One Love, One Heart

One Love, One Heart
24. Lebay



"Kami sepakat akan bersaing secara sportif untuk mendapatkan mu,"ucap Toni yang tiba-tiba sudah berjalan di sampingku.


"Gw bukan barang yang bisa seenaknya kalian jadikan bahan rebutan,"ucapku sambil menatap tajam kearahnya.


"Aku akui telah berbuat salah dengan selingkuh saat kita masih bersama, aku hanya terbuai nafsu yang di tawarkan olehnya, jadi bisakah kau memaafkan aku dan menerima aku kembali kita mulai lembaran baru," ucapnya dengan nada lembut.


"Aku sudah melupakan dan memaafkan semua yang terjadi diantara kita, tapi maaf kalau untuk memulai lembaran baru denganmu aku tidak bisa, cukup kita berteman saja"ucapku sebelum masuk ke ruang komputer.


"Ok kelas sebelum kita lanjutkan pelajaran yang kemarin apa Ada yang ingin ditanyakan? Ok karena tidak ada kita lanjut ke pelajaran berikutnya"kataku.


"Bu Nia ada hubungan ya sama Pak Toni, ?"tanya Gio sang ketua kelas yang langsung mendapatkan sorakan dari teman-temannya.


"Hubungan kami tidak lebih dari rekan kerja di sini " ucapku,sambil tersenyum menghadapi anak-anak yang baru menginjak remaja ini.


"Saya kira Ibu ada hubungan lebih kalau iya kan saya jadi kalah saing," ucapnya membuat teman-temannya bersorak lebih kencang.Jiwa muda mereka mudah terpesona dengan sesuatu yang indah di luar seperti diriku waktu menginjak remaja dulu,aku hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalaku.


"Ok kalau begitu mari kita lanjutkan pembelajaran hari ini, hari ini kita bahas tentang Pencarian (Searching), buka halaman 77"ucapku memulai pelajaran.


"Kamu pulang duluan aja bawa motornya, ayah mau pergi ke kantor Dinas pendidikan sama bapak kepala" kata ayah saat menghampiri ku.


"Kuncinya mana?" tanyaku sambil menjulurkan tangan dan ayah langsung memberikan kunci motor beserta selembar uang warna biru.


"Buat beli bensin " ucap ayah sebelum meninggalkanku dan mengusap kepalaku.


"Bu kita pulang mampir makan dulu yuk,di cafe yang baru buka, "ucap Bu Vika.


"Ayo Bu Nia sesekali gabung sama kita, tadi saya lihat bapak wakil kepala sekolah mau pergi ini "ucap Bu Wenny.


"Iya Bu, boleh "ucapku karena selama ini aku selalu menolak dengan alasan jam pelajaran penuh dan tidak pernah pulang tepat waktu.


"Cafenya anak muda banget ya" ucap Bu Wenny, Kami bertiga memilih tempat duduk yang paling belakang supaya bisa melihat keseluruhan ruangan kafe.


"Wah lihat itu kan pria yang digosipin dekat dengan Lexa si presenter," ucap Bu Vika sambil menujuk kearah pintu masuk nampak Nanda hendak masuk dengan beberapa temannya yang mungkin rekan kerjanya , karena ada mas Eki sepupu Santi juga dan 3 orang yang kemarin di mall berpakaian seragam polisi seperti Nanda.


"Iya aslinya lebih ganteng ya persis Opa opa Korea" ucap Bu Wenny, membuatku pura-pura sibuk dengan memperhatikan dekorasi cafe. Beberapa hari yang lalu ketemu di mall sekarang ketemu lagi di sini , kenapa sih ahkir-ahkir ini kami sering di pertemukan di tempat umum keluhku yang hanya terucap dalam hati.


"Bu saya mau ke toilet sebentar,"ucapku segera beranjak dari tempat duduk,ke toilet berniat membuka ikat rambut dan menggerai rambut supaya tidak terlihat jelas wajahku, tetapi saat aku kembali dari toilet aku malah melihat Nanda dan teman-temannya duduk dekat dengan meja kami.


"Bu Nia lama banget sih hampir saya samperin ke toilet Lo,saya kira ketiduran atau pingsan" ucap Bu Vika sambil terkiki tetapi matanya melirik ke meja Nanda.


"Maaf mules " ucapku lirih.


"Apa karena gak biasa makan pedes ya Bu,?"tanya Bu Vika.


"Emang dari rumah bu, biasa hari pertama tamu bulanan datang ditambah tadi pagi males sarapan dan saat pelajaran kedua saya minum obat pereda nyeri " ucapku


"Jadi tadi pagi ibu Nia minum obat saat perut kosong?" tanya Bu Vika.


"Hehe lupa Bu saya kalau belum sarapan" ucapku.


"Ya udah kita segera pulang aja kasihan Bu Nia,ibu masih bisa bawa motor tidak "ucap bu Wenny.


"Tidak apa-apa Bu, kita habiskan dulu makanan yang udah kita pesan baru kita pulang insya Allah saya masih kuat kok untuk pulang sendiri "Ucapku.


Tanpa mereka sadari perbincangan mereka di dengarkan Nanda,meski Nanda tidak dapat melihat wajah mereka bertiga karena posisi duduknya yang membelakangi, tetapi Nanda hafal dengan suara salah satu dari mereka.


"Kenapa kok ibu dari tadi seperti menahan suara sih?"tanya Bu Vika.


"Tidak kok Bu cuma tenggorokannya sedikit gak nyaman,"bohongku.


Plak "Lo Nia kan Daffania temannya Santi kan " ucap mas Eki yang kini sudah berdiri di sampingku.


"Heh mas Eki, masih ingat aja sama saya ,"ucapku sedikit canggung karena semua teman di meja Nanda jadi melihat kearah ku.


"Habis sering ketemu sih jadi selalu teringat dek Nia,"ucap Eki sambil menarik kursi untuk duduk disampingku.


"Ketemu kapan kita ketemu mas?"tanyaku bingung.


"Haha masa lupa sih tiap malam mendatangi saya di alam mimpi "ucap mas Eki. Membuat aku tersenyum kaku tetapi di sambut gelak tawa kedua temanku,dan suitan temannya yang berada di meja samping berbeda dengan Nanda yang melihatnya dengan tatapan datar.


"Dasar gombal mas kaya anak yang masih remaja saja,"Ucapku.


"Kaya tau aja gombalan anak remaja kamu " ucap Eki.


"Eh mas tidak tahu ya Bu Nia ini sering Lo di rayu atau di gombalin anak didiknya di sekolah "ucap Bu Wenny.


"Kenalkan mas mereka teman-temenku mengajar di SMA Bina Bangsa"ucapku mengenalkan kedua rekan ku.


"Mas itu temannya yang lagi di digosipin sama presenter kondang itu ya?" tanya Bu Vika.


"Iya mbak Vika,hai bro Lo terkenal gara-gara Lexa jadi Lo harus berterima kasih kepadanya,"ucap Eki sambil menghadap ke meja temannya.


"Mas boleh gak minta fotonya,"ucap Bu Vika membuatku melotot tak percaya mendengarnya,aduh Bu bikin malu saja sih kataku dalam hati.


"Boleh mbak sini aku yang ambilin gambar "ucap Eki sambil terkiki.


"Ayo balik udah mau magrib nih "ucapku mengahkiri obrolan kami,aku tidak menyangka kedua temanku itu suka ngobrol dengan Eki dan aku hanya jadi pendengar yang sesekali menimpali.


"Ayo sampai lupa kita karena keasikan ngobrol dengan mas Eki"ucap Bu Wenny.


"Ehh " ucapku saat Nanda tiba-tiba berada di belakangku saat aku hendak melangkah pergi.


"Celanamu merah" bisiknya di telingaku, segera ku lirik bener juga celana bahan yang kupakai bener juga apalagi warnanya coklat susu jadi keliatan banget.


"Pakai punya mas aja" ucap Nanda yang melihatku hendak membuka jaket ku.


"Gak usah mas aku juga ada kok"tolak ku. "Tapi kamu bawa motor nanti kamu kena angin"ucap Nanda.


"Aku bisa memakai jaket ku lagi di parkiran mas,ga usah lebay deh "ucapku.


"Mas antar pulang ya" ucapnya. "Terima kasih tetapi aku bisa pulang sendiri dan aku juga bawa kendaraan sendiri "ucapku.


"Lagian kalau Lo mengantar Nia mereka yang tadi nebeng lo gimana nasibnya pulang tanggung jawab dong,ga usah aneh-aneh deh "ucap Eki,


"Iya bener mas dia lebay biasa juga aku pulang sendiri ini, kenapa lebay banget sih,"ucapku sebelum meninggalkan mereka yang di ikuti rekan kerjaku.