
Dengan mata masih mengantuk aku diseret Daffa untuk mengikutinya joging di area Monas.
" Kenapa meski jauh-jauh ke Monas sih kalau cuma jogging aja" ucapku kesel.
"Aku mau mengenalkan mu sama dosenku yang aku bilang masih muda " ucapnya.
" Sialan Lo ya gw bukan perawan tua yang kebelet kawin ya" ucapku sambil memukul lengannya.
"Bu Aya" suara teriakan anak kecil menghentikan aksiku memukul Dafa.
"Eh Vina " ucapku kaget saat menemukan Vina bersama papanya dan seorang wanita seksi.
"Bu guru joging juga?" tanyanya.
" Iya menemani adik bu guru" ucapku.
" Udah gede kok minta ditemani" ucap Vina.
" Seperti Vina adik tante juga harus ditemenin biar tidak hilang" ucapku , yang disambut tawa oleh Papa Vina dan teman perempuannya.
" Ayo dosenku sudah nunggu ni" ucap Daffa kesel.
" Pak saya boleh pinjam Vina?" tanyaku.
"Gak usah aneh-aneh deh"ucap Daffa.
"Iya bawa aja" kata papa Vina, membuat Daffa mendengus tak suka.
Ahkirnya aku bawa Vina untuk bertemu dosen Daffa setelah berkenalan sebentar,aku pamit pergi membeli air minum bukannya minum kami juga membeli bubur ayam.
"Eh papa sini " teriak Vina sambil tangannya melambai ke arah papanya.
" Kalian dari tadi di sini?" tanya papa Vina.
"Tau gak Bu guru kaya papa"ucapnya, membuatku dan papanya saling memandang tak paham maksudnya.
"Tadi bu guru sama Om Daffa dikenalkan sama laki-laki, seperti waktu papa dikenalkan wanita sama nenek" ucapnya, membuatku tersenyum kaku.
"Wow Bu guru jadi di jodohkan sama dosen adiknya" ucap papa vina.
"Hehe gimana ya pak, bukan sih cuma adik saya orangnya emang iseng " ucapku tak nyaman.
"Sekarang adik bu guru di mana?" tanya papa Vina.
"Lagi sama dosennya sepertinya lagi membahas tentang kegiatan kemahasiswaan"ucapku.
" Bagaimana kalau pulangnya saya antar, boleh ?" tanyanya.
" Ayo bu guru aku antar"ucap Vina.
"Gimana ya,sebentar saya hubungi adik saya" ucapku. Setelah menghubungi Daffa dan ternyata dia masih lama dengan, akhirnya ku terima tawaran papa Vina untuk mengantarku pulang.
Selama di perjalanan hanya aku dan Vina yang mengobrol membahas tentang pelajaran dan kegiatan ekskul Vina sampai mobil berhenti di depan rumahku.
" Terima kasih atas tumpangannya pak"ucapku.
"Jangan sungkan Bu saya senang membantu "ucap papa Vina.
" Kakak kok udah pulang bukannya tadi berangkatnya bersama Daffa, ini siapa" tanya ibu.
" Say Khalid Papa Vina salah satu muridnya Bu Aya bu"ucap papa Vina yang keluar dari mobil saat melihat ibu menghampiriku.
"Terima kasih ya nak putri saya sudah diantarkan sampai rumah" ucap ibu.
"Ini Vina putri saya" ucap papa Vina mengenalkan Vina pada ibu.
"Halo cantik "ucap ibu.
"Haloo Nenek"ucap Vina.
"Kalau begitu kami pamit"ucap papa Vina.
"Tidak mampir dulu "tanya ibu.
"Terima kasih Bu lain kali saja"ucapnya.
"Itu istrinya kok gak diajak "tanya Ibu sambil berjalan mengikutiku.
"Duda " jawabku kesal.
"Nggak usah berpikir aneh-aneh Bu" ucapku pada ibu yang hanya merespon dengan menganggukkan kepala. Dengan kesal aku berjala meninggalkan ibu dan masuk kamar. Hari berputar begitu cepat seminggu lagi aku genap sebulan mengajar privat Vina, membuatku semakin optimis bakal memenangkan taruhanku kali ini dengan Riri.
"Iya tinggal seminggu lagi" ucapku bangga.
"Iya seminggu lagi gw beliin,Lo pilih sendiri snekers yang Lo mau"ucapnya.
"Gw pergi dulu ada janji sama orang " ucapku sebelum pergi, karena hari ini Jumat otomatis aku tidak ngajar Vina jadi aku gunakan kesempatan kali ini untuk bertemu dengan Mas Nando untuk menyelesaikan tugasku. Aku berharap setelah ini tidak akan ada masalah lagi dengan website yang ku buat.
"Maaf mas lama" ucapnya yang baru datang.
"Ko mas pake seragam polisi,bukanya mas dokter ya?"tanyaku.
"Profesi mas dua-duanya "ucapnya bangga.
"Kalau begitu mari kita bahas pekerjaan biar cepat selesai "ucapku.
"Kenapa sih buru-buru mas baru nyampe mau minum sama makan dulu,lagian kenapa sih kamu kayaknya benci sama mas mas salah apa sama kamu " ucapnya.
" Kalau Mas merasa tidak punya salah Ya udah cuek aja, lagian aku gak mau dekat-dekat mas karena mas udah punya hati yang harus mas jaga" ucapku.
"Mas sudah putus jadi tidak ada hati yang perlu mas jaga jadi Jangan berpikir macam-macam" ucapnya sambil menatap tajam padaku.
" Sekarang Mas bertanya sama kamu kenapa dulu kamu pergi tanpa berpamitan sama mas, padahal Daffa dan Daffin berpamitan sama mas" ucapnya.
" Karena saat itu aku benci sama mas. Jadi sekarang Mas udah tahu kan kenapa aku pergi tanpa pamit mari kita selesaikan pekerjaan kita " ucapku sambil membuka laptopku, tanpa menunggu protesnya aku langsung melaksanakan tugasku.
" Mas antar pulang "ucapnya, setelah pekerjaan Kami selesai.
" Aku sudah pesen taxi" ucapku, aku menyesal kenapa hari ini tidak membawa kendaraan sendiri jadi ribet cari alasan kayak gini kan keluh ku dalam hati.
" Dari pertama kamu duduk sampai selesai hampir 2 jam kamu tidak memegang ponsel, jadi sangat mustahil kalau kamu sudah memesan taksi online. Mas tidak menerima bantahan atau penolakan sekarang mas antar kerumah mu" ucapnya sambil menarik tanganku, membuat jantungku berdebar kencang dan aku juga merasakan takut, cemas dan panik saat mas Nanda menarik tanganku.
"Kamu dulu sangat suka Mas kenapa tiba-tiba kamu benci Mas?"tanyanya saat kami dalam perjalanan pulang,dan aku sedang mengatur perasaanku.
"Waktu aku bilang suka sama mas, mas bilang iya ternyata mas bohong , mas hanya kasihan padaku. Mas hanya tidak enak kepada ayah, mas mengagap aku anak kecil. Aku tidak suka dibohongin seharusnya mas bilang kalau tidak suka padaku dan hanya menganggap ku sebagai adik bukan malah menerimaku" ucapku melampiaskan emosiku.
" Kalau begitu Mas minta maaf Mas hanya tidak mau menyakitimu"ucapnya.
" Aku sudah maafin jadi aku mohon mulai sekarang kita akhiri semua ini, aku tidak mau berurusan sama mas" ucapku saat mobil berhenti di lampu merah aku langsung keluar dari mobil tanpa berpamitan.
Saat itu aku pulang sekolah karena tidak ada jadwal bimbel aku bisa pulang lebih cepat dari biasanya, aku sengaja mampir ke kosan kak Nanda karena ingin menyampaikan kalau bulan depan aku dan keluargaku akan pindah karena papa pindah tempat mengajar . Saat aku lihat pintu kamar terbuka kecil aku sengaja jalan mengendap-endap supaya bisa membuat kejutan Mas Nanda.
Tapi aku malah melihat mas Nanda sedang duduk di ranjangnya dengan memangku cewek, yang membuat ku terkejut mas Nanda menyusu dengan wanita itu dan wanita itu tersenyum miring padaku. Entah mengapa aku merasa jijik melihat mas Nanda sejak hari itu. keesokan harinya cewek itu menemuiku dijalan saat aku pulang sekolah.
"Anak kecil sekarang kamu sadarkan posisimu di mata Nanda kamu itu hanya anak dari guru favoritnya, jika kemarin dia menerima karena dia kasihan kepadamu" ucapnya.
Karena masih penasaran dengan apa yang di bilang teman wanita kak Nanda, keesokan harinya aku mampir ke kosan kak Nanda. Aku melihat di kamar itu kak Nanda bersama beberapa temannya sedang memegang minum aku tidak tahu minuman apa itu tapi baunya menyengat," kak bisa bicara sebentar " ucapku. Kak Nanda berjalan menghampiri ku dengan sempoyongan dan mata memerah membuatku takut tapi aku juga tidak bisa mundur,"apa benar kakak menganggap ku anak kecil"tanyaku.
"Kamu memang masih kecilkan,kamu mau aku tidak menganggap mu anak kecil"ucapnya sambil tersenyum aneh,lalu dengan tiba-tiba kak Nanda meremas buah dadaku secara kasar. Aku yang ketakutan langsung berteriak tapi kak Nanda malah mendekapku tubuh ku hingga aku tak bisa bergerak, karena jalan kakak Nanda yang sempoyongan membuatnya terjatuh dan aku langsung memukul kak Nanda dengan tasku dan langsung lari begitu dekapannya terlepas. Saat aku pulang ku lihat ayah berkemas mau berangkat ke Tangerang hari itu naik bus ,untuk mengurus tempat tinggal kami di tempat baru jadi aku putuskan hari itu ikut ayah, karena saat itu aku hanya tinggal menunggu pengambilan ijazah makanya ayah mengijinkan aku ikut, sejak hari itu aku tidak pernah ketemu mas Nanda.
Mood ku hancur gara-gara mengingat kejadian masa lalu dan masih ditambah esok harinya ibu-ibu komplek bergosip membandingkan aku dengan Widya, " sudah gak usah dipikirin omongan mereka " ucap ibu.
"Pernikahan itu bukan perlombaan siapa yang cepat dia yang terhebat, mencari jodoh itu seperti mencari rezeki tidak bisa kita kerja tapi kita harus berusaha mencari" ucap ibu.
"Maksudnya gimana Bu ?" tanyaku.
" Begini kalau kita tidak bekerja kita tidak akan dapat duit, tetapi meskipun begitu kita tidak akan bisa menentukan berapa yang kita dapat karena itu sudah digariskan sama Allah"ucap ibu.
"Jadi maksud ibu jodoh kita tidak akan datang kalau kita cuma pasrah seperti halnya rejeki tidak akan kita dapatkan kalau kita tidak bekerja. Meskipun kita sama-sama kerja tapi tiap orang pendapatannya tidak sama, seperti halnya jodoh meskipun kita kejar kalau belum jodoh ya pasti lepas" ucapku.
"Ya itu kakak tahu mungkin Widya dari segi usia lebih muda dari kakak tapi kalau jodohnya sudah datang ya itu rejekinya dia, jadi kakak tidak perlu berkecil hati "ucap ibu.
"Bu Aya ini ada oleh-oleh buat ibu dari papa kemarin papa habis dari Singapura" ucap Vina, menemuiku di tempat bimbel.
"Ko di bawa kesini kan nanti bisa di kasih di rumah aja " ucapku.
"Di rumah cuma ada bibi, kakek nenek ke perkebunan opa buyut sakit jadi kita belajar disini aja"ucapnya.
"Oke mau belajar di mana ?" tanyaku.
"Di tempat ibu saja sebentar aku ambil tas"ucap Vina lalu berlari untuk mengambil tasnya.
" Semakin akrab saja kamu seperti ibu dan anak "ucap Riri.
"Siapkan duit mu 3x pertemuan lagi pas sebulan "ucapku yang disambut dengusan oleh Riri.
"Ayo Bu aku dah siap "ucap Vina yang baru datang.
"Vina om pergi dulu nanti kamu pulang sama Tante Risa "ucap seseorang lelaki yang baru datang, membuatku langsung lemas. Jadi yang di bilang Om nya yang tunangannya selingkuh adalah Nanda, pantas kemarin pas ketemu bilangnya sudah putus sama tunangannya. Tidak hanya aku yang terkejut sepertinya Nanda juga terkejut dengan apa yang terjadi, jadi selama ini yang ku datangi rumah Nanda mereka Keluarga mas Nanda, sepertinya aku menyerah aku tidak mau bonus dari mbak Risa, aku juga tidak mau sneakers Nike lagi ucapku dalam hati.