One Love, One Heart

One Love, One Heart
44. Keluarga Sultan



"Kamu sudah dapat baju buat acara pernikahan Aya dan mas Nanda belum?"tanya Bu Eko."Udah,aku dan suami dapat kainnya bagus bisa buat lebaran" ucap Bu Arimbi. "Kata Anakku yang dapat baju pagar Bagus,di cek online baju pagar bagusnya aja 150 ribuan,belum punya aku sama bapaknya "ucap Bu Valia."Denger-denger semua catering, bahkan 3 hari berturut-turut aku dengar dari Bu Aya, sendiri "ucap Bu Eko.


"Emang mantunya kerja apa? Bukan cuma polisi jangan-jangan korupsi "ucap Bu Widya."Denger-denger dari bapak RT dan bapak-bapak yang jadi saksi pas tunangan suami Aya itu dokter polisi, tetapi keluarganya kayanya orang kaya semua dari penampilan dan mobil yang mereka pakai waktu tunangan kemarin "ucap Bu Arimbi.


"Lamarannya duluan Widya tapi nikahnya duluan Aya, diam-diam incaran dalam mencari jodoh pinter juga ya"ucap ibu-ibu. " Itu bukan pinter tapi matree"ucap Bu Widya sambil pergi. Aku yang melihat dan mendengar dari atas hanya bisa menghela nafas berat melihatnya,aku sudah menduga ini bakal terjadi coba kalau Nanda tidak membeli baju dan hanya menyewa tidak akan seperti ini,keluhku dalam hati.


"Kenapa kak?" tanya ibu yang melihat ku turun dengan muka lesu. "Ibu-ibu pada bahas masalah baju ?"ucapku. "Kakak di atas melihat dan mendengarnya?" tanya ibu yang aku jawab anggukan. " Kita mahkluk sosial kak.Tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun kita mempunyai kedudukan dan kekayaan, kita akan selalu membutuhkan manusia yang lainnya. Jadi jangan karena masalah seperti ini kakak tidak mau berbaur dengan mereka, begitu pun jika kakak sudah resmi menikah dan mempunyai rumah sendiri,kakak harus terbiasa dengan para tetangga yang mungkin kaya mereka atau lebih baik atau bahkan lebih buruk. Meskipun kakak berbaur dengan mereka bukan berarti kakak harus ikuti cara mereka,kakak pernah lihat gak ibu gosipin yang lain ?" tanya ibu.


Yang ku jawab dengan gelengan kepala,ibu rutin mengikuti kegiatan warga tapi aku tidak pernah mendengar ibu ikut ngomongin mereka."Ibu sering dengar mereka ngomongin si A si B, kadang ibu suka tegur kalau keterlaluan,tapi ibu kadang lebih memilih diam jadi pendengar tanpa perlu ikut bergabung membahas aib orang, karena ibu merasa belum sempurna " ucap ibu.


"Ibu tidak ada niat untuk pindah rumah ?" tanya ku yang malah diketawain ibu. " Kalau hanya karena mereka ibu pindah, terus di tempat yang baru ke temu model yang lebih parah ibu juga pindah lagi,terus mau sampai kapan kita akan terus kaya begitu" ucap ibu.


"Bener juga sih " ucapku. "Perbedaan itulah yang sebenarnya dapat membuat interaksi sosial semakin kompleks dan berwarna di lingkungan masyarakat biar hidup kita tidak monoton. Kakak harus belajar adaptif dalam lingkungan yang berbeda, belajar arti toleransi dan saling menghargai dalam perbedaan itu perlu. Bersikap toleransi dan jangan mementingkan ego masing-masing."


"Ibu kalau habis nikah aku mau tinggal di sini saja bagaimana ?". "Huss seorang istri harus mengikuti dimana suami bertempat tinggal, entah itu di rumah orang tuanya atau di tempat kerjanya. Karena hal tersebut merupakan kewajiban seorang istri untuk mengikuti kemanapun suami bertempat tinggal."


"Kenapa dengan anak gadis mu?" tanya yang baru masuk rumah dan melihat ku yang bergelayut manja di lengan ibu " Takut hidup bermasyarakat " jawab ibu sambil terkekeh. "Jalani saja seperti air mengalir, Sebagai manusia yang menjalani kehidupan tentunya kita tidak akan pernah lepas dari yang namanya masalah. Ya, masalah memang tidak bisa diprediksi dan terkadang datang dalam berbagai macam bentuk yang senantiasa membuat hidup kita semakin sulit, baik secara fisik maupun mental." Ucap ayah sambil membelai kepalaku yang berada di bahu ibu.


" Berhenti menyalahkan segalanya baik itu keadaan atau orang lain. Selalu Lakukan Perubahan Kecil ke Arah yang Lebih Baik dan selalu bersyukur dan hargai Hal-Hal yang Kamu Miliki" ucap ayah.


"Yang mau nikah manja banget,"ucap Daffa yang ikut duduk bergabung dengan kami."Kenapa syirik Lo" ketusku. "Sudah mau nikah ngomongnya di rubah, nanti kalau punya anak biar sudah biasa mengontrol mulut apa yang harus di ucapkan "tegur ayah.


"Dengerin itu kasihan anak Lo nanti !" ucap Daffa sambil berlari ke arah kamar.


"Assalamualaikum " suara dari luar menghentikan aku untuk mengejar Daffa. "Walaikumsalam" jawabku sambil membuka pintu rumah.


"Diam-diam sudah mau nikah duluan aja lo, calonnya bukan kaleng-kaleng lagi, kalian pasti dah lama saling kenal. Jadi waktu kalian ketemu itu saling pura-pura baru kenalkan " ucap Santi,tamuku adalah Santi teman SMA dan kuliahku beda jurusan tapi satu kosan. "Hehe Nanda itu dulunya murid bapak, waktu kami tinggal di Malang dan Nanda tinggal disana mengawasi kos-kosannya" ucapku tidak bohong tetapi juga tidak benar hehe.


"Maaf bikin bikin Lo kaget "ucapku. "Tapi gw seneng Lo nikah,karena gw sempet takut setelah Lo putus dari Toni Lo ga pernah dekat lagi sama lawan jenis."


"Sialan gw cuma menghindari sakit hati ,berusaha mencari yang serius dan menerima apa adanya" ucapku.


"Lo dalam keadaan menjalani pingitan ga ?" tanya Santi. "Ya gitu deh" ucapku. Untuk seminggu kedepan aku dilarang ibu kemana-mana, bahkan untuk ke salon buat perawatan pengantin aku pulang pergi diantara Daffa,takut Nanda mencuri waktu menemuiku kata ibu.


"Aku tidak menyangka bakal seribet ini menikah Pake acara perawatan ke salon kecantikan segala " ucapku. "Haha padahal gw yakin selama ini Lo ke salon kecantikan cuma potong rambut aja" ejek Santi. "Ya bener juga,itu saran dari mama Nanda dan ibu malah bilang 'udahlah Kak tinggal berangkat ini yang bayar juga mamanya Nanda' begitu bukan membantu ku untuk menolaknya."


"Haha ga papa siapa tau setelah masuk keluarga Kana tar Lo jadi terbiasa ke salon ke cantikan untuk Menicure Pedicure."


"Perawatan pengantin Lo apa aja,tar kalau gw mau nikah gw minta calon suami ku?" ucap Santi.


" Banya ,Spa, rambut,menicure Pedicure. Perawatan organ intim katanya persiapan menjelang menikah yang paling utama, dengan melakukan waxing, ratus, dan pijat payudara" ucapku yang di sambut tawa Santi. "Memang beda kalau nikahnya sama keluarga sultan, jangan lupain gw kalau sudah hidup enak"kekeh Santi, malam itu Santi menginap di rumah ku kami ngobrol sampai malam.


"Wah anak ayah cantik setelah hari ini bakti mu bukan kepada kami orang tua, tetapi kepada suamimu"ucap ayah sambil mencium keningku, "Ayah turun dulu ijab qobul bentar lagi di mulai"ucap ayah sebelum keluar dari kamar ku , sempat ku melihat mata ayah merah menahan tangis.


"Setelah hari ini teman ku menjadi seorang istri" ucap Riri. "Semoga kita juga segera dipertemukan dengan jodoh kita ya"ucap Santi,ditemani Santi dan Riri aku menunggu proses acara ijab qobul di mulai.


“Saudara Sa'id Nandana Fahmi Mahardhika bin Ferdito Arya Mahardika Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Daffania cahaya Prameswari dengan mas kawin berupa seperangkat perhiasan seberat 27 karat dibayar tunai.”


"Saya terima nikah dan kawinnya Daffania cahaya Prameswari binti Rahmat dengan mas kawin yang disebutkan dibayar tunai.”


SAHH SAHH SAHH