One Love, One Heart

One Love, One Heart
15. Reuni



"Kak tar malem temani ayah ke acara reuni yoo,"ajak ayah padaku.


"Kenapa tidak ibu aja sih,aku capek " ucapku karena seminggu kerja di sekolah jam kerjaku full. Selama belum ada tambahan guru aku menghandle kelas 12 dan kelas 11 sebagian.


"Acaranya weekend kak, minggunya kakak bisa istirahat total" ucap ayah.


"Ibu mau kemana sih?" tanyaku kepada yang dari tadi hanya menyimak obrolan kami.


" Ibu ada aca ni" ucap mama sambil menyerahkan surat tugas.


" Ibu ada Diklat ?"tanyaku, yang di jawab dengan anggukan kepala dan muka masam.


" Karena acaranya di gedung Ibu sudah beli baju baru,eh malah tiba-tiba


diklat 3 hari di Bogor "ucap lesu.


"Ibu kapan ke Bogor ?" tanyaku.


"Kamis pagi selesai Sabtu, sampai rumah paling Sabtu malam nggak mungkin kan ibu dari Bogor langsung nemenin ayahmu" ucap ibu.


"Sendiri aja gimana yah"ucapku.


" Kalau ayah sendiri ayahmu bisa pulang tengah malam, tahu sendiri ayahmu kalau lagi ngobrol suka lupa waktu" ucap ibu.


"Makanya Kakak temenin ayah biar bisa mengingatkan Ayah jam waktunya pulang," ucap ayah.


"Ayah nggak malu ntar dikatain suami-suami takut istri" ucapku.


"Ayah tidak takut karena yang tahu Ayah takut istri atau enggak kan bukan mereka, tapi diri ayah sendiri " ucap ayah.


"Temenin ayah biar ada yang mengontrol makanan Ayah di sana" ucap ibu. Waktu muda ayah adalah perokok aktif dan baru berhenti 3 tahun ini karena dadanya sering sakit, setelah kami anak-anaknya memaksa untuk periksa dokter menyatakan Ayah terkena gejala jantung ringan.


Penyebabnya kemungkinan merokok, tekanan darah tinggi, sejak itu dokter menyarankan Ayah untuk stop merokok dan jaga pola hidup sehat.


"Ok Aku akan pergi sebagai satpam ayah yang akan menemani Ayah kemana saja," ucapku dengan berat hati.


"Harus ikhlas demi ayah"ucap ibu.


"Iya ikhlas ko" ucapku.


"Bajunya terserah kakak,kalau ayah rencana pakai kemeja batik " ucap ayah.


"Ya udah nanti aku pakai dress dari kain batik yang buat nikahan mbak Mayang kemarin," ucapku. Mbak Mayang sepupuku dari ibu, ibu mempunyai kakak yang tinggal di Bogor dan orang tua masih tinggal di Jawa tengah. Kalau ayah mempunyai seorang adik tinggal bersama orang tua ayah yang berada di Jawa timur.


Karena itu ayah dan ibu yang merasa jauh dari saudara atau keluarganya selalu bersikap baik dan ramah kepada para tetangga, yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri meskipun kadang mereka bersikap JULID pada kami.


Saat kami sudah siap mau berangkat Daffa pulang, karena tidak mau tinggal di rumah sendirian ahkirnya Daffa juga Ikut bersama kami.


"Ibu tidak ikut pak ?"tanya penerimaan tamu yang mungkin juga salah satu Murid ayah.


"Ibu lagi ada diklat di kota hujan makanya saya ditemenin 2 bodyguard saya,"ucap ayah sambil melirik aku dan Dafa.


"Wah boleh dong Pak dikenali sama yang cowok" ucapnya.


"Ya silakan kenalan sendiri masak meski harus di kenalkan, kaya murid baru saja" ucap ayah sambil bercanda.


Setelah berbasa-basi di luar kami masuk aku duduk di dekat ayah, sedang Daffa ijin mencari isi perut,tetapi dari yang aku lihat dia sibuk ngobrol anggota band yang yang tadi sempat kulihat menyanyi di panggung.


"Pak aku mau ke toilet dulu" ucapku sambil berbisik sama ayah.


Setelah menyelesaikan hajatku aku segera pergi keluar.


"Lo anak pak Rahmat guru matematika itu kan"ucap perempuan yang menghadang ku, sepertinya wajahnya pernah kulihat tapi aku lupa di mana.


"Iya,ada apa ya?" tanyaku.


"Lo lupa gw,gw salah satu mantannya Nanda" ucapnya, seketika aku mengingat wajahnya dia yang menemuiku dan dia juga Wanita yang berada pangkuannya Nanda saat itu


"Terus apa hubungannya dengan aku?"tanyaku berusaha santai.


"Ternyata lu sudah dewasa ya, kalau lu yang dulu masih kecil aku temui aku berkata sedikit lo diem tapi langsung mewek" ledeknya.


prok prok prok " Ternyata Lo pinter ya sekarang " ucapnya.


"Berarti Lo bukan anak kecil lagi, tetapi kira-kira Nanda bisa tertarik kamu belum ya" ucapnya merendahkan.


" Itu bukan urusanku bagiku Mas Nanda adalah masa laluku bukan masa depanku" ucapku sambil berjalan meninggalkannya.


Dengan hati berdebar menahan rasa takut dan memaksakan kaki melangkah padahal kaki terasa tak bertulang aku tetap mengangkat kepalaku keatas seolah tidak terjadi apa-apa. Aku adalah Aya dewasa, buka lagi Aya anak 14 tahun yang masih duduk di bangku kelas 9.


"Kamu mengenal Lexa?"tanya seseorang dengan memegang tanganku.


"Siapa yang tidak mengenalnya dia wanitamu kan!"ucapku sambil menghempaskan tangannya yang memegang tanganku. Aku harus bisa membuang rasa taku ini,aku tidak boleh kalah,aku bisa, aku Daffania cahaya Prameswari wanita dewasa yang berusia 25 tahun bukan anak kelas 9 lagi, bukan anak kecil lagi ucapku pada diriku sendiri dengan terus mengatur nafasku sendiri.


"Jangan ganggu aku lagi, kalian orang dewasa yang menjijikkan jauhi aku! jauhi aku!" teriaku dan langsung berjalan menjauh dengan nafas memburu. Begitu aku berada di tempat yang jauh dari mereka badanku tiba-tiba lemas dan langsung duduk dilantai,aku berjongkok dengan menangkupkan kepala ku kebawah 'aku bisa aku wanita dewasa,aku bukan anak kecil ' , kataku dalam hati sambil mengatur nafasku dan jantungku yang berdetak lebih kencang.


"Kakak kenapa ?" tanya Daffa yang sudah ikut berjongkok didepan ku, dengan perlahan aku angkat kepalaku dan melihat ke arahnya, kulihat wajahnya yang kuatir memandangku.


"Aku tidak apa-apa," ucapku.


" Tapi wajah Kakak pucat seperti habis melihat hantu" ucapny.


"Anggap saja aku habis melihat hantu yang sangat menakutkan," ucapku sambil berusaha berdiri dengan berpegangan kepada Dafa.


"Kakak mengeluarkan keringat dingin"ucap Daffa, "kan habis lihat hantu jadi masih ketakutan" ucapku membuat Daffa melihat aku tak percaya tapi tetap berjalan memapah ku.


"Emang ada hantu di hotel mewah kayak begini"ucapnya.


" Hantu kan tidak harus makhluk halus yang menakutkan" ucapku.


"Kakak aneh "ucapnya.


"Aku ambilkan minum dulu"bisik Daffa setelah aku duduk. Sedangkan aku lihat ayah masih sibuk dengan para rekan-rekannya yang sudah lama tidak berjumpa.


Nanda tidak sebenarnya sudah lama memperhatikan Aya,tapi situasinya tidak memungkinkan untuk dirinya mendekatinya.Cukup lama Nanda memperhatikan Aya hingga terlihat Aya menuju kamar mandi,iya harus pergunakan kesempatan kali ini untuk berbicara dengan Aya berdua saja, pikir Nanda.


"Lo anak pak Rahmat guru matematika itu kan"ucap Lexa. Apa Aya mengenal Lexa tapi ? tanyaku pada diriku sendiri.


"Iya,ada apa ya?" ucap Aya.


"Lo lupa gw,gw salah satu mantannya Nanda" ucap Lexa.


"Terus apa hubungannya dengan aku" jawab Aya.


"Ternyata lu sudah dewasa ya, kalau lu yang dulu masih kecil aku temui aku berkata sedikit lo diem tapi langsung mewek" ledeknya. Lexa dulu nemuin Aya untuk apa dan kapan ? tanyaku dalam hati.


"Waktu dan lingkungan merubah orang, keadaan dan perilaku orang tersebut "ucap Aya.


prok prok prok " Ternyata Lo pinter ya sekarang " ucap Lexa.


"Berarti Lo bukan anak kecil lagi, tetapi kira-kira Nanda bisa tertarik kamu belum ya" ucap Lexa merendahkan,apa yang tidak ku ketahui sebenarnya ? tanya Nanda buat dirinya sendiri.


" Itu bukan urusanku bagiku Mas Nanda adalah masa laluku bukan masa depanku" ucap Aya ,sambil berjalan meninggalkan Lexa dari ucapannya bisa ku simpulkan itu terjadi waktu aku masih SMA ucap Nanda dalam hati.


"Kamu mengenal Lexa?"tanyaku sambil memegang tanganku Aya.


"Siapa yang tidak mengenalnya dia wanitamu kan!"ucap Aya sambil menghempaskan tanganku yang memegang tangannya. Terlihat matanya menatap tajam penuh amarah dan kebencian padaku, sebenarnya apa yang terjadi ?


"Jangan ganggu aku lagi, kalian orang dewasa yang menjijikkan jauhi aku! jauhi aku!" teriak Aya dan langsung berjalan menjauh,aku tidak diam saat dia pergi aku ikuti dan pantau Aya dari jarak aman hingga aku melihat Daffa adiknya mendekatinya. Nampak mereka ngobrol sebentar sebelum Daffa membantu kakaknya berdiri dan berjalan kembali ke tempat acara.


"Lo kenal Aya di mana? dan apa yang sebenarnya terjadi anak kecil siapa yang anak kecil yang Lo maksud ?" tanyaku pada Lexa.


"Gw mau jawab semuanya tetapi gw mau Lo ajak gw dinner romantis " ucap Lexa.


"Ok Lo atur tempatnya " ucapku.


"Lo belum kasih gw no ponselmu gimana kita bisa saling berkomunikasi, " ucap Lexa menyodorkan ponselnya, dengan terpaksa Nanda memberikan no ponselnya kepada Lexa.