berani pacaran sebelum kakak nikah minimal ada calon dia baru gw berani mengutarakan perasaan pada cewek " ucap Daffa.


"Kalau nunggu kakakmu pasti lama sekarang aja tidak pernah ada cowok yang kesini, kecuali depan rumah si Ari betulin ponsel atau laptop " ucap Ibu.


"Jangan kuatir Bu aku punya dosen baru tampan kaya cocok sama dia" ucapnya.


"Ogah gw mau cari sendiri"ucapku kesel.


"Eh Bu semalam pas aku pulang rumah bu.widya kok ramai ada apa ya?" tanya Daffa, diantara kami bertiga Daffa orang yang paling kepo.


"Ibu gak tau" ucap ibu.


"Udah gak usah kepo, ambilkan tas mbak di kamar !" ucapku dan langsung dikerjakan.


"Yang ini Layar kadang tidak ada gambar kadang hanya berwarna putih abu-abu bergaris ketika dinyalakan" ucap Daffa.


"Perkiraan layar LCD harus ganti sekitar 700 ribu-1.5 jutaan, belum termasuk ongkos gw" ucapku.


"Gak gratis aja sih mbak " ucapnya.


"Ya kalau tenaga gratis ga apa-apa ini 700 paling murah,bilang aja apa adanya ga usah malu" ucapku. "Terus yang ini kenapa ?" tanyaku.


" Sering mengalami bluescreen “memory error” kadang layar hanya menampilkan warna gelap saat dinyalakan" ucapnya.


"Bisa dipastikan RAM laptopnya sedang bermasalah atau rusak. Biaya servis/ganti RAM laptop di servis center sangat beragam antara 250-800 ribuan, atau bahkan bisa jutaan. Biaya ini juga tergantung dari jenis RAM, tipe, kecepatan, dan kapasitasnya. Semakin tinggi kualitas RAM yang maka semakin mahal juga harganya" ucapku.


"Hah gila mahal banget " ucapnya.


"Makanya bilang aja apa adanya kepada temanmu itu kalau dia mau Mbak kerjakan kita beliin yang perlu di ganti tapi kalau nggak mau ya udah nggak jadi bongkar" ucapku sambil menikmati sarapan yang di bikin ibu.


"Dia bersedia minta nomer rekeningnya katanya, soalnya dia sudah tanya ke beberapa servis center kenanya lebih mahal "ucap Daffa saat aku mencuci piring kotor.


"Yaudah kirim aja langsung ke rekening mbak, kalau udah masuk kita langsung otw" kataku. Setelah teman ada bunyi notifikasi M Banking baru kita pergi ke Mangga dua square, tentunya sekalian mau cuci mata.


"Bu Aya " teriak Vina dari arah berlawanan sedang berjalan dengan papanya.


"Hai Vina, lagi jalan-jalan ya " ucapku , setelah berada di hadapan Vina.


" ponsel papa kemarin jatuh makanya mau beli ponsel baru,kalau Bu Aya lagi pacaran ya ?" tanyanya membuatku tertawa.


" Perkenalkan ini adik bu guru namanya Dafa," ucapku begitu juga aku juga mengenakkan kepada papa Vina, Karena tujuan kita hampir sama akhirnya kita berjalan bersama menuju ke sebuah toko yang menyediakan LCD sekaligus ponsel di satu tempat. Setelah mendapatkan yang di cari bahkan belanjaanku juga dibayarin olehnya kami makan siang bersama dan baru berpisah setelah kami mau pulang.


"Mbak Duren sawit kayanya beli ponsel aja Huawei Mate 40 Pro yang di bandrol 10 juta lebih Lo" ucap Daffa saat kami sampai di rumah.


"Kalau Duren sawit kenapa emang ?"tanyaku.


"Gaet mbak lumayan Lo punya suami kaya ,gw pasti kecipratan juga" ucapnya.


"Ya udah Lo aja yang gaet" ucapku.


"Gila masak jeruk minum jeruk " teriaknya tidak terima.