
Hari itu setelah dari rumah Ilham kami nongkrong bareng di cafe milik istrinya Danu, dari sana aku banyak tahu tentang Nanda yang sekarang.
"Mas balik yuk " ucapku pada Nanda yang sedang memakai sepatunya, setelah melakukan sholat Ashar di masjid pinggir jalan.
"Tar dulu mas lapar kita cari makan dulu"ucapnya ,"Tu ada rumah makan Padang disana aja gak usah jauh-jauh "ucapku.
"Ok, baru kamu satu-satunya cewek yang mengajakku makan di rumah makan Padang" ucap Nanda.
"Emang biasanya di ajak makan kemana?"tanya ku.
"Kalau nggak ke restoran, ke mall ya tempat makan yang berkelas lah" ucapnya.
" Daripada duitnya buat makan di sana, rasanya juga sama aja lebih baik uangnya kasih ke aku bisa kau gunakan buat yang lain" ucapku yang di sambut tawa Nanda.
"Justru para cewek-cewek itu minta makan di Mall sekalian shopping"ucap Nanda.
"Wah enak dong aku mau juga,gimana rasanya jadi cewek matre " ucapku. "Ayo boleh mau makan sekalian di mall juga ga apa-apa " ucap Nanda.
"Gak mau mending buruan makan terus pulang "ucapku sambil masuk rumah makan Padang.
"Apa-apaan ini?" tanyaku saat ada notifikasi M Banking masuk ke rekeningku, yang jumlahnya sama dengan sebulan dari gajiku menjadi guru SMA.
"Buat kamu shopping "ucapnya.
"Aseek oke akan aku habiskan uangnya ,yang sering-seringlah biar kamu bosan dan tahu kalau aku itu sama matrenya dengan mantan tunangan mu yang dulu," ucapku sambil terkekeh.
"Kenapa melihatku terus?"tanyaku, " Siapa yang cerita ke kamu tentang mantan tunangan aku dan tegaskan Kamu bukan tipe wanita yang suka shopping jadi kamu gak akan bisa menghabiskan uangku."ucap Nanda.
"Sekarang jawab pertanyaan Mas Siapa yang memberitahumu tentang mantan tunangan ku?"tanya Nanda.
"Aku pernah melihat sekilas dia di rumah Mas, waktu itu kata Vina dia sedang merayu Tante Anin supaya mengizinkannya dia dan mas baikan" ucapku.
"berarti kalian belum mau bertemu?" tanya Nanda.
" Iya belum lah Mas aku kan bilang melihat sekilas, jadi aku yang melihat dan dia tidak melihatku "Ucapku.
Kami makan dengan tenang tanpa ada obrolan hanya sesekali bunyi ponsel kami yang terdengar.
"Allhamdullilah ayo pulang mau sampai kapan duduk di sini,"ucapku.
"Sampai kapanpun mas ga masalah selama di temani kamu,"ucap mas Nanda.
"Gombalan maut mu gak mempan buatku, aku yang sekarang gak mempan dengan gombalan recehan kaya gitu "ucapku kesel sambil berjalan keluar di ikuti Nanda.
"Terus kalau tidak mempan dengan gombalan recehan, berati mempan dong sama gombalan dolar"ucapnya sambil terkekeh dan menarik tanganku untuk di genggamannya saat kami hendak menyebrang, karena mobilnya masih berada di parkiran masjid.
"Biar keliatan romantis di lihat " ucapnya. " Buat apa romantis cuma di depan orang doang, romantis itu apa adanya tanpa di buat-buat, karena yang di buat-buat itu tidak alami dan yang tidak alami itu akan cepat pudar "Ucapku bukan menjawabnya Nanda hanya tertawa sambil mengacak-acak rambutku.
"Bagaimana rasanya tangan mu aku pegang masih merasa tidak nyaman, "ucapnya saat membukakan mobil untukku.
Iya aku tidak merasakan apa-apa tidak ada bayangan yang muncul kataku dalam hati. "Itu awal yang baik kita akan mulai pelan-pelan untuk menghilangkan bayangan itu, maafkan mas ya" ucap Nanda sambil mengacak-acak rambutku sebelum menutup pintu mobil dan berjalan ke bangku kemudi.
Deg deg bunyi jantungku yang berdetak kencang tapi tidak di sertai keringat dingin dan bayangan itu.
"Setelah kamu pergi dari mengunjungi mas di rumah sakit,mas bertekad untuk menghapus kenanga buruk mu terhadap mas belasan tahun yang lalu, mas juga ingin membuatmu percaya cinta itu ada cinta dan memberikan kebahagiaan. Tapi ayah meminta mas supaya Mas memastikan dulu perasaan mas padamu, jangan sampai mas salah mengambil langkah dan berujung menyakiti mu lagi"ucap Nanda, sambil mengemudi dengan sesekali melirik ke arahku.
"Karena itu selama sebulan ini Mas berusaha keras untuk tidak menghubungimu atau menemuimu secara langsung. Mas ingin memastikannya jika yang mas alami hanya perasaan bersalah maka solusinya mas akan minta bantuan Bunda, tapi jika bukan hanya perasaan bersalah tapi juga perasaan lebih terhadapmu ,yang sudah mulai tumbuh maka mas sendiri yang akan berusaha untuk menggantikan memori buruk itu. Mas tahu tidak akan dapat menghapus memori buruk yang sudah terekam dalam ingatanmu, karena itu emas yang akan mengganti memori buruk itu dengan memori Indah yang akan kita lalui bersama" ucapnya.
"Mas yakin aku masih mau dekat dengan mas setelah apa yang terjadi denganku?"tanyaku. "Mas tidak yakin tetapi mas akan berusaha 'Results Will Not Betrayed Efforts"ucapnya.
(Hasil Tidak Akan Mengkhianati Usaha).
Selama perjalanan aku hanya mendengar semuanya tanpa menjawab atau merespon, sampai kami tidak di rumahku.
Kali apa yang dikatakan Nanda benar adanya, hampir setiap hari aku melihatnya dan berinteraksi dengannya entah itu pagi hari dia ke rumah atau malam hari pulang kerja pasti kerumah. Bahkan dia tidak hanya menjalin kedekatan denganku tetapi juga dengan ayah dan ibu beserta tetanggaku dan itu sukses membuatku menjadi bahan gosip ibu-ibu.
"Aya tidak mau kalah sama Widya, kalau Widya dapatnya dokter Aya dapatnya polisi" ucap Bu Fia. Aku yang sedang duduk di balkon kamarku yang berada di atas, membuat ibu-ibu yang sedang bergosip tidak mengetahui keberadaanku. Apa jadinya jika mereka tahu kalau Nanda seorang dokter polisi bisa tambah heboh,iya kalau kami berjodoh kalau tidak bisa semakin gencar mereka menggosip kataku dalam hati.
"Tapi sepertinya bukan sembarang polisi buktinya mobilnya bagus gitu, Widya aja yang calonnya dokter mobilnya Pajero"ucap Bu Arimbi.
"Bukanya Widya terancam gagal?" ucap Bu Fia."Iya aku dengar karena mantan istri calonnya, yang masih mengejar-ngejarnya mantan suaminya" ucap Bu Eko.
"Tapi sepertinya bukan deh aku gak sengaja pernah dengar pas lagi lewat malam-malam, mereka belum cerai secara negara jadi baru talak aja "ucap Bu Arimbi.
"Orang yang otaknya kosong paling banyak bicaranya,makanya selalu sibuk mencari aib orang lain", ucapku sedikit keras sambil pura-pura bertelpon membelakangi mereka yang berada di bawah ,jadi terkesan aku tidak tahu keberadaan mereka.
Dalam hitungan detik ibu-ibu yang sedang ngumpul di bawah menugu pedagang sayur keliling langsung pindah tempat, "Dasar-dasar mak-mak julid kenapa sibuk sekali mencari kebobrokan orang lain, tetapi tidak pada intropeksi diri masing-masing".
"Siapa kak,kakak bicara sama siapa ?" tanya ibu yang sudah berdiri di pintu kamarku.
"Ibu-ibu yang yang sedang nugu pedagang sayur dibawa Bu,lagi ngomongin aku dan Widya "ucapku kesel.
"Ibu kadang suka mendengarkan gosip, ibu kagum bagaimana orang-orang bisa tahu hal-hal yang tak kita ketahui tentang diri kita sendiri."ucap ibu sambil tersenyum.
"Jadikanlah omongan mereka sebagai tolak ukur diri kita sendiri untuk merubah diri kita menjadi lebih baik" ucap ibu yang melihatku hanya diam.
"Jadi ibu tidak marah mereka ngomongin ibu?"tanyaku. "Buat apa marah tidak ada gunanya,kalau kita terbawa emosi mereka jadi punya tambahan bahan obrolan tentang kita dong." ucap ibu sebelum melangkah meninggalkan kamarku.