One Love, One Heart

One Love, One Heart
53. Tespack



"Mana surat-surat apartemen?" tanya Nanda yang sudah rapi dengan seragamnya, sedang aku masih bergelut dengan selimut. "Ambil sendiri di laci paling bawah kepalaku pusing,mau bangun " ucapku.


"Alasan,kamu itu bilang aja ngantuk "ucap Nanda,sehabis sholat subuh Nanda joging pagi dengan Daffa sedang aku tidur lagi.


"Mas berangkat duluan,"ucapnya sambil mengecup kening sebelum keluar dari kamar kami.


Kalau Nanda turun dan sarapan sendiri lagi kaya kemarin,bisa kena marah ibu lagi aku, kataku dalam hati sebelum loncat dari tempat tidur dan turun untuk menyusul Nanda yang mungkin lagi sarapan pagi bersama yang lainnya.


"Mana Aya?" tanya ayah, aku yang hendak turun mendengar ayah menyebut namaku ku hentikan langkah berniat untuk menguping pembicaraan mereka.


"Masih tidur katanya pusing,yah" ucap Nanda. "Dasar anak nakal, alasan aja maafkan anak ayah ya"ucap ayah.


"Ibu ko ngerasa Aya hamil coba kamu rayu buat cek dokter!" ucap ibu. "Aya tidak hamil ibu, seminggu yang lalu baru datang bulan, meskipun tidak sebanyak biasanya cuma sedikit bercak darah yang keluar dan cuma beberapa hari saja "ucapku sambil berjalan ke depan televisi dan langsung tiduran di sofa.


"Kenapa ibu bisa berpikir Aya hamil?"tanya ayah, yang suara obrolannya masih terdengar meski sayup-sayup. "Siang-siang nyari rujak hanya karena pingin makan yang asem manis dan pedas, Aya itu tidak suka buah asam. yang kedua sudah seminggu ini setiap selesai sholat subuh pasti tidur, dengan alasan pusing jika dia bilang ngantuk dia akan tidur pulas. ketiga sudah seminggu dia tidak makan nasi putih , waktu ibu tanya kenapa gak makan nasi jawabnya apa Nasik enek."


"Persis waktu ibu hamil si kembar " ucap ayah memotong ucapan ibu. "Betul yah, dan akan mual-mual dan muntah jika mencium bau obat-obatan "ucap ibu.


"Kalau dia tidak mau ke rumah sakit bagaimana ?"tanya ayah, "Kaya gak pernah punya anak aja kamu yah, kan ada tespek" ucap ibu, tetapi habis itu aku sudah tidak bisa mendengarkan obrolan mereka, karena mata keburu mengantuk.


"Sudah siang dek bangun mandi"ucap ibu menepuk-nepuk pipiku. "Jam berapa bu ?" tanyaku.


"Jam 9, pagi menjelang siang,"jawab ibu. " Ko ibu ada dirumah tidak mengajar ?"tanyaku balik.


"Ibu tadi ijin sebentar ke ingat kamu yang ibu tinggal masih tidur " ucap ibu. "Aku ko g kerasa ya, perasaan baru tidur" ucapku.


"Sana mandi terus makan , sebentar lagi ibu mertua mu mau menjemput mu" ucap ibu. "Ngapain kesini, jangan bilang mau ngajak aku ke rumah sakit aku gak mau " sewot ku.


"Ibu gak tahu,tapi sebaiknya mandi dulu kamu,ibu harus segera kembali ke sekolahan" ucap ibu sambil berjalan keluar. Dengan malas aku naik ke kamarku Setelah mandi dan bersiap-siap,bunda datang padahal aku belum sempat mengisi perutku.


"Bunda mau mengajakku ke mana?"tanyaku. "Jalan-jalan, hari ini bunda tida ada praktek jadi mau ngajak jalan-jalan kita bisa sepuasnya shopping atau ke salon spa"ucap bunda. "Ke salon spa, tapi makan dulu aku lapar" ucapku yang langsung di turuti oleh mertuaku.


Setelah kami makan sesuai request aku,kami menghabiskan waktu berada di salon kecantikan.


"Kata Nanda ,Aya menolak diajak kontrol ke rumah sakit, bahkan kontrol yang terakhir obatnya tidak diminum sama sekali?"tanya bunda, saat kami menikmati pijatan badan sambil di balur dulur di sekujur tubuh.


"Iya, Aya enek dan mual saat melihat obat-obatan. Aya itu merasa seperti seorang penyakitan yang harus kontrol tiap waktu ke rumah sakit ,minum obat sehari tiga , belum melakukan terapi ini terapi itu"keluhku.


"Padahal aku kan cuma hilang ingatan bukan orang sakit, sampai aku bosan datang ke rumah sakit"Ucapku dan bunda masih jadi pendengar yang baik untukku. " Apa Bunda tahu setiap kali Mas Nanda membahas obat ,rumah sakit rasanya emosiku selalu naik dan tidak terkontrol, terkadang sampai pingin nangis aku Bun,"


" ya udah nanti bunda akan bilang Nanda, kalau ayah tidak akan terapi dan minum obat lagi biar Aya tidak tertekan " ucap bunda." Bener lo ya Bun, aku nggak mau lagi ke rumah sakit ,terapi dan minum obat"ucapku.


"Iya, tetapi kalau ada apa-apa yang di rasakan tubuh Aya jangan di simpan sendiri, langsung bilang ke ibu,bunda,mas Nanda atau siapapun keluarga kita. Biar kami bisa mencari solusi yang terbaik, tanpa harus nunggu kamu tumbang "ucap bunda," Siap bunn" ucapku , seneng.


Bunda langsung mengagukkan kepalanya.


"Bunda sedang perawatan juga"sapa seorang wanita cantik menghampiri bunda yang sedang di kasir.


"Iya,ni udah selesai tapi. Putri baru datang apa udahan?"tanyanya. "Udah ini mau pulang "jawab bunda. "Kata beberapa rekan kerja Nanda sudah menikah ya bun?"tanyanya. "Allhamdullilah, sudah hampir 3 bulan."


"Ko aku tidak di undang sih,terus istri Nanda kerja di mana dokter juga?"tanyanya,oo dia dokter mantan Nanda.


"Perkenalkan saya Daffania, istri sah mas Nanda" ucapku langsung berdiri di samping bunda.


"Jadi kamu istri Nanda, bukannya kamu hanya guru les Vina ya?"ucapnya. "Emang ada masalah dengan profesi saya,"


"Tidak sih,tapi kurang berkelas hanya seorang guru bimbel !" ucapnya. "O,ya tapi guru bimbel ini yang bisa geser posisi anda lo. Berarti hebat dong saya bisa mengalahkan anda"ucapku dengan senyum kemenangan.


"Kau"geramnya."Kami duluan ya put,ayo sayang " ucap bunda sambil menarikku menjauh.


"Mantan mas Nanda bun?" tanyaku,"Ya begitulah. Ga usah dibahas itu masa lalu yang penting sekarang Nanda menjadi suamimu " ucap bunda.


"Bu Aya,lama ga jumpa "sapa Vina padaku."Sendiri mana mama?"tanyaku.


"Mama lagi bikin nasi goreng "ucapnya bertepatan dengan mama Vina yang keluar dengan sepiring nasi goreng.


"Aya mau ?" tanyanya."Nggak mbak, makasih. Aku udah bawa ni"ucapku sambil menujukkan bungkusan yang kubawa. "Apa itu ?" tanyanya.


"Rujak buah,ayok kalau mau ". kami menikmati rujak buah di kursi santai dekat kolam renang "Kayaknya kamu hamil deh" ucapnya.


"Gak mau Aya hamil , seminggu yang lalu baru datang bulan, meskipun tidak sebanyak biasanya cuma sedikit bercak darah yang keluar dan cuma beberapa hari saja"sangkal ku.


"Coba aja periksa, pakai tespek "ucapnya. "Sebenarnya ibu di rumah juga bilang begitu,tapi aku takut"ucapku."Takut kenapa ?"


"Aku hilang ingatan,aku takut hubunganku dengan mas Nanda tidak selayaknya suami istri,"


"Maksudnya kamu, rumah tangga kalian lagi ada masalah begitu. Ko kamu bisa berpikir begitu ?"tanyanya.


"Waktu aku pertama menginap di sini tidak ada baju ganti ku di kamar suamiku, meski sudah bilang alasannya, tapi jujur aku gak percaya. Apalagi aku punya bayangan sama sekali. Aku baca diary ku yang kutemukan di kamarku, disana tertulis bahwa aku tidak tertarik untuk berumah tangga"ucapku lirih.


"Kamu tahu bagaimana pernikahan mbak dan papa Vina,kami di grebek warga di kira mesum di pinggir jalan. Selama setahun pernikahan mbak tidak ada cinta hanya Vina yang menjembatani kami, padahal kamu tahu sendiri Vina bukan darah dagingku. Sekarang Allhamdullilah kami bisa menjalani semua ini".


"Jadi mbak bukan mama kandung Vina?"tanyaku.


"Ya ampun Mbak lupa kalau kamu Amnesia"ucapnya sambil tertawa.