
Selama di rawat di rumah sakit aku menolak keras kunjungan Nanda, Meskipun aku sering melihat Nanda suka mengintip atau sekedar menghampiriku di kala aku sudah terlelap tidur. "Karena saat melihatmu emosi ku naik dan aku mual" ucapku sambil menangis.
"Ada apa Nanda?"tanya bunda. "Aya mau tidur di kamar tamu"ucap Nanda.
"Kenapa sayang ?"tanyanya, " Sejak pulang dari rumah sakit,setiap melihatnya emosiku naik dan bawaannya mual bunda " Ucapku yang membuat ayah tertawa kecil di belakang bunda. "Nanda kamu mengalah kamu yang di kamar tamu apa istrimu!" ucap bunda.
"Aku aja, yang di kamar tamu"ucap Nanda sambil berjalan ke kamar tamu.
Kami tidur terpisah bahkan kontrol kandungan aku memilih di temani bunda kalau ga ibu.
"Hari ini kontrol jangan lupa" ucap Nanda."Iya habis dari acara Bayangkari aku akan kesana di temani ibu," ucapku membuat Nanda menghela nafasnya.
"Kapan kamu mau mas anter buat periksa kehamilan?" tanya Nanda. "Tanya saja pada anakmu yang tidak mau berdekatan denganmu bukan aku tapi,anakmu"jawabku sambil menikmati steak yang di buat Nanda."Haha terima nasib saja"ucap mas Khalid yang kebetulan ada di rumah bunda, karena istrinya lagi kerumah orang tuanya. "Syukur,lagian nyari penyakit sendiri udah tau istri emosinya lagi tidak stabil, jalan sama cewek ya syukurrin " ucap Risa.
"Kamu nyuruh aku bertanya pada anakku berati aku boleh berdekatan denganmu?" ucap Nanda. "Modus"ucap Mas Khalid dan Risa barengan sambil tertawa.
"Mbak ada kerjaan gak,aku bosen dirumah "Ucapku pada Risa." Gak usah aneh-aneh, kamu masih sering mengalami pusing Ya" ucap Nanda sambil menatap tajam kearah ku.
"Di bimbel ada 3 komputer buat anak-anak rusak,mau betulin gak ?"tanya Risa. "Mau-mau aku mau," ucapku membuat Nanda menghela nafas panjang.
"Biarkan saja biar istrimu ada kegiatan,biar tidak bosan "ucap bunda yang dari tadi hanya diam.
"Hari ini aku jadwal periksa kehamilan dan ada kegiatan Bayangkari besok aja, mbak ?" ucapku.
"Sebisanya kamu aja "ucap mbak Risa. Setelah selesai sarapan aku dia antar mas Nanda ke tempat kegiatan Bayangkari di lakukan.
"Aya usia kehamilannya berapa bulan ya, ko sepertinya sudah mulai kelihatan ?" ucap Nadia istri AKBP Ilham. "Menginjak 14Minggu "jawabku.
"Tapi sudah kelihatan , seperti hamil 20 Minggu lebih,Lo bu"ucap Bu Arul sinis.
"Hehe maklum Bu , kembar "ucapku membuat Bu Arul melotot tak percaya. "Wah selamat ya"ucap Nadia tulus berbeda dengan Bu Arul.
"Jangan di hiraukan Bu Arul , maklumi aja dia menikah dari umur 24 tahun sampai sekarang di umur yang menginjak 32 tahun, dia belum di karunai keturunan "bisik Nadia.
"Kasihhan ya"ucapku. "Halah itu karma dia yang tidak suka sama anak kecil, sekarang saat suaminya nuntut keturunan dia yang kelimpungan,"ucap Nadia.
"Kok gitu ?" tanyaku. "Dulu awal nikah dia sengaja KB dengan alasannya belum siap punya anak, saat pernikahan menginjak tahun ke 5 saat dia sudah siap belum di kasih sampai sekarang "ucap Nadia.
Setelah kegiatan aku pulang ke rumah ibu karena sore jadwal kontrol di antar ibu. "Aya kayanya nanti ibu gak bisa antar periksa kehamilan karena ibu ada urusan di sekolahhan, gimana kalau ibu bilang suamimu saja biar dia yang anter "ucap ibu.
"Sama Daffa aja bu"ucapku.
"Kamu masih marah sama suamimu?" tanya ibu.
"Tidak marah, cuma kalau lihat suami emosi mulu"Jawabku yang di ketawain ibu.
Membuatku jadi teringat tiap aku tidur terkadang Nanda selalu menyempatkan mengecek kondisiku. Durhakanya aku karena cemburu buta keluhku dalam hati. " Apa ibu pernah cemburu ?" tanyaku.
"Pernah karena cemburu itu hal yang wajar asalkan tidak berlebihan, karena Cemburu yang berlebihan atau cemburu buta, hanya dengan mengikuti prasangka saja, merupakan cemburu yang tidak wajar dan merupakan cemburu yang dilarang dalam agama. Cemburu buta membuat hubungan dan komunikasi pasangan menjadi tidak sehat dan menjadi buruk sangka yang" ucap ibu membuatku merasa bersalah.
"Dimana saat seseorang memiliki rasa cemburu berlebih kepada pasangannya, maka bukan nikmat atas pahala yang mereka dapatkan. Melainkan justru dosa yang terus tertumbuk dari rasa marah yang mereka tanamkan pada dirinya"sambung ibu.
Jadi selama ini aku melakukan dosa sama suamiku ucapku dalam hati,sorenya sehabis sholat asar aku di antar Daffa untuk kontrol kandungan.
"Kamu langsung pulang aja,tak perlu mengantarkan aku."
"Tapi mbak ibu berpesan untuk menunggu mbak sampai selesai "ucapnya. "Tidak apa-apa, kamu tinggalkan mbak saja,lama antriannya dan yang nuguin ibu-ibu semua gak malu kamu?"ucapanku membuat Daffa ragu dan ahkirnya dia memutuskan untuk meninggalkan aku di rumah sakit sendirian.
Setelah daftar dan dapat no antrian aku tinggal, menuju ke ruang Nanda.
"Dokter Nanda ada di tempat gak sus?" tanyaku pada suster jaga. "Ada Bu,ibu ada perlu apa?" tanyanya, mungkin karena aku tidak pernah datang ke sini jadi perawat tidak tahu aku istirnya Ucapku dalam hati.
"Ini sus ada perlu sebentar dengannya. Bilang aja Daffania ingin bicara " ucapku, sebenarnya aku bisa langsung nyelonong masuk ke dalam ruangan Nanda, tapi ini bukan rumahku jadi tidak sopan.
Saat suster berdiri dan berjalan ke arah ruang Nanda entah kenapa aku mengikutinya, setelah mengetuk pintu dan masuk aku juga ikut masuk nampak ada Widya di dalam ruangan Nanda sedang duduk bersandar pada meja sedangkan Nanda duduk di kursi kerjanya.
"Dok ini mbak Daffania ingin bicara dengan anda"ucap Perawat. "Eh mbak ko ikut masuk " ucap spontan perawat saat melihatku sudah berada di ambang pintu ruangan Nanda.
"Saya gak ada niat masuk ko sus hanya mau ngomong sebentar. Saya kesini menemui dokter karena tahu jadwal dokter kosong dan mau ngajak dokter menemani kontrol, tapi sepertinya dokter sibuk dengan orang yang sama yang saya temui beberapa tahun silam" ucapku lansung pergi.
Jika aku dulu melihat wanita itu dan Nanda berciuman memilih kabur, sekarang aku memilih tidak kabur sebelum mengutarakan tujuanku to mereka hanya ngobrol.
"Dek denger mas,"ucap Nanda mengejarku dan menarikku untuk tidak pergi.
"Widya kamu keluarlah aku mau bicara dengan istriku."
"Jadi anda istri dokter Nanda?"tanya perawat tadi yang kujawab dengan mengagukkan kepalaku.
"Maaf saya tidak tahu," ucapnya penuh sesal,"Tidak apa-apa sus ,itu sudah tugas anda" jawabku sebelum mengarahkan pandanganku pada Nanda dan teman tapi mesranya.
"Lepas tangan gw,gw udah ada janji dengan dokter kandungan "ucapku sambil menghentakkan tangannya.
"Kamu jangan salah paham "ucap Nanda. "Siapa yang salah paham tidak ada, jika aku salah paham aku sudah kabur dari tadi. Aku sudah menyampaikan tujuan aku, sekarang akan pergi poli kandungan sudah di mulai jam prakteknya."
"Aku ikut, bukannya tadi kamu mau mengajakku" ucapnya sambil berjalan menyamai langkahku.
"Terserah kamu "ucapku saat badanku merasa melayang dan berputar, lemas untuk melangkah di barengi dengan menghilangnya suara-suara di sekelilingku sebelah aku tidak sadarkan diri.