One Love, One Heart

One Love, One Heart
59. Damai tanpa emosi



Suara adzan subuh membangunkan aku, saat aku berusaha untuk duduk terdengar gemericik air dari kamar mandi. Siapa yang mandi? Saat aku berusaha mengingat ahh sial , bayangan Nanda menggendongku dan kegiatan semalam membuat aku malu sendiri.


"Sudah bangun " suara Nanda yang keluar dari kamar mandi, mengembalikan kesadaranku dari bayangan semalam. "Hmm"jawabku sambil memejamkan mata menengadah ke atas langit-langit kamar.


"Kenapa ada yang di rasa tidak nyaman, bilang ke mas"ucap Nanda, Nampak kekuatiran terpancar dari wajahnya.


"Tida apa-apa hanya kelelahan. Kata dokter rasa lelah pada ibu hamil merupakan hal yang wajar."


"Maaf aku membuat mu kelelahan gara-gara aku terlalu semangat maklum puasa terlalu lama"ucapnya sambil duduk di sampingku.


"Tidak apa-apa sudah tugas ku, dari pada kamu jajan diluar, aku juga tidak mau berbagi dengan wanita lain"jawabku berusaha bangun dari tempat tidur.


"Mau mandi ?" tanya Nanda yang ku jawab dengan anggukan kepala."Sini biar tidak terlalu capek "ucap Nanda langsung menggendongku seperti bayi.


"Aku berat mas sekarang "ucapku. "Wajar kamu berat ada Nanda junior yang kamu bawa kemana-mana, apalagi 2 sekaligus. Kamu mandi mas siapkan tempat untuk sholat subuh berarti "ucap Nanda.


Selesai sholat subuh Nanda menemaniku jalan pagi dan yoga , "Gimana kabar cucu-cucu bunda hari ?"tanya bunda menghampiriku yang baru selesai yoga, dengan membawa buah dan susu.


"Allhamdullilah sehat semua cuma sering lelah, kata dokter tidak apa-apa, itu wajar buat wanita hamil" ucapku.


" Tapi pada kehamilan kembar, rasa lelah terasa lebih berat dibandingkan kehamilan tunggal,"ucap bunda. " Itu karena tubuh yang membutuhkan energi lebih besar 2 kali lipat dan kandungan yang terasa lebih berat jika dibandingkan dengan kehamilan satu janin," ucap Nanda.


"Tau begitu jaga istri dengan baik jangan bikin emosi istri. Sudah badan kecil harus bawa 2 anakmu kemana-mana"ketus Bunda, Nanda hanya nyengir menanggapi Omelan bunda.


"Wah kayaknya Minggu pagi cerah yang damai " ucap Risa untuk bergabung dengan kami, dengan kami.


"Bagaimana persiapan lamaran mu ?"tanya Nanda.


"Allhamdullilah beres ada EO yang ngurus semuanya" ucapnya. Hari ini dirumah akan kedatangan keluarga yang akan melamar Risa,kata Risa mereka tidak pacaran tapi berteman sudah sekitar 4 tahun dan memutuskan pacar setelah halal Karena sama-sama korban patah hati.


"Nanti malam kamu cukup diam jangan banyak bergerak, ingat ada 2 Nanda junior disini "ucap Nanda sambil mengusap-usap perutku yang mulai kelihatan.


"Enaknya kalau damai bisa mengusap-usap anak,bisa jenguk anak,bisa bicara dengan anak" ucap ayah yang langsung duduk di samping bunda.


"Sebaiknya kamu jaga jarak dengan Widya sama putri, mereka tipe wanita-wanita yang nekad sepertinya "ucap Bunda.


"Bukan sepertinya lagi sih bun menurutku, coba bayangkan sudah tau Nanda punya istri ,tapi masih saja menempel ke Nanda dengan alasan-alasan yang tidak jelas,"ucap Risa .


"Nanda akan coba jaga jarak dengan mereka."


"Jangan tutup pintu ruangan mu jika ada mereka !" ucap bunda. "Pasang CCTV kalau perlu "kelekar Risa.


"Ide mu boleh juga tu"sambung ku." Demi keamanan, kurasa bunda setuju" ucap bunda membuat Ayah tertawa.


"Ya udah deh aku ikut aja nanti aku pasang CCTV di ruanganku ,biar kalian semua tenang terutama istri cantikku" ucap Nanda sambil mencubit pipiku.


"Dapat istri anak teknik ya kaya gitu untung gak di sadap ponselmu mas"ucap Risa sambil tertawa.


"Boleh tu" candaku membuat semua tertawa.


"Tidak masalah sadap saja ,aku tidak takut "ucap Nanda.


Minggu pagi tanpa emosi,tanpa cemburu, terasa indah Minggu ini. Dilanjutkan dengan acara lamaran malam hari tambah ramai rumah bunda.


Banyak yang menanyakan tentang kehamilan ku. Bahkan mereka takjub dengan keahlian kembar, yang lebih besar dari kehamilan tunggal. Usia kandunganku yang lebih muda dengan kandungan mama Vina , tetapi memiliki ukuran yang lebih besar dari perut Mama Vina membuat mereka mengira aku hamil lebih dulu,tapi setelah tau kembar banyak sekali yang mereka tanyakan padaku, keluhanku dan sebagainya. Para perempuan bahkan ada yang minta di kenalkan ke pada adik kembarku Daffa dan Daffin,biar bisa punya keturunan kembar katanya.


Karena kelelahan aku ijin istirahat duluan , Nanda sempat menawarkan diri untuk menemaniku dan memijat kakiku, tapi aku tolak banyak saudaranya yang datang aku tidak mau di bilang istri manja.


"Mas aku ikut ya ,aku ada janji mau tes darah. Seharusnya waktu kontrol kemarin, kontrol sekalian tes darah tapi kata dokter harus nunggu badan ku sehat Dul " ucapku saat melihat Nanda sudah rapi sedang aku baru selesai yoga. "Ya udah kamu mandi dulu sana"ucapnya.


"Mas semalam aku tidur kamu apain ?" tanyaku kesal saat melihat ada beberapa bercak merah keunguan di sekitar leherku tidak hanya satu tapi ada sekitar 4 tanda.


"Habis kamu memancingnya" ucapnya. "Aku tidak mancing ya mas,aku kelelahan jadi aku tidak sempat memakai daster tidurku" kesalku sambil mengoleskan Concealer di area leherku sebelum aku lapisi dengan foundation supaya bekasnya tertutup dan tersamarkan.


" Itu sudah hilang" ucap Nanda sambil cengengesan. "Ya hilang sudah di tutupin "kesalku.


Setelah kamu siap kami pergi ke bawah untuk sarapan bersama dengan keluarga besar Nanda yang masih berada di sini sebagian.


"Hati-hati di jalan bawa 4 nyawa kamu"ucap nenek Nanda. " 4 nyawa siapa ?" tanya Nanda yang langsung di pukul bahunya sama sang nenek.


"Nyawa kamu dan istrimu,serta 2 calon cucu nenek"ucap nenek. "OOO bilang dong yang jelas" ucap Nanda yang langsung lari saat di nenek hendak memukunya lagi.


Begitu sampai di rumah sakit Nanda membawaku ke ruang kerjanya, sedang Nanda keluar untuk mendaftarkan aku. Saat Nanda pergi aku gunakan untuk memasang kamera kecil , yang ku taruh di jam dinding. Aku bongkar jam diding tidak butuh waktu lama, karena dasar gambar jam yang gelap membuatku tidak perlu repot-repot untuk menutupi kamera.


"Habis ngapain kamu dek kok keringatan begitu seperti kelelahan "ucap Nanda saat masuk. "Ketiduran dan mimpi dikejar orang gila "jawab ku asal membuat Nanda tertawa ngakak.


"Ada-ada aja kamu. Selain tes darah untuk melihat gambaran terkait kondisi adek dan Nanda junior yang berada disini. Mas juga minta perawat untuk mengecek kadar AFP (alpha fetoprotein)."


"Maksudnya mengecek kadar AFP (alpha fetoprotein)?"tanyaku.


" AFP ini dipantau guna memastikan saluran saraf tulang belakang janin tidak mengalami gangguan, adik tenang saja ikut saja. Nanti kalau sudah selesai adek bisa kesini atau temui mas di ruang praktek kalau disini tidak ada" ucap Nanda yang kujawab anggukan. Setelah selesai aku pamit Nanda langsung pulang , padahal aku kerumah sakit keluarga dengan di bantu Risa aku masuk ruangan Nanda. "Apa tidak perlu kita panggil orang untuk memasang ini?"tanya Risa saat aku suruh mengambil gambar pemandangan alam di bawah jam dinding di ruang Nanda.


"Semakin sedikit yang tahu semakin aman"ucapku sambil menerima gambar tersebut, cukup 10 menit pekerjaan kami selesai dan pergi dari ruangan tersebut.


"Terus di rumah sakit polri siapa yang pasang? " tanya Risa. "Ya akulah" jawabku santai.


"Tapi tidak tinggi kaya tadi kan?"tanyanya yang kujawab dengan senyum tipis.