One Love, One Heart

One Love, One Heart
33. Waktu yang berlalu



Sudah 10 bulan aku menjadi guru di salah satu SMP di sini, meskipun tempat ku mengajar tidak termasuk dalam pedalaman, tetapi masih merupakan yang terburuk di seluruh Indonesia dari pengamatanku.


Kegiatan belajar mengajar di daerah kampung atau distrik disini masih mengalami kekurangan guru. Meski kebutuhan guru di Papua telah tercukupi, distribusinya tidak merata – kebanyakan guru terpusat di area perkotaan seperti Jayapura, Timika, dan Merauke.


" Nara gerotelo?” (Apa Kabar) ucap mace kepala desa.(mace:ibu)


"Baik,Mace" ucapku meskipun sudah 10 bulan tinggal disini aku masih mengalami kesulitan berkomunikasi.


"Tidur sudah, jang terlalu banyak tahan mata!"ucap Mace,( Tidurlah, jangan terlalu banyak begadang).


"Iya mace"ucap ku sambil merapikan lembaran-lembaran hasil ujian anak-anak didik ku.


Sebulan tinggal disini aku hampir menyerah ,tetapi mengingat pertemuan terakhir dengan Nanda membuatku bertekad menjauh darinya.Masuk bulan 4 aku sudah angkat tangan tetapi ingat perjanjian dengan ibu, membuatku bertahan sampai saat ini bulan ke 10.


"Kenapa lagi ibu kepala desa ?"tanya Widuri teman sekamar ku saat aku masuk ke dalam kamar kami. "Menyuruh tidur jangan berdagang "ucap ku.


"Bapa dan mace orang baik, sayang tidak punya anak. Pasti kalau punya anak, anaknya sangat di sayang oleh mereka" ucap Widuri.


"Allah maha tahu yang terbaik buat hambanya "ucapku.


"Bagaimana dengan dokter Aji, sepertinya dia suka kamu?"ucapnya.


"Masih sepertinya jadi gak pasti buat apa,aku mau cari yang pasti-pasti aja"ucapku.


"Jangan-jangan Lo sudah ada calon makanya Lo ga tertarik sama dokter Aji" ucapnya.


"Sudah tidur dah malam kata mace 'Tidurlah, jangan terlalu banyak begadang' "ucapku menirukan mace yang disambut gelak tawa olehnya.


Dari Jakarta kami 10 orang tetapi kami berpencar, aku hanya berdua dengan Widuri mengajar di Kabupaten Teluk Wondama.


Tidak seperti malam biasanya malam ini sangat dingin mungkin karena lagi turun hujan, apalagi hujan turun dari kemarin sore tidak berhenti hanya gerimis sebentar terus hujan deras lagi.


Alarm ponsel membangunkan aku pertanda tiba waktu Subuh, "ko ada air " kataku saat aku merasakan kakiku yang baru turun dari ranjang menyentuh air setinggi mata kaki.


"Astaghfirullah banjir "ucapku. Bangun duri bangun banjir" ucapku membangunkan Widuri sambil menggoyang-goyangkan badannya yang tidur dengan nyenyak.


"Apa sih masih ngantuk tau, dingin lagi "ucapnya sambil menutup badannya dengan selimut.


"Banjir ,begooo"ucapku sambil merapikan barang-barang ku.


"Apa "teriaknya sambil duduk memperhatikan sekitar.


"Kamu beresin barangmu aku mau bangunni mace dan Bapa dulu" ucapku, setelah keluar aku langsung membangunkan mereka tetapi mereka malah menyuruhku mengusi dahulu dengan Widuri.


"Ko mereka gak mau mencari tempat yang aman ya,malah menyuruh kita ngusi"ucap Widuri .


"Mungkin ga tega meninggalkan rumah dan harta bendanya,lagian tadi kata bapa sudah biasa banjir semata kaki,tar siang juga turun "ucapku.


Aku dan Widuri membawa barang kami semua ke sekolah tempat kami mengajar ,jaraknya biasa kita tempuh 20 menit dengan berjalan kaki.


"Bu Nia,Bu Widuri sebaiknya anak-anak yang sudah sampai di sekolah di pulangkan saja" ucap pak Yanto yang baru datang. Pak Yanto guru PNS udah 3 tahun disini berasal dari Jawa timur.


"Kenapa pak,kok di pulangkan ?" tanyaku saat aku melirik jam dinding baru menujukkan pukul 09.00 pagi.


"Air hulu naik beberapa warga desa sudah di peringati untuk siaga,jadi anak-anak suruh pulang aja bu"ucapnya.


"Bagaimana ini dengan bapa dan mace kepala desa, pasti sekarang air sudah selutut "ucap Widuri.


"Apa kita kesana saja mencari mereka?"tanyaku.


"Gila aja kesana orang-orang di sana aja pada kesini mengamankan diri masak kita kesana,"kata Widuri.


"Kenapa kalian masih disini ayo kita semua harus mencari tempat yang aman"ucap pak Yanto.


Pov.Nanda


Seminggu berlalu sejak pesta ulang tahunku, tetapi aku belum mendapatkan kabar tentang keberadaan Aya, menurut Toni Aya berhenti dari mengajar dan bergabung ke dalam Indonesia mengajar untuk menjadi guru di pedalaman. Aku bertanya kepada Daffa dia juga tidak tahu ,bahkan dia tahu kakaknya pergi ke mengikuti program Indonesia mengajar juga dariku. sikap pak Rahmat biasa saja tidak ada perubahan, hanya sikap ibu yang menjauh biasanya jika aku datang dia akan menyapaku, tapi ini Ibu tidak pernah kelihatan setiap aku datang mau bertanya kepada


karena pikiranku sudah buntu dan tidak dapat berpikir, ahkirnya aku minta solusi pada ayah, sebagai sesama lelaki mungkin ayah lebih paham apa yang aku rasakan.


"Jadi Aya melihatmu sedang berciuman dengan wanita lain , dengan kata lain kamu ketahuan selingkuh "ucap ayah sambil terkekeh.


"Aku ceritakan semua ke ayah buat mendapatkan solusi terbaik bukan dijadikan bahan tertawaan"kesal ku.


"Kamu sudah bertanya dengan orang tuanya di mana dia?"tanya ayah.


"Aku sudah bertanya sama Dafa ,tapi Dafa malah baru tahu kakaknya pergi mengikuti program Indonesia mengajar dari aku. Sedang buat bertanya sama pak Rahmat jujur aku tak ada keberanian yah, apalagi setiap kali aku kesana ibunya Aya yang biasanya welcome banget ini malah gak pernah kelihatan "keluhku.


"Disini kamu yang salah misi utama harus minta maaf,tapi kesibukan mu pasti jadi kendala karena itu sebaiknya kamu fokus untuk menyelesaikan studimu dulu itu yang utama , mencari Aya itu yang kedua jadi kamu mencari sambil selesaikan pendidikan spesialis mu!" ucap ayah.


"Kenapa ayah tidak membantuku saja sih pakai koneksi ayah ?" tanya Nanda.


"Dulu waktu Bunda mu pergi 2 kali ayah menugu Bunda mu, sekarang giliran kamu merasakannya biar kamu bisa lebih menghargai pentingnya Aya buat dirimu dan sekaligus memastikan perasaanmu yang mudah tergoda,"ucap ayah.


"Apa aku minta tolong bunda aja ya?" kataku malah membuat ayah ketawa.


"Jangan harap Bundamu akan membantu mu, jika dia tahu penyebabnya karena kesalahannya terletak padamu" ucap ayah.


Kepergian Aya dan ketidaktahuanku keberadaannya memicu ku untuk belajar lebih giat, supaya segera menyelesaikan studiku.


"Selamat sekarang sudah jadi dokter spesialis bedah, ayah bangga padamu" ucap ayah saat kami makan malam bersama.


"Kenapa kayanya kurang senang ?" tanya Risa.


"Dia masih galau belum bisa menemukan Aya" ucap ayah sambil tertawa mengejek.


"Sudah 10 bulan Lo belum bisa menemukannya "ucap Risa, " Lo tau sendiri kesibukan gw, tidur aja harus mencuri-curi waktu "kesal ku.


"Baru 10 bulan tanya ayah mu, berapa lama menunggu bunda " ucap bunda yang baru datang dengan membawa camilan buah buat kami.


" Kamu ikut jadi relawan ke Papua gak?" tanya ayah mengalihkan pembicaraan. " Iya besok berangkat, mungkin disana 2 Minggu" ucapku lesu.


"Kalau mau membantu orang harus ikhlas dan penuh semangat," ucap Bunda.


"Gimana ga lemes aku menunggu 10 bulan untuk menyelesaikan ini, berharap segera bisa mencari di mana Aya"ucap ku.


"Yang ikhlas kak kasihan para korban banjir di sana, sudah 1hari lebih air nya belum turun-turun "ucap ayah.


"Yang terparah di distrik mana?" tanya Bunda. " Permukiman di tiga distrik di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, yaitu Raisiei, Wondiboi, dan Wasior menurut laporan disana"ucap ku.