One Love, One Heart

One Love, One Heart
38. Pertunangan



Setelah hari itu aku tidak pernah lagi bertemu atau berkirim pesan dengan Nanda, ahkirnya hari yang mungkin di tunggu buat pasang yang saling mencintai tapi kami kenal aja belum.


"Bu ?"panggilku, "Hm" jawab ibu yang lagi asik dengan ponselnya tanpa melihat kearah ku sama sekali.


"Ibu tumben tidak repot sama sekali masak atau apa gitu ?"tanyaku. "Mau ngapain dekorasi sudah di urus sama Event organizer, makanan ada jasa catering " ucap ibu tetap sibuk dengan ponselnya.


Tidak seperti biasanya ibu kalau ada yang ngajak bicara selalu melihat kearah lawan bicaranya, tetapi ini sama sekali tidak melihat bahkan melirik kearahku pun juga tidak sama sekali.


"Daffa sama ayah kemana bu?" tanyaku."Gak tau bawa mobil "ucap ibu. "Tumben bawa mobil segala pada kemana sih ?"tanyaku.


"Coba aja kamu wa!" ucap ibu.


"Aneh ibu diajak ngobrol cuek , ayah dan Daffa pergi tapi ibu tidak tahu tujuannya "ucapku berjalan keluar rumah melihat kesibukan orang-orang Event organizer mendekorasi rumahku buat acara nanti malam.


"Kak , kakak lagi ngapain ?" tanya Daffa yang baru masuk ke dalam kamarku. "Mau cari lowongan kerja tangan kakak sudah mulai membaik,"ucapku.


"Kakak yakin menerima pertunangan ini?" tanya Daffa untuk kesekian kalinya."Paling tidak kakak sudah mencoba masalah berhasil tidaknya , biarkanlah Tuhan yang menentukannya. Niat kakak cuma membahagiakan ibu" ucapku


"Semoga Allah kasih yang terbaik buat kakak, kakak tidak menghubungi teman-teman kakak?" tanya Daffa."Nanti aja saat kami berencana hendak kejenjang yang lebih serius " ucapku.


"Kak "panggil Daffa membuatku menoleh kearahnya,"Apa ?"tanyaku.


"Kakak tidak ingin kabur seperti novel-novel gitu,kak?"tanya Daffa.


"Ya gila aja aku, emang aku tidak mikirin dampaknya buat ayah dan ibu apa" ketusku.


"Maksudnya kalau mau kabur akan aku bantu"ucapnya."Terus ibu dan ayah yang akan menanggung malu gitu,aku tidak Setega itu ya"ucapku.


"Syukur Alhamdulillah kakakku masih bisa berpikir sehat"ucapnya sambil tertawa.


"Pergi sana aku mau tidur siang" usirku. Meskipun mulut ini berucap untuk tidur siang kenyataannya aku tidak bisa tidur, bahkan dari semalam aku juga sulit untuk memejamkan mata ini. Berbagi perasaan campur aduk kurasakan, meski aku berusaha keras untuk menerimanya tetapi hati ini tetep terasa ada rasa tidak terima. 'Ya Tuhan aku ikhlas demi orang tuaku, berikan hamba ini kelapangan hati untuk menerima semua dan menjalaninya nanti, hanya doa yang bisa kupanjatkan dalam hati untuk menenangkan hati yang sedang bergejolak ini. Hingga waktu terasa lebih cepat berputar,tok tok tok "kak,ini ibu"ucap ibu sambil membuka pintu kamarku.


"Terima kasih sudah menuruti perintah ibu,ibu harap lelaki pilihan ibu bisa membuat mu bahagia " ucap ibu sambil memberikan kecupan di keningku.


"Sudah sholat magrib kan?".


"Sudah bu"jawabku."Sekarang kakak siap-siap 1 jam lagi tamunya akan datang"ucap ibu sebelum pergi. Dengan baju yang sudah di siapkan ibu yang katanya sepasang dengan calon tunanganku,aku bersiap sendirian dengan make-up tipis seperti yang selalu gunakan di waktu kerja.


"Ayo kak, sudah waktunya "ucap ibu menghampiriku untuk bergabung bersama yang lain. Acara pertunangan hanya mengundang pak RT dan tetangga samping rumah untuk saksi itu pun hanya 4 orang, tidak seperti pertunangan Widya kemarin yang satu gang di undang semua. Tanpa berani mengakat kepalaku sama sekali,aku duduk dan mengikuti semua proses lamaran dari Daffa yang bertindak sebagai MC membuka acara dan sambutan kedua Keluarga hingga acara inti aku sama sekali tidak mengakat kepalaku.


"Pada hari ini, kami hadir di tengah-tengah keluarga Bapak/Ibu, tiada lain dalam rangka bersilaturahmi agar saling mengenal lebih dekat antara satu dengan lainya. Selanjutnya, kami juga ingin menyampaikan hajat dari putra kami yang yang kedua dari tiga bersaudara yaitu Sa'id Nandana Fahmi Mahardhika. Anak kami sudah cukup lama mengenal putri Bapak / Ibu yang bernama Daffania cahaya Prameswari "ucapan dari pihak lelaki membuatku mengakat kepalaku.


"Singkat cerita, izinkan kami mewakili putra kami Sa'id Nandana Fahmi Mahardhika menyampaikan niat tulus untuk melamar putri Bapak/ Ibu. Untuk itulah maksud dan tujuan kedatangan kami pada hari ini.


Mudah-mudahan Bapak dan Ibu berkenan untuk meridho’i niat putra kami, dengan menerima lamaran ini. Tak lupa kami sekeluarga mohon maaf apabila dalam menyampaikan maksud dan tujuan ini ada tutur kata yang kurang berkenan di hati. Begitu pula hantaran hari ini yang ala kadarnya sebagai wujud keseriusan hati kami.


Wassalamuallaikum Wr. Wb." ucap papa Dito.


"Bagaimana ini kakak mau diterima tidak, lamarannya ?" tanya ayah aku yang masih sangat kaget hanya bisa diam.


"Gimana kak apa ibu aja yang jawab ? Sesuai kesepakatan dengan ibu bahwa kakak menerima pertunangan ini dan pernikahan yang akan di selenggarakan setelah 1 tahun masa penjajakan" ucap ibu.


"Ga bisa di percepat aja pernikahannya bulan depan begitu " ucap Nanda.


"Apa kamu pikir nikah itu gampang harus di persiapkan secara matang apalagi keluarga besar kita lamaran ini tidak ada yang ikut"ucap bunda.


"Apalagi kamu juga harus persiapan nikah kantor juga"ucap ayah.


"Lagian lamarannya aja belum tentu di terima ko sudah bingung milih hari pernikahan "ucap bunda.


"Sesuai kesepakatan aja mbak Anin, pernikahan diadakan 1 tahun lagi. Ya kan kak?"tanya ibu.


"Sepertinya kakak masih sedikit shok dengan apa yang terjadi,Bu "ucap Daffa.


"Jadi yang mau jadi tunanganku adalah...?"


"Aku, dan aku juga baru tahu waktu om Raihan mengucapkan sambutan mewakili keluargaku dan ayah yang langsung melamar kamu untuk aku"ucap Nanda yang aku baru sadar juga duduk tepat di hadapanku.


"Bagaimana kakak sudah paham dengan yang terjadi ?" tanya Daffa .


"Apa kamu mau menerima lamaran Kami?" ucap bunda Anin yang ku jawab dengan anggukan kepala.


"Allhamdullilah" jawab mereka semua.


"Sesuai kesepakatan mereka akan menjalani masa penjajakan dulu"ucap ibu." Janganlah Bu gak usah penjajakan sudah saling kenal ini, lebih cepat lebih baik "ucap Nanda yang di sambut tawa oleh yang lain."Masalah pertunangan sudah selesai, masalah pernikahannya kita serahkan saja buat mereka mencari tanggal"ucap ayah."Kalau ayah usul ga usah buru-buru nak Aya, takutnya putra ayah ini bukan ulah "ucap ayah Nanda. "Ayah ko gitu sih" ucap Nanda membuat yang lain tertawa, tidak seperti awal acara yang terkesan kaku dan formal berbanding terbalik dengan yang sekarang santai penuh dengan tawa.


" Sekarang saatnya penyematan simbol pertunangan"ucap Daffa. "Ayah dan bunda sepakat memilih kalung bukan cincin, karena cincin akan disematkan saat pernikahan nanti"ucap bunda Anin."Ga papa bun"ucapku. "Ini sudah lebih dari cukup mbak kalung nya bagus banget"Ucup ibu.


"Ini saya pesen langsung mbak, setelah pertemuan kita waktu itu,"ucap bunda Anin kepada ibu.


Ibu dan bunda Nanda pernah ketemu, kapan ? Kenapa juga mereka terlihat sangat akrab ? berbagi pertanyaan berputar di kepalaku, tentang apa yang terjadi hari ini, keakraban keluarga kami, bahkan dengan mama sambung Vina yang aku belum kenal saja ibu sepertinya sudah akrab.