One Love, One Heart

One Love, One Heart
34. Bertemu



Sudah dua malam 3 hari aku tinggal di balai Bupati Wondama bersama para pengungsi lainnya,air yang kemarin sempat naik sampai pinggang orang dewasa sekarang sudah mulai berangsur-angsur turun.


"Ternyata begini ya rasanya tinggal di pengungsian "ucap Widuri yang duduk di sampingku.


"Setelah hampir dua minggu tidak melihat bintang dan bulan hari ini kita bisa melihatnya semoga pertanda baik ya"ucapku.


"Semoga besok cuacanya cerah biar lebih gampang kita membersihkan sisa-sisa lumpur yang ada"ucap Widuri .


"Amin "jawab ku."Tadi pagi ada 3 truk besar membawa para relawan dari PMI, TNI dan polri, membantu membersihkan lumpur dan mengobati beberapa pengungsi yang sudah mulai terkena diare dan penyakit kulit" ucap Widuri .


"Bagus deh, kalau mereka membatu membersihkan lumpur berati lebih cepat kita kembali ke rumah bapa dan mace"ucapku.


"Ada gak ya jodoh ku diantara mereka" ucap Widuri membuat ku menahan tawa.


"Kenapa Lo tertawa?"ucap Widuri .


"Lo aneh disaat kaya begini masih kepikiran jodoh"Ucapku.


"Gw jujur padamu gw ikut program Indonesia mengajar karena pingin lari dari situasi yang menyakitkan" ucap Widuri .


"Menyakitkan gimana ?" tanyaku penasaran."Gw punya kekasih kami sudah jalan 3 tahun, semua keluarga intiku sudah tahu. Waktu bapak minta dia untuk melamar ku jika serius dia malah mutusin gw,katanya belum kepikiran buat menikah umur baru 26 tahun kenapa meski buru-buru menikah, "ucap Widuri .


"Terus ?"tanyaku."Ya kami putus,tetapi 3 bulan kami putus dia malah menikah dengan temanku sesama pengajar "ucap Widuri.


"Karena itu Lo memutuskan ikut program Indonesia mengajar ?"tanyaku.


"Iya gw mau menghilangkan bayang-bayang dia"ucapnya.


"Tapi habis dari sini Lo bakal ketemu lagi dengannya?" tanyaku.


"Iya tetapi dengan aku yang baru, bukan Widuri yang dulu tomboi "ucapnya.


"Emang Lo di putuskan gara-gara tomboi ?"tanyaku penasaran.


"Bilangnya begitu aku malu-maluin jika diajak berkumpul dengan teman-temannya"ucap Widuri .


"Pasti Lo sakit hati denger omongannya?"


"Awalnya aku sakit tapi seorang teman berkata padaku 'Seseorang yang tidak mau menerima kekuranganmu apa adanya, bukanlah orang yang tepat untukmu' Sejak saat itu aku yakin dia bukan jodohku "ucap Widuri .


"Yang bilang itu pasti lelaki "ucapku. "Ko kamu tahu?"tanya Widuri .


"Bener yang bilang leleki ?" tanyaku yang di jawab anggukan kepala.


"Gw yakin itu lelaki suka sama kamu "ucapku.


"Jangan gila ga mungkin lah umur kami berbeda tau"ucap Widuri .


"Kenapa lebih tua berapa tahun darimu?" tanyaku.


"Bukan lebih tua ,gw yang lebih tua"ucap Widuri .


"Yang bener brondong dong "ucapku.


"Dia adek kelasku waktu SMA,aku kelas 12 dia kelas 10, seminggu sebelum aku kesini aku bertemu di acara pernikahan teman kuliahku".


"CLBK ya"Ucapku."Bukan tidak ada hubungan spesial diantara kami,aku sering menghukumnya malahan gara-gara sering terlambat datang ke sekolah"ucap Widuri .


"Ko bau rokok ya"ucapku, "Sepertinya itu para relawan yang lagi beristirahat yang merokok "ucap Widuri sambil menunjuk segerombolan lelaki sekitar 10 orang, dari penampilan nya TNI dan polri.


"Pantes ada bau rokok "ucapku.


"Lihat lelaki pakai koas polisi itu,"ucap Widuri sambil menujuk punggung lelaki. "Yang lagi merokok ?"tanyaku. "Iya"jawab nya.


"Kenapa dengan lelaki itu,?"tanyaku. "Dia tadi menggendong seorang Nene berlari dari rumah nene sampai puskesmas,"ucapnya (Nene \= nenek ).


"Kenapa harus digendong, ga bisa jalan ?" tanyaku. "Bukan dia bisa jalan kok,ternyata selama 3 hari banjir si nene tidak mau meninggalkan rumah dan warga yang lain tida ada yang berhasil membujuknya, hebatnya polisi itu bisa membujuknya"ucap Widuri .


"Wajar dong itu tugas dia sebagai aparat melindungi masyarakat " ucapku.


"Menurut cerita orang-orang di puskesmas,si nene mau di evakuasi asal di gendong sama si polisi "ucap Widuri membuatku tertawa.


"Setelah gw perhatiin ternyata si polisi itu wajahnya emang ganteng,kaya opa Korea "ucap Widuri .


"Ada-ada aja Nene sudah tua tapi suka daun muda "ucapku.


"Besok ke sekolahan yuk, bersih-bersih sekolahan!"ucap Widuri .


"Boleh, sekarang tidur udah jam 10 malam "ucapku.


"Anter ke bawah yuk ke toilet gw takut "ucap Widuri .


"Kan banyak orang, kenapa takut" ucapku."Ayolah "ucapnya sambil menarik ku kebawah, sebenarnya aku malas sekali turun ke bawah.


Saat aku melewati segerombol para relawan tadi ,samar-samar aku mendengar ada suara yang sangat familiar.'Ah mungkin halusinasi ' ucapku tanpa melihat sumber suara.


"Aku tunggu sini, gapapa kan" ucapku bersandar di sebuah kayu.


"Iya gw masuk dulu"ucap Widuri.


"Lagi ngapain mbak berdiri sendiri di situ ?" tanya seseorang yang berdiri tidak jauh dariku,aku yang dari tadi melihat kearah ponsel terpaksa melihat kearahnya sebagai bentuk sopan santun setelah disapa.


"Lagi nugu teman yang sedang ke kamar mandi," ucapku tetapi ada yang aneh lelaki itu berbisik dengan temannya setelahnya yang satu langsung berlari seperti ketakutan. 'Dikira gw hantu kali ya aneh ' kataku dalam hati.


"Mbak bisa minta tolong jangan bergerak ya"ucapnya ,dengan berjalan pelan kearah ku seperti mengincar sesuatu.


"Emang ada apa sih mas "ucapku.


"Gw udah selesai ayok,ULAAAR" kata terahkir yang di ucapkan Widuri dengan kencang membuatku refleks mencari keberadaannya, tetapi belum sempat aku menemukannya aku merasakan ada sesuatu yang loncat dan mengigit ke pergelangan tanganku dan saat itu aku baru sadar aku di gigit ular.


"Tenang ada aku" ucap seseorang yang sudah menarik ular dari pergelangan tanganku dan langsung membuka jaketku, saat yang bersamaan aku mulai merasakan nyeri yang hebat di bekas gigitan ular.


"Mas Nanda"Ucapku saat melihat orang yang melepaskan jaketku adalah Nanda, orang yang tidak pernah kulihat selama 10 bulan.


"Jangan bergerak atau menggerakkan anggota tubuh yang lain. Tetap diam dan tenang karena itu bisa mencegah racun di getah bening menyebar lebih jauh" ucapnya sambil melepas jam tanganku dan menyimpan di kantongnya.


"Siapkan mobil "teriak Nanda sambil memberikan tekanan di area lengan yang digigit ular tadi.


"Ini hanya untuk menghentikan pergerakan racun melalui sistem limfatik,jadi kamu harus tetap di bawa kerumah sakit"ucapnya.


"Mobil sudah siap "teriak seseorang, saat aku merasakan sesak nafas, mual dan muntah. "Mas aku pingin muntah "ucapku dengan penglihatan ku yang mulai kabur.


Pov.Nanda


"Ada ular di dekat kamar mandi " ucap salah satu relawan yang baru datang.


"Terus,ada korban jiwa ?"tanya salah satu dari kami.


"Belum karena si cewek yang berada di dekat ular belum tahu,"ucapnya."Ayo kita lihat kesana siapa tahu perlu bantuan "ucapku.


"Tu cewek yang lagi bersandar di tiang kayu"ucap relawan sambil menunjuk wanita yang di maksud.


'Aya,itu Aya' kataku bersamaan dengan suara teriakan "ULAAAR" yang sangat kencang membuat ular itu langsung loncat kearah Aya.


Berusaha berlari secepat mungkin ku tarik ular itu dari pergelangan Aya dan ular langsung diamankan oleh yang lain.


"Tenang ada aku" ucapku sambil ku buka jaket Aya.


"Mas Nanda"Ucap Aya lirih sambil melihat ke arahku."Jangan bergerak atau menggerakkan anggota tubuh yang lain. Tetap diam dan tenang karena itu bisa mencegah racun di getah bening menyebar lebih jauh"Ucapku sambil melepas yang melekat pada tubuhnya termasuk jam tangannya lalu menyimpan di kantong celanaku.


"Siapkan mobil "teriakku sambil memberikan tekanan di area lengan yang digigit ular tadi.


"Ini hanya untuk menghentikan pergerakan racun melalui sistem limfatik,jadi kamu harus tetap di bawa kerumah sakit"Ucapku.


"Mobil sudah siap "teriak seseorang, "Mas aku pingin muntah" ucap Aya sebelum kehilangan kesadaran.


"Bu Nia maafkan aku, jika aku tidak berteriak pasti ular itu tidak akan menyerang Bu Nia "ucap seorang wanita sambil menangis mungkin teman Aya.


"Maaf Aya akan saya bawa ke rumah sakit, sebaiknya Mbak di sini bantu doa saja"ucapku sambil berjalan meninggalkannya.