One Love, One Heart

One Love, One Heart
32. Luka yang Sama



Sakit rasanya mengingat apa yang ku lihat tadi siang, mengapa aku harus merasakan luka ini lagi luka yang sama.


Kejadian saat membuka pintu


Aku melihat Nanda berdiri bersandar di meja sedang berciuman dengan seorang wanita berpakaian dokter,meski aku hanya melihat punggungnya tapi aku yakin itu Nanda dan si wanita adalah wanita yang bersama Nanda di mall waktu itu.


"Kakak ko bengong sih di depan televisi?" tanya ibu." Siapa yang bengong cuma sedikit ngelamun aja"ucapku sambil tersenyum tetapi menangis hati ini.


Dasar pembohong lelaki brengsek bilangnya akan menghapus kenanga buruk ku terhadapnya belasan tahun yang lalu, katanya ingin membuatmu percaya cinta itu ada cinta dan memberikan kebahagiaan,tapi semuanya hanya omong kosong kataku dalam hati.


"Kakak kenapa menangis " ucap ibu tiba-tiba membuatku tersadar telah meneteskan air mataku.


"Tidak ,hanya sedikit perih"bohongku."Cerita sama ibu apa yang terjadi ,percaya sama ibu akan memberikan solusi.Kalau kakak mau membatalkan keberangkatan besok juga tidak apa-apa "ucap ibu.


"Bu bisa minta tolong gak untuk tidak bercerita kepada mas Nanda di mana aku mengajar nanti" ucapku.


"Bisa,tapi ibu harus tahu alasannya" ucap ibu.


"Kakak tidak percaya adanya cinta setelah cinta pertama kakak gagal. Baru-baru ini mas Nanda berjanji akan membuat kakak percaya cinta itu ada dan memberikan kebahagiaan,tapi tadi siang aku melihat kak Nanda mencium seorang wanita "ucapku sambil memeluk ibu.


"Ibu berjanji akan merahasiakan dari Nanda,"ucap ibu sambil memelukku dan mengusap-usap rambutku.


"Bilang ayah dan si kembar sekalian ya Bu, aku tidak mau di menyusul ku kesana"ucapku persis anak kecil yang mengadu.


"Iya, kakak tenangkan pikiran kakak dan kembalilah dengan lembaran baru."


"Tentu bu,aku sayang ibu"ucapku sambil memeluk ibu.


"Kenapa ini saling berpelukan ?"tanya ayah yang baru pulang dari musola untuk melaksanakan sholat isya.


"Ayah kepo"ucapku sambil berlari ke kamar untuk menyembunyikan mataku yang sembab, meskipun aku dekat dengan ayah tetapi kadang aku lebih percaya bercerita kepada ibu.


Daffa tidak pulang meski Jumat libur, ayah dan ibu juga tidak memberitahu tentang kepergian aku. Setelah sholat ashar ayah dan ibu mengantarkan aku ke bandara, sekalian ayah dan ibu juga akan pulang ke solo untuk menjenguk rumah Mbah Putri, karena sejak Mbah Putri meninggal rumah itu kosong tidak berpenghuni,hanya sesekali di bersihkan sama saudara yang disana.


pov.Nanda


Sejak aku mengajak Aya menengok anak Ilham yang baru lahir dan mengenalkannya dengan teman-temanku hubungan kami berjalan lebih baik. Bahkan saat aku berjanji untuk menghilangkan bayangan buruknya tetanggaku dia tidak menolak,buatku itu awal yang baik.


Tetapi ahkir-ahkir ini ia sangat sibuk sekali menjalani pembekalan supaya menjadi seorang guru yang lebih baik.


"Lagi sibuk gak?"tanya Wanda yang berdiri di pintu ruanganku.


"Tida masuk aja"kataku sambil berdiri mengambil buku di rak buku.


"Besok kan kamu ulang tahun mau gak merayakannya denganku" ucapnya.


"Maaf tidak bisa bunda sudah mengadakan acara makan malam keluarga" ucapku sambil berdiri bersandar pada meja kerjaku.


"Wah sebenarnya aku ingin memberikan kado buatmu,"ucapnya yang sudah berdiri di depanku.


"Hari Sabtu malam Minggu datang aja ke apartemenku, aku mengadakan pesta kecil-kecilan di sana dengan teman-teman yang lain "ucapku.


"Kita tidak dalam hubungan yang mengharuskan untuk merayakan ulang tahunku berdua saja kan"ucapku.


"Kalau begitu aku akan memberikan kado ulang tahun buat mu sekarang "ucapnya, yang langsung menyambar bibirku dengan ganasnya. Buset ni cewek kayanya sudah ahli dalam berciuman ucapku dalam hati, karena cara menciumnya yang bisa memicu hasratku sebagai lelaki normal. Bibirnya menghisap lidah dan bibirku di tambahkan sedikit gigitan yang sengaja dilakukannya untuk menyalakan gairahku untuk bercinta.


"Wow ciuman Lo memabukkan, terimakasih kadonya, "ucapku setelah bisa melepaskan diri dari ciuman panasnya.


"Tidak mau melanjutkan yang lebih memabukkan lagi?" bisiknya sambil menggoda.


"Maaf, aku harus belajar untuk menyiapkan diri untuk ujian komprehensif , "ucapku sambil berjalan ke kursiku.Ujian komprehensif adalah ujian untuk mendapat gelar spesialis.


"Ya udah kalau begitu selamat belajar, jika butuh bantuan untuk menurunkan tegangan aku siap lo bilang aja" ucapnya sebelum berjalan keluar ruanganku. Gila makiku dalam hati,aku sering dengar Wanda cewek yang agresif tapi aku sungguh tidak menyangka akan seagresif ini.


Hari ini adalah hari ulang tahunku semua keluargaku mengucapkan doa terbaik buatku, tetapi yang aku tunggu tidak mengucapkan selamat ulang tahun sama sekali.


Apa dia lupa, tapi sepertinya tidak mungkin Aya melupakan hari ulang tahunku. Dilanda penasaran sepulang kerja aku kerumah Aya sekalian Ingin mengajak Aya merayakan ulang tahunku bersama keluargaku.


"Mas pak Rahmat dan seluruh keluarganya sepertinya pergi,"ucap ibu-ibu yang di depan pos.


"Katanya sih mau nengokin rumah orangtuanya yang di solo "ucap salah satunya.


"Kalau begitu makasih ya Bu, permisi "ucapku sebelum masuk kedalam mobilku.


Sudah seminggu aku tidak bertemu Aya karena selain sibuk menyiapkan diri untuk ujian komprehensif. Aya juga sibuk menjalani pembekalan sebagai guru yang lebih baik.


"Kenapa bete ulang tahun happy dong"ucap Risa. "Tadi gw ke rumah Aya tapi dia tidak ada,kata tetangganya sedang ke solo"ucapku.


"Ya udah positif thinking,hari ini ulang tahun mu yang ke 29 berpikirlah dewasa Aya, kalau memang jodohmu Aya akan kembali "ucap Risa. Meskipun aku merasa ada yang kurang,aku berusaha menikmati acara kumpul keluarga yang sudah direncanakan bunda sampai akhir.


Sekarang saatnya merayakan ulang tahunku bersama teman-teman ku dari semua kalangan, rekan kerja,teman seperjuangan waktu SIPSS, pokoknya semua teman yang dekat denganku.


"Kado dari Aya"ucap Eki sambil menyodorkan kotak persegi panjang yang bisa ku tebak isinya adalah pulpen.


"Kapan Lo ketemu Aya?"tanyaku penasaran mengapa harus dititipkan ke Eki tidak langsung dikasihkan kepadaku.


"Kamis kemarin dia bersama kedua temannya yang tempo hari ketemu kita di cafe, sedang menjenguk temannya yang lagi operasi di rumah sakit tempat kita kerja" ucapnya. Tunggu apa waktu Wanda menemuiku " jam berapa ?"tanyaku.


Jantungku berdetak kencang apa jangan-jangan Aya melihatku berciuman dengan Wanda .


"Siang menjelang sore dia bertanya ke resepsionis tapi karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dia menghubungin ku" ucap Eki.


"Menghubungi mu buat apa?"tanyaku."Mengantarkan nya ke ruangan mu lah"ucap Eki santai sambil memakan cemilan yang di siapkan bunda.


"Terus kenapa tidak menemuiku dan malah kadonya di titipkan padamu ?" tanyaku,aku menunggu jawaban dari Eki dengan keringat dan jantung berdetak tidak teratur.


"Ga tau setelah membuka pintu ruangan mu dia menutup lagi, waktu ku tanya kenapa gak jadi Aya menjawab 'ga enak kamu lagi sibuk sama rekan kerjamu "ucap Eki sambil menggoyangkan kepalanya mengikuti musik.


Seluruh badanku seperti tersiram bongkahan balok es langsung kaku tidak bisa bergerak sama sekali.


"Karena tidak mau mengganggumu makanya dia menitipkan kadonya padaku dan berpesan supaya ngasih pas ulang tahunmu" ucap Eki. Aku hanya bisa menggegam kado dari Aya, pasti dia kecewa padaku,aku melangkah meninggalkan apartemenku menuju apartemen Khalid. Disaat semua temanku merayakan ulang tahunku di apartemenku ,aku menghabiskan malam dengan minum-minum sampai mabuk di apartemen Khalid.