
"Kamu sudah sadar "ucap papa Vina,berati mas Nanda membawaku pulang ke rumahnya, sudah pukul 07.00 malam ucap ku dalam hati saat melihat jam di dinding.
"Iya Pak,maaf saya harus segera pulang ibu sudah menuguku di rumah"ucapku sambil bangun dan berjalan.
"Mau saya anter"ucapnya.
"Tidak pak terimakasi saya harus kembali ke tempat bimbel untuk mengambil montor" Ucapku sambil berjalan.
"Kamu sudah sadar apa yang kamu rasakan ?" tanya mas Nanda menghampiriku yang sudah berada di luar, kulihat ada mbak Risa dan kedua orangtuanya melihat kearah ku.
"Mbak bisa kita bicara sebentar "ucapku.
"Bisa ayo ikut mbak, pasti penting ni kayanya," ucapnya sambil tersenyum ke arahku dan menggandeng tanganku masuk ke sebuah ruangan seperti ruang baca.
"Mbak aku mau mengundurkan diri dari mengajar bimbel dan menjadi guru privat Vina,aku mintak maaf cuma bisa bertahan sampai di sini,"ucapku.
"Boleh mbak tahu alasannya"tanyanya.
"Maaf hanya pingin ganti suasana" ucapku sambil menunduk.
"Bukan karena merasa tidak nyaman dengan Nanda kan, ini semua nggak ada hubungannya dengan Nanda kan " ucapnya membuatku langsung menatapnya dan menggelengkan kepalaku.
"Mbak emang tidak tahu alasannya kenapa kamu tiba-tiba minta berhenti tapi kalau mbak boleh kasih saran, hadapi masalah Jangan melarikan diri karena dengan melarikan diri bukan menyelesaikan masalah tapi mengulur waktu untuk lebih lama masalah itu terjadi"ucapnya. Aku langsung pulang saat itu tanpa diantar siapapun, aku menolak di antara Papa Vina maupun Mas Nanda.
"Bu aku sekarang jadi pengangguran lagi" ucapku kepada ibu, yang sedang menonton televisi sedang ayah ga tau kemana karena sejak aku pulang sejam lalu aku tidak melihat ayah.
"Kenapa kak,ada masalah ?" tanya ibu.
" Tidak Bu aku hanya merasa tidak nyaman ada sesuatu yang mengganjal" ucapku.
"Tidak masalah kalau tidak merasa nyaman, atau mau membuka jasa servis center aja tar motor Kawasaki kita jual buat tambah modal " ucap ibu.
"Aku belum kepikiran untuk itu" ucapku sambil merebahkan kepalaku ke paha ibu, dengan lembut Ibu mengusap mengusap rambutmu sampai aku tertidur.
Ku lirik jam dinding suda Puku 05.00 pagi ku cium harum masakan ibu, ternyata Aku tertidur di depan TV di atas karpet kulihat masih ada bantal kosong disampingi ku dan tubuhku terasa hangat karena dibungkus dengan selimut tebal.
"Sholat subuh dulu,kak"ucap ibu saat melihatku duduk bersandar pada sofa.
"Katanya kamu mau mundur ngajar,ada apa cerita ke ayah,"tanya ayah aku hanya tersenyum dan menggeleng.
"Namanya kita mengajar pasti ada kendalanya, menghadapi murid yang berbeda karakter,kepribadian dan sifat itu kita di tuntut memahami dan mengerti mereka "ucap ayah.
"Iya yah"ucapku.
"Kamu ada masalah cerita ke ayah,"ucap ayah.
"Tidak yah"ucapku cepat memotong ucapan ayah.
"Ya udah ayah mau berangkat dulu " ucap ayah. Setelah ayah berangkat tidak lama ibu juga berangkat ke sekolah, beginilah enaknya jika keluarga mu satu profesi ibu dan ayah akan berangkat kerja pagi dan akan pulang siang menjelang sorenya hingga saat malam kami berkumpul bersama.
Kubuka email siapa tahu ada yang membutuhkan jasaku lagi,tapi nihil apa aku terima saja ya lowongan guru honorer di tempat ayah meskipun aku tidak memikirkan makan, tapi kebutuhanku sebagai wanita dan angsuran apartemen tiap bulan tidak mungkin aku minta ayah sedangkan simpanan ku akan habis jika terus pengeluaran tanpa pemasukan.
Tin tin tin siapa sih yang pagi-pagi sudah bertamu padahal masih jam 09.00 pagi gerutu ku, tetapi kakiku tetap melangkah untuk membuka pintu.
Deg deg deg deg jantungku berdetak sangat kencang saat membuka pintu dan aku melihat mobil beserta seorang bersragam berdiri di depan pagar rumahku.
"Mau apa ?" tanyaku tanpa membuka pagar, sebenarnya mas Nanda bisa masuk karena pager rumah tidak di gembok hanya di selop dari dalam.
"Bisa kita bicara sebentar"ucap mas Nanda.
"Maaf mas di rumah ga ada aku tidak bisa mengizinkan kamu masuk, kalau mau bicara begini saja"ucapku yang sudah mendekat jarak kami tidak jauh cuma 2 meter tapi posisi kami dibatasi dengan pagar rumah, sudah seperti menjenguk orang dalam tahanan ucapku dalam hati. kulihat Mas Nanda menghembuskan nafas kasar sebelum bicara padaku, " Ada apa denganmu kenapa kamu takut sama mas?" tanyanya.
"Tapi tidak pantas dilihat orang kalau kita ngobrol kayak begini"Ucapnya.
"Ya udah nanti malam aja nunggu di rumahku ada orang"ucapku.
" Tapi aku ingin kita bicara berdua empat mata tanpa siapapun"ucapnya.
"Maaf kalau berdua ya begini aku tidak bisa membiarkan mas masuk"ucapku.
"Ok mas janji gak masuk ke dalam rumah kita mengobrol di luar,tapi ijinkan mas paling tidak masuk ke dalam dan duduk di teras"ucapnya.
"Ok ga boleh masuk ke dalam rumah, ingat itu "Ucapku,mas Nanda hanya mengagukkan kepala.
Setelah pintu gerbang aku buka lebar-lebar,kami duduk di teras depan dengan jarak sekitar 2 meter.
"Kamu takut sama mas?" tanyanya.
"Tidak,mas bukan hantu mengapa aku harus takut mas?"tanyaku.
"Kamu selalu menghindari mas"ucapnya.
"Perasaan mas saja itu "ucapku.
" pertama bertemu kamu terkesan menolak mas sikapmu tidak seperti seorang menawarkan jasa kesannya kamu tidak butuh tetapi emas yang butuh kamu, kedua janji ketemu kamu malah mengajak teman"ucapnya.
"Tapi pertemuan ketiga aku tidak membawa teman aku datang sendiri"ucapku.
"Emang mas tidak tahu kamu datang sendiri karena Santi tidak bisa menemani karena orang tuanya lagi datang mengunjunginya"Ucapnya dengan senyum tipis.
"Kebetulan saja itu "ucapku.
"Kamu yakin, pertama mas mengantarkan mu pulang Kamu membohongi Mas kamu turun di apartemen mu yang sedang kamu kontrakan dan yang kedua mas mengantar mu pulang kamu meninggalkan emas di lampu merah turun tanpa pamit" ucapnya dengan menatap tajam kearah ku, membuatku sedikit takut.
"Sekarang aku tanya sama mas untuk alasan apa aku menghindari mas aku tidak ada alasan apa-apa"ucapku.
"Saat kamu pingsan kamu mengigau"ucapnya.
"Aku mengigau apa ?" tanya sedikit kaget.
" 'Aku bukan anak kecil' dan waktu aku pegang kamu menampik tanganku dan bilang 'jangan jangan jangan' seolah melarangku buat mendekatimu atau menyentuhnya"ucapnya, membuat jantungku berdebar sangat kencang keringat dingin mulai keluar dari tubuhku nafasku mulai tidak teratur.
" Mas tolong pergi dari rumahku sekarang, tinggalkan aku aku mohon mas pergi" ucapku sambil masuk rumah dan tidak lupa aku kunci dari dalam. Aku terduduk di lantai di belakang pintu ruang tamu, badanku luruh terasa lemas semua saat aku sudah masuk dan mengunci pintu. Kenapa dengan tubuhku kenapa aku masih ketakutan saat bertemu dengannya, meski 10 tahun sudah berlalu padahal selama ini aku baik-baik saja sebelum bertemu mas Nanda. Jujur waktu pertama bertemu ada rasa kangen dan berdebar melihatnya, tetapi sayang semua rasa itu kalah dengan rasa jijik saat terbayang wajah mas Nanda dan teman wanitanya melakukan adegan yang menjijikan itu.
"Anak kecil sekarang kamu sadarkan posisimu di mata Nanda kamu itu hanya anak dari guru favoritnya, jika kemarin dia menerima karena dia kasihan kepadamu" ucapnya.
"Kamu memang masih kecilkan,kamu mau aku tidak menganggap mu anak kecil"ucapnya sambil tersenyum aneh,lalu dengan tiba-tiba kak Nanda meremas buah dadaku secara kasar. Aku yang ketakutan langsung berteriak tapi kak Nanda malah mendekapku tubuh ku hingga aku tak bisa bergerak, karena jalan kakak Nanda yang sempoyongan membuatnya terjatuh dan aku langsung memukul kak Nanda dengan tasku.
"Ya Allah kakak kenapa kakak duduk disini " ucap ibu yang sudah berada disampingku.
"Hah tadi ada pengamen,aku mengintip malah ketiduran "jawabku yang mungkin aneh.
"Yakin, karena pintunya kakak kunci ibu lewat samping Ibu mikirnya kamu tidur " ucap ibu.
"Ya aku ketiduran gara-gara suara pengamen "ucapku sambil berjalan masuk ke dalam kamarku.
"Kakak aneh, emang ada orang yang ngintip sampai ketiduran"ucap ibu.
"Bu aku mau jadi guru honorer tempat ayah kalau masih ada lowongan " ucapku sambil berteriak dari tangga.