
Hari pertama menjadi guru privat sedikit menguras emosiku. Hari kedua berjalan tanpa hambatan ,tetapi kita hanya saling mengobrol membahas tentang soal-soal yang berkaitan dengan pelajaran.
" Bagaimana masih bisa bertahan?" tanya Riri.
"Ini baru hari ketiga jadi masih jauh untuk kata menyerah " sombongku , mengingat kemarin tidak ada masalah berarti yang aku hadapi.
"Hari ini Lo ngajar lagi?" tanya Riri.
"Iya jadwalku di sana Senin sampai Kamis, setiap pukul 03.30 sore " ucapku.
" Berarti dari sini kamu langsung otw ke sana dong? Tanyanya.
"Iya " ucapku.
"Semoga sukses dan berhasil tunggu kabar baiknya" ucapnya.
"Tunggu kabar baik dariku dan jangan lupa siapkan uang buat membeli snekers Nike original buatku ,yang harganya bisa menghabiskan setengah dari gajimu menjadi pengajar di bimbel," ucapku yang disambut dengusan olehnya.
Hari ini aku mengendarai Kawasaki Ninja 250SL motor si kembar yang jarang terpakai karena Daffa setiap weekend jarang pulang, karena lebih suka dengan kegiatan kemahasiswaan atau naik gunung jadi ayah menyuruhku memakainya sayang kalau gak di pakai. Sebenarnya tidak masalah memakai itu buatku yang jadi masalah adalah bunyi knalpotnya yang nyaring.
"Ayo saatnya kita belajar" menghampiri Vina yang lagi mengamati ponselnya.
"Mama baru mengirimkan kabar kalau tar malem akan sampai di Jakarta, jadi ia meminta untuk bertemu esok hari " ucapnya.
"Ya Kamu tinggal bilang papamu, kalau mau ketemu mamamu" ucapku.
"Tapi aku tidak mau ketemu mama" ucapnya.
"Kenapa ?" tanyaku , jujur aku merasa penasaran.
"Aku merasa males ketemu mama karena kalau kami bertemu mama akan berkomentar ini itu " ucapnya.
"Ini itu gimana ?" tanyaku bingung.
"Mama akan selalu mengomentari penampilanku ,anak perempuan harus anggun , harus bisa berpenampilan,tidak boleh bersikap tomboy harus feminim dan banyak lagi kritikan mama" ucapnya.
" Ya udah Kamu tinggal bilang pada papamu kalau kamu gak mau ketemu, utarakan pendapatmu " ucapku.
"Tapi aku takut papa marah karena waktu aku umur 10 tahun papa pernah memaksaku untuk menemui mama padahal aku udah ada janji sama om buat berkuda" ucapnya.
"Coba kamu utarakan kepada papamu serta keluh kesahmu jika ketemu mama,biar papa yang menegur mama bagaimanapun itu hak mu untuk menolak bertemu " ucapku.
"Kira-kira waktu yang cocok kapan ya buk, bilang ke papa ? tanyanya.
"Di saat papamu dalam situasi yang bisa diajak ngobrol " ucapku.
"Situasi yang bagaimana itu bu?" tanyanya,Ya Tuhan gw lupa kalau dia masih anak-anak yang kadang saat bicara membutuhkan penjelasan.
"Begini saat papa sedang berbicara di telpon kira-kira bisa diajak ngobrol gak?" tanyaku.
"Papa akan marah saat ada yang mengganggunya saat bicara" ucap Vina.
"Ya itu contoh saat yang tidak tepat untuk mengajak orang tua bicara, seandainya papa lagi menonton televisi atau bersantai kira-kira marah gak,?"tatanya ku.
"Enggak , baiklah nanti akan ku coba Bu guru ,tapi jika papa tetap maksa datang bagaimana" ucapnya.
" Ya udah kamu temui dan beri dia mamamu kejutan " ucapku asal. Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi selain pembicaraan membahas pelajaran sampai jam pulang.
" Maaf Bu Aya bisa bicara sebentar " ucap nenek Vina.
" Bisa Bun ,apa yang ingin dibicarakan silakan" ucapku.
"Besok bisa nggak menemani Vina menemui mamanya, karena saya dan suami harus menemani anak kedua saya ke rumah tunangannya untuk membatalkan pertemanan dan papa Vina ada dinas di luar kota baru pulang esok harinya lagi sedangkan tantenya si Risa saat itu juga sedang ada acara juga" ucapnya.
"Boleh jam berapa ya Tante" ucapku.
"Sehabis jam belajarnya saja , bagaimana " ucapnya.
"Bagaimana kalau mama marah lihat penampilanku" ucap Vina takut.
"Justru itu poinnya kita bikin mamamu marah biar papamu tahu kelakuannya mamamu" ucapku.
"Itu urusan Bu guru kamu bersikap seperti biasa saja saat bertemu dengan namamu" ucapku.
" Dimana mama mu ?" tanyaku.
"Katanya lagi menunggu di rumah makan Italia yang berada di dekat Timezone ".
"Ok kita meluncur kesana, jangan takut tenang seolah kamu bertemu dengan temanmu" ucapku sambil menggandeng tanganya. Begitu aku memasuki restoran yang di maksud segera aku nyalakan perekaman.
"Apa-apa ini kenapa penampilanmu kamu kayak begini, tidak ada anggun-anggunnya tidak ada sisi feminimnya, si kewanitaannya kamu mirip laki-laki. Memakai celana jeans atasan kaya begini " ucapnya sambil memegang jijik Hoodie yang di pakai Vina.
"Maaf sebelumnya saya guru les Vina yang kebetulan diminta tolong oleh neneknya untuk menemani Vina datang menemui anda, seharusnya anda memeluk anak anda dengan hangat dan mempersilakan duduk, bukannya langsung di omelin. Apa anda tidak melihat dia jadi pusat perhatian di sini apa anda tidak berpikir dia tidak malu dilihat banyak orang, tolong pikiran psikolog putri anda" ucapku, setelah menarik Vina untuk berdiri di belakangku.
"Kamu itu hanya guru les sedangkan saya mamanya, mama kandungnya yang melahirkannya saya lebih berhak daripada anda" ucapnya.
"Justru itu sebagai orang tua harusnya anda memikirkan psikolog anak anda sebelum Anda marah-marah di tempat umum " ucapku.
"Saya mamanya saya tahu apa yang terbaik untuknya dan apa yang tidak terbaik untuknya" ucapnya.
" Terbaik yang bagaimana yang anda maksud apa yang memaksakan kehendak anda tanpa memikirkan apa keinginan putri anda, jika anda tahu yang terbaik buat putri anda seharusnya anda tidak meninggalkan Putri anda, karena yang terbaik buat seorang anak adalah berkumpul dengan kedua orang tuanya" ucapku sambil menatap tajam kearahnya.
"Kamu hanya seorang guru les tapi berani-berani mengomentari cara saya mendidik anak, saya pastikan papanya akan memecat anda" ucapnya.
"Silakan Kalau papanya Vina mau mecat saya, saya tidak takut dipecat karena masih banyak tempat lainnya yang bisa menampung saya untuk bekerja, karena rezeki tidak ada pada satu tempat, karena rejeki bukan di tangan manusia manusia hanya sebagai perantara saja" ucapku.
" Baik tunggu pemecatan mu" ucapnya marah sambil berjala meninggalkan kami.
"Bu guru bagaimana ini kalau papa sampai merah dan memecat ibu guru " ucap Vina takut.
"Kenapa harus takut dipecat sama papa kamu, ya kalau dipecat berarti ada tempat yang lebih baik yang siap menampung Ibu buat bekerja" ucapku sambil mematikan alat perekam ku yang kusimpan di kantong kemejaku.
"Sudah tidak usah dipikirkan Sekarang waktunya kita senang-senang, ayo kita bermain sepuasnya di wahana permainan" ucapku. Kami bermain sepuasnya jujur kalau di pecat aku juga senang, beberapa hari mengajar privat di keluarga ini ada rasa sungkan menghadapi penghuni rumah mewah yang bersikap selalu anggun di mataku. Aku yang biasanya selalu bersikap sesuka hatiku alias barbar harus bersikap sopan santu dan lemah lembut di sini,jadi sudah seperti burung liar tertangkap dan dikurung tidak bisa bergerak kemana-mana.
Petakaku di mulai di hari keempat aku mengajar karena saat aku sampai nampak di ruang tamu yang lumayan luas, bahkan luasnya 3x lipat ruang tamu di rumahku. Nampak mama Vina duduk dengan anggun tetapi bermuka angkuh, berbeda dengan sang nenek yang anggun dan bermuka ramah.
"Bu Aya kenalkan ini suami saya dan yang ini Putra saya yang merupakan papa vina" ucapnya,aku hanya mengaguk sopan kulihat muka Vina sedikit pucat.
"Udahlah Bun tidak usah basa-basi langsung pencet aja habis deh perkaranya " ucap mama Vina.
"Tidak bisa begitu orang dalam pengadilan aja diberi hak untuk membela ko" jawab bunda yang membuat suaminya tertawa kecil.
" Begini bu Aya, mama Vina meminta saya untuk memecat anda dengan alasan tidak sopan terhadap mamanya Vina, kalau boleh saya tahu tidak sopannya bagaimana biar saya samakan pendapat anda dengan apa yang diutarakan mama Vina tadi" ucapnya.
"Begini Tante saya akui saya sempat menegur beliau karena marah-marah terhadap Vina di tempat umum, karena itu tidak bagus buat psikolognya anak seusia Vina" ucapku.
"Aku tidak akan marah jika penampilannya Vina baik dan sopan" ucapnya.
" Kalau boleh saya tahu saya tahu tidak sopannya di mana semua yang melekat di tubuh Vina kemarin menutupi tertutup rapi dan sopan" Ucapku.
"Kalau boleh saya tahu Vina kemarin pakai baju apa ?" tanya nenek Vina.
"Apa boleh saya memperlihatkan sesuatu,tante"ucapku.
"Tentu" jawabnya. Aku keluarkan ponselku dan ku tunjukkan video rekaman kemarin yang sudah sedikit aku rubah, seperti gambarnya yang memegang jijik Hoodie Vina aku buat seolah bukan di pegang jijik tapi di dorong padahal dia hanya menepuk bahu ringan.
"Sebelum kau menuntut hakmu tentang Vina penuhi dulu kewajiban sebagai ibu, di mana kamu saat anak mu mencarimu ketika demam,di man kamu saat Vina merindukan mamanya,Hah" ucap nenek Vina tiba-tiba setelah melihat video yang aku perlihatkan.
"Sebaiknya kamu pergi sekarang dari rumah Bunda dan Bunda untuk sementara tidak mau melihatmu" ucap nenek Vina membuat anak dan suaminya bingung.
"Astaghfirullah " ucap mereka berdua setelah melihat video di dalam ponselku tentunya Setelah Mama Vina pergi.
"Maaf sebelumnya tempo hari Vina sempat menolak bertemu dengan mamanya, tetapi waktu saya sarankan bicara langsung dengan papanya dia takut, makanya saya putuskan untuk merekam kejadian sebagai bukti kenapa Vina tidak suka ketemu mamanya" ucapku.