
"Yah mungkin hari ini aku mengajukan risen, "ucapku saat kami sedang menikmati sarapan sebelum berangkat kerja.
"Kenapa lagi kali ini kak,bosan ibu dengernya berhenti mulu,"ucap ibu sambil menarik nafas panjang.
"Ibu mah tidak mau mendengar alasan aku dulu langsung aja emosi,"ucapku sambil terkekeh aku sih maklum dengan respon ibu. "Mulai Minggu depan aku harus mengikuti pelatihan buat persiapan menjadi guru di pedalaman " ucapku, membuat ibu kaget berbeda dengan ayah yang tersenyum.
"Ayah bangga,semoga banyak manfaat yang bisa kamu ambil dari perjalanan mu nanti, jangan memikirkan apa yang akan terjadi nanti jalani saja seperti air yang mengalir "ucap ayah.
"Beneran kamu ikut program Indonesia mengajar,kamu yakin?" tanya ibu masih tidak percaya.
"Iya ibu kakak sudah lolos semua seleksi tinggal ikut pembekalan. Kata Ibu Kakak biar bisa merasakan kehidupan orang-orang di bawah kakak ,biar bisa lebih bersyukur dan tidak banyak mengeluh"ucapku.
"Terus di tempatkan dimana ?"tanya ibu. " Kakak sih belum tahu ,tapi aku harap Ayah dan Ibu bisa merahasiakan ini dari siapapun termasuk si kembar,"Ucapku.
"Kenapa ?"tanya ibu. "Aku tidak mau kalau ada banyak orang tahu,aku takut dan berubah pikiran hehe " ucapku sedikit berbohong. Karena aku yakin jika Daffa tau bisa di pastikan Nanda bakal tahu,cukup orang tuaku saja yang tahu kataku dalam hati.
"Kalau hatinya mantap tidak akan berubah pikiran ?"ucap ibu."Kayanya ibu tidak rela ya aku tinggal "ucapku."Siapa bilang tidak ada kakak ibu jadi kaya pengantin baru sama ayahmu"ucap ibu membuat ku tertawa ngakak.
"Aku pegang kalau ada yang tau ini tersangkanya ibu ya, karena tidak mau berpisah denganku"Ucapku.
"Kenapa kamu yakin ayah tidak akan membocorkannya,?"
"Karena ayah tidak suka bercerita kalau kita tidak bertanya dahulu,"ucapku.
"Udah kalian ini,ayo kak berangkat " ucap ayah memisahkan kami. Ibu akan berangkat mengajar setelah kami berangkat, karena selain letaknya yang dekat ibu orang yang suka kebersihan, jadi ibu akan berangkat mengajar setelah membersihkan bekas sarapan kami.
Ibu menempati janjinya saat Daffa pulang ibu tidak bercerita bahkan waktu kami ngumpul bersama dan ada Nanda pun ibu tidak bercerita apapun kepada Nanda. Waktu berjalan terasa cepat karena pihak sekolah menyarankan aku supaya tetap mengajar sambil menunggu keberangkatan ku ke pedalaman membuat jadwal kegiatanku padat. Aku bersyukur Nanda tidak curiga sama sekali waktu dia bertanya, dan aku bilang sedang menjalani pembekalan menjadi seorang guru yang lebih baik.
Padahal yang sebenarnya aku sedang mendapatkan pelatihan intensif dengan materi teori dan praktik, serta hard skill dan soft skill, seperti keterampilan fisik, belajar kreatif, leadership skill, adaptasi masyarakat, dan masih banyak yang ku pelajari selama 7 Minggu. Pelatihan ini ditujukan untuk bekal kami tugas selama satu tahun.
"Kakak sudah tahu bakal di tempatkan di mana?" tanya ayah.
"Teluk Wondama ,Papua Barat."Ucapku.
"Aman gak kak daerahnya ?" tanya ibu.
"Dari yang kakak terima infonya sih termasuk daerah aman masalah terletak pada akses infrastruktur antardesa yang kurang memadai," ucapku.
"Infrastruktur desa di wilayah Indonesia Timur masih cukup terbatas,bahkan di beberapa Kabupaten tidak memiliki transportasi yang memadai,itu yang ayah tahu."
"Di Teluk Wondama, Papua Barat, akses antardesa masih ada sebagian yang harus ditempuh dalam waktu empat hari perjalanan, kata temenku "ucapku.
"Itu tantangan buat kakak ingat jika Kakak gagal konsekuensinya ,kakak akan menerima di jodohkan dengan lelaki pilihan ibu" ucap ibu yang baru bergabung.
"Ibu ko dengerin aja sih dari dapur " ucapku yang disambut tawa ibu.
"Ibu kan pendengarannya masih bagus kak,"ucap ibu.
"Kamu berangkat kapan kak"tanya ayah."Jumat dengan penerbangan sore, begitu tiba kami akan bermalam di rumah singgah dan paginya baru diantar ke tempat tugas"ucapku.
"Gayanya tugas "canda ibu, "adik mu tidak di kasih tau, tar kaget waktu pulang gak lihat kamu" ucap ibu lagi. "Jumat tanggal merah kalau dia pulang baru aku kasih tau. Kalau pulang Kamis, kami bisa menghabiskan waktu lebih lama kalau Jum'at berarti singkat "ucapku sambil tertawa kecil.
"Gak bakal lah yah,buat apa juga nyari kakak"Ucapku.
Hari Kamis aku terahkir mengajar, aku gunakan buat mengucapkan salam perpisahan dan permintaan maaf atas kesalahan ku selama menjadi pengajar.
Tadinya aku berencana tidak memberi tahu Nanda tentang keberangkatan aku, tetapi karena aku dan beberapa guru sedang ke rumah sakit polri untuk menjenguk salah satu guru yang melakukan operasi disini jadi aku putuskan menemuinya.
"Maaf Bu Vika ,Bu Wenny saya masih ada sedikit urusan jadi tidak bisa pulang bersama"ucaku saat kami sudah berjalan pulang.
"Oya udah kami duluan kalau begitu Bu,"ucap Bu Wenny.
Karena ini pertama kali aku kesini terpaksa aku bertanya ke bagian resepsionis.
"Maaf Bu boleh tau apa dokter Nanda hari ini ada jadwal praktek?"tanya ku. Si resepsionis melihat penampilanku persis juri ajang busana menilai penampilan modelnya.
"Ada 3 jam lagi "ucapnya. "Sekarang sudah datang belum ya bu?"tanya ku. " Ya mana saya tau saya tidak di bagian poli bedah "ucapnya sedikit jutek.
Karena tidak mendapatkan hasil yang memuaskan, aku memutuskan untuk menghubungi Mas Eki dan tidak sampai 5 menit mas Eki datang menemuiku di lobby. Si resepsionis melihat heran kearah ku, karena terlanjur dongkol aku bersikap angkuh di depannya seolah aku dah akrab dengan mas Eki.
"Tadi habis jenguk teman ke ingat mas Eki deh,"candaku."Kamu bisa aja ada perlu apa sama mas"ucapnya.
"Aku mau nanya kalau mas Nanda ada praktek gak hari ini?" tanyaku.
"Ada 3 jam lagi ,tapi biasanya dia udah ada di ruangannya. Kalau Nanda kan tidak kaya aku ,bisa pagi di sini siang di Wira hospital,malam di klinik Citra Medika "ucapnya sambil tertawa kecil.
"Bisa antar aku menemuinya gak"ucapku."Bisa ayuk "ucapnya sambil berjalan ke arah lift.
"Jadi mas Eki bisa praktek di mana-mana dong?"tanyaku.
"Kalau mas kan gak terikat disini, beda kalau Nanda dari pagi sampai malam disini sebagai dokter residen sembari tetap mengerjakan tugas-tugas rutin dalam menjalani pendidikan. Eh hari Sabtu malam Minggu mau gabung kita-kita gak ngerayain ulang tahunnya Nanda di apartemennya nanti "ucap mas Eki.
"Maaf ga bisa makanya aku kesini mau mengantarkan kado sekalian" ucapku, sebagai orang yang pernah tergila-gila padanya tentu aku mengingat hal yang penting tentang dirinya termasuk ulang tahunnya.
"Wah jadi pingin jadi Nanda di kasih kado sama kamu," ucapnya. "Boleh mas Eki ulang tahun kapan tar aku kasih seperti mas Nanda, tetapi aku tidak bisa mengasih kado mahal Lo hanya pulpen Parker "ucapku.
"Kamu merendah pulpen Parker ko di bilang kado tidak mahal sih, ini ruang kerja sekaligus belajar Nanda" ucap mas Eki saat kami sudah sampai.
"Mas temani "ucapku. "kalau aku yang yang menemani bukan jadi kejutan lagi nanti"ucapnya.
"Ga papa emang bukan kejutan ko"bohongku,sambil aku membuka pintu secara pelan-pelan. Kenapa meski terulang lagi kataku dalam hati.
"Kenapa ditutup lagi ?" tanya Mas Eki.
"Ga enak kayanya lagi sibuk sama rekan kerjanya " bohongku, sambil mengambil kotak kecil dari dalam tasku " nitip ini buat mas Nanda aja kasih nanti pas ulang tahunnya"ucapku. Sebuah Pulpen Parker Jotter SS Klip Gold dengan grafir nama diatasnya, itu kado yang aku pilih buatnya.
"Bener kamu tidak mau menemuinya, emang sibuk sama siapa sih jadi penasaran "ucapnya sambil memegang Handle Pintu.
"Please jangan di buka kasihan " ucapku memohon. "ya udah aku anterin ke depan aja ya"ucap mas Eki.
"Ayo"ucapku dengan menahan perih dasar pembohong makiku dalam hati.