
"Bener pak Rahmat ayah kamu,?"tanya Toni menghampiriku yang sedang menyantap bekal makanan siangku.
"Kalau Lo gak percaya sekarang Lo lihat bekal makan siang beliau, pasti sama kaya punya gw karena di masak oleh satu orang yaitu ibuku"ucapku sambil mengemasi bekas makan siangku.
"Aku boleh main ke rumahmu dan minta maaf langsung sama ayah mu?"tanya Toni.
"Itu rumahnya pak Rahmat, jadi bilang aja Lo sama orangnya gw juga numpang di sana" ucapku kulihat Toni seperti salah tingkah.
"Bu Aya tahu gak Bu Isma di tegur kepala sekolah dan Bu Kokom guru senior sekaligus sekertaris dewan guru ,di copot jabatannya sekarang menjadi guru biasa kaya kita"ucap Bu Vika yang baru masuk.
"Maaf saya tidak tahu bu" ucapku, sebenarnya tadi pagi Ayah sudah bercerita katanya itu sebagai teguran buat yang menyebarkan fitnah,biar tidak akan terulang lagi meski tidak di sebutkan apa kesalahan mereka tapi para guru pada berasumsi masing-masing.
"Tapi masak ibu gak tahu siapa yang nyebarin gosip itu,?"tanya Bu Vika.
"Maaf saya tidak tahu, karena pak Rahmat langsung yang mengurus saya tidak tahu menahu soal itu"ucapku, karena jika aku sampai salah bicara bukan hanya aku yang terkena imbasnya tetapi juga ayah. Meskipun semua sudah tahu aku anak pak Rahmat,aku masih bersikap seperti orang lain memanggil pak jika disekolah, cuma sekarang lebih bebas jika ingin menemui ayah tidak perlu sembunyi-sembunyi seperti biasanya.
"Masak sih,ko saya gak percaya pasti ibu tahu tapi pura-pura tidak tahu "ucap Bu Wenny hanya ku tanggapi dengan senyum ala kadarnya. Sejak satu sekolah sudah tahu aku anak pak Rahmat dan jam pulang ku juga sudah normal,aku sering berangkat bareng ayah dan pulang sendiri seperti sekarang ,selepas pulang aku jalan-jalan untuk mencari LCD buat ponsel tetanggaku yang rusak.
"Wah bagus ni sepatu" ucapku saat melihat sepatu high heels yang di pasang di etalase toko.
"Mas aku mau coba sepatu yang itu" ucapku pada pelayanan toko, saat aku asik mencoba sepatu aku melihat ada segerombolan orang memasuki toko sepatu.
'Sial kenapa juga meski ketemu disini' ,ucapku dalam hati saat melihat Nanda berada dalam salah satu gerombolan orang yang baru masuk toko.
Nampa di situ ada 2 perempuan dan 2 lelaki,persis 2 pasangan yang lagi ngedate karena tidak mau memancing kecurigaan aku mundur secara perlahan.
"Mas cocok gak sepatu ini buatku?"ucap wanita yang berada di samping Nanda.
"Cocok beli aja kalau suka"ucap Nanda.
"Tapi aku gak bawa duit atau kartu kredit "ucap cewek itu sambil bergelayut manja pada lengan Nanda.
"Berapa harganya mbak ?tanya Nanda,"Rp 2.150.000"ucap pelayanan wanita, 'Dasar cewek matre emang pasangannya cowok playboy ' kataku dalam hati, sambil berusaha mencari celah untuk pergi dari situasi yang belum di sadari keberadaanku oleh Nanda.
"Aya, you are here too?"teriak Cintya yang baru masuk toko dan langsung memelukku. Sial kenapa juga harus teriak sih loo , ucapku dalam hati saat semu mata melihat ke arahku.
"Kenapa sih teriak-teriak Lo ga lihat kita jadi tontonan orang " bisikku pada Cintya yang masih berada di dekatku.
"I'm sorry "ucap Cintya sambil mengacungkan 2 jarinya , membentuk tanda peace. Karena sudah terlanjur ketahuan tidak mungkin juga langsung kabur, ahkirnya aku angkat daguku tinggi tidak perlu menunduk lagi atau bersembunyi.
"Maaf mbak saya mau yang ini tapi ukuran 40 ada" Ucapku, tanpa melihat kearah sekitar seolah disini hanya ada aku dan pelayanan toko sepatu.
"Sebentar akan saya carikan,nona silahkan menunggu disini,"ucap pelayanan toko sebelum melangkah pergi. Sekilas kulihat Nanda juga memperhatikan ku bahkan aku juga lihat cewek yang bersamanya beberapa kali mencoba sepatu dan meminta pendapat Nanda.
"Maaf untuk size 40 kosong, mungkin mau mencoba model lain ?"tanya pelayan itu.
"Kapan-kapan saya akan coba kesini lagi"ucapku sebelum menghampiri Cintya yang lagi mencoba sepatu dengan Ramon cowoknya.
"Gw balik dulu kalian terusin saja acara kalian "ucapku.
"Lu gak beli sekalian Ya,gw bayarin hitung-hitung sedekah buat pengaguran" ucap Ramon, yang ku balas dengan memukul bahunya dengan tasku bukannya marah dia malah tertawa.
"Gaya Lo mau bayarin punya gw, kartu kredit lo aja suka nunggak pembayarannya, emang gw ga tau kartu kredit lo Cintya yang kadang bayarin" Ucapku sambil melangkah keluar, dengan terpaksa ahkirnya aku lewat didepan mas Nanda dan rombongannya.
"Tunggu mas mau bicara" bisik mas Nanda,sambil memegang tanganku supaya berhenti.
"Nanda aku mau yang ini sama ini"ucap seorang wanita, karena mas Nanda mengalihkan pandangannya dan melepaskan pegangannya aku langsung gunakan kesempatan itu untuk kabur. 'Padahal sedang jalan sama cewek lain tapi tangan dan matanya masih jelalatan'kataku dalam hati.
"Kita mau makan apa?"tanya Cintya.
"Terserah Lo,gw ngikut aja"ucapku karena sejujurnya aku tidak selera untuk makan, tapi tidak enak untuk menolaknya.
"Ya udah kita makan ramen aja,gw lagi pingin yang pedes dan berkuah" ucap Cintya,kami meninggalkan Ramon yang masih dibelakang atau mungkin masih di toko sepatu.
"Ramon dah Lo hubungi?"tanyaku, Ramon satu tim kerja ku dulu makanya kami akrab.
"Eh cowok yang tadi kayanya menghentikan langkahmu kenapa?"tanya Cintya.
"Gak salah lihat Lo, kalau dia menghentikan ku, aku tidak mungkin ada disini sekarang"ucapku.
"Iya-iya bener juga pasti Lo masih di sana bersamanya, bukan bersamaku di sini"ucap Cintya.
"Tapi kayaknya lelaki itu tidak asing aku pernah bertemu dengannya tapi aku lupa di mana"ucap Cintya sambil mengingat-ingat, hingga Ramon datang kami makan dan ngobrol bersama.
"Iya gw ingat sekarang, dia lelaki yang pernah datang ke apartemen dia salah mengetuk apartemen mu dan setelah ia bertanya tentang apartemen kosong,tetapi juga bertanya kenapa apartemen mu ko disewakan dia penakut takutnya bekas orang bunuh diri atau bekas tindak kejahatan" ucap Cintya. 'sekarang aku tahu dari mana Mas Nanda tahu informasi tentangku, diakan polisi pasti mudah buat dia nyari informasi ucapku dalam hati.
"Tadi di toko sepatu ada insiden setelah kalian pergi,2 cewek itu belanja habis sekitar 7 juta eh cowok yang bayarin tiba-tiba hilang ga ada"ucap Ramon.
"Kabur cowoknya ?" tanya Cintya."Gak tau, pas di kasir cowok itu kabur kaya ngejar seseorang gitu"ucap Ramon. Apa dia mengejar ku karena letak kedai Ramen dengan toko sepatu berjarak tidak jauh,mungkin gak saat aku masuk kedai ramen mas Nanda keluar, tetapi untuk apa mencariku dia kan juga ngedate sama ceweknya 'ucapku dalam hati.
"Halah paling modus itu cowok nggak mau bayarin makanya dia kabur,"ucap Cintya,' gak mungkin mas Nanda ga mau bayarin belanja tu cewek'kataku dalam hati.
"Lagian juga itu cewek nyuruh bayarin belanjaannya segitu banyak, gak tanggung-tanggung 7 juta uang apa kertas " ucap Ramon, jangankan 7 juta kata Vina tunangan Nanda yang dulu juga pernah di beliin mobil.
"Itu mah sengaja si cewek morotin cowok masak sepatu doang habis 7 juta"ucap Cintya, karena tak mau lepas kontrol saat bicara aku memilih mendengar saja, hingga kami selesai makan dan ngobrol kami berpisah karena letak parkiran motor dan mobil berbeda kami langsung berpisah saat keluar dari rumah makan.
"Kemana sih Nanda bikin malu saja kita sudah milih tinggal bayar malah kabur,gak tau kemana " ucap suara yang berada di belakangku.
"Dia gak bilang apa-apa seperti mencari seseorang gitu, setelah melihat sekeliling dia langsung keluar tanpa pamit pikirku bakal balik lagi"ucap sang laki-laki.
"Haha ga apa-apa sesekali kalau keluar sama Nanda kita bayar sendiri "suara seorang wanita yang berbeda dari yang pertama.
"Terus gimana kita pulang ?"tanya suara perempuan pertama.
"Nanda nugu di parkiran, kita di minta langsung ke parkiran saja "ucap suara lelaki, setelahnya aku tidak mendengar suara obrolan mereka barulah aku menoleh ke belakang sepertinya mereka sudah berbelok.