One Love, One Heart

One Love, One Heart
61. End



Aku terbangun dengan merasakan nyeri di sekitar area perut, seketika aku teringat bayi kembarku.


Tapi kenapa sepi tidak ada orang satu pun disini ucap ku dalam hati, bertepatan dengan pintu kamar mandi yang terbuka. Nampak ibu keluar dari kamar mandi "Ibu dimana anak-anak ku?"


"Tenang mereka sehat mereka sedang berada neonatal intensive care unit (NICU). Nanda baru datang sekarang lagi meng adzan ni si kembar."


"Bu mereka lelaki apa perempuan. Aku dan papa nya anak-anak sepakat untuk tidak menanyakan jenis kelaminnya, soalnya?" tanyaku penasaran.


"Mereka sepasang cewek cowok"ucap ibu, membelai rambutku sayang.


"Sebenarnya apa yang terjadi Bu,?" tanyaku, karena seingatku setelah aku memperlihatkan bukti kepada bunda, tiba-tiba badanku terasa melayang dan nyeri di perut secara bersamaan sebelum badanku lemas dan tidak sadarkan diri.


"Ibu tidak tahu, ibu cuma bersyukur putri dan cucu-cucu ibu lahir dengan selamat. Meskipun harus di rawat sementara di neonatal intensive care unit (NICU), karena harus harus mendapatkan perawatan intensif. Kamu kan tahu usia kehamilanmu masih belum waktunya, dan berat badan sikembar yang cukup rendah."


Cekle suara pintu terbuka Nanda masuk masih dengan menggunakan seragam kemarin, rambut acak-acakan dan kantong mata yang hitam menunjukkan kalau dia tidak tidur semalaman.


"Terima kasih, terimakasih sayang berkat bantuan kamu mas bebas dan bisa melihat si kembar,"ucap Nanda sambil mencium seluruh mukaku dan diahkiri dengan memberikan pelukan erat.


"Engap mas,aku tidak bisa bernafas "ucapku sambil memukul-mukul bahunya supaya melepaskan pelukannya.


Bugh "Kamu itu kasihan istrimu ga bisa nafas," ucap Bunda sambil memukul Nanda supaya melepaskan pelukannya. "Hehehe maaf terlalu bahagia aku, setelah di nyatakan tidak bersalah aku juga bisa melihat Putra dan putriku, dan bisa istriku yang juga sehat "ucap Nanda sambil mengusap-usap bekas pukulan bunda.


"Bersyukur ini semua karena istrimu, coba kalau tidak ada kamera mini itu kamu sudah di adili dengan sesuatu hal yang kamu tidak lakukan," ucap Risa."Terimakasih sayang" ucap Nanda sambil memeluk tubuhku, membuat semua yang berada di ruanganku hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Setelah di paksa bunda supaya Nanda membersihkan diri, ahkirnya Nanda mau meninggalkan aku. Bunda beserta ayah juga berterima kasih dengan kamera mini yang tidak sengaja dulu aku pasang.


"Sebenarnya apa yang terjadi,mas. Tolong ceritakan padaku, biar aku tidak menebak-nebak ?" tanyaku saat kami hanya berdua,sedang yang lai sudah pada pulang. Terdengar helaan nafas Nanda,"Mas yang salah karena ngasih harapan itu menurut Winda ,"ucap Nanda yang duduk sambil memberikan pijatan ringan di kakiku.


"Maksudnya gimana ya mas,aku kurang paham ?"tanyaku. "Setelah pertunangan mas dan putri putus Winda berusaha mendekati mas,dan kesalahan mas adalah selalu menuruti kemauannya hingga dia berharap lebih ke mas."


" Termasuk waktu kita tidak sengaja ketemu di mall ?" tanyaku yang di anggukin oleh Nanda.


"Tunggu kamu ingat ? Kamu ingat kalau kita pernah ketemu di mall, apa ingatan kamu sudah kembali ? Atau sudah lama kembalinya ?" tanya Nanda beruntun.


"Satu-satu dong tanyanya, kalau begini aku bingung jawabnya," ucapku sambil memegang tangan Nanda dan mengusap-usap punggung tangannya Nanda.


"Kira-kira waktu aku hamil muda, waktu aku melihat langsung kecelakaan truk di depanku. Mulai saat itu Ingatanku mulai kembali sedikit demi sedikit."


"Dan adek ga pernah bilang sama,mas?"tanya Nanda terlihat jelas kalau dia kecewa dengan apa yang terjadi.


"Salah siapa sibuk dengan masa lalu tanpa peduli terhadap aku,"jawab ku tak mau kalah, terdengar helaan nafas kasarnya.


"Mas bukan sibuk dengan masa lalu waktu itu tidak sengaja ketemu,mas sebenarnya nungguin kiriman bunda tapi karena keburu lapar jadinya mas ke kantin."


"Aku tidak tahu. Yang aku tahu mas tega meninggalkan aku sendiri, sampai kelaparan " ketusku.


"Ok, sekarang mas minta maaf tolong jangan di bahas lagi,ya!"


"Ya udah jangan di bahas lagi. Kita bahas gimana kelanjutan cerita Winda tadinya?"tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Dari kebaikan mas yang selalu nurut kemauan dia, mintak beli ini, beli itu mas turuti membuatnya beranggapan mas suka sama dia. Tapi kenyataannya mas malah menikah dengan orang lain membuat Winda, emosi dan berniat menghancurkan nama baik dan karir mas,"cerita Nanda berhenti hanya untuk menarik nafas kasarnya.


"Winda memanfaatkan seorang perawat yang lagi butuh uang untuk biaya berobat adiknya."


"Dari sana Winda menjebak mas?" tanyaku memotong cerita Nanda.


"Kamu ini kebiasaan memotong pembicaraan atau omongan mas,"ucap Nanda gemes dengan mencubit pipiku.


"Bukan begitu mas. Ingat tidak waktu aku nunggu jadwal kontrol kandungan di ruangan mas,?"tanyaku dan Nanda langsung mengagukkan kepalanya.


"Karena bosen aku ke kantin disana aku mendengar obrolan mereka secara langsung mas."


"Bener dek kamu dengar langsung?"tanya Nanda.


"Iya Kalau ada CCTV Kantin harusnya bisa terlihat," ucapku.


"Coba tar mas cek!" ucap Nanda. "Kenapa tidak sekarang saja, mas. Sana mas Ambi laptopku!"


"Kamu mau Meretasnya?"tanya Nanda.


"Iyalah biar tidak penasaran akunya mas,"jawabku.


"Itu tidak baik, itu melanggar aturan hukum yang berlaku, sayang !" ucap Nanda sambil mencubit pipiku.


"Mas dari kemarin suku banget cubit pipiku karena sekarang tambah chubby ya ," ucapku.


"Bukan,mas cuma gemes aja. Sekarang mas sudah bebas adek tidak usah berpikir aneh-aneh,biar yang berwajib yang menangani kita tunggu hasilnya saja.. Ok " ucap Nanda sambil mengusap-usap kepalaku sampai aku terlelap tidur.


Sampai kondisiku membaik kami tidak pernah lagi membahas mengenai kasus yang menimpa Nanda lagi. Karena terlalu sibuk menerima tamu yang ingin melihat kondisi bayi kembar kami. Sebenarnya hari ini jadwal aku untuk pulang, tapi tanpa sikembar karena berat badannya belum mendekati normal. Tapi karena aku merengek tidak mau di pisahkan dengan anak-anakku, dengan kekuasaan dan uang aku bisa tetap tinggal di rumah sakit sampai si kembar bisa pulang bersama kami.


"Apa sudah ada namanya buat si kembar ?"tanya ayah Dito.


"Sudah yah,Abshari Adam Mahardika bisa dipanggil Abas atau Adam, Yang berati Mata hati leleki Mahardika. Perempuannya Hamani Hawa Mahardhika , Wanita pemberi semangat di keluarga Mahardika."


"Setelah pulang bunda langsung mengundang anak-anak dari panti asuhan, tetangga kita, tetangga dari rumah Aya juga untuk syukuran sekaligus aqiqah si kembar," ucap bunda.


Hingga hari kepulangan kami disambut dengan penuh hangat di acara yang digelar bunda,"Terima kasih sudah bertahan dengan mas yang masih banyak kekurangannya ini" ucap Nanda sambil memelukku dari belakang.


" Aku pernah mendengar ungkapan bahwa 'Keluarga sakinah bukan keluarga yang tanpa masalah, tapi mereka terampil mengelola konflik menjadi buah yang penuh hikmah.' Mari kita sama-sama belajar untuk mengelola masalah-masalah yang akan kita hadapi kedepannya,"ucapku membalas ucapan Nanda.


"Jika mencintaimu adalah suatu kesalahan, maka aku tidak mau menghindari kesalahan itu. Cintaku padamu begitu kuat dan lebih terang dari pada lampu manapun. Jalan kita berdua panjang, tetapi kita akan menang setiap perjuangan," ucap Nanda.


Tidak ada keluarga yang sempurna. Terkadang kami berdebat, berkelahi, bahkan satu waktu berhenti berbicara satu sama lain. Namun pada akhirnya, keluarga tetaplah keluarga, di mana cinta akan selalu ada.