One Love, One Heart

One Love, One Heart
11. Aku bukan anak kecil



"Ko Lo belum pulang, kan Vina udah pulang sama mbak Risa tadi" ucap Riri.


"RI gw nyerah mungkin besok gw akan mengajukan pengunduran diri" ucapku lesu.


"Yang bener lo, Lo gak nyesel tinggal menyelesaikan 3x pertemuan gak sayang ?" tanyanya memastikan.


"Enggak gw kayanya nyerah"ucapku lesu.


"Lo pikirkan aja lagi "ucap Riri sambil memukul bahuku pelan sebelum meninggalkan aku


Kayanya aku gak sanggup ketemu lama-lama sama dia,aku gak tahu kenapa setiap bertemu dengannya menyebabkan jantung berdebar kencang dan aku merasakan takut dan cemas. Setelah merasa aman dan tenang aku berjalan ke luar, tetapi saat aku sudah duduk di atas motor dan sedang memakai helm, ada seseorang yang memegang tanganku.


"Mas perlu bicara sama kamu sekarang" ucapnya, membuat jantungku berdebar dan kali ini disertai keringat dingin.


"Ada apa sih mas ,aku mau pulang ibu sudah menungguku" ucapku marah.


"Kenapa kamu terkesan menghindari mas dan takut sama mas"ucapnya masih memegang tanganku.


"Siapa yang menghindar dan takut sama mas " ucapku terbata-bata, persis Aziz gagap.


"Hari pertemuan terakhir kita ,hari Jumat kemarin kamu meninggalkan mas di lampu merah seperti orang kabur " ucapnya sambil menatap tajam.


"Tidak"ucapku tanpa berani menatapnya.


"Lihat mas tatap mata mas kalau kamu tidak takut "ucapnya sambil memegang kedua bahuku, membuatku terpaksa menatap matanya. Baru 10 detik aku menatapnya memoriku memutar kejadian itu kejadian yang sudah lama aku kubur cukup hanya diriku yang tahu. Nafasku mulai sesak seolah di sekitarku tidak ada udara untuk bernafas,aku tidak bisa bernafas dadaku semakin sesak hingga gelap yang ku rasakan. Aku merasa berada dalam ruangan yang gelap saat tiba-tiba ada cahaya,aku melihat Nanda sedang memangku wanita dan gambar itu berubah menjadi Nanda yang mendekapku meremas buah dadaku dengan kasar ,aku hanya bisa menangis melihat adegan itu tanpa bisa menghentikannya saat aku remaja bisa lepas ada perasaan lega yang kurasakan. Aku seperti mendapatkan pasokan udara sejuk di tengah udara yang panas.


Pov. Nanda


Sejak kejadian Aya meninggalkan aku di lampu merah ada perasaan aneh menyelimuti ku , aku merasa Aya menghindari ku dan ketakutan jika hanya berdua denganku. Dua kali dia kabur saat aku mau mengantarkannya pulang, selalu menghindari kotak mata langsung denganku seperti tidak nyaman saat aku memandangnya. Aku bisa aja langsung menemuinya di rumah, tetapi aku masih belum memiliki alasan yang tepat kenapa aku sampai harus ke rumahnya.


"Bunda dan ayah masih di perkebunan katanya hari ini pulang opa sudah mendingan, tapi jam berapanya Mas kurang tahu karena itu Mas minta tolong nanti kamu jemput Vina di sekolahan dan antar ke tempat kerja Risa Mas ada meeting siang soalnya" ucap Khalid,aku hanya mengangguk sebagai jawabanku.


"Kamu masuk om mau langsung kerja"ucapku saat mobilku sudah berhenti di tempat bimbel milik Risa.


"Om ikut masuk sebentar nanti aku kenalkan sama guru privat ku, menurut


om dia pantas nggak dia jadi Mama baruku"ucapnya.


"Terus kalau pantas kenapa?"tanyaku.


"Kalau pantas aku mau mendekatkan guru privat ku dengan papa" ucapnya.


" Emang papamu mau papamu kan pemilih"ucapku.


"Pasti mau soalnya beberapa kali bertemu papa selalu memandang bu guru"ucapnya.


"Oke " jawabku karena ini anak kalau tidak di turuti bisa terus ngoceh, lagian cuma masuk kenalan udah terus balik kerja kataku dalam hati. Sesampai di dalam Vina langsung berlari dan aku ke ruangan Risa.


" Gw nganter Vina sepertinya Ayah dan Bunda masih di jalan , jadi nanti Vina pulangnya sama kamu" ucapku.


"Oke".


"Ayo om ikut aku" ucap Vina yang tiba-tiba muncul dan menarik ku untuk mengikutinya yang sudah berlari, sayup-sayup aku mendengar suara Vina.


"Ayo Bu aku dah siap "ucap Vina yang.


"Vina om pergi dulu nanti kamu pulang sama Tante Risa "ucapku menghampiri Vina, Aya ucapku kaget tapi berbeda dengan Aya sepertinya lemas melihatku.


Jadi guru privatnya yang selama ini diceritakan bunda, Khalid dan Risa adalah Aya ucapku dalam hati segera ku kembali ke rumah sakit meneruskan pekerjaan. Saat kulihat masih pukul 05.00 sore aku langsung menuju tempat bimbel milik Risa berharap Aya masih di sana, setelah aku pastikan Aya masi disana aku putuskan untuk menunggunya hingga 20 menit kulihat Aya keluar berjalan menuju sepeda motor Kawasaki dan langsung naik saat dia memakai helm aku segera menghentikannya dengan memegang tangannya.


"Mas perlu bicara sama kamu sekarang" ucapku, membuat dia kaget dan anehnya dia langsung berkeringat.


"Kenapa kamu terkesan menghindari mas dan takut sama mas"ucapku, dengan masih memegang tangannya.


"Siapa yang menghindar dan takut sama mas " ucapnya terbata-bata, persis orang ketakutan.


"Hari pertemuan terakhir kita ,hari Jumat lalu kamu meninggalkan mas seperti orang ketakutan" ucapku sambil menatap tajam kearahnya tapi dia tidak melihatku sama sekali hanya sesekali melirik sekilas.


"Tidak"ucapnya tanpa berani menatapku.


"Lihat mas tatap mata mas kalau kamu tidak takut "ucapku sambil memegang kedua bahunya membuatnya mulai melihat dan menatap mataku, tetapi baru 10 detik dia menatapku kulihat keringat dingin mulai mengucur dan wajahnya nampak pucat. Kulihat nafasnya mulai sesak seperti orang panik dan ketakutan sebelum ahkirnya dia tak sadarkan diri, segera ku periksa detak kondisi pernafasannya melalui denyut nadinya yang dan kerja jantung yang sepertinya bekerja lebih cepat dari orang normal. Tidak mungkin aku bawa ke rumah sakit ahkirnya aku putuskan aku bawa pulang karena dirumah ada klinik kecil, yang bunda gunakan untuk menolong para tetangga yang membutuhkan bantuan.


"Ada apa ini ,siapa dia?" tanya bunda saat aku masuk dengan menggendong Aya.


"Astaghfirullah ini kan gurunya Vina Bu Aya" ucap bunda saat aku baringkan Aya di kamarku.


"Sebenarnya ada apa kondisinya tidak menunjukkan orang sakit" ucap bunda setelah memeriksanya.


"Jangan mas jangan jangan lakukan "suara Aya dengan bergetar dan air mata mengalir tetapi mata masih terpejam.


"Alam bawah sadarnya ketakutan, apa yang sebenarnya terjadi mas "ucap bunda.


"Aku gak tahu bun"ucapku juga bingung.


"Ada apa ini ?"tanya Khalid yang masuk ke dalam kamarku bersama Ayah.


"Lo ini kan Bu Aya"ucap Khalid.


"Ceritakan semua yang terjadi sama bunda!" perintah bunda galak.


"Sebenarnya...". Ahkirnya aku ceritakan semua termasuk ucapan cinta monyetnya dan kepergiannya yang mendadak dan terakhir pertemuan kami,serta sikapnya yang aneh saat bertemu denganku.


"Perasaan takut, cemas, dan panik, rasa takut. Kesulitan untuk bernapas,jantung yang berdebar dan perilaku menghindar salah satu contoh gejala psikologis gangguan kecemasan" ucap bunda menatap tajam padaku.


"Maksudnya bunda aku penyebabnya ?" tanyaku.


"Bunda tidak bilang Kamu sendiri yang mengasumsikan, sebelum pingsan mas memaksa dia menatap kearah mas yang mengakibatkan dia mengeluarkan keringat dingin,ketakutan cemas dan susah bernafas sebelum tak sadarkan diri" ucap Bunda.


"Tapi mas merasa tidak melakukan hal-hal yang aneh" ucapku.


"Mungkin sekarang tidak mungkin dulu tanpa kamu sadari "ucap bunda.


"Apa mungkin ?" tanyaku kepada diriku sendiri.


egh egh kulihat Aya mulai menggeliat, "Sekarang mas duduk di ranjang sebelahnya,kita lihat reaksinya "ucap bunda, dengan ragu Aku mengikuti perintah Bunda.


"Kamu sadar "ucapku sambil memegang tangannya, yang langsung di tampik dengan kasar dan langsung bangun duduk di pojokan menutup kedua telinganya.


"Aku bukan anak kecil, jangan jangan jangan "ucapnya semakin aku mendekat Aya akan semakin berteriak membuat bunda ahkirnya memeluknya.


"Tenang kamu aman ada bunda di sampingmu tarik nafas buang tarik nafas buang "ucap bunda memberikan perintah pada Aya hingga tenang dan tertidur. Bundaku seorang psikiater jadi dia bisa menilai orang yang ketakutan karena trauma atau yang lainnya juga bisa menenangkan mereka.


" Masih ingin menyangkal setelah melihat apa yang terjadi"ucap bunda.


"Sungguh aku tidak mengingat apa yang terjadi 10 atau 11 tahun lalu bun" ucapku bingung.


"Ada apa ini "ucap Risa yang baru masuk kamarku.


"Lo Aya kenapa disini" tanya Risa.


"Sekarang kita keluar, Khalid kamu tunggu Aya sadar kita tunggu di depan" ucap bunda,membuatku semakin frustasi.